欢迎..............欢迎..............欢迎


Sabtu, 17 Juli 2010

Bambu Selir Xiang


Konon pada jaman Kaisar Yao dan Shun, hiduplah sembilan naga jahat di Gunung Jeuye di Provinsi Hunan. Para naga ini sering bermain bersama di perairan Sungai Xiangjiang. Aksi-aksi dahsyat mereka telah mengakibatkan meluapnya sungai tersebut. Banjir telah menghanyutkan tanaman panen dan merobohkan rumah-rumah. Orang-orang yang tinggal dekat sungai itu menjerit karena kerugian dan penderitaan. Kaisar Shun, yang selalu prihatin terhadap penderitaan rakyatnya, tak bisa makan dan tidur dengan baik ketika ia mendengar tentang akibat membahayakan yang disebabkan para naga itu. Ia memutuskan untuk pergi berkunjung ke Selatan untuk memecahkan masalah-masalah rakyatnya dengan menghukum dan menyingkirkan naga-naga itu.

Kaisar Shun mempunyai dua selir yang bernama Urwon dan Nuyin. Mereka adalah putri Kaisar Yao, pendahulu Kaisar Shun. Meskipun mereka dilahirkan di dalam keluarga kerajaan dan telah menjadi selir, mereka secara mendalam telah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Yao dan Shun. Bukan hanya mereka tidak terhanyut oleh kehidupan mewah, tapi mereka juga prihatin terhadap penderitaan rakyat jelata. Mereka berat hati melihat Kaisar Shun meninggalkan istana, namun ketika mereka mengingat kepergiannya ke Sungai Xiangjiang itu untuk meringankan penderitaan rakyat, mereka menyembunyikan kesedihan mereka dan dengan senang mengucapkan selamat jalan kepada sang kaisar.

Setelah Kaisar Shun pergi, Urwon dan Nuyin menunggu akan datangnya berita baik tentang sang Kaisar telah mengalahkan para naga dan segera kembali ke istana dengan kemenangan. Mereka mendoakan kaisar siang malam dan berharap dia segera kembali dan menang. Akan tetapi tahun demi tahun mereka menonton burung layang-layang datang dan pergi, bunga-bunga mekar dan layu, tapi mereka tak mendengar kabar apapun tentang orang tercinta mereka. Mereka jadi khawatir. Urwon berkata, "Apakah ini pertanda ia telah dilukai oleh para naga itu, atau ia telah jatuh sakit?" Nuyin berkata, "Apakah ini berarti dia telah diserang, atau ia telah tersesat di dalam pegunungan yang jauh?" Setelah lama berpikir, dari pada merindukan kembalinya kaisar yang tak pasti, mereka memutuskan untuk pergi mencarinya. Menghadapi angin dan salju, Urwon dan Nuyin mendaki setiap gunung dan menyeberangi setiap sungai menuju Selatan untuk mencari suami mereka.

Mereka akhirnya tiba di Gunung Jeuye. Mereka berjalan di sepanjang Sungai Besar Bauhinia menuju puncak bukit dan berjalan menuruni bukit di sepanjang Sungai Kecil Bauhinia. Mereka mengunjungi setiap desa dan menapak setiap jalur ke Gunung Jeuye. Suatu hari mereka sampai di sebuah tempat yang disebut Tiga Batu. Di sana berdiri kokoh tiga pilar batu besar yang dikelilingi bambu yang berwarna hijau giok. Mereka melihat sebuah makam yang tinggi terbuat dari mutiara. Mereka terheran dan bertanya kepada penduduk terdekat, "Milik siapakah makam indah dan spektakuler ini? Mengapa tiga batu besar itu berdiri di sana?" Para penduduk menceritakan kisah itu dengan berlinang air mata. "Ini adalah makam Kaisar Shun. Baginda datang ke sini dari nun jauh Utara untuk membantu kami membasmi sembilan naga jahat. Orang-orang kini hidup dengan damai dan bahagia, tapi Baginda menumpahkan semua keringat dan darahnya. Beliau jatuh sakit dan wafat di sini."

Sesungguhnya setelah wafatnya Kaisar, untuk penghargaan kehormatan sang Kaisar, para penduduk Sungai Xiangjiang membangun sebuah monumen besar khusus untuk beliau. Sekumpulan bangau peri di Gunung Jeuye juga tergerak oleh perbuatan baik sang Kaisar. Mereka terbang ke Laut China Selatan setiap hari siang malam untuk membawa beberapa mutiara mempesona dan menaburkannya ke makam Kaisar yang telah menjadi sebuah makam mutiara. Tombak bergigi tiga yang digunakan Kaisar untuk menghancurkan para naga telah tertancap di tanah dan berubah menjadi tiga batu besar. Ketika mereka mendengar apa yang telah terjadi, Urwon dan Nuyin sangat sedih. Mereka saling berpelukan dan menangis lirih. Mereka sangat berduka cita dan telah menangis sembilan hari sembilan malam. Mata mereka menjadi bengkak dan suara mereka parau. Mereka menangis hingga air mata mereka kering. Dengan cepat air mata mereka berubah menjadi darah. Mereka meninggal di dekat makam sang Kaisar.

Air mata Urwon dan Nuyin telah memercik ke pohon-pohon bambu di Gunung Jeuye. Permukaan kulit bambu tersebut menunjukkan bercak-bercak air mata: beberapa berwarna ungu, ada yang putih, dan beberapa ada yang berwarna merah darah. Ini adalah "Bambu Selir Xiang". Pada sebagian bambu-bambu itu ada tanda yang terlihat seperti sidik jari. Konon tanda itu tertinggal ketika kedua selir tersebut menyeka air mata mereka. Pada sebagian bambu tersebut ada tanda merah darah, tercelup oleh air mata darah dari kedua selir tersebut.
http://en.secretchina.com/culture_history/3223.html

Cheongsam, Busana Khas Wanita Manchu


Cheongsam adalah pakaian wanita khas Tiongkok yang populer. Kata “Cheongsam” artinya “Gaun Panjang”dalam dialek Kanton (salah satu bahasa daerah di Tiongkok). Sedangkan bahasa mandarinnya adalah Qipao.

Saat dinasti Manchu memerintah Beijing, para wanitanya menggunakan gaun terusan yang disebut Qipao ini, yang simpel, mudah dan nyaman dikenakan. Revolusi tahun A.D. 1911 menggulingkan kekuasaan bangsa Manchu, namun kebiasaan pakaian wanita bangsa Manchu tetap bertahan, kemudian dikembangkan dan menjadi pakaian tradisional wanita bangsa Tionghoa. Jenisnya juga beraneka macam, Leher tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan lengan baju bisa pendek, sedang atau panjang, tergantung musim dan selera. Cheongsam menampilkan kesederhanaan dan keanggunan, kemewahan dan kerapian.

Cheongsam tradisional banyak menggunakan bahan satin atau sutera yang bermotif khas. Beberapa motif yang umum dipakai untuk cheongsam adalah bunga, burung, naga, dan sebagainya. Motif-motif tersebut memiliki makna tertentu dan tak bisa dikenakan sembarangan. Masing-masing motif memiliki arti dan hanya boleh dikenakan kaum sosial tertentu.

 Beberapa motif yang dikenal antara lain:
Peony


Selama lebih dari 5000 tahun, motif bunga peony umum dikenakan wanita Tionghoa. Bunga yang juga menjadi bunga nasional bangsa Tionghoa ini memiliki simbol kekayaan dan kesejahteraan
.
Teratai


Dalam tradisi Tiongkok, bunga teratai merupakan lambang pengorbanan yang sakral. Pada masyarakat Tibet, teratai mencerminkan kecantikan yang suci.

Bunga krisan


Bagi masyarakat china, bunga krisan adalah perlambang panjang umur.

Ikan


Ikan juga merupakan lambang kesejahteraan.
Burung


Motif burung adalah lambang kecantikan dan kemurnian. Namun motif burung tertentu melambangkan kelas sosial pemakainya. Burung phoenix misalnya, hanya bisa dikenakan oleh keluarga inti kerajaan. Misalnya permaisuri dan putri kaisar. Motif burung merak bisa dikenakan wanita bangsawan tingkat dua, dan seterusnya.


Potongan cheongsam modern mengikuti bentuk tubuh yang umum ditemui saat ini pertama kali dikenalkan pada awal 1900-an di Shanghai. Pengaruh budaya Barat yang kuat di wilayah ini membuat para wanita kelas atas melakukan revolusi bentuk cheongsam.



Tradisi ini tidak pupus oleh waktu dan kemajuan jaman. Cheongsam tetap merupakan busana tradisional yang masih digemari sekaligus kebanggaan bangsa Tionghoa. Baik itu di restoran China maupun maskapai penerbangan Cina, cheongsam menjadi seragam kerja yang cantik yang sekaligus menunjukkan keunikan budaya.

Suasana Ruang Tidur Gadis Pingitan Tiongkok Kuno


Di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok, kamar tidur seorang gadis disebut Gui Fang atau kamar tidur gadis pingitan, adalah lokasi dimana remaja putri bertempat tinggal, duduk dan berbaring, berkultivasi ketrampilan perempuan (menenun, menjahit, menyulam dan lain-lain), mempelajari dan mendalami tata krama, kitab kuno dan puisi.

Kehidupan dalam ruang pingitan adalah tahapan terindah, yang teramat penting tapi juga terhangat di dalam kehidupan kaum perempuan, bagaikan kupu-kupu cantik sebelum dapat mengepakkan sayapnya untuk terbang ia akan berubah dengan perlahan dan diam-diam tumbuh di sebuah kepompong mungil yang terbalut dengan sutra bening.

Orang zaman kuno juga menamakannya Xiang Gui atau kamar yang harum. Menyebut gadis yang belum dewasa sebagai Daizi Guizhong atau gadis yang sedang menunggu lamaran, bahkan tak pelit tinta dalam melantunkan puisi dan nyanyian untuk melukiskan suasana kamar tidur gadis pingitan.

Sebuah ruang khusus di dalam tempat tinggal, kamar tidur tradisional untuk para gadis, pada bidang disain interiornya selalu terdapat dua ciri khas:

1. Pribadi dan rahasia, harus memiliki karakter tersembunyi yang tinggi,

2. Berkarakter, memiliki dekor bernuansa kehangatan yang amat kuat.

Sebutan lain untuk kamar gadis adalah Xiulou (loteng menyulam), tempat khusus para gadis untuk berkarya dalam ketrampilan perempuan di zaman kuno, di dalam keluarga dengan aturan rumah-tangga agak keras.

Xiulou merupakan dunia bagi para gadis, di tempat itulah dia menghasilkan karya-karyanya, atau berangan-angan ala seorang gadis pingitan.

Dari sudut pandang manusia zaman moderen, Xiulou betul-betul bagaikan penjara termodifikasi bagi gadis zaman kuno, namun segala sesuatu perlu dipandang dari dua sisi, di mana paling tidak seorang gadis bisa dengan tenang tanpa terusik berdiam diri di dalam Xiulou, dipastikan tak kekurangan sandang pangan, sehingga si anak gadis dapat mengultivasi karakter terpuji yang penuh kelembutan, ketenangan, keramahan dan keindahan.

alt

Bulan ke-7 (musim panas), memetik bunga lotus di danau teratai, angin sepoi membelai danau, aroma lotus harum semerbak, para gadis cantik berperahu berkumpul menambah sejumlah keceriaan hidup dalam pingitan. (XIN SANCAI)
Di dalam Xiulou zaman kuno, pada umumnya harus terdapat sebuah tambour embroidery (alat untuk membordir) yang digunakan untuk menyulam bunga dan diletakkan di bawah jendela yang menghadap matahari.

Pemandangan, di mana sinar matahari pagi yang memancar miring masuk ke kamar melalui jendela kayu, menyorot ke arah tambour embroidery dengan gadis yang sedang memfokuskan diri pada sulamannya, bisa menjadi sebuah lukisan yang begitu indah dan penuh kehangatan.

Di suatu tempat berjarak ratusan kilometer dari luar Kota Yi Yang, Provinsi Hunan, terdapat sebuah desa yang kesemuanya bermarga Zhang dan dinamakan Desa Zhang Guying.

Leluhur desa bernama Zhang Guying tersebut adalah pejabat semasa Dinasti Ming yang memimpin seluruh keluarganya mencari tempat hidup menyepi di pegunungan.

Secara turun temurun dibangunlah rumah induk leluhur Zhang sebagai poros utama, hingga kini telah terdapat 10.000 lebih rumah. Memasuki area itu bagaikan di dalam istana misteri.

Pencahayaan, pencegahan kebakaran, sirkulasi udara, sistem pengairan dari kompleks bangunan tersebut sangat unik, telah menimbulkan perhatian besar dari para pakar bangunan dalam negeri.

Menurut seorang anggota keluarga marga Zhang, para gadis semenjak berusia 10 tahun belajar menyulam di atas loteng (Xiu Lou), dilarang turun dari loteng sampai dengan waktu pernikahannya tiba.

Untuk artikel akan datang, kita akan simak benda-benda menarik apa saja yang terdapat di dalam kamar pingitan tersebut. Di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok, kamar tidur gadis yang belum menikah disebut "Gui Fang, kamar tidur gadis pingitan", adalah lokasi di mana remaja putri bertempat tinggal, duduk dan berbaring, berkultivasi ketrampilan gadis (menenun, menjahit, menyulam dan lain-lain), mempelajari dan mendalami tata krama, kitab kuno dan puisi...

Sebagai sebuah ruang khusus di dalam tempat tinggal, kamar tidur gadis tradisional, pada bidang disain interiornya selamanya terdapat 2 ciri khas:

1. Pribadi dan rahasia, harus memiliki karakter tersembunyi yang tinggi,

2. Berkarakter, memiliki dekor bernuansa kehangatan yang amat kuat.
Cermin

Putri di dalam kamar pingitan, kebanyakan adalah narcissistic, sebelum dia mencintai seseorang, dia terobsesi oleh dirinya sendiri dan kawan sekamar terbaiknya yaitu cermin.

Cermin paling terkenal kemungkinan adalah sungai kecil yang dinamakan Ruo Ye, bayang-bayang gadis cantik yang mencuci gulungan benang di tepi sungai membuat para ikan malu sampai bersembunyi di dasar sungai, telah meninggalkan cerita dongeng selama ribuan tahun.

Cermin tembaga di zaman kuno dipergunakan untuk menata rambut dan merias wajah serta mengusir roh jahat, cermin tembaga paling kuno yang masih utuh ditemukan pada makam Fuhao (permaisuri sekaligus jenderal perempuan) dari situs Dinasti Yin-Shang (abad 16-11SM).

Jangankan para perempuan pada umumnya, nampaknya di dasar hati seorang pahlawan perempuan yang mendampingi suaminya berperang pun, masih amat suka terlihat cantik.

Pada zaman Han Barat (206 SM - 25), orang-orang mulai menggunakan cermin tembaga sebagai kenangan dan cenderamata asmara antar lelaki-perempuan, mengambil makna "hati saling merefleksi".

Semasa hidup saling memberi dan "Saling menemani pada hari tua", setelah mati dikubur dalam satu makam, untuk menunjukkan "sehidup semati".

Tang Su-E di dalam "Duyang Ja Pian" terdapat sebuah kisah tentang "Memecah cermin berkumpul kembali", mengisahkan putri Le Chang dari Dinasti Nan Chao (420 - 589) dan pejabat Xu Deyan setelah mengalami pahit getirnya cinta pada akhirnya happy ending.

Pada zaman ini masih sering dipakai mengumpamakan suami istri setelah terpisah kemudian bertemu kembali atau sesudah kepergian akhirnya ber-happy ending.

Kisah asmara antara Bao dan Dai di "Hong Lou Meng, Dream of Red Mansions (novel klasik Tiongkok)" oleh si penulis mau tak mau juga diumpamakan sebagai sebuah asmara tanpa harapan bagaikan sebuah Mirror Flower Water Moon (suatu hal yang masih dalam angan-angan, masih sulit diraih).
Xie Yi-Pakaian Dalam

Pakaian dalam (pakaian sehari-hari) gadis di zaman kuno pada awalnya disebut Xie Yi. Xie bermakna "Sembrono atau tidak khidmat", dari sini bisa dilihat psikologis orang zaman kuno terhadap pakaian dalam adalah menghindar dan tersembunyi. Sejarah pakaian dalam Tiongkok sangat panjang, dalam sejarah yang dapat dilacak ialah dari Dinasti Han (sejak abad 3 SM).

Pakaian dalam gadis zaman kuno menyimpan perasaan sentimental masa lalu yang tak ada habisnya, "Bagian depan bulat-belakang persegi, bagian depan pendek - belakang panjang, ini adalah konsepsi tradisional yang menyesuaikan penyatuan antara langit-bumi-manusia."

Melalui pinggang, dada dan bahu masing-masing diberi pengikat, demi mencapai efek "Pembenahan kontinu bentuk tubuh plastis" di dalam gerak/olah tubuh. Pertemuan mulut kantong dengan sambungan harus diberi sulaman gambar kecil untuk menutupi titik simpul benang, mempertahankan keutuhan gambar, inilah yang disebut "memasuki wilayah lain tumbuh rasa sayang".

Ini juga telah menampung sejumlah 10 macam lebih ketrampilan teknis yakni: menyulam, menjahit, menempel, menambal, menjahit ornamen pada tepian pakaian, menjahit lingkaran, menjahit sepanjang tepi pakaian dan lain-lain, guna menyatakan tema yang berlainan. Sayangnya sebagian ketrampilan tersebut, sudah tidak terwariskan lagi pada saat ini.
Tiongkok sejak dahulu kala sudah memperhatikan tata krama, orang-orang sangat mementingkan dandanan dan penampilan diri, wajar kalau disebut sebagai negara bertatakrama, tata krama semacam ini menimbulkan pula pengaruh mendalam di wilayah sekitar Tiongkok.

Shu Li (sisir) membuat rambut bersih dan tak berdebu, terlihat jelas sehelai demi sehelai. Sudah sejak 4.000 tahun silam, leluhur orang Tionghoa sudah memiliki kebiasaan bersisir. Sisir sebelum periode Chun Qiu (abad 11-771 SM) bentuk maupun pembuatannya rumit dan dekornya elegan, tetapi bentuk luar pada dasarnya sama, selalu berbentuk lurus: tangkainya agak tinggi, bagian bidang mendatarnya agak sempit, jarang yang berbentuk persegi atau datar.

Sejak zaman Zhan Guo (770-256 SM) hingga ke dinasti Wei-Jin dan Nan Bei (265 - 589 SM), material sisir paling banyak menggunakan bahan kayu dan diutamakan kayu bambu, bentuk sisir, kebanyakan bagian atas bulat, agian bawah berbentuk persegi bagaikan tapal kuda.

Sisir dari zaman Sui-Tang (581 - 907), kebanyakan berbentuk berundak, jelas lebih pendek daripada zaman sebelumnya, material dan dekorasi dibedakan menurut fungsinya. Sesudah dinasti Song (960 - 1279), bentuk sisir menjurus ke datar, pada umumnya berbentuk bulan sabit. Model sisir pada zaman Ming dan Qing (1368-1911), pada dasarnya mempertahankan model Song.

Sebagai benda penting untuk berdandan dan make up wajah, sisir tentu saja juga termasuk salah satu perkakas yang harus disiapkan.
Kotak Bedak

"Ksatria mati demi orang yang dipercaya, perempuan bersolek demi orang yang dicintai". Kaum perempuan semasa Zhan Guo (770-256 SM) sudah mulai menggunakan Ceruse? untuk membedaki wajah, menghitamkan alis dan menyulap wajah yang semula biasa menjadi cantik.

Bedak zaman kuno, terdiri dari dua macam, yang satu macam menggunakan biji beras yang setelah ditumbuk halus ditambahkan rempah-rempah, maka itu aksara Fen (=serbuk) menggunakan aksara Mi (=beras) pada paruh kiri dan kanannya diikuti aksara Fen (=disisihkan). Macam lainnya adalah minyak untuk wajah yang berbentuk adonan, disebut hu fen. Oleh karena hasil penguraian dari bahan plumbum, maka juga dinamakan serbuk plumbum.

Selain serbuk beras dan serbuk plumbum, bedak rias juga menggunakan bahan lainnya. Seperti pada zaman Song, terdapat "bedak bunga persik putri jelita" yang dibuat dengan rumput Motherwort (Leonurus cardiaca) dan serbuk gypsum; pada zaman Ming, ada "bedak mutiara" yang terbuat dari bijih bunga Mirabilis; pada zaman Qing, ada "bedak batu" yang menggunakan batu licin dan bebatuan mineral lunak dan halus yang digerus dan lain-lain. Warna bedak yang semula hanya putih bertambah ke banyak warna dan dicampuri dengan berbagai wewangian mahal sehingga lebih berkhasiat memikat orang.

Alat make up utama untuk melengkapi bedak di zaman kuno adalah Rouge (Power Stone), semacam bahan pewarna alami untuk warna merah, juga alat utama dalam merias wajah, mirip blush on? yang dipakai zaman sekarang.
Sapu Tangan

Pada zaman moderen ini sudah tidak banyak kaum perempuan yang memakai sapu tangan, sedangkan bagi perempuan zaman kuno, sapu tangan ialah benda pribadi berharga bagi gadis pingitan. Biasanya dilipat dengan lipatan tertentu dan diselipkan ke dalam gelang lengan.

Sapu tangan adalah benda bersifat sangat pribadi dan hangat, maka itu perempuan zaman kuno mengangkat persaudaraan juga disebut "sahabat sapu tangan". Pada salah satu sudut sapu tangan di-infiks ring yang ditembus oleh tiga sudut lainnya, dinamakan "gabungan menembus hati", isi di dalamnya barangkali ialah isi hati kaum perempuan.

Di zaman kuno, sapu tangan adalah salah satu benda pengikat pertunangan/percintaan antar dua sejoli. Di dalam buku Impian Loteng Merah terdapat detail bagaimana Bao Yu memberi Dai Yu kenang-kenangan berupa sapu tangan lama dan kisah penyampaian cinta Jia Yun melalui satu sapu tangan mungil berwarna merah.
Kata Penutup

Semenjak dulu kala, perempuan dibedakan dengan pria, perbedaan ini tidak hanya terbatas secara biologis, juga termasuk psikologis. Berbagai bidang kehidupan orang zaman kuno adalah perwujudan prinsip Yin dan Yang, kaum pria mengutamakan maskulinitas, kecerdasan dan keberanian, perempuan mengutamakan keanggunan dan kesucian, kamar gadis pingitan justru untuk membantu kaum gadis untuk berkultivasi akhlak dan kepribadian yang menawan.

Kaum Hawa zaman kuno, kebanyakan lemah lembut dan tulus, meski terdapat perempuan luar biasa seperti Hong Fu (pendekar perempuan pada zaman akhir Dinasti Sui, awal abad ke-7) dan Hong Yu dan lain-lain, tapi toh tetap tidak kehilangan karakter indah yang khusus dipunyai oleh perempuan yang tulus dan penuh kelembutan.

Oleh karena itu kehidupan sewaktu dalam ruang pingitan apakah berperan kunci di dalam proses kultivasi kepribadian seperti itu? Saya kira jelas memang demikian, karena, karakter/kepribadian seseorang sebagian besarnya terpengaruh oleh lingkungannya.

Zaman sekarang kebanyakan perempuan terlalu menekankan hak gender dan meluapnya pemikiran kebebasan seks, ditambah lagi dengan nafsu memiliki masyarakat riil yang tak dapat dibendung, kebanyakan hanya memiliki penampilan sebagai perempuan tapi tak memiliki hakekat sebagai seorang perempuan.

Pada permukaannya meski berwujud perempuan, tetapi sorot mata, mimik, tutur kata dan ekspresi tidak lagi memancarkan kelembutan dan keanggunan yang khusus dimiliki kaum perempuan, untuk itu, para pria juga semakin lama semakin kehilangan sikap ksatria yang berlapang dada serta hati yang menyayangi perempuan (yang diidentikkan dengan batu giok harum).

Di dalam kendaraan umum, sudah lumrah, kaum pria gagah perkasa sama sekali tak menghiraukan para perempuan yang bersepatukan tumit tinggi bahkan terhadap perempuan hamil pun hati mereka bergeming.

Sebagai kaum hawa yang hidup pada zaman moderen ini bukankah semestinya merenung baik-baik, di satu sisi terlalu menekankan hak kesetaraan gender dan bersamaan itu terlalu longgar dalam konsep moralitas, bukankah bersamaan itu juga telah kehilangan karakter indah yang khusus dimiliki dan dianugerahkan kepada kaum perempuan oleh Sang Pencipta? (Kailing/The Epoch Times/whs)

Sisir (Shu Bi, shu = sisir yang agak renggang, Bi = jenis sisir yang lebih rapat)

Kekuatan Kebaikan


Kebaikan adalah sifat hati yang alami yang dianugrahkan kepada manusia oleh langit, dan ia merupakan unsur paling indah dalam esensi kehidupan manusia. Maka hal yang paling penting untuk seorang manusia adalah untuk mengembangkan kebaikan dan meningkatkan moralitasnya. Seorang manusia yang baik senang membaca buku yang baik dan melakukan perbuatan baik sehingga menjadi teladan bagi masyarakat umum untuk melakukan hal yang sama, hidup dengan damai sejahtera berdasarkan pada prinsip langit yang lurus. Contoh tokoh-tokoh di masa lalu yang melakukan kebaikan tak terhitung banyaknya. Ini adalah beberapa diantaranya:

Pada musim semi dan musim gugur (770B.C-476 B.C), ketika Zi Lu dari Negara Lu pergi bertemu Confucius untuk pertama kalinya, ia mengenakan sebuah bulu di kepalanya dengan angkuh. Tetapi setelah Confusius mengatakan kepadanya mengenai kebaikan dari sifat rendah hati, ia tersentuh dan bersedia mengubah penampilannya, mengenakan pakaian pelajar sederhana dan mulai belajar etika dari Confucius.

Saat mengajarkan bagaimana caranya menjadi seorang manusia dan seorang pejabat, Confucius berkata,”Kesetiaan adalah paling penting untuk menjadi manusia. Seorang manusia yang memiliki keberanian tapi tanpa adanya kesetiaan akan menjadi kacau. Bagi orang picik, keberanian tanpa adanya kesetiaan adalah pencuri. Seorang pejabat harus memberikan contoh yang baik untuk yang lainnya; ia tidak boleh kendur dalam bekerja keras dan memperhatikan orang-orang.” Zi Lu mengikuti Confucius melakukan perjalanan keliling negara, mengembangkan etika, dan perlahan kebijaksanaannya bertambah besar. Ia setia kepada gurunya dan mengabdikan hidupnya kepada negara. Zi Lu berbesar hati untuk belajar tentang kekeliruan-kekeliruannya dan tidak pernah ragu untuk memperbaikinya dan menyebutnya sebagai sebuah kemajuan,”’ Confusius memuji dia kemudian Zi Lu menjadi seorang pejabat penting di wilayah Puyi. Tiga tahun setelah ia mulai memimpin daerah dengan etika dan musik, Puyi berubah menjadi sebuah lahan yang makmur dan tenang dan orang-orang saling hormat satu sama lainnya. Confusius menghubungkan kesuksesan ini dengan kebaikan sifat muridnya itu.

Wu Qianjin dari Shanyou pada masa kaisar Dinasti Ming memerintah (1368-1644) adalah seorang manusia yang agresif dan berotot. Sebagai seorang master beladiri, ia cenderung untuk mengunakan pukulan-pukulan cepatnya melawan siapa pun yang merintangi keinginannya. Ia merebut harta atau uang orang lain sesuka hati, dan semua orang takut pada dia. Suatu hari yang panas, ia naik ke teras untuk mencari kesejukan. Orang-orang semua menjadi takut ketika melihat dia muncul, dan perlahan menyingkir. Tetapi seorang laki-laki tua diam tidak takut. Wu Qianjin berkata seolah-olah ia adalah penguasa,”Setiap orang telah pergi, hanya anda yang masih disini, anda pikir saya bukan master beladiri yang hebat ya?” Kakek tua itu menjawab: “Anda salah mengira,” ”Orang tua anda membesarkan anda, berharap agar anda menjadi berguna bagi bangsa anda. Anda adalah seorang master beladiri, namun anda tidak pernah berpikir tentang bagaimana caranya mengabdi untuk negara; malah menjadi sampah masyarakat. Negeri ini kehilangan satu orang berbakat. Sayang sekali! Sayang sekali!” mendengar kata-kata laki-laki tua itu, Wu Qianjin berkata dengan air mata penuh penyesalan,”setiap orang di sekitar saya berkata bahwa saya orang jahat, maka saya berpikir bahwa saya memang orang jahat. Kata-kata anda hari ini seperti suara lonceng nyaring di pagi hari, membangunkan saya dari tidur. Tetapi sekarang saya adalah orang yang telah berbuat jahat begitu lama, saya bimbang apakah saya bisa menjadi manusia yang baik; menjadi seorang manusia yang benar-benar baik seperti yang saya inginkan. Kelihatannya seperti bulan sabit sulit ingin menjadi bulan purnama.” Laki-laki tua berkata,” jika anda bersungguh-sungguh mau merubah jalan hidup anda dan mulai mengkultivasikan diri anda dan menjadi orang yang baik, saya tidak melihat mengapa anda tidak bisa.

Sejak saat itu Wu Qianjin berubah dan mulai bekerja untuk negerinya, masuk ke militer. Kemudian ia menjadi wakil kepala keamanan dari bala tentara dan sangat dihormati dan dipuji kepemimpinannya dan belas kasihnya pada orang-orang. Sebuah pepatah di masa lalu mengatakan,” manusia tidak luput dari salah, tetapi bisa membetulkan kesalahan adalah sebuah kebaikan yang besar.”

Menyebarkan kebaikan mengilhami orang-orang untuk merefleksi arti kehidupan manusia tentang bagaimana caranya menunjukan kasih sayang kepada orang lain dan menghindari pengejaran kepentingan pribadi dan kesenangan-kesenangan. Kekuatan kebaikan adalah luar biasa, karena hadir dimana-mana dan mampu mengubah lubuk hati setiap orang. Ia akan dapat memandu orang-orang melakukan kebenaran, mereka kembali pada suara hati mereka, memecahkan segala sesuatu yang tidak lurus.

Mengapa Gadis Manchu Memakai Sepatu 'Cunzi'


sepatu cunzi untuk gadis Manchu

Sepatu 'Cunzi' untuk gadis Manchu (foto web)
Para gadis Manchu tinggal di wilayah Timur Laut China, dan mereka suka memakai sepatu 'Cunzi'. Sepatu Cunzi mungkin merupakan sepatu hak tinggi asli Tiongkok. Perbedaan antara sepatu hak tinggi modern dan Cunzi adalah bahwa hak ditempatkan di tengah sepatu, dan biasanya terbuat dari kayu. Ada banyak bentuk dan ketebalan hak kayu - beberapa terlihat seperti kuku kuda, beberapa terlihat seperti botol, dan sepatu -sepatu tersebut diberi nama menurut bentuk-bentuk ini.

Mengapa gadis-gadis Manchu suka memakai gaya unik dari sepatu hak tinggi ini? Ada dongeng China yang menceritakan tentang Kaisar Manchu yang terbunuh. Putrinya ingin membalaskan dendam ayahnya, namun ada air yang dalam menghalangi pasukannya. Dia punya ide ketika mengamati bangau putih berkaki panjang. Dia menyuruh orang-orang untuk membuat sepatu seperti kaki bangau. Akhirnya pasukan itu melintasi air yang dalam dan merebut kota itu kembali untuk ayahnya. Sejak saat itu, gadis-gadis Manchu juga memakai sepatu Cunzi untuk memetik jamur, untuk mencegah digigit ular.

Mengenakan sepatu Cunzi, juga disebut sepatu 'Qi', para gadis Manchu tidak hanya terlihat lebih tinggi, ketika berjalan, sepatu itu membuat mereka terlihat sangat anggun dan elegan. Tentu saja, ada juga kekurangan-kekurangan mengenakan sepatu itu - Anda tidak dapat berjalan terlalu cepat atau terlalu lama jika memakainya.

Ketika dinasti Manchu berkembang, mereka berbaur dengan budaya Han. Sampai akhir Dinasti Qing, sepatu-sepatu itu hanya terlihat di kaki para selir di istana. Sekarang ini, sepatu Cunzi yang elegan hanya dapat dilihat di atas panggung.

Indahnya Kejujuran dan Kepercayaan


Kebudayaan tradisional Tiongkok dianugerahkan oleh Tuhan dan memiliki sejarah sangat panjang. Orang Tiongkok kuno menekankan kultivasi moral, mereka menganggap kejujuran dan kepercayaan sebagai unsur paling mendasar dari kultivasi moral.

Sejak proses langit dan bumi melahirkan segalanya dan memeliharanya, orang Tiongkok kuno telah melihat kebenaran dan ketulusan sebagai karakteristik alam semesta. Mereka menyebut karakteristik ini sebagai “kejujuran”. Mereka menekankan bahwa manusia harus mencapai integritas moral yang sesuai dengan prinsip-prinsip langit.

Dari karakter struktur huruf Tiongkok, "kepercayaan" (diucapkan sebagai "xin"), kita dapat melihat bahwa karakter ini merupakan kombinasi dari dua karakter, "manusia" (diucapkan sebagai "yen") dan "kata-kata manusia" (diucapkan sebagai "yan"). Oleh karena itu, karakter Tiongkok "kepercayaan" berarti "kata-kata manusia adalah dapat dipercaya." Akibatnya, dalam budaya Tiongkok ada ucapan-ucapan tentang "kepercayaan" antara lain "Janji bernilai seribu ons emas;" "Janji harus dijaga, dan tindakan harus tegas;" dan "Janji tidak dapat ditarik kembali setelah dibuat; "dan seterusnya. Ada banyak cerita tentang orang-orang Tiongkok kuno bersikap jujur, dapat dipercaya dan menjaga janji-janji mereka.

Sebagai contoh, Konfusius mengajarkan para siswanya untuk menjaga sikap melalui belajar dan mendalami pengetahuan. Ia berkata: "Apa yang Anda tahu, Anda tahu, apa yang Anda tidak tahu, Anda tidak tahu." Artinya, adalah pengetahuan yang benar ialah ketika seseorang mengakui apa yang dia tahu dan yang dia tidak tahu. Ia harus jujur, tidak sombong dan harus rendah hati. Tindakan seseorang harus sesuai dengan kata-katanya, dan "Sebagai pria akan menjadi aib bila membiarkan kata-katanya melebihi perbuatannya."

Menurut Lun Yu (kata pengantar Konfusius), ketika Konfusius berbicara tentang bagaimana seseorang mengultivasi diri sendiri atau memperlakukan orang lain dengan baik, ia berulang-ulang menyebutkan "kepercayaan," "Seseorang tidak dapat menegakkan diri tanpa kejujuran dan kepercayaan." Ketika Konfusius berbicara tentang memerintah sebuah bangsa, ia berkata, "Orang-orang tidak dapat diatur tanpa adanya kepercayaan." Menurutnya, "kepercayaan" adalah kekuatan yang lebih penting daripada tentara atau makanan.

Pada Dinasti Song Utara, Fan Zhongyan muda (cendikiawan terkenal dan perdana menteri pada Dinasti Song, yang memiliki integritas moral tinggi) masih belajar di Suiyang, dia mengenal seorang ahli kimia. Suatu hari, ahli kimia ini memberitahu Fan Zhongyan bahwa hidupnya tak lama lagi dikarenakan ia menderita sebuah penyakit. Dia memberitahu Fan, "Saya telah berhasil meneliti rumus rahasia alkimia. Anak saya masih kecil dan saya belum bisa mengajarinya keahlian “Sentuhan Emas” yang saya temukan ini. Saya meminta Anda membantu menjaga resep rahasia ini." Ahli kimia menyegel temuan rahasianya itu di dalam sebuah kotak, di dalamnya juga disertakan satu pon logam platinum yang dibuatnya menurut rumus alkimianya. Ia menitipkannya kepada Fan, dan tak lama kemudian ia wafat.

Beberapa tahun kemudian Fan telah menjadi pejabat yang bertugas sebagai pemberi kritik dan saran kepada pemerintah. Dia mencari anak dari Si ahli kimia itu dan mengatakan kepadanya, "Ayahmu memiliki keahlian “Sentuhan Emas”. Saat dia meninggal, kamu masih sangat muda, dan dia meminta saya untuk menjaga rumus rahasia ini untuk kamu. Sekarang kamu sudah besar, dan saya akan menyerahkannya padamu. " Dia kemudian mengambil kotak berisi rumus rahasia beserta logam platinum itu dan menyerahkannya kepada putra ahli kimia itu. Segel kotak masih utuh, membuktikan bahwa kotak tersebut belum pernah dibuka.

Jumat, 16 Juli 2010

Dewa Perkawinan


Dalam pepatah Tiongkok, ada pepatah indah yang berisikan ungkapan "Yue-xia-lao-ren" - yang berarti lelaki tua di bawah sinar bulan. Ini juga merupakan sebutan yang diberikan untuk perantara jodoh.

Cerita berikut ini beredar luas pada Dinasti Tang. Orang tua Wei Gu meninggal ketika ia masih sangat muda. Dia sangat ingin menemukan seorang gadis dan menikah, tapi tidak pernah berhasil. Suatu hari ia pergi ke Kota Song dan tinggal di sebuah asrama.

Tamu asrama lainnya mencoba mengatur agar Wei bertemu dengan seorang gadis dari desa terdekat. Mereka berjanji ketemu di kuil Longxing dekat asrama itu untuk keesokan paginya. Tapi Wei sangat ingin bertemu dengan gadis itu sehingga ia tiba sebelum fajar ketika masih gelap.

Ketika sampai di kuil itu, ia melihat seorang lelaki tua duduk di tanah dalam cahaya bulan, dengan karung besar di sampingnya, membaca buku yang besar dan tebal. Wei mendekat dan melihat buku itu, tapi tidak bisa memahami sepatah kata pun. Wei penasaran dan bertanya, "Ya Papa, buku apa yang Anda baca? Saya telah belajar sangat keras dan saya bisa membaca banyak bahasa. Saya juga bisa membaca Tianlan dan Sansekerta! Tapi kenapa saya tidak bisa memahami kata-kata dalam buku Anda? Kenapa begitu?"

Orang tua itu tertawa, "Ini bukan buku dunia ini; bagaimana mungkin kamu bisa membacanya?"

"Lalu buku macam apa itu?" Wei bertanya.

"Buku dari dunia bawah tanah."

Wei bertanya, "Bagaimana seseorang dari dunia bawah datang ke dunia ini?"

Orang tua itu menjawab, "Ini bukan masalah bahwa saya berada di sini, tapi kamu bertemu aku karena kamu datang terlalu dini. Pejabat di dunia bawah tanah memiliki hal-hal untuk mengatur manusia di sini; mereka tentu saja harus sering datang ke sini."

Wei bertanya, "Baik, jenis hal-hal apa yang Anda kendalikan?"

"Buku yang mencatat semua perkawinan laki-laki dan perempuan," jawab lelaki tua itu.

Wei yang senang mendengar hal ini bertanya lagi, "Saya akan bertemu seorang gadis di sini hari ini. Apakah saya berhasil? "

Orang tua itu menjawab, "Giliranmu belum datang. Calon istrimu baru 3 tahun, dan akan menjadi istrimu ketika dia berusia 17 tahun."

Wei begitu marah dan bertanya dengan santai, "Apa yang ada dalam karung Anda?"

"Tali-tali merah. Tali merah itu digunakan untuk mengikat kaki suami istri. Aku akan mengikat kaki mereka bersama-sama ketika mereka duduk. Tak peduli laki-laki atau perempuan - apakah kedua belah pihak adalah musuh, atau terpisah usia yang jauh antara satu sama lain; miskin atau kaya, atau dari negara yang berbeda - asalkan aku mengikatkan tali merah ini ke kaki mereka, mereka pasti akan menjadi terdamaikan, dan akan menjadi suami - istri. Kaki Anda sudah terikat dengan orang itu; tidak ada gunanya mengejar orang lain. "

Wei bertanya, "Baik, di mana istri saya? Bagaimana cara hidup keluarganya?

"Dia adalah putri Bibi Chen di sisi utara kota ini," jawab orang tua itu.

"Bisakah saya melihat-lihat dulu?"

"Bibi Chen sering membawanya ke sini untuk menjual sayur-sayuran, jika kamu mengikuti aku, aku akan menunjukkannya untukmu."

Wei mencoba menanyakan lebih banyak pertanyaan, tetapi orang tua itu berdiri membawa buku dan karungnya berjalan menuju pasar. Wei Gu mengikutinya dengan cermat. Ketika mereka tiba di pasar, mereka melihat seorang wanita yang salah satu matanya buta sedang menggendong seorang gadis kecil yang berusia tiga tahunan dalam pelukannya dan berjalan ke arah mereka. Orang tua itu kemudian berkata kepada Wei Gu, "Gadis kecil di lengan wanita itulah yang akan menjadi istrimu kelak."

Gu Wei sangat marah dan bertanya kepada orang tua itu, "Bagaimana kalau aku membunuhnya?"

Orang tua itu menjawab, "Ini adalah orang yang ditakdirkan untuk menikmati kekayaan dan posisi yang tinggi dalam masyarakat, dan kamu akan dipromosikan karena dia; bagaimana mungkin kamu membunuhnya?" Setelah berkata, orang tua itu menghilang.

Wei kembali ke asrama, mengasah sebilah pisau dan memberikannya kepada pelayannya sambil berkata, "Kamu harus melakukan pekerjaan dengan rapi! Setelah kamu membunuhnya, aku akan memberi kamu sepuluh ribu Guan (nama uang Tiongkok kuno jaman itu). "

Pelayan itu pergi ke pasar keesokan harinya dan menikam gadis itu. Orang-orang di sekitarnya terkejut dan dalam kekacauan. Pelayan itu menggunakan keributan itu untuk berlari pulang dan melapor kepada tuannya, "Saya bermaksud menikam jantungnya, tapi lepas kendali, saya menikam kepalanya. Dia pasti mati. "

Setelah itu Wei Gu sering berusaha menemukan pasangan nikah, tetapi tidak berhasil. Empat belas tahun berlalu seperti dalam sekejap. Wei Gu dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi di tempat lain. Gubernur negara itu, Wang Tai mempertimbangkan kemampuan Wei Gu dan menawari Wei Gu untuk menikahi putrinya. Gadis itu berusia sekitar 17 tahun dan cantik. Wei Gu sangat gembira dan menikah.

Sang istri sungguh baik kepadanya dalam segala hal kecuali satu yang Wei ditemukan cukup aneh: istrinya selalu memakai hiasan bunga di dahi, di antara kedua alis. Wei akhirnya bertanya kepada istrinya tentang maksud hiasan itu. Dia menangis dan menjawab, "Saya adalah seorang anak angkat; gubernur Wang Tai adalah paman saya. Ayah saya meninggal tepat setelah saya lahir, dan ibu dan saudara saya juga meninggal sangat dini, dan bibi saya harus merawat saya ketika saya berusia 3 tahun. Suatu hari saya berada di sebuah pasar bersama Bibi ... Dia dan Paman bekerja keras. Ketika paman dipromosikan menjadi gubernur, saya datang ke kota ini. Sekarang dia telah menikahkan saya dengan Anda. "

Wei bertanya, "Apakah bibi kamu memiliki satu mata yang buta?"

"Ya, Apakah Anda mengenalnya?" tanya istrinya. Wei kemudian membuat pengakuan yang mendalam kepada istrinya.

Wei Gu kini mengerti bahwa apa yang dikatakan Dewa Perkawinan di kuil itu belasan tahun yang lalu bukanlah lelucon. Para Dewa telah secara pasti mengatur takdir pertemuan suami-istri. Suami-istri tersebut sangat menghargai perkawinan mereka dan memiliki kehidupan perkawinan yang mengagumkan bersama-sama.

Cerita ini segera tersebar di Kota Song. Masyarakat setempat mengubah nama asrama itu menjadi "Asrama Pertunangan" untuk memperingati kemunculan Dewa Perkawinan. Sejak saat itu, orang-orang percaya bahwa kehidupan bersama laki-laki dan perempuan diikat dengan tali merah dan didamaikan oleh Dewa Perkawinan, lelaki tua di bawah sinar bulan. Orang-orang membangun banyak kuil setelah cerita itu tersebar luas, dan orang-orang mengharapkan orang tua itu bisa tinggal di kuil-kuil itu untuk beristirahat ketika ia berkunjung ke sana. (Secret China/bud)