欢迎..............欢迎..............欢迎


Senin, 13 Desember 2010

Legenda Gunung Phoenix Yunnan


Konon pada dinasti Ming, seorang penjagal hewan bernama Zhao hidup di pinggiran gerbang selatan kota Kunming.

Suatu hari, Zhao berencana memotong seekor induk sapi. Dicari kemana-mana, tetapi dia tidak dapat menemukan pisau potongnya.

Seekor anak sapi di dekatnya, bersuara dengan sedih.

Zhao kemudian memukul anak sapi tersebut beberapa kali. Anak sapi itu pun berdiri.

Di bawah anak sapi tampak pisau potong yang dicari-carinya. Zhao seketika menyadari bahwa anak sapi tersebut barangkali mengerti bahwa induknya akan dipotong.

Oleh karena itu, sambil bersuara sedih, pisau tersebut disembunyikan di bawah badannya.

Zhao tersentuh oleh tindakan anak sapi yang berbakti itu dan mengurungkan rencananya. Dia membawa anak sapi dan induknya ke Gunung Barat, tempat dimana dia hidup menyepi.

Zhao adalah orang yang pemarah. Dia tahu bahwa dia lekas emosi, jadi seringkali dia melafalkan kata-kata, “rendam api di dalam hati, agar bertemu Lu Dongbin.” (Lu Dongbin adalah seorang pendeta Tao bijak yang sangat terkenal dan menjadi teladan semua orang pada masa itu).

Suatu hari, seorang pendeta tao tua mengunjungi kediamannya.

Zhao menyambut beliau dengan secangkir teh hangat. Sebagai rasa hormat, Zhao bahkan menyajikannya dengan cangkir porselin yang hanya digunakan pada acara-acara khusus.

Pendeta Tao mengambil secangkir teh yang dihidangkan, kemudian dengan sengaja menjatuhkannya. Zhao terbelalak melihat kepingan cangkir porselennya di tanah. Raut mukanya menampakkan kemarahan.

Ketika Zhao menoleh ke arah pendeta Tao, sosok disebelahnya telah menghilang. Tiba-tiba, cangkir yang berserakan telah kembali ke kondisi semula dan berada dalam keadaan utuh di atas meja. Di bawah cangkir itu, ada sepotong kertas bertuliskan, “Dongbin telah ke sini, tetapi api di dalam hati telah tersulut sekali lagi.”

Zhao sadar bahwa Pendeta Tao itu tak lain adalah Lu Dongbin. Zhao merasa sangat malu karena masih memiliki rasa marah di dalam hatinya. Zhao meninggal tak lama setelah kejadian itu karena dia memang sudah tua.

Beberapa tahun kemudian, pejabat Yongbin Chen tiba di Kunming untuk memulai tugasnya. Suatu hari Dia bepergian ke Gunung Barat dan merasakan keakraban yang mendalam dengan daerah-daerah di sekitar gunung itu.

Chen membaca legenda Zhao yang terukir pada sebuah batu prasasti dan terkejut saat melihat bahwa waktu kematian Zhao adalah tepat sama dengan hari kelahiran dirinya. Chen mulai mengira-ngira bahwa ia adalah reinkarnasi dari Zhao.

Setelah merenung, Chen teringat saat dia menjabat di Provinsi Fujian, seorang Pendeta Tao mengunjunginya dan bertanya, “Apakah kamu telah meredam api di dalam hatimu?”

Chen hanya termenung dengan pertanyaan itu. Setelah percakapan yang singkat, Pendeta Tao itu pun pergi. Tetapi, sebelum pergi, Pendeta Tao mengundang Chen untuk pergi ke Gunung Phoenix suatu saat nanti.

Setelah tiba di Yunnan, Chen mendengar bahwa ada gunung yang bernama Gunung Phoenix di provinsi itu.

Saat berkunjung ke sana, dia berjumpa dengan seorang Tao berdiri di atas tumpukan batu. Pendeta itu memegang sepasang botol dengan ujung yang menghadap satu sama lain.

Pendeta Tao itu tersenyum dan bertanya kepada Chen, “Tuan, lama tak jumpa. Anda terlihat dalam keadaan baik. Ke mana anda akan melompat kali ini?”

Pengawal Chen berteriak marah atas sikap Tao itu, tetapi pendeta itu seketika menghilang. Chen tersadar bahwa dua botol dengan ujung saling berhadapan itu merepresentasikan Karakter Cina “Lu”, sedangkan berdiri di atas batu mengindikasikan Karakter Tionghoa untuk “Yan”. “Yan Lu” adalah nama resmi dari Lu Dongbin, yang berarti Pendeta Tao itu adalah Lu Dongbin.

Legenda mengisahkan bahwa Chen bertemu Lu Dongbin sebanyak tiga kali di Gunung Phoenix. Lu mengungkapkan bahwa gunung itu adalah tempat yang suci.

Sehingga, selama tiga tahun pemerintahannya di daerah tersebut, Dia memerintahkan untuk membangun “Istana Cincin Hijau” untuk menghormati Sang Bijak Lu Dongbin. Sekarang, istana ini adalah sebuah tempat wisata yang terkenal. (Erabaru/wid)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar