欢迎..............欢迎..............欢迎


Tampilkan postingan dengan label story of chinese hero. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story of chinese hero. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2011

Ratu Ma


Raja Zhu Yuanchang mempunyai istri yang bernama ratu Ma, berasal dari Chunsi. Ratu ini dipilih raja dari kalangan rakyat biasa, pada masa kecilnya keluarganya sangat miskin, setiap hari harus membantu orang tuanya bekerja, oleh sebab itu dia mempunyai sepasang telapak kaki yang besar. Ada sebuah kisah mengenai kakinya ini, yang selalu dikenang rakyatnya.

Setelah Zhu Yuanchang menjadi raja, pada suatu tahun di hari raya cap go meh, di pusat kota diadakan acara pameran lentera yang sangat besar dan megah. Raja Zhu Yuanchang yang menyamar memakai baju sederhana dengan semangat bersama 2 pengawalnya pergi ke pusat kota menyaksikan pameran lentera, terlihat berbagai jenis lentera tergantung dengan indah, diantara lentera tersebut raja Zhu Yuanchang melihat ada sebuah lentera yang sangat besar tergantung disana, lentera itu terlukis seorang wanita kaki besar sedang memeluk sebuah semangka, kelihatannya sangat lucu.

Setelah raja Zhu melihat gambar ini dia tidak mengerti siapakah orang yang dimaksud didalam gambar tersebut? Lalu dia membalikkan kepalanya bertanya kepada ke 2 pengawalnya, “Apakah kalian mengerti teka-teki yang ada didalam gambar tersebut?” Ke dua pengawalnya sambil menggelengkan kepalanya mengatakan tidak tahu.

Setelah pulang ke istana, raja Zhu menceritakan teka-teki yang dilukis dilentera itu kepada ratu Ma, sambil tersenyum ratu Ma berkata, “orang yang dimaksud dalam teka-teki ini adalah saya! karena saya mempunyai kaki yang besar dan berasal dari daerah Chunsi, maka dia melukis seorang perempuan kaki besar sedang memeluk sebuah semangka.” Setelah raja Zhu mendengar penjelasan yang dikatakan ratu Ma, raja Zhu menjadi sangat marah berkata, “Saya akan menangkap orang yang melukis lukisan dilentera ini, ratu saya yang begitu lembut dan penuh kasih sayang, beraninya dia menghina ratuku.”

Ratu Ma segera mencegah raja Zhu sambil berkata membujuknya, “Sekarang ini hari raya, mereka hanya bergurau, jangan peduli, memang kenyataannya saya mempunyai kaki yang besar dan berasal dari daerah Chunsi, jangan memperbesar masalah. “

Setelah mendengar perkataan ratu Ma, akhirnya raja Zhu tidak jadi memperbesar masalah ini lagi, akhirnya kabar tersebut tersebar keluar istana, semua rakyatnya sangat salut dan memuji ratu Ma yang penuh welas asih, mulai saat itu tidak ada lagi yang menertawakan kaki besar ratu Ma. (Erabaru/hui)

Sabtu, 17 Juli 2010

Bambu Selir Xiang


Konon pada jaman Kaisar Yao dan Shun, hiduplah sembilan naga jahat di Gunung Jeuye di Provinsi Hunan. Para naga ini sering bermain bersama di perairan Sungai Xiangjiang. Aksi-aksi dahsyat mereka telah mengakibatkan meluapnya sungai tersebut. Banjir telah menghanyutkan tanaman panen dan merobohkan rumah-rumah. Orang-orang yang tinggal dekat sungai itu menjerit karena kerugian dan penderitaan. Kaisar Shun, yang selalu prihatin terhadap penderitaan rakyatnya, tak bisa makan dan tidur dengan baik ketika ia mendengar tentang akibat membahayakan yang disebabkan para naga itu. Ia memutuskan untuk pergi berkunjung ke Selatan untuk memecahkan masalah-masalah rakyatnya dengan menghukum dan menyingkirkan naga-naga itu.

Kaisar Shun mempunyai dua selir yang bernama Urwon dan Nuyin. Mereka adalah putri Kaisar Yao, pendahulu Kaisar Shun. Meskipun mereka dilahirkan di dalam keluarga kerajaan dan telah menjadi selir, mereka secara mendalam telah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Yao dan Shun. Bukan hanya mereka tidak terhanyut oleh kehidupan mewah, tapi mereka juga prihatin terhadap penderitaan rakyat jelata. Mereka berat hati melihat Kaisar Shun meninggalkan istana, namun ketika mereka mengingat kepergiannya ke Sungai Xiangjiang itu untuk meringankan penderitaan rakyat, mereka menyembunyikan kesedihan mereka dan dengan senang mengucapkan selamat jalan kepada sang kaisar.

Setelah Kaisar Shun pergi, Urwon dan Nuyin menunggu akan datangnya berita baik tentang sang Kaisar telah mengalahkan para naga dan segera kembali ke istana dengan kemenangan. Mereka mendoakan kaisar siang malam dan berharap dia segera kembali dan menang. Akan tetapi tahun demi tahun mereka menonton burung layang-layang datang dan pergi, bunga-bunga mekar dan layu, tapi mereka tak mendengar kabar apapun tentang orang tercinta mereka. Mereka jadi khawatir. Urwon berkata, "Apakah ini pertanda ia telah dilukai oleh para naga itu, atau ia telah jatuh sakit?" Nuyin berkata, "Apakah ini berarti dia telah diserang, atau ia telah tersesat di dalam pegunungan yang jauh?" Setelah lama berpikir, dari pada merindukan kembalinya kaisar yang tak pasti, mereka memutuskan untuk pergi mencarinya. Menghadapi angin dan salju, Urwon dan Nuyin mendaki setiap gunung dan menyeberangi setiap sungai menuju Selatan untuk mencari suami mereka.

Mereka akhirnya tiba di Gunung Jeuye. Mereka berjalan di sepanjang Sungai Besar Bauhinia menuju puncak bukit dan berjalan menuruni bukit di sepanjang Sungai Kecil Bauhinia. Mereka mengunjungi setiap desa dan menapak setiap jalur ke Gunung Jeuye. Suatu hari mereka sampai di sebuah tempat yang disebut Tiga Batu. Di sana berdiri kokoh tiga pilar batu besar yang dikelilingi bambu yang berwarna hijau giok. Mereka melihat sebuah makam yang tinggi terbuat dari mutiara. Mereka terheran dan bertanya kepada penduduk terdekat, "Milik siapakah makam indah dan spektakuler ini? Mengapa tiga batu besar itu berdiri di sana?" Para penduduk menceritakan kisah itu dengan berlinang air mata. "Ini adalah makam Kaisar Shun. Baginda datang ke sini dari nun jauh Utara untuk membantu kami membasmi sembilan naga jahat. Orang-orang kini hidup dengan damai dan bahagia, tapi Baginda menumpahkan semua keringat dan darahnya. Beliau jatuh sakit dan wafat di sini."

Sesungguhnya setelah wafatnya Kaisar, untuk penghargaan kehormatan sang Kaisar, para penduduk Sungai Xiangjiang membangun sebuah monumen besar khusus untuk beliau. Sekumpulan bangau peri di Gunung Jeuye juga tergerak oleh perbuatan baik sang Kaisar. Mereka terbang ke Laut China Selatan setiap hari siang malam untuk membawa beberapa mutiara mempesona dan menaburkannya ke makam Kaisar yang telah menjadi sebuah makam mutiara. Tombak bergigi tiga yang digunakan Kaisar untuk menghancurkan para naga telah tertancap di tanah dan berubah menjadi tiga batu besar. Ketika mereka mendengar apa yang telah terjadi, Urwon dan Nuyin sangat sedih. Mereka saling berpelukan dan menangis lirih. Mereka sangat berduka cita dan telah menangis sembilan hari sembilan malam. Mata mereka menjadi bengkak dan suara mereka parau. Mereka menangis hingga air mata mereka kering. Dengan cepat air mata mereka berubah menjadi darah. Mereka meninggal di dekat makam sang Kaisar.

Air mata Urwon dan Nuyin telah memercik ke pohon-pohon bambu di Gunung Jeuye. Permukaan kulit bambu tersebut menunjukkan bercak-bercak air mata: beberapa berwarna ungu, ada yang putih, dan beberapa ada yang berwarna merah darah. Ini adalah "Bambu Selir Xiang". Pada sebagian bambu-bambu itu ada tanda yang terlihat seperti sidik jari. Konon tanda itu tertinggal ketika kedua selir tersebut menyeka air mata mereka. Pada sebagian bambu tersebut ada tanda merah darah, tercelup oleh air mata darah dari kedua selir tersebut.
http://en.secretchina.com/culture_history/3223.html

Jumat, 16 Juli 2010

Dewa Perkawinan


Dalam pepatah Tiongkok, ada pepatah indah yang berisikan ungkapan "Yue-xia-lao-ren" - yang berarti lelaki tua di bawah sinar bulan. Ini juga merupakan sebutan yang diberikan untuk perantara jodoh.

Cerita berikut ini beredar luas pada Dinasti Tang. Orang tua Wei Gu meninggal ketika ia masih sangat muda. Dia sangat ingin menemukan seorang gadis dan menikah, tapi tidak pernah berhasil. Suatu hari ia pergi ke Kota Song dan tinggal di sebuah asrama.

Tamu asrama lainnya mencoba mengatur agar Wei bertemu dengan seorang gadis dari desa terdekat. Mereka berjanji ketemu di kuil Longxing dekat asrama itu untuk keesokan paginya. Tapi Wei sangat ingin bertemu dengan gadis itu sehingga ia tiba sebelum fajar ketika masih gelap.

Ketika sampai di kuil itu, ia melihat seorang lelaki tua duduk di tanah dalam cahaya bulan, dengan karung besar di sampingnya, membaca buku yang besar dan tebal. Wei mendekat dan melihat buku itu, tapi tidak bisa memahami sepatah kata pun. Wei penasaran dan bertanya, "Ya Papa, buku apa yang Anda baca? Saya telah belajar sangat keras dan saya bisa membaca banyak bahasa. Saya juga bisa membaca Tianlan dan Sansekerta! Tapi kenapa saya tidak bisa memahami kata-kata dalam buku Anda? Kenapa begitu?"

Orang tua itu tertawa, "Ini bukan buku dunia ini; bagaimana mungkin kamu bisa membacanya?"

"Lalu buku macam apa itu?" Wei bertanya.

"Buku dari dunia bawah tanah."

Wei bertanya, "Bagaimana seseorang dari dunia bawah datang ke dunia ini?"

Orang tua itu menjawab, "Ini bukan masalah bahwa saya berada di sini, tapi kamu bertemu aku karena kamu datang terlalu dini. Pejabat di dunia bawah tanah memiliki hal-hal untuk mengatur manusia di sini; mereka tentu saja harus sering datang ke sini."

Wei bertanya, "Baik, jenis hal-hal apa yang Anda kendalikan?"

"Buku yang mencatat semua perkawinan laki-laki dan perempuan," jawab lelaki tua itu.

Wei yang senang mendengar hal ini bertanya lagi, "Saya akan bertemu seorang gadis di sini hari ini. Apakah saya berhasil? "

Orang tua itu menjawab, "Giliranmu belum datang. Calon istrimu baru 3 tahun, dan akan menjadi istrimu ketika dia berusia 17 tahun."

Wei begitu marah dan bertanya dengan santai, "Apa yang ada dalam karung Anda?"

"Tali-tali merah. Tali merah itu digunakan untuk mengikat kaki suami istri. Aku akan mengikat kaki mereka bersama-sama ketika mereka duduk. Tak peduli laki-laki atau perempuan - apakah kedua belah pihak adalah musuh, atau terpisah usia yang jauh antara satu sama lain; miskin atau kaya, atau dari negara yang berbeda - asalkan aku mengikatkan tali merah ini ke kaki mereka, mereka pasti akan menjadi terdamaikan, dan akan menjadi suami - istri. Kaki Anda sudah terikat dengan orang itu; tidak ada gunanya mengejar orang lain. "

Wei bertanya, "Baik, di mana istri saya? Bagaimana cara hidup keluarganya?

"Dia adalah putri Bibi Chen di sisi utara kota ini," jawab orang tua itu.

"Bisakah saya melihat-lihat dulu?"

"Bibi Chen sering membawanya ke sini untuk menjual sayur-sayuran, jika kamu mengikuti aku, aku akan menunjukkannya untukmu."

Wei mencoba menanyakan lebih banyak pertanyaan, tetapi orang tua itu berdiri membawa buku dan karungnya berjalan menuju pasar. Wei Gu mengikutinya dengan cermat. Ketika mereka tiba di pasar, mereka melihat seorang wanita yang salah satu matanya buta sedang menggendong seorang gadis kecil yang berusia tiga tahunan dalam pelukannya dan berjalan ke arah mereka. Orang tua itu kemudian berkata kepada Wei Gu, "Gadis kecil di lengan wanita itulah yang akan menjadi istrimu kelak."

Gu Wei sangat marah dan bertanya kepada orang tua itu, "Bagaimana kalau aku membunuhnya?"

Orang tua itu menjawab, "Ini adalah orang yang ditakdirkan untuk menikmati kekayaan dan posisi yang tinggi dalam masyarakat, dan kamu akan dipromosikan karena dia; bagaimana mungkin kamu membunuhnya?" Setelah berkata, orang tua itu menghilang.

Wei kembali ke asrama, mengasah sebilah pisau dan memberikannya kepada pelayannya sambil berkata, "Kamu harus melakukan pekerjaan dengan rapi! Setelah kamu membunuhnya, aku akan memberi kamu sepuluh ribu Guan (nama uang Tiongkok kuno jaman itu). "

Pelayan itu pergi ke pasar keesokan harinya dan menikam gadis itu. Orang-orang di sekitarnya terkejut dan dalam kekacauan. Pelayan itu menggunakan keributan itu untuk berlari pulang dan melapor kepada tuannya, "Saya bermaksud menikam jantungnya, tapi lepas kendali, saya menikam kepalanya. Dia pasti mati. "

Setelah itu Wei Gu sering berusaha menemukan pasangan nikah, tetapi tidak berhasil. Empat belas tahun berlalu seperti dalam sekejap. Wei Gu dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi di tempat lain. Gubernur negara itu, Wang Tai mempertimbangkan kemampuan Wei Gu dan menawari Wei Gu untuk menikahi putrinya. Gadis itu berusia sekitar 17 tahun dan cantik. Wei Gu sangat gembira dan menikah.

Sang istri sungguh baik kepadanya dalam segala hal kecuali satu yang Wei ditemukan cukup aneh: istrinya selalu memakai hiasan bunga di dahi, di antara kedua alis. Wei akhirnya bertanya kepada istrinya tentang maksud hiasan itu. Dia menangis dan menjawab, "Saya adalah seorang anak angkat; gubernur Wang Tai adalah paman saya. Ayah saya meninggal tepat setelah saya lahir, dan ibu dan saudara saya juga meninggal sangat dini, dan bibi saya harus merawat saya ketika saya berusia 3 tahun. Suatu hari saya berada di sebuah pasar bersama Bibi ... Dia dan Paman bekerja keras. Ketika paman dipromosikan menjadi gubernur, saya datang ke kota ini. Sekarang dia telah menikahkan saya dengan Anda. "

Wei bertanya, "Apakah bibi kamu memiliki satu mata yang buta?"

"Ya, Apakah Anda mengenalnya?" tanya istrinya. Wei kemudian membuat pengakuan yang mendalam kepada istrinya.

Wei Gu kini mengerti bahwa apa yang dikatakan Dewa Perkawinan di kuil itu belasan tahun yang lalu bukanlah lelucon. Para Dewa telah secara pasti mengatur takdir pertemuan suami-istri. Suami-istri tersebut sangat menghargai perkawinan mereka dan memiliki kehidupan perkawinan yang mengagumkan bersama-sama.

Cerita ini segera tersebar di Kota Song. Masyarakat setempat mengubah nama asrama itu menjadi "Asrama Pertunangan" untuk memperingati kemunculan Dewa Perkawinan. Sejak saat itu, orang-orang percaya bahwa kehidupan bersama laki-laki dan perempuan diikat dengan tali merah dan didamaikan oleh Dewa Perkawinan, lelaki tua di bawah sinar bulan. Orang-orang membangun banyak kuil setelah cerita itu tersebar luas, dan orang-orang mengharapkan orang tua itu bisa tinggal di kuil-kuil itu untuk beristirahat ketika ia berkunjung ke sana. (Secret China/bud)

Kamis, 15 Juli 2010

Kisah Si Dewa Seni Perang - Sun Bing




Gui Guzi, guru bersama Sun Bing dan Pang Juan. (INTERNET)
Sun Bing semasa mudanya pernah mengalami nasib yang penuh derita, ia difitnah dan dicelakai oleh saudara seperguruannya yakni Pang Juan dan mengalami hukuman potong kaki sebatas lutut ke bawah, maka sejak saat itu ia dijuluki Sun Bing (baca: suen ping).

Bing bermakna: kaki lutut yang terpotong. Karena ia menulis banyak strategi kemiliteran yang populer, maka diberi sebutan sebagai Dewa Seni Perang.
Difitnah Pang Juan

Sun Bing dan seorang warga Negara Wei, Pang Juan belajar bersama di perguruan Gui Guzi dan mempelajari strategi perang. Oleh karena kemampuan Pang Juan tidak bisa menandingi Sun Bing ia terbakar oleh iri hati, sesudah ia menjadi jenderal besar Negara Wei, ia berkomplot mengundang Sun Bing ke Negara Wei, padahal perangkap sudah disiapkan.

Sun Bing dijatuhi hukuman pemotongan kaki dan wajahnya di tatoo warna dengan tujuan agar Sun Bing cacat permanen serta tidak bakal dipakai orang. Meski demikian Pang Juan masih saja tidak tenang, maka Sun Bing pun ia sekap, untuk membatasi ruang geraknya.

Kemudian terdapat seorang duta Negara Qi yang secara diam-diam menemui Sun Bing dan menyelundupkannya ke Negara Qi. Tian Ji, seorang jenderal Negara Qi telah lama kagum dengan nama baik Sun Bing, maka itu ia mempromosikannya ke raja Qi.

Sesudah raja Qi menanyainya tentang strategi perang ia terkagum-kagum terhadap kemampuan menonjol Sun Bing, sehingga menghadiahinya jabatan penasehat militer, bekerja sama dengan Tian Ji membesarkan Negara Qi.
Kisah Balapan Kuda

Terdapat sebuah anekdot tentang Sun Bing yang terkenal.

Waktu itu para bangsawan negeri Qi sedang menggandrungi balap kuda. Tian Ji sering kali bertaruh dalam balapan kuda dengan raja Qi dan para pangeran, tetapi lebih sering kalah daripada menang.

Diam-diam Sun Bing melakukan penelitian, ia menemukan kuda Tian Ji dan kuda dari raja Qi maupun para pangeran sebenarnya kualitasnya tidak selisih banyak, semuanya terdapat perbedaan kelas: bawah, menengah dan atas, maka ia berkata kepada Tian Ji: "Balapan selanjutnya, Anda bertaruhlah besar-besaran, saya jamin Anda pasti menang."

Sebelum berlangsung balapan, Sun Bing mengatakan kepada Tian Ji: "Anda dengan kuda kelas bawah melawan kuda kelas atas milik raja Qi, dengan kuda kelas atas melawan kuda kelas menengah raja Qi lalu dengan kuda kelas menengah melawan kuda kelas bawahnya." Seusai lomba, ternyata Tian Ji memenangi lomba dengan skor 2 : 1. Sejak saat itu Sun Bing jadi terkenal di kalangan bangsawan.
Seni Berperang Sun Bing

"Seni Berperang Sun Bing" adalah buku kemiliteran terkenal di zaman China kuno, ditulis oleh Sun Bing dan muridnya. Ia menyimpulkan pengalaman peperangan yang terjadi pada periode pertengahan Zhan Guo (Negeri Saling Berperang, sekitar abad ke-4 SM), di dalam bidang strategi perang, siasat perang dan pendirian pasukan serta perang riil telah banyak menulis karya tulis yang bernilai, oleh karena itu telah memperoleh apresiasi tinggi di kalangan intelektual dalam dan luar negeri.

Kisah Shanbo dan Yingtai (Sampek Engtay)

Legenda Sampek dan Engtay

Legenda Sampek dan Engtay

Liang Shanbo dan Zhu Yingtai adalah salah satu dari empat legenda rakyat Tiongkok dan salah satu yang paling berpengaruh pada kesenian. Yang telah menyebar luas di Tiongkok selama lebih dari 1600 tahun, itu dianugerahi Penghargaan "Sebuah karya Kesetiaan Cinta selama berabad-abad" dan berjudul "Romeo dan Juliet ala Timur".

Muncul pada Dinasti Jin 1600 tahun yang lalu, Legenda Liang Zhu mengisahkan perjalanan kehidupan seorang gadis cantik yang pandai dan berkemauan keras untuk maju: Untuk mengejar studinya di Hangzhou, Zhu Yingtai menyamar sebagai seorang laki-laki. Setelah belajar selama tiga tahun bersama dengan teman sekolahnya Liang Shanbo, Zhu Yingtai jatuh cinta padanya.

Sebelum Berpisah, Zhu Yingtai memberi isyarat cinta lagi untuk Liang Shanbo yang gagal memahaminya saat itu. Kemudian, Saat Shanbo kemudian memahami perasaan Yingtai padanya, ia datang ke keluarga Yingtai untuk melamarnya. Sayangnya, Zhu Yingtai telah dipertunangkan oleh ayahnya dengan pria lain yang jauh lebih kaya, dan lamaran Shanbo ditolak mentah-mentah meskipun Yingtai sudah memohon kepada ayahnya agar ia diperkenankan menikah dengan pujaan hatinya. Yingtai tidak mencintai pria pilihan ayahnya.


Film Sampek dan Engtay

Film Sampek dan Engtay

Liang Shanbo begitu sedih sehingga jatuh sakit dan meninggal. Zhu Yingtai menuju makam Shanbo pada hari pernikahannya. Pada saat ia mengadakan upacara peringatan, langit yang tadinya cerah mendadak mendung, hujan dan petir menggelegar, makam terbelah dan Yingtai masuk kedalamnya. Tak lama kemudian, keduanya berubah menjadi sepasang kupu-kupu warna-warni yang mengepakkan sayapnya ke langit yang berpelangi setelah hujan reda.

Dengan sentuhan dan cerita yang mengharukan dan menyentuh imajinasi, Legenda Liang Zhu sangat populer di kalangan masyarakat umum di Tiongok. Kisah ini populer dalam berbagai karya sastra dan seni termasuk Opera Yue Liang Shanbo dan Zhu Yingtai, konser biola Liang Zhu dan film Liang Shanbo dan Zhu Yingtai (Sampek-Engtay). Ketika dipentaskan atau digubah ulang, legenda ini telah terus-menerus diperkaya dan dikembangkan oleh orang-orang di berbagai daerah. Pada saat yang sama, banyak batu nisan, kuil dan bangunan lain dibangun, dengan Legenda Liang Zhu sebagai tema. Selanjutnya, legenda ini telah menyebar ke berbagai negara seperti Korea Utara, Vietnam, Myanmar, Jepang, Singapura dan Indonesia, baik di panggung teater dan pentas seni lainnya. (Kebudayaan Tionghoa/snd)

Delapan Dewa Abadi dalam Legenda Tiongkok

Delapan Dewa Abadi (Ba Xian) adalah sekelompok Dewa aliran Tao yang melegenda pada mitologi Tiongkok.

Delapan Dewa Abadi (Ba Xian) adalah sekelompok Dewa aliran Tao yang melegenda pada mitologi Tiongkok.

Delapan Dewa tidak langsung dilahirkan abadi. Mereka berasal dari 
dunia manusia, seperti dari anggota keluarga kekaisaran, pengemis, 
pendeta Tao, dan lain-lain. Ada kisah yang yang sangat menarik di belakang mereka saat berhasil berlatih dan mencapai keabadian.


Dalam legenda, Delapan Dewa terdiri dari laki-laki dan perempuan, muda dan tua, kaya dan berbudi luhur, serta miskin dan rendah hati. Klenteng Tao dari 
Delapan Dewa tersebar di seluruh Tiongkok dan patungnya 
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi penyembahan. Senjata yang 
mereka bawa seperti lonceng kayu keras, kipas, tongkat, seruling, pedang, botol 
labu, Tao dan keranjang bunga, ini semua disebut "delapan harta" dan simbol dari Delapan Dewa.

Bagian yang paling terkenal dari Delapan Dewa adalah karya-karya sastra dan seni seperti lukisan Delapan Dewa Menyeberangi Laut, Delapan Dewa Menyajikan Buah Persik dan Roti dll. Selain itu, Delapan Dewa biasanya juga ditampilkan dalam lukisan Tahun Baru, bordiran, kerajinan keramik, festival lentera dan opera dll. Ada ungkapan "Baxianguohai, gexianshentong "(berarti" Delapan Dewa menyeberangi lautan, masing-masing menunjukkan keahlian khusus-nya ") adalah salah satu ciri khas yang paling banyak digunakan di Tiongkok.


Li Te Guai

Li Tie Guai

Li Tie Guai

Li Tie Guai-("Li dengan tongkat besi"). Tongkat besi yang dimilikinya, diberikan oleh Xi 
Wang-mu saat dia disembuhkan kakinya. Xi Wang-mu juga mengajarinya mengultivasi diri menjadi Dewa. benda lain yang dibawa-Nya adalah labu yang berisi ramuan ajaib.


Li kadang-kadang digambarkan dengan temperamen tinggi dan keras kepala, tapi murah hati terhadap orang miskin, orang sakit dan yang membutuhkan. Dengan menggunakan obat khusus dari labu-Nya, dia dapat mengurangi penderitaan orang lain. Ia sering digambarkan sebagai seorang pria tua jelek dengan wajah kotor, jenggot kumal, dan rambut berantakan yang diikat dengan pita emas. Dia berjalan dengan bantuan sebuah tongkat besi dan sering memikul labu miliknya di bahu atau dipegang ditangan. Dia juga sering digambarkan sebagai tokoh lucu, turun ke bumi dalam bentuk seorang pengemis dan menggunakan kemampuannya untuk memperjuangkan nasib yang membutuhkan dan tertindas.

Ada sebuah cerita lain tentang bagaimana Li sampai memiliki kaki yang pincang. Dengan Turun dari langit, Lao-zi memulai mengajarkan ajaran-ajaran Tao kepada Li. Segera setelah Li mencapai keabadian, ia meninggalkan tubuhnya untuk melakukan perjalanan ke Gunung suci Huashan. Dia meminta salah seorang muridnya untuk menjaga tubuhnya dan memberikan tugas khusus kepada murid-Nya untuk membakar tubuhnya jika ia 
tidak kembali dalam waktu tujuh hari. Namun, pada hari keenam, murid-Nya 
menerima pesan bahwa ibunya sedang sakit keras. Dia bingung apakah harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak atau menjaga tubuh Li. Akhirnya murid itu memilih pulang menjenguk Ibunya tapi sebelum itu ia membakar tubuh Li. Pada hari ketujuh, Li kembali dan menemukan tubuhnya sudah terbakar menjadi abu. Dia terpaksa memasuki tubuh seorang pengemis yang telah meninggal yaitu seorang pria dengan kaki pincang, dan cacat. Li tidak ingin hidup dengan tubuh barunya tetapi Lao-zi memintanya untuk menerima nasibnya, dan memberi Li sebuah tongkat besi untuk membantu dia berjalan.


Zhang Guo Lao

Zhang Guo Lao

Zhang Guo Lao

"Zhang Guo Lao" adalah salah satu dari Delapan Dewa. Dia adalah tokoh nyata dalam sejarah, keberadaanya-Nya dimulai sekitar masa pertengahan atau akhir abad ketujuh sebelum Masehi, dan berakhir kira-kira pada masa pertengahan abad kedelapan. julukan The "Lao" ditambahkan di akhir namanya, kata ini  memiliki arti "Tua".

Zhang Guo Lao adalah paling eksentrik dari dewa lain, salah satunya dapat 
dilihat dari gaya kung fu yang didedikasikan untuk dirinya. gaya ini meliputi 
bergerak seperti memberikan tendangan sambil memutar badan atau tekukan sejauh bahu Anda menyentuh tanah. Dia dikenal cukup menghibur, sering membuat dirinya menghilang, minum dari bunga beracun, memetik burung-burung di langit, serta bunga menjadi layu hanya dengan menunjuk kearah mereka, saat berada dihadapan Kaisar.


Zhang Guolao punya kebiasaan unik, yaitu menunggang keledai putih secara terbalik, sehari berjalan bisa mancapai 10.000 Li.  Tentu saja keledai itu juga merupakan keledai khayangan, yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas saat ia sedang tak diperlukan tuannya.

Sangat sedikit yang tahu mengapa dia menunggang keledai secara terbalik. Dia menemukan bahwa dengan berjalan ke depan berarti mundur ke belakang, dia lalu menunggang secara terbalik. 

Kisah selengkapnya mengenai Zhang Guo Lao klik disini.

Cao Guojiu

Cao Guojiu

Cao Guojiu

Cao Guojiu adalah Dewa terakhir dari Delapan Dewa. Dia ditampilkan dengan pakaian pejabat resmi dan butiran batu giok. Kadang-kadang ia terlihat memegang alat musik. 
keajaiban butiran batu gioknya adalah dapat memurnikan lingkungan.


Cao Guojiu adalah paman dari seorang Kaisar pada zaman Dinasti Song, yaitu adik terkecil dari janda Ibu Suri Cao.

Adik Cao Guojiu, Cao Jingzhi adalah pengganggu, tapi tak ada yang berani 
menuntut dia karena koneksi yang kuat, bahkan setelah dia membunuh 
seseorang. Cao Guojiu begitu kewalahan oleh kelakuan adiknya, merasa sedih dan malu. Akhirnya ia mengundurkan diri kantornya dan kembali pulang.

Suatu hari Zhongli Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao.

"Apakah itu dan dimanakah itu?", mereka balik bertanya.

Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian ke hatinya.

Delapan Dewa tidak langsung dilahirkan abadi. Mereka berasal dari 
dunia manusia, seperti dari anggota keluarga kekaisaran, pengemis, 
pendeta Tao, dan lain-lain. Ada kisah yang yang sangat menarik di belakang mereka saat berhasil berlatih dan mencapai keabadian.
 Berikut adalah kelanjutan dari profi 8 Dewa.  Kisah sebelumnya klik disini.

Zhongli Quan

Zhongli Quan

Zhongli Quan

Zhongli Quan adalah salah satu Dewa yang paling kuno dan menjadi pemimpin dari Delapan Dewa (Beberapa orang menganggap Lu Dongbin menjadi pemimpin). Ia juga dikenal sebagai Zhongli Han (Han Zhongli) karena dia lahir pada masa Dinasti Han.

Lahir di Yantai, Zhongli Quan pada masa hidupnya hanya pernah mengabdi pada masa Dinasti Han.

Menurut legenda, cahaya terang memenuhi ruangan saat dia dilahirkan. Setelah lahir, tujuh hari penuh dia terus-menerus menangis tanpa henti.

Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam kerajaan pada masa Dinasti Han. Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan dan dapat menghidupkan orang mati.

Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan mendalami ajaran Tao.

Han Xiang

Han Xiang

Han Xiang

Han Xiang atau Xiang Zi, adalah Salah satu dari Delapan Dewa.


Han Xiang lahir pada masa Dinasti Tang, dan memiliki nama kehormatan Qingfu. 
Dia adalah kemenakan atau cucu dari Han Yu, seorang negarawan terkemuka di
Pengadilan Tang. Han Xiang belajar Taoisme di bawah bimbingan Lv Dongbin.

Pada suatu perjamuan dengan Han Yu, Han Xiang membujuk Han Yu untuk melepaskan hidupnya sebagai pejabat dan ikut belajar Tao bersama dia. Tapi Han Yu tetap pada pendiriannya dan sebaliknya mengatakan bahwa Han Xiang harus memberikan 
hidupnya untuk Taoisme, bukan Konghucu, jadi Han Xiang menunjukkan 
kemampuan Tao yang dia pelajari dengan menuangkan anggur kedalam cangkir demi cangkir dari labu miliknya tanpa berhenti.

Karena serulingnya dapat memberikan kehidupan, maka Han Xiang juga disebut pemain seruling pemberi perlindungan.

Lan Caihe

Lan Caihe

Lan Caihe

Dari kedelapan dewa, Lan Caihe adalah dewa yang paling sedikit memiliki informasi. Umur dan jenis kelaminya tidak di ketahui.

Lan biasanya digambarkan dalam pakaian yang tidak jelas, tetapi sering ditampilkan sebagai pemuda atau gadis membawa keranjang bunga  yang terbuat dari bambu.

Diceritakan perilaku Lan sering aneh dan eksentrik. Beberapa sumber mengatakan gaun 
Lan Caihe menggunakan gaun biru lusuh, dan dikenal sebagai dewa pelindung para pujangga. Dalam tradisi lain, Lan adalah penyanyi wanita dan memiliki lirik lagu yang dapat memprediksi kejadian masa depan secara akurat.

Dia terbang meninggalkan dunia dengan angsa langit atau burung bangau pergi ke langit. Diceritakan pernah suatu hari ketika berada di sebuah kedai, ia diduga bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum berangkat pergi dia  melepaskan pakaiannya dan terbang dengan burung bangau atau angsa pergi ke langit.

He Xiangu

He Xiangu

He Xian Gu

He Xian Gu adalah satu-satunya dewa perempuan di antara Delapan 
Dewa.


Ada sumber yang mengatakan He Xian Gu berasal dari daerah Prefektur Yong (hari ini disebut Linglin County, Hunan) pada masa Dinasti Tang, atau dari keluarga kaya dan dermawan di daaerah Zengcheng, Guangdong.


Saat lahir He Xian Gu memiliki enam rambut panjang di kepalanya. Saat berusia 
14 atau 15 tahun, seorang dewa muncul dalam mimpinya dan memberi petunjuk kepada dia untuk makan bubuk mika, agar tubuhnya bisa menjadi sangat ringan
 dan abadi. Jadi, ia memakannya, dan juga bersumpah untuk tetap menjaga keperawananya.

Saat mendaki bukit dan menuruni lembah He Xian Gu dapat melintasinya dengan sangat cepat, rasanya melayang seperti makhluk bersayap. Setiap hari saat fajar dia pergi dan kembali di sore hari dengan membawa buah gunung yang dia kumpulkan untuk ibunya. Kemudian lambat laun dia menyerah mengambil makanan biasa. Ratu Wu mengirim utusan untuk memanggil dia datang ke istana, tetapi di jalan, ia menghilang.

Suatu hari pada periode Long Jing (sekitar 707 CE), He Xiangu terbang ke langit
 di siang hari bolong, dan menjadi Dewa Tao.

Legenda Miao Shan (Guan Yin)


Tao-hsüan (596-667) pernah bertanya kepada Dewa tentang asal muasal Bodhisattva Guan Yin. Dewa kemudian mulai bercerita dan berkata:


Di zaman dulu ada seorang raja yang bernama [Miao]-Chuang-yen. Permaisurinya bernama Pao-ying. Mereka mempunyai tiga anak perempuan, yang pertama bernama Miao-Yen, kedua bernama Miao Yin, dan terakhir bernama Miao-Shan.

Pada saat mengandung Miao-Shan, Ratu bermimpi bahwa dia telah menelan bulan. Ketika tiba anak tersebut lahir, seluruh bumi bergetar, munculnya keharuman yang mengagumkan dan bidadari menebarkan bunga surga dimana-mana. Orang-orang dari negara tersebut terkejut. Pada saat kelahirannya, walau tanpa dibersihkan terlebih dahulu dia sudah sangat bersih dan sehat.

Anak perempuan ini memiliki tanda kemuliaan dan keagungan, tubuhnya ditutupi dengan berbagai macam warna. Orang-orang mengatakan ini adalah tanda-tanda reinkarnasi orang suci. walaupun orang tuanya berpikir ini sungguh luar biasa, namun karena ayahnya menerima doktrin palsu, mereka tidak menyukai Miao-shan.

Dia tumbuh menjadi gadis yang baik dan lembut. Dia berpakaian sederhana dan hanya makan sekali sehari. Di istana dia dikenal sebagai "gadis dengan hati Buddha." Dengan belas kasihnya semua dayang berubah ke kehidupan yang lebih baik, tidak lagi dipenuhi nafsu keinginan. Setelah dewasa, Miao Shan juga tidak ingin menikah. Sang raja tidak mendengarkan permintaan anaknya dan tetap bersiap mencarikan suami untuknya.

Miao-shan, dengan ketulusan hati dan kebijaksanaan, berkata: "kekayaan dan kehormatan adalah tidak abadi, kemuliaan dan kemegahan seperti gelembung atau ilusi belaka. Bahkan jika Anda memaksa saya untuk melakukan pekerjaan kasar, saya tidak akan pernah menyesal,  tekad saya tetap suci. "

Ketika raja dan permaisuri berusaha membujuknya, dia berkata: "Saya akan mematuhi perintah Anda, jika anda dapat mencegah tiga kemalangan."

Raja bertanya: "Apa yang Anda maksud dengan “tiga kemalangan' ?"

Dia berkata: "Yang pertama adalah: ketika orang-orang di dunia ini pada mula terlahir muda, wajah mereka cantik seperti permata-seperti bulan, tetapi ketika mereka menjadi tua, rambut mereka berubah putih dan wajah mereka berkerut serta mereka perlu banyak istirahat dan segalanya menjadi lebih buruk dibandingkan saat mereka masih muda.

Kedua adalah: anggota badan manusia dapat sehat dan kuat, dia dapat melangkah luwes seakan terbang di udara, tetapi ketika tiba-tiba penyakit datang, ia tergeletak di tempat tidur tanpa ada kebahagiaan.

Yang ketiga adalah: setiap manusia memiliki banyak keluarga, dikelilingi oleh orang yang dikasihi dan disayangi, tapi suatu hari tiba-tiba dipisahkan oleh kematian, walaupun ayah dan anak adalah keluarga, mereka selamanya tidak bisa berada dalam tempat yang sama.”

Jika dapat mencegah “tiga kemalangan ini, maka saya akan menuruti permintaan anda. Jika tidak, saya lebih memilih mengundurkan diri dan belajar kehidupan spiritual. Ketika satu perolehan dipahami penuh dari pikiran sejati, semua kemalangan dari nafsu keinginan akan tidak ada lagi. " tambahnya..

Raja menjadi marah. Dia memaksa Miao-shan untuk bekerja di kebun dan mengurangi pemberian makan dan minum. Dua saudaranya pergi diam-diam untuk membujuk, tapi Miao-shan tetap tegas dengan keputusannya dan tidak akan kembali. Ketika permaisuri secara pribadi memperingatkan dia, Miao-shan mengatakan: "Dalam semua ikatan emosional di dunia ini tidak ada istilah pelepasan spiritual. Jika keluarga bersatu, mereka mau tidak mau tetap akan terpisah. Tenangkan hati, Ibu Masih beruntung ada dua kakak yang bisa merawat anda. Jangan khawatir tentang Miao-shan. "

Permaisuri dan dua saudara perempuannya meminta raja untuk melepaskan Miao-shan dan membiarkan dia memperlajari keagamaan. Raja tambah marah. Ia menyerukan para biarawati (di biara Po-ch'üeh su) dan memerintahkan mereka agar memperlakukan dia dengan keras sehingga ia akan berubah pikiran.

Para biarawati mulai mengintimidasi dan memberinya tugas berat seperti mengambil kayu dan air, bekerja dengan alat tumbuk dan lesung, menjalankan kebun dan dapur. Sebagai respon dari apa yang dia kerjakan, sayuran tumbuh dengan subur bahkan di musim dingin, dan mata air muncul di samping dapur.

Waktu terus berlalu, dan Miao-shan masih memegang teguh prinsipnya. Ketika raja mendengar keajaiban sayuran dan mata air tersebut, dia sangat marah. Dia mengirim pasukan untuk membawa kembali kepalanya dan membunuh para biarawati. Ketika mereka tiba, awan dari pegunungan dan kabut tiba-tiba muncul, benar-benar menutupi segalanya. Ketika semua awan dan kabut hilang, Miao-shan tetap tidak berhasil mereka temukan. Dia telah diselamatkan oleh Dewa dan dibawa ke sebuah karang.

Dewa itu berkata: "Tanah di sini terlalu tandus untuk bertahan hiup." Dia memindahkan Miao Shan tiga kali sebelum mereka mencapai Pegunungan Harum (Hsiang-shan).  Miao-shan tinggal di sana, makan dari pepohonan dan minum dari air sungai.

Waktu berlalu, dan raja menderita penyakit kuning. Seluruh tubuhnya membusuk dan bernanah, dan tidak bisa tidur atau makan. Tak satu pun dari para dokter bisa menyembuhkannya. Dia hampir mati ketika biksu muncul dan mengatakan bahwa ia bisa menyembuhkannya, tapi akan membutuhkan tangan dan mata yang terbebas dari sifat marah. Mendengar usul ini, Raja merasa sangat sulit untuk menemukannya.

Biksu itu berkata: "Pada Pegunungan Harum, di barat daya negeri Anda, ada Bodhisattva sedang belajar kehidupan spiritual. Jika Anda mengirim pelayan untuk menyampaikan permintaan Anda, mungkin Anda bisa mendapatkan keduanya."

Raja tidak punya pilihan selain memberi perintah pelayan istana untuk pergi dan menyampaikan pesannya. Miao-shan berkata: "Ayahku menunjukkan rasa tidak hormat terhadap tiga hal penting, dia menyiksa dan membenamkan Doktrin Benar, ia mengeksekusi biarawati tidak bersalah. Sekarang mengalami penderitaan yang berat, ini disebut hukum karma." Kemudian ia dengan tulus memotong mata dan tangannya. Memberikan kepada utusan, dia menambahkan permintaan kepada raja untuk mengubah pemerintahnya ke arah yang baik, tidak lagi terperdaya oleh doktrin palsu.


Ketika mata dan tangan disampaikan, Biksu itu membuatnya menjadi obat. Raja meminumnya dan langsung sembuh. Ia kemudian memberikan hadiah kepada biksu itu. Tapi biksu itu berkata: "Kenapa berterimakasih kepada saya, Anda harus berterima kasih kepada orang yang memberikan lengan dan mata ini.?" Setelah itu tiba-tiba Biksu tersebut menghilang. Raja terkejut dan merasa ini adalah pengaturan Dewa. Memesan kusir, Dia pergi dengan permaisuri dan dua anak perempuannya ke pegunungan untuk mengucapkan terima kasih kepada Bodhisattva 


Akhirnya mereka bertemu, dan sebelum kata-kata terucap, ratu sudah mengenalinya sebagai anaknya, Miao-shan. Mereka terdiam dan meneteskan air mata. Miao-shan berkata: "Apakah Ibuku ingat Miao-shan? Karena belas kasih kepada ayah, saya telah melunasinya dengan lengan dan mata." Mendengar kata-katanya, raja dan ratu memeluknya, menangis getir. Ratu hendak menjilat mata dengan lidahnya, tapi sebelum dia bisa melakukannya, awan keberuntungan menutupi seluruhnya, musik Dewa mulai terdengar, bumi bergetar, dan bunga surga tersebar dimana-mana.

Kemudian penjelmaan suci dari Bodhisattva Tangan Seribu dan Mata Seribu tampak nyata, melayang anggun di udara. Suara belas kasihan Bodhisattva bergema, mengguncang gunung-gunung dan lembah-lembah. Dalam sekejap, para Bodhisattva kembali ke tempat asalnya, lalu berangkat dengan meninggalkan kehikmatan yang agung. Raja, ratu, dan kedua kakak beradik membuat pemakaman kayu, merawat kawasan suci tersebut, dan di gunung yang sama membangun sebuah stupa. (Tales of WIsdom/ngrh)

Yue Fei Melemahkan Kekuatan Musuh


Jendral Liu Yu dari Dinasti Song Selatan (1127-1279) mengkhianati negaranya dan menyerah kepada Kaisar Dinasti Jin (1115-1234) di utara.  Pada tahun 1137, Jenderal Yue Fei dari Song Selatan mendapat perintah untuk berperang melawan pasukan Jin. Yue Fei tahu bahwa akan ada pertempuran besar sekarang antara  Dinasti Song berhadapan dengan mantan Jendralnya, Liu, yang beraliansi dengan tuan barunya (Kaisar Jin). Tapi ia juga tahu bahwa ada konflik antara Jenderal Liu dan Jinwuzhu, seorang jenderal Jin. Yue Fei akan mengambil keuntungan dari ini dan melemahkan kekuatan musuh. Tapi bagaimana caranya?

Kebetulan Yue Fei menerima laporan bahwa mata-mata yang dikirim oleh Jinwuzhu ditangkap. Mendengar ini, Yue punya ide. Dia memanggil mata-mata tersebut menghadapnya.

Ketika mata-mata itu dibawa masuk ke ruangannya oleh para penjaga, Yue pura-pura mengenali mata-mata itu dan berkata mencela kepadanya, "Apa yang terjadi padamu, Zhang Bing? Beberapa hari yang lalu, saya memerintahkan Anda untuk mengantarkan pesan kepada Liu Yu, berharap untuk bekerjasama dengan dia untuk membunuh Jinwuzhu, tapi saya tidak punya informasi apapun dari Anda. Kemana saja anda? Saya berpikir untuk mengirim orang lain untuk menyelesaikan misi ini.. "

Mata-mata itu merasa bingung, namun ia segera percaya bahwa Yue Fei telah salah orang. Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Mengapa saya tidak melakukan yang terbaik dengan mengambil pesan penting ini untuk Jendral saya?" Tiba-tiba ia berlutut dan berkata dengan memohon, "Maaf, Jenderal Beri saya satu kali kesempatan lagi dan Saya berjanji untuk memberikan pesan ke Jendral Liu kali ini."

"Yah, saya memaafkan anda", jawab Yue Fei, "Saya memberi kesempatan lagi Tapi jika Anda gagal lagi, Anda tidak dapat lepas dari nasib sial.." Dia mengambil sebuah kuas dan menulis surat dengan skema palsu diuraikan untuk membunuh Jinwuzhu. Untuk membuat rencana ini agar lebih dipercaya, Yue membungkus surat dalam bola lilin. Lalu ia memotong kulit paha mata-mata itu dan meletakkan bola lilin itu disana.

Mata-mata musuh begitu bersemangat karena mendapat surat penting itu. Dia dengan penuh semangat berlari ke Jinwuzhu dan menyerahkan surat kepadanya. Jinwuzhu sangat terkejut saat ia mengetahui bahwa Liu Yu telah merencanakan untuk membunuhnya. Dia segera melaporkan pesan ke kaisar. dengan segera, Liu Yu digulingkan dan Yue Fei berhasil melemahkan kekuatan musuh dan membuka jalan untuk mengalahkan musuhnya. (Erabaru/snd)