欢迎..............欢迎..............欢迎


Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2011

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan Anda, (Andrew Carnegie).

9. Kita hanya berfikir ketika kita terbentur pada suatu masalah. (John Dewey)

10.Kesalahan orang lain terletak pada mata kita, tetapi kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita. (Ruchert)

11.Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya. (Aristoteles)

12.Semua yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil. (Hegel)

13.Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu. (Petrus Claver)

14.Lebih baik bertempur dan kalah daripada tidak pernah bertempur sama sekali. (Arthur Hugh Clough)

15.Hidup adalah lelucon yang baru saja dimulai. (W.S. Gilbert)

16.Orang yang bisa menggunakan dan menyimpan uang adalah orang yang paling bahagia, karena ia memiliki kedua kesenangan. (Samuel Johnson)

17.Kebijaksanaan tidak pernah berbohong. (Homer)

18.Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang tidak ada di rumah. (Joseph Roux)

19.Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu
dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya. (Kenneth A. Wells)

20.Seorang pria sudah setengah jatuh cinta kepada wanita yang mau mendengarkan omongannya dengan penuh perhatian. (Brenden Francis)

21.Kebahagian hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan rendah hati. (W.M. Thancheray)

22.3x25 Watt ≠ 75 Watt
Sebuah bola lampu berukuran 75 watt kelihatan bersinar lebih terang dibandingkan dengan tiga buah bola lampu 25 Watt yang dinyalakan bersamaan.

23.Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan. (Hitopadesa)

24.Bila orang mulai dengan kepastian, dia akan berakhir dengan keraguan. Jika orang mulai dengan keraguan, dia akan berakhir dengan kepastian. (Francis Bacon)

25.Cuma sedikit orang yang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil. (Gaius Sallatus Crispus)

26.Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kita harus saling merasakan hal itu. (Ibu Teresa)

27.Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda. Melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami. (Aldous Huxley)

28.Dunia adalah komedi bagi mereka yan memikirkannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. (Harace Walpole)

29.Saya percaya kata managing berarti memegang burung dara di kepalan tangan. Kalau terlalu kencang ia akan mati. Tapi bila terlalu kendur, bisa terlepas. (Tommy Lasorda)

30 Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan. (Erich Fromm)

31.Kemajuan merupakan kata yang merdu. Tetapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan mempunyai banyak musuh. (Robert F. Kennedy)

32.Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori)

33.Tugas dan pendidikan ialah mengusahakan agar anak tidak mempunyai anggapan keliru bahwa kebaikan sama dengan bersikap loyo dan kejahatan sama dengan bersikap giat. (Maria Montessori)

34.Kemampuan menertibkan keinginan merupakan latar belakang dari watak. (John Locke 1632-1704)

35.Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya. (Thomas Chandler Haliburton 1796-1865)

36.Menyikat lantai dan mencuci pispot sama mulianya seperti menjadi presiden. (Richard M. Nixon)

37.Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali. (Don Herold)

38.Diplomat ialah orang yang selalu ingat pada ulang tahun seorang wanita tetapi tidak pernah ingat berapa umur wanita itu. (Robert Frost)

39.Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang yang paling takut pada perubahan. (Mignon McLaughlin)

40.Kalau manusia berangsur menjadi tua, umumnya ia cendrung menetang perubahan, terutama perubahan ke arah perbaikan. (John Steinbeck)

41.Selama hidup saya yang sudah 87 tahun ini, saya telah menyaksikan serentetan revolusi teknologi. Tetapi tidak satu pun diantaranya yang tidak membutuhkan watak yang baik atau kemampuan untuk berfikir. (Bernard M. Baruch)

42.Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis. (Aristoteles)

43.Pendidikan mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya. (Voltaire)

44.Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik. (Fonttenelle)

45.Setelah makan, pendidikan merupakan kebutuhan utama rakyat. (Danton)

46.Kerendahan hati disukai orang-orang terkenal. Namun orang yang bukan apa-apa sulit untuk rendah hati. (Paul Valěry)

47.Emansipasi merupakan seni untuk berdiri di atas kaki sendiri namun dipeluk tangan orang lain. (Alex Winter)

48.Sebelum menikah saya mempunyai enam teori tentang bagaimana mendidik anak. Kini saya mempunyai enam anak dan tidak mempunyai teori. (John Wilmot, Earl of Rochester 1647-1680)

49.Kebahagiaan itu seperti batu arang, ia diperoleh sebagai produk sampingan dalam proses pembuatan sesuatu. (Aldous Huxley)

50.Dari pesawat terbang yang saya cintai, saya melihat ilmu pengetahuan yang saya puja memusnahkan kebudayaan, padahal saya mengharapkan mereka dimanfaatkan untuk kebudayaan. (Charles A. Lindbergh, Jr.)

51.Harapan adalah tiang yang menyangga dunia. (Pliny the Elder)

52.Alat penghemat kerja yang paling populer sampai saat ini masih tetap suami yang berada. (Joey Adams)

53.Seorang arkeolog merupakan suami yang terbaik yang bisa diperoleh wanita; makin tua si istri, makin besar minat suami terhadapnya. (Agatha Cristie)

54.Saya lebih suka lamunan untuk masa akan datang daripada sejarah masa lalu. (Thomas Jefferson 1743-1826)

55.Jangan memberi nasehat kalau tidak diminta. (Erasmus)

56.Manusia mudah dibohongi oleh orang yang dicintainya. (Molire)

57.Sebelum menulis, belajarlah berpikir dulu. (Boileau)

58.Orang yang berjiwa cukupan, merasa bisa menulis dengan hebat. Orang yang berjiwa besar merasa bisa menulis cukupan. (La Bruyère)

59.Kemenangan yang paling indah adalah bisa menaklukkan hati sendiri. (La Fontaine)

60.Tidak ada yang selembut dan sekeras hati. (G.C. Lichtenberg)

61.Lebih baik mengerti sedikit daripada salah mengerti. (A. France)

62.Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut. (Ernest Hemingway)

63.Penulis buku jarang intelektual. Intelektual ialah mereka yan berbicara tentang buku yang ditulis orang lain. (Françoise Sagan)

64.Orang yang mencemarkan udara dengan pabriknya dan anak ghetto yang memecahkan kaca etalase toko menunjukkan hal yang sama. Mereka tidak peduli pada orang lain. (Dhaniel Patrick Moynihan)

65.Mereka yang bermimpi di siang hari akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari. (Edgar Allen Poe)

66.”Mulai” adalah kata yang penuh kekuatan. Cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, “mulai”.Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan kalau kita hanya memulainya. (Clifford Warren)

67.Saya tak hanya menggunakan semua kecerdasan yang dimiliki otak melainkan juga yang dapat saya pinjam. (Woodrow Wilson)

68.Yang kalah adalah wujud hukuman atas kegagalan. Pemenang adalah penghargaan atas kesuksesannya. (Bob Gilbert)

69.Bila Anda mengatakan apa yang Anda pikirkan, jangan harap hanya mendengar apa yang Anda sukai. (Malcom S. Forbes)

70.Kesulitan itu ibarat seorang bayi. Hanya bisa berkembang dengan cara merawatnya. (Douglas Jerrold)

Jumat, 03 Juni 2011

Top Motivasi: Mental Juara itu Perlu !


Pengaruh Mental Juara Bisa Terlihat Dalam Sebuah Kompetisi.

Saya seringkali menonton sepak bola dan mengikuti kompetisinya. Yang cukup menarik ialah bagaimana peran mental juara terhadap keberhasilan sebuah tim. Ternyata, memiliki pemain dengan keterampilan yang mumpuni saja tidak cukup.

Seringkali sebuah tim bertabur bintang tidak bisa menjadi juara, bukan karena masalah kemampuan fisik tetapi justru karena hilangnya mental juara.

Pengaruh mental pada pertandingan memang dengan mudah bisa kita lihat. Misalnya dalam pertandingan sepak bola, tuan rumah selalu memiliki peluang menang lebih besar dibandingkan saat bertamu karena mendapatkan dukungan mental dari penonton. Ini menunjukkan bahwa peran mental juara dalam sebuah pertandingan sangat besar.

Mental Juara Bukan Untuk Olah Raga Saja

Tentu saja, yang dimaksud mental juara itu bukanlah dalam bidang olah raga saja. Bukan dalam pertandingan saja, tetapi juga untuk berbagai bidang lainnya.

Mental Juara Diperlukan Dalam Karir

Yup, jika Anda ingin memiliki karir yang sukses, langkah pertamanya adalah Anda harus membangun mental juara. Banyak karyawan dengan potensi yang luar biasa, tetapi karena tidak memiliki mental juara, maka semua potensinya terabaiknya. Dia tidak tidak mau memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya sehingga tidak menjadi yang terbaik.

Juara Dalam Bisnis = Untung Besar

Jika Anda memiliki produk atau jasa juara, maka produk dan jasa Anda akan lari manis. Jika Anda memasarkan produk dengan cara juara (baca yang terbaik) maka dia pun akan mendapatkan hasil yang terbaik. Siapa pun suka yang terbaik. Jika Anda terbaik dalam bisnis Anda, maka otomatis Anda akan mendapatkan untung yang terbaik.

Juara Sejati Memiliki Sikap Sportif

Quote:Tentu saja, yang dimaksud disini bukan cara meraih juara dengan menghalalkan segala cara. Seorang juara sejati akan selalu bertindak sportif. Apa jadinya jika kita juara tetapi didapat dengan cara yang tidak baik? Maka sesungguhnya gelar juara akan terasa semua. Anda tidak benar-benar juara, hanya secara resmi saja.

Berlaku curang, sikut kiri sikat kanan, dan mencuri start bukanlah sikap seorang juara sejati. Juara sejati berusaha untuk menjadi yang terbaik, bukan sekedar mencari gelar juara. Selalu ingin menjadi yang terbaik adalah mental juara yang benar, bukan sekedar mendapatkan gelar, penghargaan, bonus, atau piala.

Mulailah Dengan Percaya Diri

Salah satu mental juara itu adalah percaya diri. Dia yakin bahwa dia mampu menjadi juara. Hanya orang yang percaya dirilah yang berani masuk gelanggang untuk bertanding. Percaya dirilah yang akan menjadi dia bertindak dengan cara yang terbaik.

Juara Itu Bukan Berarti Sombong

Seorang juara sejati akan bertindak, kemudian melakukan apa yang dia lakukan sebaik mungkin. Bukan dengan cara hanya omdo (omong doank) sambil menjatuhkan dan menjelekan lawannya. Sikap seperti ini sama sekali tidak menggambarkan mental juara. Justru, sikap sombong datang karena dia tidak percaya diri menjadi juara. Dia akan berusaha menjatuhkan lawan dengan omongan supaya dia dianggap juara.

Juara Sejati Mengakui dan Menerima Kekalahan

Dia tahu, bahwa kekalahan bukanlah kiamat. Mungkin dia tidak menjadi juara pada pertandingan kali ini. Tetapi dia tidak berhenti, dia mengambil hikmah sehingga pada pertandingan berikutnya dia bisa tampil lebih baik lagi. Dia tidak menyesal, tidak terpukul, dan tidak juga menyalahkan lawan. Menyalahkan lawan hanya akan menutup mata kita melihat kekurangan diri untuk diperbaiki.

Apakah Anda memiliki mental juara? Apakah Anda ingin membangun mental juara?

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8685277

Rabu, 18 Mei 2011

BETAPA SENGSARA HARUS TETAP TERSENYUM



Berani memilih adalah memahami situasi dan memperhitungkan perubahan, memanfaatkan kelebihan dan menghindari kekurangan, memutuskan pilihan yang bijaksana lebih unggul daripada keterikatan yang membabi buta. Manusia yang mengerti bagaimana untuk melepaskan, baru bisa memiliki kematangan, baru bisa hidup lebih mantap, tenang tanpa perasaan waswas dan santai.

Melepaskan itu bukan suatu kegagalan, bukan rela terperosok dalam kesesatan, ini semacam ketenangan yang menjauh dari nama dan keuntungan serta menjauh dari kebisingan, adalah ketenangan yang bisa menampakkan keceriaan wajah walau ketika sedang mengalami kesesatan. Dalam banyak hal melepaskan itu merupakan semacam kebijakan!

Benda sebagus apapun, jika persyaratannya masih belum matang atau secara subyektif masih belum mampu dikendalikan, maka benda tersebut lebih baik dilepaskan saja. Orang yang mengerti bagaimana melepaskan, akan tahu apa yang harus dan tidak seharusnya dilepaskan. Orang semacam ini tidak akan mengejar membabi buta benda-benda yang bukan miliknya, juga tidak akan melepaskan begitu saja benda-benda yang menjadi miliknya.

Melepaskan, itu merupakan suatu keberanian. Yang tidak seharusnya dilepaskan, tidak akan dia lepaskan, itu merupakan semangat heroik. Yang seharusnya dilepaskan tidak melepaskan, itu adalah kejengkelan. Yang tidak seharusnya dilepaskan dia lepaskan, itu adalah suatu kebodohan.

Melepaskan itu semacam pelepasan, penyemangatan, terlebih lagi semacam strategi, demi meluangkan tempat untuk bisa menerima benda-benda lain yang lebih banyak dan bagus.

Jika dikatakan bahwa kepercayaan merupakan bahan pelumas dari hubungan antar manusia, maka kecurigaan merupakan kaca yang terselip diantaranya.

Argumentasi yang meyakinkan itu adalah perak, mendengarkan dengan saksama itu adalah emas. Dalam hubungan antar manusia, sedapat mungkin lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara. Ingin menciptakan suasana yang harmonis dari hubungan tersebut, harus bisa belajar kesabaran mendengarkan dengan saksama.

Hal-hal yang menyengsarakan lebih baik dilupakan saja saat sedang berjalan-jalan. Tidak ada salahnya jika Anda mau mencobanya, maka segala hal-hal yang menyengsarakan akan sirna beterbangan.

Kesengsaraan itu sama dengan kesenangan, bisa menciptakan semacam suasana. Saat memasuki rumah orang lain, dari pandangan pertama, Anda bisa mengetahui suasana pemilik rumah dalam kesengsaraan atau kegembiraan.

Kegembiraan itu urusan diri sendiri, asalkan Anda mau, setiap saat Anda bisa membuka jendela jiwa Anda dan masuk dalam kegembiraan. Asalkan hal itu Anda senangi, maka itu yang terbaik, tidak perlu mempedulikan pandangan orang lain. Membiarkan orang lain menilai kegemaran diri kita, sama saja dengan pikiran kita diatur oleh orang lain, maka hidup kita akan menjadi sangat susah.

Mengubah diri sendiri, sebenarnya adalah memperkaya diri sendiri secara terus-menerus, banyak orang yang takut dengan perubahan, karena mereka tidak bisa menjamin diri mereka yang baru.

Konsep semacam ini setelah terkumpul dan mengendap terlalu lama, bisa membuat orang kehilangan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Tidak percaya dan tidak menghargai diri sendiri, hanya akan membuat orang lain meremehkan Anda, karena orang lain selalu memandang diri Anda melalui pandangan Anda sendiri.

Anda mengira saya ini miskin dan tidak cantik lalu sudah kehilangan harga dirikah? Anda keliru! Dalam hal semangat kita sebenarnya sama rata! Persis seperti saya dan Anda, pada akhirnya akan mengalami pemakaman dan berdiri sederajat di hadapan Tuhan.

Daripada menghamburkan waktu dan energi merasa iri pada orang lain, lebih baik menggunakan segenap tenaga untuk menambah ketrampilan diri, menjadi seorang yang dikagumi oleh orang lain.

Seseorang jika mempunyai pandangan sendiri, berpikiran cerdas tidak mudah tunduk pada orang lain dan tidak terombang ambingkan oleh keadaan dunia fana. Maka hal ini merupakan kualitas bagus yang tidak diragukan lagi dan patut dipuji. Tetapi syaratnya harus bisa tidak bersikeras atas pandangan diri sendiri, tidak ekstrim dan keras kepala.

Ketika berhubungan dengan orang lain untuk mempertahankan harga diri, jangan lupa juga harus menyisakan sedikit harga diri bagi orang lain.

Tidak perlu terlalu perhatian terhadap kabar angin orang lain, juga mengkhawatirkan penyimpangan pemikiran diri sendiri, harus yakin dengan pandangan kita sendiri, yakin kepada keputusan yang telah diambil, selalu memikirkan perasaan sadar diri kita sendiri. Menggunakan pandangan tajam untuk menembus dan melihat dunia ini, menggunakan hati untuk mendengarkan, rabalah kehidupan yang beraneka ragam ini, berikanlah jawaban yang penuh kepribadian kepada diri sendiri.

Perangai bagaikan batang pohon, nama dan keuntungan bagaikan naungan pohon. Kita acapkali hanya memikirkan naungan, namun tidak menyadari bahwa batang pohon itu adalah pokok dasarnya.

Tuhan tidak menciptakan suatu standar bagi manusia. Manusia di dunia ini bagaikan sebuah apel yang telah digigit Tuhan, mereka semua mempunyai kekurangan. Ada orang yang kekurangannya sangat besar, itu disebabkan Tuhan sangat menyenangi bau harum semerbak diri orang itu.

Bersabar adalah semacam perilaku bajik, kerasionalan dan kematangan. Bersabar adalah strategi yang perlu dikejar. Seseorang yang mengejar keberhasilan lebih besar, di saat yang krusial acapkali bisa mengekang diri tidak menangkis hinaan atau celaan orang lain.

Rahasia dari keberhasilan terletak pada bagaimana kita bisa mengendalikan kekuatan dari kesengsaraan dan kegembiraan, dan tidak sebaliknya kita dikontrol olehnya.

Gunakanlah perasaan tanpa waswas untuk menyambut ketidak beruntungan. Sepanjang-panjang musim dingin yang sangat dingin bukan berarti musim semi tidak akan tiba. Belajarlah menyayangi diri sendiri, orang yang pandai pasti akan belajar bagaimana memperlakukan diri sendiri dengan baik.

Menghadapi hal-hal yang kurang adil dalam kehidupan ini, jangan terlalu dipaksakan. Kehidupan ini memang demikian, asalkan kita belajar dan mengerti bagaimana mengarungi hidup ini, maka diri kita akan menjadi hambar terhadap ketidak adilan hidup ini.

Tersenyumlah menghadapi sesuatu, berilah sebuah jalan mundur bagi diri sendiri, berilah sedikit waktu untuk menyimpan tenaga bagi diri sendiri, berikanlah sedikit pengertian dan kemurahan hati bagi diri sendiri. Maka kita akan menghadapi kehilangan dengan tanpa perasaan waswas, lalu suasana hati menjadi tenang, mendapatkan suasana hati yang baik bagi diri sendiri.

Malu adalah semacam kekuatan agung dalam perjalanan kehidupan manusia, dia bukan hanya bisa memukul hancur kelemahan, bahkan bisa menjadi kekuatan.

Ketika Anda merasakan tidak harmonis dengan lingkungan luar, bila ingin mengubah orang lain atau lingkungan itu agak sulit dilakukan, maka ubahlah diri Anda sendiri!

“Dalam kehidupan ini selalu ada banyak kegagalan, kesengsaraan dan siksaan. Di saat yang demikian ini janganlah menutup dan mengunci jiwa Anda. Jangan biarkan jiwa Anda diselubungi mendung gelap, jangan campakkan segala benda indah dalam kehidupan Anda. Bukalah jiwa Anda dengan lapang. Ketika ketidak beruntungan hadir di samping Anda, belajarlah menyayangi diri sendiri, katakanlah kepadanya, “Semua cobaan ini akan berlalu, sayangilah setiap jengkal waktu dalam kehidupan, perlakukan diri sendiri dengan baik!”

Bagaimana baru bisa membuat diri Anda sendiri menjadi tiada duanya? Sangat mudah, jadilah diri sendiri! Karena hanya orang yang berani hidup bagi diri sendiri, barulah bisa benar-benar menjadi peran utama dalam hidup ini, menjadi penentu nasib bagi diri sendiri.

Ketika kesempatan itu hadir, pertama-tama yang harus Anda lakukan adalah mencampakkan segala kekuatiran, menerobos dan memenangkan diri sendiri, berikanlah satu kesempatan bagi diri Anda sendiri.Jangan menantikan masalah itu sempurna atau sama sekali tidak berisiko baru mau dicoba. Jika demikian maka Anda mungkin selamanya tidak akan mendapatkan kesempatan yang demikian.

Kesengsaraan itu bersumber dari suasana hati Anda, kegembiraan itu hanya merupakan semacam pilihan Anda sendiri. Tampunglah hal-hal yang sulit ditampung dunia. Riang penuh harapan berpandangan luas dan bermurah hati baru bisa hidup dengan santai. (Zhang Zhao/The Epoch Times/lin)

KETERIKATAN DAN KEBEBASAN


Saya pernah mendengar seorang rektor menceritakan sebuah kisah: Ada seorang nenek tua, yang hampir menemui ajalnya. Seluruh anggota keluarganya juga tahu bahwa ia sudah tidak ada harapan lagi, maka mereka mengundang pendeta Buddha untuk mendoakannya, agar bisa berpulang dengan tenang dan ikhlas. Tetapi setelah didatangkan tiga pendeta berturut-turut melakukan berbagai ritual, tetap saja tidak bisa membuat nenek tua itu berpulang.

Akhirnya, salah satu putri nenek itu yang baru saja tiba dari luar kota, berkata kepada ibunya, “Ibu, apakah rice cooker yang dulu Ibu beli itu masih disimpan?” Putri itu melihat di sudut mata ibunya mengeluarkan air mata. Ia lalu melanjutkan, “Harap Ibu bisa merelakannya, saya tahu rice cooker itu diletakkan dimana, saya akan meminta kakak agar menggunakan rice cooker itu.”

Begitu putrinya selesai berbicara, nenek tua tersebut segera menghembuskan napas terakhirnya. Di kemudian hari, anak dan cucu-cucunya menjadikan hal tersebut sebagai gurauan bahwa tiga pendeta Buddha tidak mampu melawan sebuah rice cooker.

Awal era 80-an rice cooker di daerah kami sangat populer. Nenek tua itu hidup berhemat dengan susah payah untuk membeli sebuah rice cooker. Namun setelah dibeli, ia merasa sayang menggunakannya, sehingga akhirnya disimpan di tempat rahasia. Saat akan menghembuskan napas terakhir, ia teringat belum menyerahkan rice cooker itu sehingga menyebabkan ia tidak rela pergi. Maka tidak peduli bagaimana pendeta Buddha itu mendoakannya, tetap saja tidak bisa melepaskan keterikatan nenek tua itu.

Dalam kurun waktu setengah tahun ini, ada dua orang teman saya melakukan bunuh diri. membuat para kerabat terperanjat. Salah seorang teman itu, profesor di sebuah universitas. Sebenarnya dia memiliki keluarga yang bahagia, penghasilannya juga tinggi, dan sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar. Selain itu, tiap tahun ia mendapat bantuan finansial dari lembaga riset negara.

Studi yang diambilnya bidang psikologi anak, dari sini bisa diketahui bahwa dia seorang yang penuh belas kasih dan perhatian, selain itu dalam segala bidang dia sangat menonjol. Yang tak habis pikir, demi mempertahankan reputasinya, dia nekat melakukan gantung diri di ruang risetnya, membuat orang-orang sangat tidak memahami keputusannya.

Sejak kecil, saya telah menjadi anak yatim, dan Ibu tidak mempunyai sumber penghasilan tetap, sehingga banyak menumpuk hutang. Saat berusia 45 tahun, saya baru bisa melunasi semua uang pinjaman itu. Namun sayangnya, setelah mempunyai sedikit simpanan, saya tergila-gila pada benda seni. Saat mata terbuka, langsung berburu benda seni apa saja yang patut dikoleksi. Lambat laun rumah saya penuh sesak, sehingga berjalan pun tidak leluasa, membuat istri dan anak-anak mengeluh.

Seorang murid saya bahkan memberikan nasihat, “Terbenam dalam hobi akan melemahkan tekad untuk maju, jangan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini.” Tetapi nasihat baik itu seringkali tidak enak didengar, saat keterikatan sudah menguasai hati, mana bisa mendengarkan nasihat baik itu? Keterikatan hati membuat saya kehilangan arah kehidupan.

Uniknya, keterikatan ini juga bisa membuat hewan kehilangan arah hidup. Ada seorang psikolog mengadakan sebuah eksperimen dengan memelihara sekelompok tikus putih dalam laboratoriumnya. Sejak awal masa pertumbuhan, tikus-tikus itu tidak dibiarkan makan kenyang. Ketika tikus tersebut tumbuh dewasa, peneliti ini menanamkan sebuah chip dalam otak mereka, kemudian dialiri listrik untuk diamati reaksinya.

Seperti praduga sebelumnya, kelompok tikus tersebut berusaha keras mencari simpanan makanan yang ada di dalam ruangan itu. Usaha keras tikus-tikus itu tidak berhubungan dengan sakit kepala akibat sengatan listrik. Pengalaman kelaparan selama masa pertumbuhan, membuat sekelompok tikus tersebut timbul keterikatan terhadap makanan, dan keterikatan tersebut justru membuat mereka kehilangan arah untuk berusaha.

Jika demikian, maka keterikatan itu bisa membuat orang ingin mati tidak bisa, ingin hidup pun tidak bisa, kehilangan tujuan, kehilangan kebebasan dalam keseluruhan hidupnya.

Ada orang yang mengatakan, “Semasa hidup terikat oleh pakaian, setelah mati terkurung dalam peti mati, betapa tidak bebasnya kehidupan ini?” Seorang biksu masih harus memangkas habis tiga ribu rambut kerisauan, mencari kebebasan jiwa. Sebenarnya keterikatan semacam ini adalah batasan dalam bentuk fisik, sedang yang benar-benar membuat kita tidak bisa datang dan pergi leluasa, hidup bebas dan nyaman itu, adalah berbagai macam keterikatan di hati.

Dilihat dari arti kata dalam bahasa Tionghoa, kata keterikatan atau Zhi Zhuo (執著) bermakna, Zhi (執) itu berarti arah atau tujuan yang berusaha untuk dikejar, Zhuo (著) itu artinya tetap. Jika digabungkan kata-kata ini berarti keterikatan manusia yang terlalu peduli terhadap nama, keuntungan, perasaan (Qing) dan kehidupan ini, sehingga terbelenggu dan terikat. Ambil sebuah contoh, tuntutan anak muda terhadap percintaan, acapkali bisa menimbulkan keterikatan. Tidak akan menikah kalau bukan dia, tidak akan dinikahi jika bukan dia. Kalau demikian halnya, maka ia akan kehilangan kebebasan untuk memilih pasangan hidup.

Dilihat dari sudut pandang lain, keterikatan itu mungkin juga sebuah produk untuk “meninggalkan kebebasan”. Erich Fromm, ahli psikologi dari Barat, buku pertama yang membuatnya terkenal berjudul Escape from Freedom (Meninggalkan Kebebasan).

Pada awal saya membaca buku tersebut merasa takjub. Pepatah mengatakan, “Walau ketulusan dalam cinta itu sangat berharga, tetapi nilai nyawa itu lebih tinggi, jika hanya demi kebebasan saja, maka kedua-duanya boleh dicampakkan!”

Pada umumnya manusia menilai kebebasan itu sangat berharga, lalu mengapa Erich Fromm menulis buku tersebut? Setelah saya baca dengan saksama baru mengerti. Ternyata kebebasan itu bagi orang yang kejiwaannya kurang matang, adalah sebuah beban yang teramat berat, meninggalkan kebebasan berarti menghindari beban yang menyengsarakan.

Saya ambil sebuah contoh yang sederhana. Saya tergolong orang yang sangat tidak mementingkan cara berpakaian, maka dua buah kemeja berlengan pendek, dua buah celana dan sepasang sepatu sudah cukup untuk melewatkan selama satu musim panas. Tidak peduli dalam pesta pernikahan, pertemuan, kantor atau berekreasi, selamanya mengenakan setelan pakaian yang sama. Saya merasa dengan demikian sangat leluasa, keluar rumah tidak perlu ribut memilih pakaian!

Dilihat dari permukaan, sebenarnya adalah demikian, namun sesungguhnya di dalam hati masih ada kepedihan yang tidak bisa diutarakan. Ketika berjalan-jalan seorang diri di pertokoan, melihat beraneka ragam pakaian di estalase, sangat sulit buat saya untuk memutuskan baju mana yang harus saya beli! Takut terlalu vulgar atau tidak cocok dengan setelannya. Maka itu setiap kali pergi belanja, selalu mengajak sanak keluarga, untuk memilihkan baju buat saya. Akhirnya saya meninggalkan kebebasan untuk memilih pakaian.

Menurut yang dikatakan Erich Fromm, masyarakat umum dapat meninggalkan kebebasan dengan cara “meyakini suatu paham, menurut terhadap pemimpin, bernaung di dalam partai”. Ambil contoh pada masa PD II, rakyat Jerman sangat memercayai Hitler sebagai pimpinan yang bijaksana, maka tidak perlu menganalisa pemikiran dan keputusan yang diambil Hitler lebih lanjut, dengan kejam dan brutal membunuh 6 juta orang Yahudi.

Tentunya seorang tentara ketika berhadapan dengan musuh, harus menghadapi pertempuran hidup atau mati, tidak ada kebebasan untuk memilih. Tetapi terhadap rakyat jelata yang tidak bersenjata, tentara mutlak mempunyai kebebasan untuk memutuskan hidup dan matinya para korban. Namun sungguh disayangkan, banyak orang menggunakan aturan “patuh pada perintah adalah kewajiban seorang tentara” sebagai alasan, tidak mempedulikan jeritan pedih dari orang-orang yang tidak berdosa, melakukan invasi militer dan melakukan pembantaian berdarah selama delapan tahun lamanya. Kata “patuh” telah berubah menjadi semacam bentuk keterikatan yang lain.

Kesimpulannya, keterikatan menyebabkan manusia kehilangan arah, kehilangan kebebasan. Di sisi lain, kurangnya taraf kecakapan manusia, juga bisa menyebabkan manusia meninggalkan kebebasan. Maka jika seseorang ingin memiliki kebebasan yang paling maksimal, hanya bisa dengan cara berusaha keras menyingkirkan keterikatan terhadap nama, keuntungan dan perasaan (Qing). Disamping itu berusaha keras memupuk taraf kecakapan kemanusia, sehingga tidak perlu lagi meninggalkan kebebasan. (Huang Jinyuan / The Epoch Times / lin)

MENGELOLA KEHIDUPAN


Suatu hari anak saya berkata, “Setiap kali ada murid yang mengadu, guru selalu mengatakan, tidak ada masalah, ini urusan kecil, jika dua orang saling berjabatan tangan, maka mereka masih berteman baik. Namun masalah sebenarnya sama sekali belum terselesaikan, hanya merupakan penyelesaian sementara. Si guru enggan dipusingkan dengan masalah.”

Ucapannya sungguh mengejutkan saya, ternyata kehidupan ini masih membutuhkan sedikit kecerdasan untuk mengelola sesuatu. Bila ingin menjadi pelajar yang baik, harus mengasah otak dalam mengikuti pelajaran maupun dalam berperilaku. Begitu juga untuk menjadi orang tua yang mampu memahami suara hati anak.

Sebagai anak, juga dibutuhkan untuk berpikir mencari cara bagaimana bisa menyenangkan atau menjaga nama baik orang tua. Begitu pula dalam berinteraksi dan bernegosiasi dengan orang lain bagaimana cara agar dapat saling menguntungkan kedua belah pihak, bagaimana cara berteman agar tidak sampai salah jalan, bagaimana cara membujuk pacar atau isteri, semua memerlukan kecerdasan tersendiri. Jika Anda menginginkan kehidupan yang sempurna, perbanyaklah hal-hal yang memerlukan kepintaran mengasah otak.

Asalkan Anda mau melihat, maka Anda akan melihat bagian yang lebih mendalam, yaitu suka duka orang lain. Asalkan Anda mau mendengar, Anda akan menyadari penderitaan dan kegembiraan orang lain. Asalkan mau bertanya, Anda akan memahami berbagai macam pengetahuan baru dan menemukan berbagai cerita kehidupan. Asalkan Anda mau menggunakan kaki dan tangan, maka akan timbul kekuatan yang lebih besar, yang dapat mendatangkan cahaya dan kehangatan. Asal Anda mau mencoba untuk mengasah otak, maka tidak akan mengalami penyesalan dalam hidup ini.

Sebuah kalimat berbunyi, ‘Tidak ada makan siang gratis di dunia ini’. Untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, tidak bisa hanya mengandalkan nasib saja. Setiap hari langkah yang diambil harus dipikirkan dengan matang, dikelola dengan sepenuh hati baru, agar dapat mendapatkan apa yang kita inginkan.

Misalnya seperti dalam kebudayaan seni musik yang menghasilkan Mozart yang luar biasa, atau bahkan sepasang suami istri yang bergandengan mesra berjalan di sebuah taman, atau sebuah maha karya yang sedang menjadi buah bibir masyarakat, sebuah lukisan ternama yang berusia ribuan tahun, sekeping medali emas Olimpiade yang menjadi kemuliaan, semua ini adalah hasil tempaan dan gemblengan bertubi-tubi, ditukar dengan jerih payah dan ketekunan kita dalam menanam dan menyirami. Di belakang keberhasilan semua tokoh-tokoh besar tersebut, mereka juga banyak mengalami saat-saat sulit.

Meskipun anak kecil mengucapkan kalimat yang kekanakan, sebenarnya terkadang apa yang mereka ucapkan singkat dan tepat sasaran. Sepatah kata saja sudah bisa memecahkan wejangan kehidupan. Sebenarnya mereka bersikap serius dalam menghadapi kehidupan, sebagai orang dewasa mana boleh berpura-pura tidak melihatnya. Selalu berdalih “mengikuti nasib” sebagai alasan menutupi kemalasan dan menipu diri sendiri, kita harus lebih banyak menggunakan akal budi untuk berpikir, dengan demikian kita dapat melewati pergaulan dalam masyarakat, bahkan kehidupan kita, baru bisa dilewatkan dengan sempurna. (Bao Zi Lin / The Epoch Times / lin)

TEGURAN KERAS JUGA SUATU KEBAHAGIAAN


Ada seorang pertapa yang tinggal di sebuah hutan yang sunyi dan jarang dikunjungi orang. Setiap hari ia rajin mematut diri dan bersamadi di bawah pohon besar.

Suatu hari ketika bersamadhi ia merasa mengantuk. Untuk menghalau rasa kantuk, ia berjalan-jalan di dalam hutan. Tanpa sengaja ia sampai di pinggir kolam teratai dan melihat bunga teratai di kolam sedang bermekaran, sungguh indah!

Dalam hati sang pertapa berpikir, “Jika saya petik sekuntum bunga teratai yang sangat indah ini dan membawanya serta, maka aroma semerbaknya pasti bisa membuat semangat lebih baik!”

Ia kemudian membungkukkan tubuhnya dan memetik sekuntum bunga teratai yang paling indah. Namun ketika hendak meninggalkan kolam itu, tiba-tiba terdengar suara berat dan menggelegar, “Siapa yang berani mencuri bunga teratai saya!”

Pertapa itu melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Ia kemudian menengadah ke langit dan bertanya,“Siapakah Anda? Mengapa mengatakan bunga-bunga teratai tersebut milik Anda?”

“Saya Dewa kolam teratai ini. Semua bunga teratai di hutan ini milik saya, percuma saja Anda seorang pertapa namun telah mencuri bunga teratai saya. Pikiran tamak Anda telah timbul tapi masih tidak mau mawas diri dan merasa malu, malah beraninya Anda menanyakan apakah bunga-bunga teratai tersebut milik saya!” tegur suara dari atas langit.

Dalam hati pertapa timbul rasa malu yang mendalam. Ia lalu bersujud ke langit dan mengutarakan penyesalannya, ”Dewa kolam bunga teratai, saya menyadari kesalahan yang telah saya lakukan. Mulai saat ini, saya akan sungguh-sungguh membenahi semua kesalahan saya, mutlak tidak akan mengambil benda apapun yang bukan milik saya.”

Ketika sang pertapa masih merenungi kesalahannya, ia melihat seorang pria yang berjalan ke arah kolam. Pria tersebut bergumam, “Lihat! Betapa segarnya bunga-bunga teratai ini, saya harus memetiknya untuk dijual di pasar, agar dapat sedikit uang untuk pengganti kekalahan sehabis main judi kemarin!”

Selesai berkata, orang itu lalu melompat masuk ke kolam, menginjak sana sini, dan membabat habis seluruh bunga teratai di kolam. Daun bunga teratai robek terinjak-injak hingga banyak yang patah, lumpur di dasar kolam juga teraduk ke atas, kolam jadi rusak berantakan. Dengan membawa seikat besar bunga teratai, pria tersebut pergi sambil tertawa puas.

Sang pertapa berharap Dewa Kolam Teratai bisa menampakkan diri untuk menegur atau menghukum orang yang memetik bunga-bunga teratai tersebut. Namun suasana kolam sunyi senyap.

Dengan penuh kebimbangan si petapa menghadap ke langit dan bertanya, “Oh Dewa Kolam Bunga Teratai! Saya hanya memetik sekuntum bunga teratai dengan kerendahan hati dan penuh kekaguman, Anda sudah mencela saya dengan keras. Namun pria itu memetik semua bunga teratai Anda dan merusak kolam, lalu mengapa sepatah katapun Anda tidak menegurnya?

Dewa menjawab,“Pada dasarnya Anda seorang pertapa. Bagaikan sehelai kain putih, ternodai sedikit saja sudah sangat jelas terlihat, maka saya baru memperingatkan Anda, untuk cepat-cepat membersihkan tempat yang ternoda agar kembali bersih dan murni.”

“Namun pria itu pada dasarnya seorang berandalan, seperti sebuah kain lap yang kotor, bila ditambah lagi dengan kotoran yang lain juga tidak apa-apa. Saya tidak bisa memberikan bantuan apa-apa kepadanya, hanya bisa membiarkan dia menerima hukuman karma dari perbuatan jahatnya, maka saya hanya berdiam diri.”

“Anda jangan mengeluh kepada saya, seharusnya Anda merasa senang karena kekurangan Anda masih bisa terlihat oleh orang lain. Saat melihat kekurangan Anda masih ada yang mau membimbing dan membetulkannya, hal tersebut menandakan bahwa kain Anda masih putih, patut selalu dicuci bersih, ini merupakan suatu hal yang patut Anda syukuri!”

Bilamana langit tampak paling indah? Yakni saat kerumunan awan putih bersih melintas di langit. Warna putih awan telah merefleksikan birunya langit. Jika awan terlalu banyak, langit akan terkesan kacau, dan jika awan terlalu luas, maka langit terkesan sempit.

Oleh karena itu saat terindah langit, juga merupakan saat terindah bagi awan itu sendiri.

Sedangkan saat yang paling indah bagi manusia, adalah saat manusia bisa mempertahankan kesadaran!

Di dalam kesadaran yang kelihatannya seperti tidak lancar dan membuat orang merasa putus asa dan malu, mungkin di dalamnya tersembunyi kebahagiaan sebenarnya yang kita harapkan dan dambakan!. (The Epoch Times / lin)

HUKUM ALAM TIDAK BERJALAN MUNDUR

Karena ini adalah catatan harian, sebenarnya judul bukan sesuatu yang punya arti apapun. Apa yang tercatat dalam tulisan inilah yang paling punya arti bagi catatan pengalaman batin saya.

Tadi siang saya ke bengkel sepeda motor. Kecuali servis rutin juga ada yang saya keluhkan secara khusus yaitu suara yang mengganggu kenyaman saya waktu motor saya kendarai di jalan yang banyak lubang. Tentu maksud saya adalah jalan yang rusak. Karena saya bukan ahli dalam hal memperbaiki sepeda motor tetapi ingin menikmati berkendaraan dengan motor yang sudah bukan baru lagi itu, tidak ada cara lain kecuali ke bengkel ahlinya.

Sementara saya menunggu giliran motor saya ditangani, saya berbicara dengan seseorang yang berkepentingan sama dengan saya. Kebanyakan orang punya naluri yang sama, yaitu mudah akrab ketika mempunyai kepentingan yang sama. Demikian juga saya dengan orang ini. Tanpa saling mengenal sebelumnya, bahkan tahu nama masing-masing sekalipun, kami sudah bisa ngobrol dengan santainya. Tentu tentang motor yang bermasalah.

Berikut sebagian percakapan kami yang punya kesan khusus:

Dia: “Padahal motor saya masih terhitung baru lho pak. 2009 lho”.

Saya: “Servisnya juga rajin?”

Dia: “Who… terasa kurang enak sedikit saja langsung saya bawa ke sini”.

Saya: “Jadi baikkah kemudian?”

Dia: “Sepertinya nggak mungkin kembali seperti semula”.

Saya: “Sekalipun semua sudah diganti?”

Dia: “Ya. Kecuali ganti STNK dan BPKB-nya…..”, dia tertawa dan saya mengerti maksudnya, yaitu beli sepeda motor baru.

**************

Mekanik: “Sudah pak (maksudnya perbaikan sudah selesai dilakukan), tapi tidak bisa kembali seperti baru, paling tidak lebih baik dari tadi lah…..”.

Dia: “Ya…… tidak apa-apa, saya mengerti,” kelihatannya dia seorang sosok yang bijak.

**************

Akhirnya sepeda motor saya selesai juga. Saya langsung pulang. Dari percakapan di bengkel tadi saat saya melewati jalan rusak yang harus saya lewati tanpa ada pilihan lain, saya ingat lagi bincang-bincang santai itu. Jalan ini entah berapa kali telah diperbaiki. Tetapi rasanya bukan semakin baik tetapi semakin parah.

Perjalanan saya terhenti karena ada iring-iringan pengantar jenazah. Ekspresi mereka berbeda-beda. Ada yang bergurau, ada yang berbincang serius entah tentang apa, tetapi juga ada yang menangis sambil menggendong anaknya. Yang terakhir saya sebut ini pastilah keluarga si jenazah.

**************

Saya tidak mengerti, mengapa hari ini saya begitu sensitif pada beberapa hal yang saya temui. Sepeda motor yang tidak mungkin kembali seperti baru walaupun diperbaiki, jalan yang semakin rusak walaupun berulangkali diperbaiki, jenasah dan ibu yang menangis dengan anak di gendongannya.

Saya ingat konsep tentang alam semesta yang saya baca dalam buku karangan Mr. Li Hongzhi yang berjudul ‘Zhuan Falun’: ‘lahir-tua-sakit-mati’ dan ‘terbentuk-bertahan-rusak-musnah’. Terbersit di benak saya sebuah pesimisme yang mendebarkan hati. Segala sesuatu akan musnah setelah tiba waktunya. Memperbaiki hanyalah sebuah upaya memperpanjang fase ‘bertahan’ menuju ke’musnah’an atau bagi manusia sebagai individu cuma memperpanjang masa ‘tua dan sakit’ sebelum ke’mati’annya. Sebuah upaya sia-sia. Kenistayaan yang sia-sia. Lalu pertanda apakah semua kejadian yang kini sedang berlangsung di seluruh dunia? (The Epoch Times)

RASA BAHAGIA HANYALAH PERASAAN SESAAT


Kebahagiaan memang sulit didefinisikan, tetapi nyatanya banyak orang mengejar kebahagiaan.

Mungkin kita bisa mengatakan bahwa kebahagiaan itu ketika pikiran atau hati kita dalam kedamaian. Kalau demikian, artinya kebahagiaan itu dari dalam memancar keluar, bukan sebaliknya.

Bisa juga dikatakan kebahagiaan itu bisa diukur dari seberapa puas kita bisa menikmati kehidupan yang sedang kita jalani.

Ada kolusi dalam perasaan bahagia sesaat yang terbentuk dari pengalaman pribadi. Misal betapa singkatnya rasa bahagia itu ketika kita baru saja memperoleh pekerjaan, atau ketika baru saja membayar uang muka sepeda motor, atau ketika baru saja mendapat kenaikan gaji, atau baru saja kita disanjung orang karena kita melakukan sesuatu yang menguntungkannya.

Kebaha-gian seperti itu akan cepat sekali berlalu. Ketika baru saja memperoleh pekerjaan, sesaat kemudian mungkin saja mengeluh karena banyaknya masalah atau tugas yang harus diselesaikan. Ketika baru saja membayar uang muka sepeda motor, akan disusul dengan memikirkan angsurannya. Ketika baru saja gaji kita naik, ternyata terasa kebutuhan meningkat dan gaji tak cukup lagi. Ketika kita disanjung orang, dengan cepat akhirnya akan dilupakan lagi. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah saat kita sedang mengharapkan sesuatu.

Ketika ‘sesuatu’ itu telah menjadi kenyataan, kebahagiaan itu lewat begitu saja. Kemudian kita menciptakan harapan-harapan baru yang membawa kebahagiaan baru yang lain.

Berikut ini hal yang umum merupakan kolusi perasaan bahagia:

Kalau saja saya punya uang lebih banyak saya akan bahagia;

Kalau saja saya lebih terkenal saya akan bahagia;

Kalau saja saya punya banyak teman saya akan bahagia;

Kalau saja dunia adalah tempat yang lebih baik, maka saya akan bahagia.

Mungkin saja Anda mempunyai pengalaman yang lain dalam menemukan kebahagiaan. Lalu apa manfaat kebahagiaan?

Ketika kita memiliki kontrol yang lebih baik terhadap perasaan bahagia maka:

Kita merasa baik. Kita ungkapkan dengan sukacita, bersorak, ada kedamaian dan kepuasan;

Kita senang dengan siapa diri kita dan apa yang sedang atau telah kita lakukan;

Orang akan merasa nyaman berada di dekat Anda;

Kita memiliki harga diri yang lebih tinggi;

Hidup kita secara fisik meningkat;

Kita dapat lebih mudah memecahkan masalah yang mungkin timbul;

Kita memiliki energi tambahan;

Kehidupan kita akan meningkat dalam segala hal;

Kita akan memiliki kehidupan terbaik yang bisa kita bayangkan – Kita orang yang bahagia!

Sebaliknya, ketidakbahagiaan atau keputusasaan akan berakibat:

Kita gagal memecahkan masalah yang muncul;

Bahkan seringkali menciptakan masalah baru;

Menciptakan jarak dengan orang lain;

Membuat kita merasa marah, kesepian dan kebencian.

Jika kita tidak bisa mengontrol perasaan bahagia kita, tidak ada manfaat positif dari perasaan bahagia itu, akhirnya hanya akan menghancurkan hidup kita. Jadi benar adanya, uang tidak menentukan kita bahagia atau tidak bahagia. (Avediana/ dikutip dari berbagai sumber)

GELAP TERANG KEHIDUPAN


“SARK: PULAU BERLANGIT GELAP PERTAMA DI DUNIA.” Begitulah judul sebuah artikel di situs Epochtimes.co.id yang terbit Sabtu, 26 Febuari 2011. Setiap tahunnya, pulau ini telah menarik 40.000 wisatawan untuk belajar tentang sejarah dan budaya, di mana pengalaman demikian terasa bagaikan melangkah mundur ke masa yang jauh lampau.

Begitu yang tertulis di bagian akhir artikel ini. Setelah membaca artikel itu saya mematikan semua lampu di rumah. Lalu saya membayangkan suasana di pulau berlangit gelap. Ternyata, saya bahkan dapat melihat banyak hal yang selama ini luput dari perhatian.

Saya kira siapa pun setuju, kata ‘gelap’ memiliki beberapa konotasi sesuai dengan konteksnya. Tetapi sayang umumnya lebih banyak konotasi negatifnya. Misalnya, ‘anak itu menangis karena takut pada kegelapan.’ Atau, ‘sayang anak yang datang dari keluarga baik-baik terjerumus di dunia gelap.’ Atau, ‘mengapa gajinya sudah besar kok masih menggelapkan uang rakyat’. Banyak lagi contoh yang mengonotasikan ‘gelap’ pada hal-hal yang negatif. Mengapa di tempat yang gelap ini malah membuatku melihat kehidupan ini menjadi semakin terang? Ada konotasi positif yang saya rasakan.

Saya sengaja mengingat-ingat ketika saya berada di tempat terang beberapa jam yang baru lalu. Ketika saya melewati sebuah taman kota yang terang benderang, dan terhenti karena lampu lalu lintas menyala merah, saya melihat sepasang remaja (mungkin lebih tepatnya anak-anak) bermesraan di tempat yang sedemikian terang seolah di tempat yang gelap. Mungkin dianggapnya orang yang lalu lalang di depannya buta semua. Saya berani bertaruh semua yang sempat melihatnya – termasuk saya, dan yang pura-pura tidak melihat – sedang berjalan menuju kegelapan.

Saya juga memiliki pertanyaan lagi yang tentunya tanpa jawaban. Saya ingat di warnet yang terletak di sudut perempatan itu, ketika segerombolan anak-anak sekolah saling berebut tempat bermain di ruang-ruang bersekat. Konon banyak hal kurang baik – selain yang baik - yang mereka lakukan di tempat-tempat seperti itu. Sisi terang dan gelap seperti wajah sekeping uang logam, yang keduanya tak dapat dipisahkan.

Kemudian, saya nyalakan lagi lampu dan televisi. Dan pas saat itu televisi menayangkan acara diskusi interaktif kalangan terhormat yang hidupnya berstatus terang benderang, karena ekonominya yang mapan, pendidikannya yang tinggi, statusnya yang ‘pasti’, bahkan posisinya di pemerintahan yang sangat ‘menentukan’.

Tetapi betapa sangat mengecewakan. Mereka saling tunjuk seperti di pasar ikan. Bahkan mengucapkan kata-kata yang saling ‘menggelapkan’ satu sama lain. Tentu hal ini membuatku seperti masuk dalam ‘kegelapan’ yang mereka sajikan. Karena diskusinya sama sekali tidak membuat ‘terang’ terhadap masalah ‘gelap’ yang seharusnya mereka buat ‘terang’.

Saat itu saya tidak mengerti di mana saya berada, di tempat yang terang atau gelapkah.

Kembali saya ingat pulau Sark yang dibuat gelap. Mengapa 40.000 wisatawan itu belajar di tempat yang gelap? Apakah yang mereka dapat dari belajar di sana? Belajar budaya di tempat yang gelap. Apakah di tempat yang terang tidak memberi jawaban budaya yang mereka butuhkan? Budaya di tempat gelap dan budaya di tempat terang? Mungkinkah mereka ingin kembali ke tempat yang gelap?

Mungkin Anda juga bisa bertanya di antara gelap dan terang, manakah yang merupakan sebuah kemajuan? Ataukah saya sedang mengada-ada dengan membenturkan kata ‘gelap’ dan ‘terang’. Tetapi memang bagi saya keduanya semakin tidak jelas, sekalipun saya mencoba melihatnya dengan sudut pandang berbeda. (Boediono / The Epoch Times)

5 HADIAH TERBAIK UNTUK KELUARGA ANDA


Ketika kita berpikir untuk memberi hadiah, biasanya kita memikirkan apa yang mau dibeli. Namun jika Anda diajak mengingat kembali hadiah yang pernah Anda terima, mungkin yang paling Anda ingat bukanlah hadiah berbentuk materi — namun bisa jadi jenis hadiah yang sangat menyentuh hati dan jiwa. Bisa dalam berbagai bentuk, selain hal-hal materi, yang menunjukkan orang-orang menyatakan cinta mereka kepada Anda.

Ada lima hadiah cinta yang bisa kita berikan kepada keluarga yang dapat membuat perbedaan besar dalam hidup mereka:

1. MEMBERI PERHATIAN DAN KASIH SAYANG

Kita semua ingin diperhatikan, namun banyak dari kita yang tidak memberi perhatian dan kasih sayang untuk orang lain. Kenangan terindah yang bisa diberikan kepada orang yang kita cintai adalah mendengarkan dengan sepenuh hati, untuk memahami dan menerima, bukannya menghakimi, dan untuk bersikap terbuka, bukannya takut disakiti.

Pikirkan tentang seseorang yang terakhir kali benar-benar mendengarkan Anda dan memberi Anda pemahaman dan penerimaan. Perasaan dipahami dan diterima dengan penuh perhatian dan kasih sayang adalah salah satu perasaan terbaik di dunia. Daripada mencurahkan upaya agar diperhatikan orang lain, mengapa tidak mencurahkan upaya untuk memberikan orang lain? Anda mungkin akan terkejut betapa indah rasanya ketika Anda bisa memberikan hadiah ini pada keluarga Anda.

2. MEMBERI KEBERANIAN

Salah satu hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada orang-orang terdekat adalah keberanian kita sendiri. Ini artinya memiliki keberanian untuk berdiri di sisi yang menurut kita benar, untuk bersikap jujur tentang apa yang kita inginkan dan tidak inginkan, apa yang akan kita lakukan dan tidak akan lakukan, apa yang bisa dan apa yang tidak bisa kita terima. Artinya memiliki keberanian untuk mengendalikan diri kita, walau jika orang lain tidak menyenanginya. Ini berarti menolak perilaku yang mengendalikan kita yang berasal dari rasa takut akan: kemarahan, penolakan, perlawanan, namun sebaliknya berusaha jujur dan mengendalikan diri. Ini artinya bersedia untuk menghadapi konflik dan bukannya melarikan diri dari masalah.

Ketika kita memiliki keberanian untuk menghadapi konflik dan mengatakan yang sebenarnya, kita tidak hanya memberikan teladan keberanian pada keluarga, namun kita memberikan kesempatan bagi orang yang kita cintai untuk melangkah menghadapi kebenaran dan belajar untuk menjadi berani.

3. MEMBERI BANTUAN

Kita hidup di bumi untuk belajar mencintai diri sendiri dan sesama, serta membantu satu sama lain. Salah satu hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada keluarga adalah peran melayani. Membantu orang lain mengisi hati dan jiwa dengan cara yang tidak biasa. Jika anak-anak tidak pernah melihat orangtua mereka melayani dan membantu orang lain, mereka mungkin tidak pernah bisa merasakan kebahagian dan pencapaian yang berasal dari memberi. Salah satu hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada keluarga adalah untuk menunjukkan bagaimana melayani dan membantu.

4. MEMBERI KREATIVITAS

Kita semua dilahirkan dengan berbagai cara untuk mengekspresikan kreativitas. Mengekspresikan kreativitas adalah cara mendalam untuk berhubungan dengan jiwa, karena kreativitas merupakan ekspresi langsung dari jiwa. Memberikan keluarga Anda dengan banyak cara untuk mengekspresikan kreativitas mereka adalah hadiah yang besar. Kreativitas dapat diekspresikan dalam begitu banyak cara — memasak, kerajinan, membangun sesuatu, musik, seni, jalan-jalan, bercerita, menulis, humor, fotografi dan video — kemungkinannya tak terbatas! Proyek keluarga yang kreatif sesungguhnya luar biasa dalam membangun kedekatan keluarga.

5. MEMBERI KEGEMBIRAAN

Berbagi adalah hadiah terbaik untuk diberikan kepada orang lain. Berbagi adalah sesuatu yang menular — tawa dan canda dapat membantu orang lain mengurangi kemurungan dan kehampaan, dan merasa bersemangat kembali.

Ketika kita bisa berbagi, kita merasakan ketulusan yang luar biasa, ketulusan yang timbul dari keinginan tulus dalam memberi. Ketulusan kita dapat membawa penerangan bagi seluruh keluarga. Anak-anak menyukainya ketika orangtua mereka riang, romantis, dan menyenangkan. Canda tawa dalam keluarga adalah salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup.

Kita harus berupaya memberikan hadiah-hadiah ini setiap hari, bukan hanya selama musim liburan atau pada acara khusus. Hadiah ini jauh lebih penting daripada hal materi yang kita beli untuk seseorang. Bahkan, kita mungkin tidak begitu terfokus pada hadiah materi jika kita sering memberikan hadiah cinta — kepedulian, kasih sayang, keberanian, pelayanan, kreativitas, dan ketulusan. (Monica M. Song / Secret China / val)

Tentang Pengarang: Margaret Paul, Ph.D. adalah penulis terlaris sekaligus penulis delapan buku, termasuk “Do I Have To Give Up Me To Be Loved By You?”

MEMULAI KEHIDUPAN BARU


Seorang teman menceritakan sebuah lelucon: Ada seorang anak perempuan yang sejak kecil mendapat pendidikan di sekolah elit. Suatu hari dia datang ke sebuah kelas di sebuah sekolah negeri. Dia berkata dengan kagum, “Di sekolah kalian ini enak sekali! Ada kipas anginnya, tidak seperti ruangan kelas kami hanya ber-AC, membuat saya jadi kedinginan!”

Ucapan polos anak kecil memang bisa membuat orang tersenyum, tetapi selain itu mengandung cukup banyak keluh kesah. Dalam kepolosan ucapan seorang anak sama sekali tidak ada yang ditutupi, apa yang dikatakan mereka itu adalah kenyataan, tetapi juga telah menunjukkan masalah dalam pendidikan.

Sejak dilahirkan, orangtua akan berusaha segenap tenaga untuk memberikan yang terbaik kepada anak mereka, ingin kelak menjadi orang berguna. Agar tidak kalah dengan anak lain di tempat start berlari, kebanyakan orang tua berusaha sekuat tenaga mencari uang, membangun sebuah surga dunia bagi anak mereka. Karena itu, anak-anak polos yang berada dalam naungan dan perlindungan orang tua, akan menjadikan banyak hal sebagai suatu kewajaran.

Terhadap materi yang berlimpah dan mudah didapat, ia tidak akan tahu bagaimana menyayanginya. Bila langit runtuh, ada orang tua yang menahan, bila membuat masalah, masih ada orang tua yang diandalkan. Dalam kegemerlapan dunia yang dibangun dengan cermat, hanya ada warna-warni kegemilangan, tidak ada gelombang badai yang mengejutkan juga tidak ada tantangan cobaan dan kesulitan. Ketika mereka terjun ke dalam masyarakat, maka tragedi menyedihkan akan mulai menimpa sekali dan sekali lagi. Karena kelalaian dan sikap acuh, orang tua juga akan mengalami penyesalan yang sama berulang kali.

Cara mendidik anak yang menyimpang, membuat anak tersebut setelah tumbuh dewasa seperti sebuah pohon yang tumbuh miring, setiap saat bisa tumbang dan ditimpa malapetaka atau mati muda. Ketika kita hanya memberikan anak dengan uang dan materi dalam jangka waktu panjang, dan tidak rela menghabiskan waktu untuk menemani anak, mendengarkan suara hati anak, perhatian terhadap perasaan anak, hingga pada suatu hari ketika kita sudah berusia lanjut, anak-anak kita juga sama seperti kita dulu dengan uang saja memasok kita, tidak ada waktu menemani dan mendengarkan suara hati kita, perhatian terhadap perasaan kita. Jika saat itu baru mengeluhkan mengapa kehidupan ini tidak bisa diulang sekali lagi, bukankah sudah terlambat!

Menarik pelajaran dari kesalahan terdahulu, biarkanlah kita mengambil keputusan tegas sekali lagi atas diri sendiri dan anak-anak kita. Sebenarnya kita harus menyayangi jodoh pertemuan kita bersama anak-anak yang sulit kita dapatkan, karena memiliki anak, baru ada pendidikan antara ayah dan anak. Pendidikan sekali lagi telah memberikan kepada kita kesempatan berharga untuk berkembang, karena itu boleh dikatakan bahwa anak adalah guru bagi kita. Seiring pertumbuhan anak, kita juga terus-menerus belajar dari pengalaman hidup yang baru dan kecerdasan jiwa.

Anak yang polos dan naïf tidak akan mendendam, anak yang polos meletakkan posisi hati pada titik nol, mengosongkan diri sendiri dan belajar dengan serius. Setelah dipikir dengan saksama, kita akan menemukan, sei-ring dengan berlalunya waktu tidak terasa kita sudah berangsur-angsur memikul banyak sekali prasangka, telah memupuk terlalu banyak kesenangan dan ketidak senangan serta rasa nyaman. Semua keterikatan hati yang tidak bisa dilepaskan telah membelenggu pikiran dan tindakan kita.

Mulai hari ini biarkanlah kita semua setiap hari menyambut kehidupan yang baru ini dengan perasaan hati yang baru pula — laksana seorang bayi yang menerima berkah kehidupan dari alam ini, kita akan merasa terkejut bahwa dalam berbagai musim penuh dengan pemandangan indah yang membuat orang melompat kegirangan.

Bila melihat perasaan manusia dengan sebuah hati anak kecil, kita akan menemukan dalam watak hakiki manusia, sebenarnya kebaikan dan kemurnian selalu menyertai kita. Bagaikan selembar kertas putih yang diwarnai dengan kebenaran dan kesetiaan, kita akan menemukan warna yang sangat indah yang dulu tak pernah tampak oleh kita. Biarkanlah sejak awal kita hanya membawa sebuah ketulusan hati, setiap hari memulai kehidupan baru! Belajar dan belajar lagi! (The Epoch Times / lin)

PERNIKAHAN


Ada seorang teman, suaminya seorang warga negara Taiwan, sedangkan dia sendiri berasal dari suatu provinsi di daratan Tiongkok. Setelah menikah, dalam kurun waktu yang cukup panjang, suami isteri itu sering kali bertengkar. Mulai dari makanan dan hobi, kebiasaan dalam rumah, memilih tempat tinggal, hingga bagaimana melewati hari-hari libur. Setelah mereka mempunyai anak, pertengkaran mereka semakin parah.

Tapi beberapa tahun belakangan ini, dia sering kali berkata kepada saya, bahwa dia berangsur-angsur sudah bisa mengimbangi suami dan anaknya, serta bagaimana bersikap terhadap sanak keluarga dari pihak suami. Ada hal-hal tertentu sang suami yang mengambil keputusan, dan dia mematuhi keputusan ini. Ada pula beberapa hal suaminya tahu dia pasti akan mempertahankan pendapat, maka suaminya akan membiarkannya mengambil keputusan itu sendiri.

Sebelum pertengkaran terjadi, keduanya dapat menahan diri dengan menghentikan topik pembicaraan. Demi menjaga keutuhan keluarga, dia belajar memasak, yang akhirnya jatuh cinta dengan ketrampilan itu.

Sebagai teman karibnya selama sepuluh tahun lebih, saya melihatnya dari sosok perempuan yang bertabiat keras dan hidup santai, berangsur-angsur berubah menjadi istri yang baik, tahu bagaimana membawa diri dan mengurus segala hal dalam rumah tangga. Pernikahan itu telah membuatnya matang dan bertanggung jawab. Membuatnya memahami bagaimana mundur selangkah langit luas tiada batasnya, serta lebih banyak memikirkan orang lain.

Anak adalah faktor yang lain. Beberapa tahun setelah dia melahirkan, saya melihat dia menjadi lebih ramah, dari dirinya terpancar kasih sayang seorang ibu, seluruh muridnya juga mengatakan dia telah berubah. Dulu ketika ada jawaban murid yang kurang tepat, dia akan menegurnya dengan kasar. Ketika pekerjaan rumah muridnya kurang bagus, dia akan memarahi sang murid. Kini dia berpandangan para murid merupakan harapan keluarga, jadi seyogyanya kita harus mendidiknya dengan kasih sayang.

Beberapa tahun lalu, ada seorang murid yang bertanya kepada saya, haruskah dia menikah? Dia mengaku sebenarnya tergolong orang yang tidak ingin berkeluarga, tetapi dia melihat kehidupan keluarga saya, dia merasa sedikit kagum, maka hal pernikahan dia pertimbangkan kembali.

Saya berkata kepadanya, orang yang telah menikah akan menyesal, namun orang yang tidak menikah pun juga akan menyesal. Karena setelah menikah terus memikirkan kebebasan ketika masih bujang. Orang yang belum menikah, selalu merasa berkeluarga baru bisa senang dan bahagia, jadi keduanya sama-sama akan menyesal. Saya hanya ingin dia berpikir kembali, jika memang ingin menikah, apakah dia ingin menghayati kehidupan yang lain, rela menerima cobaan yang lain.

Setelah menikah, dia kembali menemui saya. Dia mengaku dirinya telah mengerti mengapa saya mengatakan bahwa pernikahan itu semacam kultivasi. Dia dilahirkan dalam keluarga menengah. Sejak kecil sang ibu selalu menyiapkan segala sesuatunya, waktu kecil tidak pernah melakukan pekerjaan dapur, juga jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sebelum menikah, dia bebas menjadi seorang bujang. Kadang kala pulang rumah menemani ayah dan ibu, jarang sekali mengalami hal-hal yang tidak berkenan di hati. Setelah menikah, karena suaminya sangat sibuk, semua pekerjaan rumah dipikulnya sendiri.

Yang menjadi tantangan baginya, sang mertua seringkali bermalam selama beberapa hari di rumahnya.Sehingga harus menyediakan makanan tiga kali sehari, terlebih lagi mereka sangat memperhatikan cita rasa makanan. Sebelum menikah, pulang bekerja adalah waktu milik sendiri. Setelah menikah, waktu pulang bekerja terbagi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, menemani suami, menjaga anak, dan akhirnya waktu yang tersisa sedikit itu barulah untuk pribadi. Dia telah merasakan kesengsaraan ini selama beberapa waktu lamanya, dan sering kali bertanya pada diri sendiri, mengapa harus menikah.

Menurut Anda, apa itu pernikahan? Apakah seperti kisah pangeran dan putri raja yang senantiasa melewati hari-hari bahagia? Tentu bukan demikian. Perkataan yang lebih mendekati kenyataan, seharusnya adalah, sejak saat itu sepasang pengantin tersebut memasuki tahapan percobaan hidup yang lain.

Bahagia tidaknya suatu pernikahan, indah atau tidak, langgeng tidaknya, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi pernikahan. Satu hal yang pasti, membutuhkan toleransi tinggi dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain! (Yang Ren Shou / The Epoch Times / lin)

PAHALA MEMENGARUHI HIDUP MANUSIA

Jika seorang raja dapat memerintah dengan bijaksana, menghormati langit, dan mencintai rakyatnya, maka negeri yang dipimpinnya akan makmur sejahtera dan kuat.

Sebaliknya jika raja tersebut tidak berkebajikan, maka bukan manusia yang akan menggulingkan kekuasaannya, melainkan langit yang akan menumbangkannya, tidak membiarkan dia menjadi bencana bagi negeri itu untuk mencelakai rakyatnya. Ini adalah manifestasi dari perbuatan jahat yang mendapatkan balasan jahat dan perbuatan baik akan mendapatkan balasan baik dari seorang raja didalam suatu dinasti.

Prinsip yang sama juga berlaku pada sebuah marga. Jika anggota keluarga sebuah marga secara turun temurun sangat mementingkan kebajikan, maka anak cucu keturunan marga tersebut juga akan mendapat perlindungan. Marga tersebut akan menjadi sejahtera dan makmur. Jika keluarga tersebut berangsur-angsur meninggalkan tradisi, melanggar moral, tidak berdisiplin, dan melakukan hal-hal yang amoral, maka anggota keluarga dari marga tersebut akan mengalami ketidak beruntungan dan kemerosotan.

Keluarga manakah yang tidak ingin memiliki penerus? Siapakah yang ingin tidak berketurunan? Kemakmuran dan ke-sejahteraan sebuah keluarga bukan ditentukan oleh nasib, melainkan ditentukan oleh perilaku kebajikan diri sendiri. Jika orang tersebut mengumpulkan banyak pahala dengan melakukan kebaikan, bersikap murah hati, berlapang dada, dan memperlakukan orang lain dengan baik, maka sudah pasti langit tidak akan membiarkan orang tersebut tidak berketurunan.

Orang tersebut akan menerima berkah dari langit dengan anak cucu yang makmur dan sejahtera. Nasib tercipta oleh diri sendiri. Balasan sebab akibat dari perbuatan diri sendiri akan dirasakan oleh diri sendiri juga. Jika ingin mengubah nasib harus dimulai dari mengubah diri sendiri, bertobat dan memulai hidup yang baru. Memupuk hati menuju kebaikan dapat mengubah nasib diri sendiri.

Manusia berencana Tuhan yang menentukan. Manusia mengatakan takdir tidak dapat dihindari. Sebenarnya tidak semuanya adalah mutlak. Manusia sangat labil, sifat kejahatan dan kebaikan berada bersamaan dalam diri manusia, hanya melihat manusia memilih yang mana. Jika manusia memilih kebaikan maka akan mendapatkan balasan kebaikan. Jika memilih kejahatan maka akhirnya akan mendapatkan balasan kejahatan.

Hanya saja manusia acapkali hanya melihat keuntungan sesaat yang berada di depan mata dan tidak memikirkan akibat di kemudian hari. Apa yang ditabur itulah yang akan dituai, menabur benih kejahatan mana mungkin mendapatkan buah kebaikan? Sekilas pikiran yang timbul dari hati manusia, segera akan diketahui oleh langit dan bumi. Keluarga yang mengumpulkan kebaikan pasti akan mendapatkan kemakmuran. Keluarga yang mengumpulkan kejahatan pasti akan mendapatkan malapetaka. Langit sangat adil, kebaikan maupun kejahatan semua akan mendapatkan balasan, perilaku kebaikan atau kejahatan tidak dapat mengelabui yang di Atas.

Seseorang yang melakukan kejahatan, dilihat secara permukaan orang tersebut sedang mencelakai orang lain. Tetapi sebenarnya dia sedang mencelakai diri sendiri. Ketika orang tersebut sedang membiarkan semua hasrat ego diri sendiri tidak terkendali, saat itulah dia sedang memusnahkan dirinya sendiri. Manusia acapkali mengeluh pada Tuhan karena tidak memperlakukan dirinya dengan adil ketika menerima balasan buah kejahatan. Sebenarnya manusia tidak memahami bahwa semua balasan buah kejahatan itu adalah karena dirinya sendiri.

Jika ingin sukses di tengah masyarakat, seseorang harus menaruh perhatian pada perilaku moral diri sendiri. Hanya yang memiliki moral dan mentaati perintah-Nya baru akan mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Hanya manusia yang bermoral dan berbudi luhur baru dapat memikul tanggung jawab besar yang diberikan Tuhan kepadanya.

Tidak peduli Anda melakukan hal apapun, syarat utama yang perlu dimiliki untuk mencapai kesuksesan adalah menjadi seseorang yang bajik, bermurah hati, dan bermoral. Segala sesuatu yang berada dalam masyarakat manusia semuanya dikendalikan oleh yang di Atas. Sedangkan yang di Atas tidak melihat seberapa besar kehebatan dan kemampuan Anda, juga tidak melihat setinggi apa cita-cita Anda, Dia hanya melihat seberapa banyak pahala yang Anda miliki.

Segala kebahagiaan dan keberuntungan dalam kehidupan manusia semua terlahir dari pahala seseorang. Melakukan hal baik dapat mendapatkan balasan kebaikan. Sebaliknya jika selalu berpikiran jahat demi keuntungan pribadi serta melakukan tindakan kejahatan, maka pada akhirnya pasti akan mendapatkan balasan kejahatan. (Chun Liu / The Epoch Times / lin)

MENGUBAH PANDANGAN HIDUP

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel berjudul “Dalam Perjalanan Hidup Jangan Pernah Menoleh ke Belakang”. Artikel tersebut mengisahkan dua kisah pembuktian artikel tersebut!

Dikisahkan dalam Kitab Suci, Tuhan akan memusnahkan Kota Sodom yang penuh dosa. Namun karena di dalam kota tersebut tinggal keluarga Nabi Luth, maka Tuhan mengutus malaikatnya untuk membawa Nabi Luth dan keluarganya keluar dari kota dengan pesan: “Cepatlah melarikan diri dan jangan sekali-kali menoleh ke belakang!” Tak disangka istri Nabi Luth yang berjalan paling akhir, merasa penasaran dan menoleh ke belakang, maka segera berubah menjadi patung tanah.

Ada seorang dokter yang baik hati akan dijatuhi hukuman mati karena difitnah. Menjelang pelaksanaan eksekusi, dokter tersebut berkata dengan sayu, “Aku tidak menyesali kematianku, namun sangat menyayangkan bila resep obat-obatan hasil risetku tidak dapat diturunkan untuk menolong manusia.”

Mendengar ini, sang algojo tersentuh hatinya dan berkata, “Saya dapat memberi sedikit waktu agar Anda dapat pulang untuk menuliskan resep obat-obatan itu, baru kemudian pergi ke alam baka. Hendak diingat, ketika telah sampai di luar penjara, berlarilah sekuat tenaga, ja-ngan hiraukan orang yang berteriak memanggilmu di belakang, Anda jangan sekali-kali menoleh ke belakang.”

Dokter tersebut berhasil pulang ke rumah, dan dengan bantuan istrinya ia dapat mewujudkan “keinginan menjelang ajalnya”.

Dalam perjalanan hidup manusia, dapatkah seseorang menoleh ke belakang (dengan kata lain mengulang kembali jalan yang telah ditempuh)? Perlukah kita menoleh ke belakang?

Dalam hidup manusia memang sering kali tidak mungkin untuk dapat diulang kembali. Ada yang mengatakan, “Setelah melewati usia setengah abad, manusia seperti pion catur Tiongkok yang melewati sungai, hanya dapat maju terus dengan berani.” Atau mengatakan bahwa hatinya tak tahan mengenang masa lampau, berhasrat kembali namun tubuh sudah renta. Juga mengeluhkan seandainya dulu ia tahu akan demikian, mengapa harus dilakukan, dan lain sebagainya.

Teringat pelajaran bahasa Inggris saat di bangku kuliah, terdapat sebuah artikel yang mengatakan, ”If I were freshman again (seandainya saya seorang mahasiswa baru).” Artinya tak lain adalah dia tidak mungkin lagi memulai kehidupan menjadi mahasiswa baru. Kata-kata di atas seolah membuktikan kebenaran bahwa, dalam perjalanan hidup jangan menoleh ke belakang.

Saya pribadi lebih menyukai perkataan, “Kehidupan manusia seperti ujian multiple choice.” Memilih salah satu jawaban, yang salah akan mendapat nilai minus. Manusia dalam hidup boleh menyesal dan mengerjakan ulang, namun bila salah memilih jalan, tidak dapat menghindari kerugian dalam hal waktu, tenaga, emosi dan lain-lain. Namun asal kita mau balik kembali, acap kali dapat menghindari terulangnya kesalahan sama yang dapat menjerat pada situasi yang tak dapat dipulihkan kembali.

Lagi pula, di dalam perjalanan hidup apabila benar-benar tak dapat menoleh ke belakang, mengapa pepatah zaman dahulu selalu mendorong orang yang melakukan kesalahan agar segera bertobat? Misalnya seperti anak bejat yang bertobat lebih berharga daripada emas; atau samudera penderitaan tidak bertepi, saat menoleh yang terlihat adalah daratan; serta meletakkan golok jagal, segera menjadi Buddha (Sang Sadar). Bukankah perkataan tersebut menjadi tidak berarti?

Saya sangat menyukai kata-kata yang selalu dituliskan salah seorang guru saya pada bagian bawah email, “Belajar apapun jangan merasa terlambat, mengerjakan apapun hendaknya dilakukan sekuat tenaga.” Ketika kita melakukan kesalahan, asalkan mau mengubah dan memulainya lagi serta melakukan dengan segenap tenaga, maka selamanya tidak akan terlalu terlambat.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengisahkan usaha seorang istri di saat menjelang ulang tahun pernikahannya, ia menitipkan anak-anaknya ke rumah orangtuanya, karena ingin merayakan berdua dengan sang suami mengenang kemesraan saat berbulan madu dulu. Segalanya berjalan sesuai rencana, sampai pada saat makan malam, karena sesuatu hal, suasana berubah menjadi kaku. Akhirnya sang istri mengusulkan untuk mengesampingkan hal yang membuat suasana kaku dan mengulanginya dari awal.

Maka sang suami keluar rumah sambil menjinjing tas kantor kemudian mengetuk pintu rumah. Sang istri membuka pintu dan menyambutnya dengan senyum mesra. Mereka berhati-hati menghindari masalah yang membuat suasana menjadi kaku lagi, sehingga mereka berdua dapat melewati malam yang menyenangkan.

Peribahasa kuda yang baik tidak akan mengulang makan rumput dari ladang yang sama, juga mirip dengan topik ini.

Beberapa waktu yang lalu di Taiwan, baru saja menyelesaikan pemilihan lima daerah. Salah satu calon meninggalkan partainya. Ada orang yang bertanya, “Jika Anda terpilih, akankah kembali ke partai semula?” Calon tersebut dengan cerdik menjawab, “Pepatah mengatakan, kuda baik tidak akan mengulangi makan rumput dari petak ladang yang sama.”

Saat masih muda, saya pernah membaca rubrik konsultasi dalam sebuah media. Ada seorang perempuan yang telah putus hubungan dengan kekasihnya, namun selalu tidak dapat melupakannya. Berulang kali ia ingin kembali ke dalam pelukannya, namun begitu teringat pepatah kuda baik tidak akan memakan rumput dari petak ladang yang telah ditinggalkannya, ia segera meng-urungkan niatnya.

Tanggapan dalam rubrik itu menulis, “Saya hanya mengetahui bahwa kuda yang baik hanya memakan rumput yang baik, tanpa mempedulikan rumput di depan atau di belakang kuda (yang telah ditinggalkannya).”

Tulisan ini mirip dengan yang dikatakan Presiden AS Abraham Lincoln, ketika awal perang antara Utara dan Selatan. Saat itu pihak Utara beberapa kali terpukul mundur, banyak jenderal menegur Presiden Lincoln yang telah memutuskan perang karena membela kebenaran. Mereka berkata, “Sebenarnya kebenaran berpihak pada siapa?” Lincoln dengan santai berkata, “Kita jangan bertanya sebenarnya kebenaran berdiri di pihak siapa, cukup bertanya apakah kita berdiri di pihak kebenaran.”

Saya pernah sangat mengagumi kebijakan dan kemahiran tutur kata tersebut. Namun setelah dikenang kembali, rasanya hal tersebut bukan sekedar kebijakan seseorang, melainkan juga pandangan dan pikiran lurus seseorang.

Teringat sebuah cerita dalam agama Buddha. Ada seorang yang mengikuti seorang Guru Besar untuk menjadi biksu selama bertahun-tahun. Kemudian saat ia pergi berkelana, ia tergoda dunia fana dan telah berbuat banyak sekali dosa besar. Dia kembali kehadapan sang Guru dan tak habis-habisnya menyesali perbuatannya. Setelah mendengar, sang Guru berkata dengan penuh kemarahan, “Kalau ingin Sang Buddha memaafkanmu, tunggulah meja persembahan tumbuh bunga!”

Biksu tersebut melihat Gurunya tidak mau memaafkannya. Karena merasa sudah tak ada harapan lagi, maka dengan lesu ia kembali ke masyarakat manusia biasa melanjutkan berbuat dosa. Tak disangka pada hari kedua sang Guru melihat meja persembahan benar-benar tumbuh bunga!

Cerita ini menunjukkan bahwa Dewa dan Buddha dipenuhi welas asih yang tiada tara. Orang yang telah berbuat jahat asalkan mau menoleh ke belakang (menyesal), maka jalan kembali ke surga selalu terbuka! Saya sangat berharap orang yang salah jalan, cepat-cepat membersihkan kesalahan lampau, menempuh jalan pulang yang benar. Jangan mengikuti pepatah, “Dalam perjalan hidup jangan menoleh ke belakang!” (Huang Jinyuan / The Epoch Times / prm)

MELEPASKAN 8 HAL DALAM HIDUP

1. Melepas tekanan

Lelah tidaknya Anda tergantung pada persepsi Anda. Apabila Anda tidak membersihkan pikiran, maka pikiran akan penuh debu. Setiap hari Anda akan menemui banyak kegiatan, sebagian bahagia, sebagian lagi tidak.

Semua peristiwa ini akan menetap di pikiran, melebur dan mengacaukan pikiran. Bila Anda menyimpan kenangan yang menyakitkan, Anda akan merasa sangat tertekan. Oleh karenanya, bersihkan pikiran Anda, biarkan hal-hal itu berlalu, singkirkan kenangan pahit, maka Anda akan memiliki banyak ruang untuk kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan merupakan akar penderitaan Anda.

2. Melepas kekhawatiran

Kebahagiaan sebenarnya cukup sederhana. Melatih tersenyum, bukan secara mekanis memasang ekspresi pada wajah Anda, tetapi berusaha keras untuk mengubah apa yang Anda rasakan di dalam. Belajar untuk menerima kenyataan dengan tenang; belajar bagaimana mengatakan kepada diri sendiri, “Saya akan mengikuti sifat alam.”

Belajar bagaimana menghadapi krisis dengan jujur, memandang hidup dengan positif, melihat sisi terang dari segala sesuatu. Dengan demikian, secercah cahaya akan masuk ke dalam hati Anda dan menghalau kegelapan.

Kebahagiaan itu sebenarnya sederhana. Hanya membiarkan diri Anda merasa bahagia.

3. Melepas pikiran ruwet

Hilangkan hal itu dari kamus Anda. Tidak semua orang bisa menjadi contoh teladan yang dikagumi semua orang, namun semua orang dapat memiliki pikiran yang besar. Pikiran yang besar dapat meredam rasa sakit dan kesedihan seseorang; dapat mengompensasi kekurangan Anda; memungkinkan Anda untuk melanjutkan perjalanan hidup tanpa rasa takut dan membantu menyadari bahwa pikiran Anda sendiri dapat melampaui gedung pencakar langit dan gunung tertinggi!

Percaya pada diri sendiri, temukan relung sendiri dan Anda juga dapat memiliki kehidupan yang berharga.

4. Melepas rasa malas

Kerja keras dapat mengubah hidup seseorang. Jangan gelap mata, iri pada orang lain. Jika Anda dapat mencoba keras dan gigih, Anda juga bisa memilikinya. Karena ketika Anda berlatih hingga sempurna, itu adalah sebuah ketrampilan.

Hanya untuk mengingatkan: memperbaiki diri sendiri, bahagia, sehat, dan bersikap baik, akan memungkinkan Anda untuk memiliki kehidupan yang indah.

5. Melepas sikap buruk

Jika ingin berhasil, berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Ganti sikap negatif Anda dengan positif. Ganti keacuhan dengan martabat, kemunafikan dengan ketulusan; pikiran sempit dengan toleransi, depresi dengan kebahagiaan, kemalasan dengan ketekunan, kerentanan dengan ketangguhan... selama Anda mau, Anda akan menjadi yang terbaik sepanjang hidup Anda.

Tidak ada yang bisa mempengaruhi hasil perjuangan Anda. Anda adalah satu-satunya yang bertanggung jawab. Meskipun tidak semua mimpi dapat menjadi kenyataan, mimpi indah dapat membawa keindahan pada hidup seseorang.

6. Melepas keluhan

Lebih baik bekerja keras daripada mengeluh. Semua kegagalan adalah dasar untuk sukses. Mengeluh dan menyerah adalah halangan yang mencegah datangnya keberhasilan. Menerima kegagalan dengan tenang adalah cara cerdas.

Mengeluh tidak dapat mengubah kenyataan, hanya kerja keras yang bisa membawa kembali harapan. Emas murni selalu ada saatnya bersinar.

Banyak mukjizat dalam kehidupan dibuat oleh orang yang lahir dalam lingkungan yang tidak menyenangkan.

Jangan khawatir pada hidup, dan jangan berpikir bahwa kehidupan memperlakukan Anda secara tidak adil. Pada kenyataannya, Anda diberikan porsi hidup yang sama dengan orang lain.

7. Melepas keraguan

Mengambil tindakan cepat. Setelah Anda memutuskan sesuatu, jangan ragu. Majulah ke tujuan Anda dan jangan menoleh ke belakang. Kesempatan muncul sekejab dan hanya kecepatan dan ketegasan yang dapat menangkapnya.

Mengambil tindakan cepat merupakan salah satu karakteristik orang sukses. Bila Anda tahu bahwa ide Anda baik, bertindaklah secepat Anda bisa, jika Anda melihat peluang yang baik, tangkaplah. Dengan demikian, Anda dijamin akan sukses.

Beberapa orang harus Anda lupakan. Beberapa kejadian baik untuk mengintrospeksi diri Anda. Beberapa hal harus diurus. Beberapa hal tidak bisa menunggu, dan sekali keraguan timbul akan mengakibatkan penyesalan dalam hidup Anda. Hanya jika Anda dapat membiarkan hal-hal tersebut pergi ketika Anda harus melepasnya, Anda dapat memperoleh kebahagiaan yang benar-benar milik Anda dalam hidup ini.

8. Melepas prasangka

Ketika pikiran Anda luas, langit dan bumi akan menunjukkan ruang.

Toleransi adalah kebaikan. Bila Anda menolerir orang lain, Anda benar-benar membuat ruang bagi jiwa Anda. Hanya dalam dunia yang penuh toleransi, manusia dapat memainkan lagu kehidupan yang harmonis.

Jika tidak menginginkan prasangka, kita harus menciptakan masyarakat yang toleransi. Jika kita ingin menghilangkan prasangka, pertama-tama kita harus menyingkirkan pikiran sempit.

Hanya dengan menyingkirkan prasangka jauh-jauh, seseorang dapat memiliki keharmonisan dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat.

Bukan hanya kita yang menginginkan kebahagiaan, tetapi juga teman dan saudara kita, dan bahkan orang asing. Kita ingin mereka semua merasakan kebahagiaan kita. Sukacita berbagi kegembiraan melampaui sukacita dalam memiliki. (Secret China/val)

Jumat, 06 Mei 2011

Tuhan Memiliki Jawaban yang Positif



Ketika kapal karam, hanya dia sendiri yang selamat, hidupnya tergantung kepada sebuah papan besar akhirnya dia dihanyutkan oleh ombak dan terdampar disebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni.

Setiap hari dia berdoa kepada Tuhan supaya ada menyelamatkan dia dan dapat kembali pulang ke rumahnya.

Setiap hari dia memandang ke laut, mengharapkan ada kapal yang lewat yang bisa menyelamatkan dia, tetapi yang terlihat hanyalah laut dan langit saja apapun tidak terlihat lagi.

Kemudian, ia memutuskan untuk mempergunakan papan yang membawanya ke pulau itu, membangun sebuah pondok kayu sederhana untuk melindungi dia dalam lingkungan yang berbahaya ini untuk bertahan hidup, dan untuk menyimpan sedikit hartanya

Tetapi suatu hari ketika dia pulang dari mencari makanan, dia melihat pondok kayunya terbakar, api sangat besar dan asap membumbung tinggi ke langit, dalam sekejap pondok kayunya habis terbakar.

Yang paling menyedihkan adalah sedikit hartanya juga turut terbakar habis menjadi abu, dalam kesidihan dia berteriak ke langit, “Oh Tuhanku! Kenapa engkau melakukan semua ini terhadapku?”

Pada saat itu airmata mengalir dengan deras dari matanya.

Keesokkan harinya, dia dibangunkan oleh suara mesin kapal yang mendarat ke pulau kecil ini, benar, ada orang yang datang menyelamatkannya.

Setelah naik keatas kapal, dia bertanya kepada kapten kapal, “Kenapa kalian tahu saya berada ditempat ini?”

“Karena kami melihat sinyal asap minta tolong.” Kapten kapal menjawab.

Manusia ketika menghadapi kesulitan mudah tertekan, namun walaupun menghadapi kesulitan dan penderitaan yang sebesar apapun, tidak boleh kehilangan iman, karena Tuhan senantiasa didalam hati kita melakukan hal-hal yang menakjubkan. (Erabaru/hui)

Kenapa Agan Tidak Bahagia?


Ada beragam cara untuk bisa merasakan kebahagiaan. Anda bisa merasa bahagia ketika keinginan dan cita-cita Anda terpenuhi. Anda bahagia ketika Anda sedang berada dalam kondisi sehat dan tidak diberikan sakit oleh Yang Maha Kuasa. Anda bahagia ketika kebutuhan Anda dan keluarga bisa terpenuhi. Anda bahagia ketika pasangan Anda begitu mencintai dan menyayangi Anda. Dan masih banyak lagi hal yang sejatinya bisa membawa kebahagiaan untuk Anda.


Namun demikian, tak jarang kita temui orang-orang yang dilimpahi sekian banyak alasan untuk bisa bahagia, tetapi nyatanya ia tidak bisa merasakan kebahagiaan. Mengapa demikian?
Ada sebuah kalimat bijak yang patut kita renungkan,
“Bukan bahagia yang membuat Anda bersyukur, melainkan bersyukur yang membuat Anda bahagia.”

Dalam hidup ini, pasti ada yang akan Anda miliki, dan ada pula yang cukup Anda lihat sebagai milik orang lain. Ada yang datang, dan ada pula yang pergi.
Dalam hidup ini, pasti Anda akan berhasil pada satu dan beberapa hal, tapi boleh jadi Anda gagal dalam satu dan beberapa hal.
Dalam hidup ini, Anda akan tertawa dan Anda juga akan menangis. Maka bagaimana Anda memaknai hidup Anda, terkadang itulah yang justru menipu Anda.

Mengapa Anda tak bahagia?


Pertama, Anda membanding-bandingkan hidup Anda dengan orang lain sehingga yang muncul adalah “rumput tetangga terlihat lebih hijau” di mata Anda. Ini menyebabkan Anda tidak henti-hentinya ngiler melihat kehidupan orang lain. Walhasil, Anda pun merasa kehidupan Anda saat ini tidak lagi menyenangkan dan membahagiakan.

Kedua, yang membuat Anda tak bahagia adalah karena Anda sering berandai-andai tentang masa lalu. Misalnya, “Jika saya dulu … [baca: titik-titik-titik]”. Beragam pilihan hidup yang telah Anda ambil Anda sesali, hidup Anda pun lebih sering diisi dengan “nostalgia” masa lalu yang jelas-jelas tak mungkin akan kembali. Anda pun menjadi setengah hati menjalani kehidupan Anda saat ini.

Sejatinya setiap orang diberikan takaran waktu yang sama setiap harinya: 24 jam! Itulah waktu yang saya jalani dan waktu yang sama itu pula yang Anda jalani. Semoga di waktu yang terus berjalan dan tidak akan kembali ini, kita bisa melewatinya dengan sibuk mensyukuri segala hal yang kita alami, serta sibuk memperkaya arti kehadiran diri kita di muka bumi.

Mari kita syukuri apa yang Anda miliki saat ini… Bila tidak, maka bersiaplah untuk menderita…

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8130746

Kamis, 05 Mei 2011

Toko Yang Menjual Istri... (Silahkan memilih)

Sebuah toko yg menjual istri baru, dibuka dimn pria dpt memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri.

Di antara instruksi2 yg ada di pintu masuk, terdpt instruksi yg menunjukkan bgmn aturan main utk masuk toko tsb: "Kamu hny dpt mengunjungi toko ini SATU KALI!"

Toko tsb terdiri dr 6 lantai dimn setiap lantai akan menunjukkan kelompok calon istri.

Semkn tinggi lantainya, semkn tinggi pula nilai wanita tsb. Kamu dpt memilih wanita di lantai tertnt/lbh memilih ke lantai berikutnya, tp dgn syarat tdk bs turun lg ke lantai sblmnya kecuali utk keluar dr toko.

Lalu, seorang pria pun pergi ke " TOKO ISTRI " tsb untuk mencari istri. Di stp lantai terdpt tulisan spt ini:

Lt 1:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan & pandai memasak."

Pria itu tersenyum, kmd dia naik ke lantai selanjutnya.

Lt 2:

"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak & lemah lembut."

Kmbali pria itu naik ke lantai selanjutnya.


Lt 3:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut & cantik."

''Wow!'', ujar sang pria, tetapi pikirannya msh penasaran & trs naik.

Lalu smpailah pria itu di lt. 4 n terdpt tulisan:

"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget & syg anak."

''Ya ampun!'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya!''


Dan dia tetap mlanjutkan ke lt 5:

"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, syg anak & sexy."


Dia tergoda utk berhenti tp kmd dia melangkah ke lt. 6 & terdpt tulisan:

"Anda adalah pengunjung yg ke 4.363.012.000. Tdk ada wanita di lantai ini. Lantai ini hny semata2 pembuktian utk pria yg tdk pernah puas."

Trm ksh tlh berblanja di " TOKO ISTRI ". Mohon hati2 ketika keluar dr sini.

Pesan moral ini bkn cm utk pria tp jg wanita: "Tetaplah slalu merasa puas akan pasangan yg sudah Tuhan sediakan. Jgn terus mencari yg terbaik tp jadikanlah yg ada yg terbaik buat anda, karna Tuhan sudah sediakan, itulah pasangan yg terbaik bagi kamu seumur hidupmu hingga maut memisahkan.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8043463

Inilah yang harusnya kita lakukan saat kita berumur 20 tahunan

Waktu berlalu dengan cepat. Tampaknya baru kemarin kita berusia 12 tahun, sedang bermain sepeda di sekitar rumah. Saat berusia 22 tahun, banyak yang memutuskan untuk menikah dan berhenti sekolah, dan dengan uang pinjaman yang ada, banyak yang berpikir akan menjadi milioner saat berusia 30 tahun. Atau sejelek-jeleknya usia 35 tahun. Namun pada realitanya, segala sesuatu tidak berjalan semulus rencana.

Jika saat ini anda berusia 40 tahun, ada beberapa hal yang sebaiknya anda katakan kepada diri anda yang sedang berusia 22 tahun.

1. Selesaikan pendidikan anda.

Jangan berhenti. Mungkin anda merasa bosan sekarang, namun jangan sampai anda berada pada situasi dimana anda tidak menyukai pekerjaan anda, namun anda tidak dapat berhenti. Menyelesaikan gelar sarjana akan membukakan anda pintu terhadap lebih banyak kesempatan.

2. Uang tidak membusuk, simpanlah.

Mulailah berinvestasi sejak dini. Berapa banyak barang yang anda miliki untuk menunjukan jumlah uang yang anda habiskan semasa sekolah dan kuliah? Jika anda investasikan separuhnya saja, anda akan memiliki banyak pada masa paruh baya anda. Berinvestasilah sejak dini.

3. Jangan beli rumah pertama yang anda lihat.

Belilah yang termurah dengan lingkungan yang paling baik.

4. Bangunlah sebuah kebiasaan untuk hidup sesuai anggaran.

Hal penting yang harus anda ingat adalah: hidup sesuai anggaran atau budget tidak memenjarakan atau membatasi anda, namun untuk memastikan kebebasan anda suatu saat kelak.

5. Belajarlah untuk ber-negosiasi dalam segala hal.

Belajar negosiasi akan menyelamatkan uang anda dalam jumlah besar. Selalu siap untuk belajar dan keluar dari suatu situasi.

6. Pastikan anda dilindungi asuransi kesehatan setiap saat.

7. Waktu berkualitas di kantor memang penting, namun jumlah waktu anda di rumah-lah yang terpenting.

Bos anda tidak akan perduli dengan keluarga anda. Namun keluarga tetap ada setelah anda lama meninggalkan pekerjaan anda. Jadi sebaiknya utamakan keluarga anda.

8. Jangan dengarkan mereka yang mengatakan bahwa ada jalan singkat menuju kekayaan.

Kekayaan tercipta karena anda berhasil menawarkan sesuatu yang menarik dan bernilai kepada mereka yang memintanya. Pelajaran penting disini adalah: carilah tau permintaan yang belum dipenuhi dan pelajari bagaimana cara memenuhinya.

9. Pastikan pasangan anda memiliki nilai yang sama dengan diri anda.

Hal yang satu ini dapat menjadi penentu kebahagiaan anda. Bicarakanlah dengan pasangan anda, nilai yang penting pada kehidupan anda yang harus diajarkan kepada anak-anak, walaupun anda tidak berencana memilikinya.

10. Belajar membangun jaringan.

Belajarlah untuk terus berhubungan dengan teman lama. Belajarlah untuk meminta pertolongan tanpa terlihat sedang melakukannya. Lihatlah bagaimana orang lain membangun jaringan. Ingatlah, yang penting adalah bukan apa yang anda tau, tetapi apa yang dapat anda lakukan dengan apa yang anda tau. Dan yang lebih penting lagi, bukan siapa yang anda kenal, melainkan siapa yang kenal anda. Belajarlah untuk membangun jaringan tanpa mengharapkan imbalan.

11. Never accept a job just because the pay is higher.

Jangan menerima sebuah pekerjaan hanya karena ia memiliki bayaran yang lebih tinggi. Hidup bukan hanya tentang uang.

12. Percaya, namun pastikan.

Anda dapat percaya dengan apa yang diajarkan, anda dengar, dan baca sewaktu kecil. Namun sekarang, anda terus harus melakukan pengecekan terhadap referensi, menanyakan pertanyaan, dan mencari jawaban. Janganlah menjadi seorang sinis, namun pastikan segala sesuatunya. Pelajaran penting: pastikan anda tau anda sedang berurusan dengan siapa dan apa motivasinya.

Pelajari apa yang memotivasi diri anda. Pelajari apa yang memotivasi pasangan anda dan anak anda. Pelajari apa yang memotivasi teman dan teman kerja anda, bos anda, bos dari bos anda. Jangan pernah berhenti belajar, dan bertumbu

http://www.klikunic.com/2011/02/inilah-yang-harusnya-kita-lakukan-saat.html