欢迎..............欢迎..............欢迎


Rabu, 18 Mei 2011

GELAP TERANG KEHIDUPAN


“SARK: PULAU BERLANGIT GELAP PERTAMA DI DUNIA.” Begitulah judul sebuah artikel di situs Epochtimes.co.id yang terbit Sabtu, 26 Febuari 2011. Setiap tahunnya, pulau ini telah menarik 40.000 wisatawan untuk belajar tentang sejarah dan budaya, di mana pengalaman demikian terasa bagaikan melangkah mundur ke masa yang jauh lampau.

Begitu yang tertulis di bagian akhir artikel ini. Setelah membaca artikel itu saya mematikan semua lampu di rumah. Lalu saya membayangkan suasana di pulau berlangit gelap. Ternyata, saya bahkan dapat melihat banyak hal yang selama ini luput dari perhatian.

Saya kira siapa pun setuju, kata ‘gelap’ memiliki beberapa konotasi sesuai dengan konteksnya. Tetapi sayang umumnya lebih banyak konotasi negatifnya. Misalnya, ‘anak itu menangis karena takut pada kegelapan.’ Atau, ‘sayang anak yang datang dari keluarga baik-baik terjerumus di dunia gelap.’ Atau, ‘mengapa gajinya sudah besar kok masih menggelapkan uang rakyat’. Banyak lagi contoh yang mengonotasikan ‘gelap’ pada hal-hal yang negatif. Mengapa di tempat yang gelap ini malah membuatku melihat kehidupan ini menjadi semakin terang? Ada konotasi positif yang saya rasakan.

Saya sengaja mengingat-ingat ketika saya berada di tempat terang beberapa jam yang baru lalu. Ketika saya melewati sebuah taman kota yang terang benderang, dan terhenti karena lampu lalu lintas menyala merah, saya melihat sepasang remaja (mungkin lebih tepatnya anak-anak) bermesraan di tempat yang sedemikian terang seolah di tempat yang gelap. Mungkin dianggapnya orang yang lalu lalang di depannya buta semua. Saya berani bertaruh semua yang sempat melihatnya – termasuk saya, dan yang pura-pura tidak melihat – sedang berjalan menuju kegelapan.

Saya juga memiliki pertanyaan lagi yang tentunya tanpa jawaban. Saya ingat di warnet yang terletak di sudut perempatan itu, ketika segerombolan anak-anak sekolah saling berebut tempat bermain di ruang-ruang bersekat. Konon banyak hal kurang baik – selain yang baik - yang mereka lakukan di tempat-tempat seperti itu. Sisi terang dan gelap seperti wajah sekeping uang logam, yang keduanya tak dapat dipisahkan.

Kemudian, saya nyalakan lagi lampu dan televisi. Dan pas saat itu televisi menayangkan acara diskusi interaktif kalangan terhormat yang hidupnya berstatus terang benderang, karena ekonominya yang mapan, pendidikannya yang tinggi, statusnya yang ‘pasti’, bahkan posisinya di pemerintahan yang sangat ‘menentukan’.

Tetapi betapa sangat mengecewakan. Mereka saling tunjuk seperti di pasar ikan. Bahkan mengucapkan kata-kata yang saling ‘menggelapkan’ satu sama lain. Tentu hal ini membuatku seperti masuk dalam ‘kegelapan’ yang mereka sajikan. Karena diskusinya sama sekali tidak membuat ‘terang’ terhadap masalah ‘gelap’ yang seharusnya mereka buat ‘terang’.

Saat itu saya tidak mengerti di mana saya berada, di tempat yang terang atau gelapkah.

Kembali saya ingat pulau Sark yang dibuat gelap. Mengapa 40.000 wisatawan itu belajar di tempat yang gelap? Apakah yang mereka dapat dari belajar di sana? Belajar budaya di tempat yang gelap. Apakah di tempat yang terang tidak memberi jawaban budaya yang mereka butuhkan? Budaya di tempat gelap dan budaya di tempat terang? Mungkinkah mereka ingin kembali ke tempat yang gelap?

Mungkin Anda juga bisa bertanya di antara gelap dan terang, manakah yang merupakan sebuah kemajuan? Ataukah saya sedang mengada-ada dengan membenturkan kata ‘gelap’ dan ‘terang’. Tetapi memang bagi saya keduanya semakin tidak jelas, sekalipun saya mencoba melihatnya dengan sudut pandang berbeda. (Boediono / The Epoch Times)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar