欢迎..............欢迎..............欢迎


Jumat, 06 Mei 2011

Seni Mengajar Tiongkok Kuno (2)



Di Tiongkok kuno, pendidikan dilakukan baik di sektor swasta dan pemerintah. Anak-anak dididik di rumah oleh pengajar privat (dikenal sebagai Sishu), sarjana-sarjana yang gagal dari ujian pemerintah pusat. Mendidik anak adalah sebuah jalur karir yang penting bagi para intelektual ini: ini menyediakan sarana penghidupan, memumuk bakat mereka, dan mempromosikan pendidikan di masyarakat.

Dalam masyarakat Tiongkok kuno, setiap orang menghormati para guru dan seorang guru sangat dianggap sebagai figur otoritas. Hirarki penghormatan dari: “Langit, Bumi, Kaisar, Orang Tua, Guru.”

Orang-orang menganggapnya sebagai motto bahwa "Sehari menjadi guru adalah seumur hidup menjadi seorang ayah.” Oleh karena itu para intelektual sangat berkeinginan untuk mengajar. Jika salah satu dari siswanya mampu mencapai peringkat tinggi di ujian pemerintah pusat dan menjadi pejabat tinggi, itu akan membawa kemuliaan besar bagi guru mereka, ia akan dihormati seumur hidupnya.

Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah disebut Shuyuan. Beberapa dari mereka adalah milik privat tetapi semua memiliki latar belakang resmi; mereka sering kali didukung secara financial oleh pemerintah. Tujuan Shuyuan adalah lebih meningkatkan pengajaran dan mengatur sebuah pelatihan bakat tingkat tinggi. Hanya mereka yang didedikasikan untuk mengikuti ujian pemerintah yang cukup baik untuk masuk Shuyuan.

Shuyuan hanya ada di tingkat provinsi atau di ibukota provinsi besar. Shuyuan menyediakan pendidikan terbaik dan memiliki standar akademis tinggi.

Para direktur Shuyuan semuanya adalah tokoh terkemuka di kalangan akademisi dan sarjana yang sangat dihormati. Pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendirikan sekolah-sekolah ini, yang memungkinkan pendidikan berkualitas tersedia bagi masyarakat umum. Sistem pendidikan Tiongkok kuno itu sangat komprehensif dan disesuaikan untuk menyediakan negara dan masyarakat dengan orang-orang berbakat di berbagai bidang.

Dalam masyarakat Tiongkok klasik, pendidikan diklasifikasikan ke dalam pendidikan klasik, pendidikan dasar, dan setengah klasik dan pendidikan setengah dasar. Pendidikan dasar mengajarkan pengetahuan dasar bagi pemula. Para guru hanya membaca keras-keras buku teks tanpa menjelaskan artinya. Sebagaimana guru membaca, para siswa menghafal setiap kata dan ungkapan. Para cendekiawan, pemula muda, dengan demikian akan menghafal ratusan ribu karakter.

Metode mengajar ini mungkin terlihat kikuk tapi ternyata efektif untuk alasan-alasan berikut: Pertama-tama, berfungsi untuk mengasah temperamen para siswa dan memperbaiki sikap mereka dalam belajar. Kedua, melalui pelatihan intensif tersebut, kata-kata dengan makna mendalam akan terukir di dalam pikiran para siswa dan mereka dapat mengingat dan menggunakan kata-kata ini sebagai dasar bagi tingkah laku mereka selama hidupnya. Bagian dari pelajaran ini meletakkan dasar-dasar yang solid bagi pendidikan di masa depan mereka.

Ada alasan kenapa para guru tidak menjelaskan arti dari teks-teks itu. Kata-kata dari orang-orang suci mempunyai makna dan filosofi yang mendalam dan tidak dapat dijelaskan hanya dalam beberapa kata saja. Para siswa mungkin tidak bisa memahami dengan penjelasan yang paling menyeluruh pun. Mungkan akan diperlukan seumur hidup sang siswa untuk mencerna pengetahuan ini, memahaminya, dan mempraktekkannya sebelum dia bisa mencapai realisasi secara menyeluruh. Subjektif atau penjelasan tidak seharusnya dengan mudah bisa menyesatkan para siswa. Oleh karena itu buku-buku klasik Konfucu, sudah menjadi tradisi bahwa guru tidak menjelaskan kepada mereka pada tingkat pendidikan dasar.

Pendidikan klasik berarti para guru menjelaskan kata atau ungkapan sebagaimana ia mengkuliahi para siswanya. Ada diskusi terbuka antara guru dan siswa. Pada tingkat ini, siswa sudah memiliki sejumlah pengetahuan dan dasar-dasar akademis yang kokoh dan mampu bertukar pendapat dan berdiskusi dengan para guru. Para siswa bisa mengajukan pertanyaan dan para guru akan menjawabnya.

Pendidikan setengah dasar dan setengah klasik ada di suatu tempat di antara keduanya. Guru akan menjelaskan isi ceramahnya sampai batas tertentu, Tidak peduli jenis penelitian yang mana, jenis-jenis kuliah yang diberikan kepada para siswa sangat berhubungan dengan tingkat akademik guru.

Pendidikan Tiongkok kuno menaruh banyak perhatian pada apakah para siswa benar-benar tercerahkan dengan wawasan dan pengalaman. Hanya ketika siswa benar-benar bisa menguasai pengetahuan yang mereka anggap bermutu.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa pendidikan Tiongkok kuno tidak lebih dari menghafal mati dan karenanya membosankan. Itu tidak sepenuhnya betul. Pembelajaran yang sebenarnya adalah sebuah proses yang memiliki kesulitan. Itu adalah alami ketika seseorang bekerja keras, ia akan dihargai. Sistem pendidikan Tiongkok kuno adalah khususnya tentang bergerak maju secara bertahap. Penampilan akademik seorang siswa adalah berhubungan dengan pembinaan dirinya sendiri. Kemajuan seorang murid dalam bidang akademik adalah pencerminan dari kemajuan dirinya dalam pembinaan diri.

Pendidikan kuno tidaklah membosankan, melainkan bermanfaat dan menyenangkan. Selain mempelajari buku-buku klasik Konfucu, siswa menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam mempelajari puisi, menyanyi, kaligrafi, musik, catur, menulis, dan melukis.

Ada juga berbagai macam pelatihan khusus dalam pendidikan kuno seperti pencerahan ritme, mengupas kata-kata/ungkapan, menulis puisi, menulis artikel, memainkan instrumen musik, dan melukis. Pelatihan ini dilakukan setiap hari dan pendidikan dicampur dengan hiburan. Ini mendorong kecerdasan para siswa, melatih proses pemikiran mereka dan meningkatkan tingkat ketrampilan menulis mereka. Hal ini juga mendorong kreativitas para siswa, hasrat untuk menciptakan, dan melatih dan membina pikiran mereka dengan pemikiran-pemikiran mulia. (EpochTimes/khl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar