欢迎..............欢迎..............欢迎


Sabtu, 17 Juli 2010

Bambu Selir Xiang


Konon pada jaman Kaisar Yao dan Shun, hiduplah sembilan naga jahat di Gunung Jeuye di Provinsi Hunan. Para naga ini sering bermain bersama di perairan Sungai Xiangjiang. Aksi-aksi dahsyat mereka telah mengakibatkan meluapnya sungai tersebut. Banjir telah menghanyutkan tanaman panen dan merobohkan rumah-rumah. Orang-orang yang tinggal dekat sungai itu menjerit karena kerugian dan penderitaan. Kaisar Shun, yang selalu prihatin terhadap penderitaan rakyatnya, tak bisa makan dan tidur dengan baik ketika ia mendengar tentang akibat membahayakan yang disebabkan para naga itu. Ia memutuskan untuk pergi berkunjung ke Selatan untuk memecahkan masalah-masalah rakyatnya dengan menghukum dan menyingkirkan naga-naga itu.

Kaisar Shun mempunyai dua selir yang bernama Urwon dan Nuyin. Mereka adalah putri Kaisar Yao, pendahulu Kaisar Shun. Meskipun mereka dilahirkan di dalam keluarga kerajaan dan telah menjadi selir, mereka secara mendalam telah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Yao dan Shun. Bukan hanya mereka tidak terhanyut oleh kehidupan mewah, tapi mereka juga prihatin terhadap penderitaan rakyat jelata. Mereka berat hati melihat Kaisar Shun meninggalkan istana, namun ketika mereka mengingat kepergiannya ke Sungai Xiangjiang itu untuk meringankan penderitaan rakyat, mereka menyembunyikan kesedihan mereka dan dengan senang mengucapkan selamat jalan kepada sang kaisar.

Setelah Kaisar Shun pergi, Urwon dan Nuyin menunggu akan datangnya berita baik tentang sang Kaisar telah mengalahkan para naga dan segera kembali ke istana dengan kemenangan. Mereka mendoakan kaisar siang malam dan berharap dia segera kembali dan menang. Akan tetapi tahun demi tahun mereka menonton burung layang-layang datang dan pergi, bunga-bunga mekar dan layu, tapi mereka tak mendengar kabar apapun tentang orang tercinta mereka. Mereka jadi khawatir. Urwon berkata, "Apakah ini pertanda ia telah dilukai oleh para naga itu, atau ia telah jatuh sakit?" Nuyin berkata, "Apakah ini berarti dia telah diserang, atau ia telah tersesat di dalam pegunungan yang jauh?" Setelah lama berpikir, dari pada merindukan kembalinya kaisar yang tak pasti, mereka memutuskan untuk pergi mencarinya. Menghadapi angin dan salju, Urwon dan Nuyin mendaki setiap gunung dan menyeberangi setiap sungai menuju Selatan untuk mencari suami mereka.

Mereka akhirnya tiba di Gunung Jeuye. Mereka berjalan di sepanjang Sungai Besar Bauhinia menuju puncak bukit dan berjalan menuruni bukit di sepanjang Sungai Kecil Bauhinia. Mereka mengunjungi setiap desa dan menapak setiap jalur ke Gunung Jeuye. Suatu hari mereka sampai di sebuah tempat yang disebut Tiga Batu. Di sana berdiri kokoh tiga pilar batu besar yang dikelilingi bambu yang berwarna hijau giok. Mereka melihat sebuah makam yang tinggi terbuat dari mutiara. Mereka terheran dan bertanya kepada penduduk terdekat, "Milik siapakah makam indah dan spektakuler ini? Mengapa tiga batu besar itu berdiri di sana?" Para penduduk menceritakan kisah itu dengan berlinang air mata. "Ini adalah makam Kaisar Shun. Baginda datang ke sini dari nun jauh Utara untuk membantu kami membasmi sembilan naga jahat. Orang-orang kini hidup dengan damai dan bahagia, tapi Baginda menumpahkan semua keringat dan darahnya. Beliau jatuh sakit dan wafat di sini."

Sesungguhnya setelah wafatnya Kaisar, untuk penghargaan kehormatan sang Kaisar, para penduduk Sungai Xiangjiang membangun sebuah monumen besar khusus untuk beliau. Sekumpulan bangau peri di Gunung Jeuye juga tergerak oleh perbuatan baik sang Kaisar. Mereka terbang ke Laut China Selatan setiap hari siang malam untuk membawa beberapa mutiara mempesona dan menaburkannya ke makam Kaisar yang telah menjadi sebuah makam mutiara. Tombak bergigi tiga yang digunakan Kaisar untuk menghancurkan para naga telah tertancap di tanah dan berubah menjadi tiga batu besar. Ketika mereka mendengar apa yang telah terjadi, Urwon dan Nuyin sangat sedih. Mereka saling berpelukan dan menangis lirih. Mereka sangat berduka cita dan telah menangis sembilan hari sembilan malam. Mata mereka menjadi bengkak dan suara mereka parau. Mereka menangis hingga air mata mereka kering. Dengan cepat air mata mereka berubah menjadi darah. Mereka meninggal di dekat makam sang Kaisar.

Air mata Urwon dan Nuyin telah memercik ke pohon-pohon bambu di Gunung Jeuye. Permukaan kulit bambu tersebut menunjukkan bercak-bercak air mata: beberapa berwarna ungu, ada yang putih, dan beberapa ada yang berwarna merah darah. Ini adalah "Bambu Selir Xiang". Pada sebagian bambu-bambu itu ada tanda yang terlihat seperti sidik jari. Konon tanda itu tertinggal ketika kedua selir tersebut menyeka air mata mereka. Pada sebagian bambu tersebut ada tanda merah darah, tercelup oleh air mata darah dari kedua selir tersebut.
http://en.secretchina.com/culture_history/3223.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar