欢迎..............欢迎..............欢迎


Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2011

Yuan Yang, Legenda Simbol Cinta


Bebek mandarin, juga disebut burung cinta atau yuan yang,adalah sejenis burung hias berukuran sedang yang terkenal. Dalam bahasa China, yuan berarti bebek mandarin jantan, dan yang berarti bebek mandarin betina. Ada kisah mengharukan yang melatarbelakangi mereka menjadi simbol cinta di masyarakat Tionghoa, terutama bagi pasangan yang baru menikah.

Yuanyang, Simbol Cinta
Ada banyak cerita tentang bebek mandarin yang beredar. Salah satu cerita yang paling terkenal yaitu kisah tentang pasangan pengantin baru Zhang dan Su. Zhang adalah seorang jendral yang selalu menang dalam peperangan, sedangkan Su adalah wanita yang baru saja dinikahi Zhang. Pasangan ini berpisah karena Zhang harus berjuang demi negara. Tak lama berselang, Su mendapat kabar bahwa suaminya telah meninggal dan jasad suaminya dimakamkan di dekat sungai.

Dalam keadaan sangat sedih dan hampir gila, Su pergi mencari makam suaminya. Akhirnya ia ditemukan meninggal di dekat sungai tempat suaminya dimakamkan. Pada hari berikutnya, orang-orang melihat dua bebek dengan bulu berwarna indah bermain di sungai. Konon, ini adalah roh pasangan tersebut yang tidak bisa dipisahkan oleh maut.

Legenda mengisahkan bahwa sekali berpasangan, bebek mandarin ini akan hidup bersama seumur hidup hingga mati. Jika dipisahkan, pasangan yang ditinggalkan akan merana karena rindu dan akhirnya mati kesepian. Sejak zaman kuno, oleh masyarakat Tionghoa, bebek mandarin telah dianggap sebagai simbol cinta abadi karena cinta dan ikatan mereka.

Seiring waktu, arti simbolis bebek mandarin sering digunakan dalam pernikahan adat orang Tionghoa. Mereka percaya bahwa bebek mandarin dapat membawa kebahagiaan bagi mempelai baru. Dalam praktek Feng Shui, sebuah gambar bebek, baik lukisan ataupun ukiran, dikatakan dapat mendorong cinta dalam hidup seseorang. Khusus untuk meningkatkan asmara, gambar bebek ini lebih baik ditempatkan di bagian barat-selatan dari rumah. Ini akan membuat yang lajang lebih menarik bagi mitra potensial mereka, sedangkan bagi yang menikah, ini akan membantu pasangan tetap bahagia bersama dan saling mencintai sampai maut memisahkan. (Erabaru/wid)

Selasa, 07 September 2010

Asal-usul Ketupat



Darimana sebenarnya asal-usul ketupat? siapa pertama kali yang menemukan dan mempopulerkan ketupat? Seperti tradisi-tradisi lain di indonesia pasti memiliki,sejarah latar belakang, tidak jarang ada makna filosofi dari tradisi-tradisi tersebut. bagaimana dengan ketupat? mari kita simak:

Umumnya ketupat identik sebagai hidangan spesial lebaran, tradisi ketupat ini diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa.

Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.


Rupa (jenis-jenis) Ketupat Indonesia
Ketupat atau Kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara yang dibuat dari beras. Beras ini dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa dan dikukus sehingga matang. Ketupat paling banyak ditemui sekitar waktu Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa. Ketupat juga sering dihidangkan dengan sate. Bila dihidangkan dengan tahu dan gulai menjadi kupat tahu.Trus jika dihidangkan ditemani sayur labu/buncis menjai top markotop..Endyang Bambang Gurindang....Istimiwir n makyuusss tentunya . Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Singapura dan sebagainya.

Di antara beberapa kalangan di Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam jimat. Di Bali ketupat sering pula dipersembahkan sebagai sesajian upacara.

Senin, 09 Agustus 2010

Vampire Tiongkok

Tanya:
Saya sering melihat film Hong Kong tentang vampire Tiongkok yang berpakaian seragam hitam-hitam dan melompat2. Apakah benar vampire seperti itu ada? Apakah benar mayat dapat dihidupkan untuk melompat sendiri ke kuburannya di Tiongkok zaman dulu?

Jawab:

Vampire atau zombie nampaknya ada di setiap kebudayaan di dunia. Di Barat kita mengenal Dracula dari Transylvania. Untuk vampire Cina ini kerap disebut sebagai jiang-shi. Sebenarnya cerita tentang vampire ini merupakan semacam cerita legenda di masyarakat. Memang ada literatur sejarahnya namun cuma tercatat di dalam sejarah tidak resmi jadi cuma berupa catatan pengalaman dari seseorang. Perlu diketahui, catatan sejarah di Tiongkok dibagi atas 2 bagian besar, catatan resmi dari kamar sejarah kekaisaran dan catatan tidak resmi yang sumbernya dari masyarakat. Yang terakhir ini disebut "Wai-shi" atau "Ye-shi" yang artinya Catatan Tak Resmi.

Vampire dalam kebudayaan Tionghoa sebenarnya adalah sebutan untuk jenazah yang dikuburkan di tempat yang sangat kering, kurang lembab untuk memungkinkan organisme kecil membusukkan jenazah sehingga beberapa tahun berlalu, jenazah tadi tetap saja seperti sediakala. Jenazah seperti ini mengandung dan menyebarkan sejenis racun. Ini tidak heran karena mayat biasapun memang mengandung racun.

Karena ketakutan psikologis masyarakat zaman dulu terhadap kegelapan, kemudian ada cerita bahwa jenazah tadi dapat bangun dan mencari mangsanya berupa manusia hidup untuk dihirup darahnya dan
dimakan dagingnya. Bila terkena racun jenazah tadi, korbannya juga akan menjadi vampire sejenis. Ini lumrah saja dalam kehidupan masyarakat zaman dulu dan ada di kebudayaan manapun tidak terkecuali. Pakaian vampire hitam-hitam yang seperti kita lihat di film-film HK adalah pakaian pejabat kekaisaran Dinasti Qing, jadi itu cuma semacam skenario film dan bukan pakaian seragam dari vampire Tiongkok.

Jadi, sampai di sini jelas sudah. Vampire melompat2 seperti yang digambarkan dalam film2 buatan Hong Kong itu tidak pernah ada dan hanya rekaan manusia saja.

Mengapa digambarkan melompat-lompat?

Ini untuk mencocokkan deskripsi bahwa vampire (jiang-shi) itu adalah mayat yang telah kaku dan kering sehingga tak dapat berjalan layaknya manusia. Penggambaran hantu yang berbentuk halus adalah dapat terbang dan melayang, namun karena vampire ini adalah berbentuk nyata, sehingga tentu saja tidak dapat melayang atau terbang ke sana kemari.

Namun benarkah ada mayat yang bisa bangun di dalam sejarah Tiongkok?

Mengenai mayat yang bisa bangun, saya rasa itu cuma sesaat (spontan) dan ini ada penjelasan ilmiahnya. Beberapa waktu lalu saya ada melihat acara TV di sini yang mengundang dokter visum terkenal. Ia menjelaskan bahwa dalam pengotopsian jenazah, apalagi bila waktu hujan dimana kelembaban udara
dan keadaan elektrostatik di udara mendukung untuk itu, jenazah bisa tergerak untuk sesaat karena pengaruh elektrostatik tadi. Ini terutama terjadi di zaman dulu di mana belum ada air-conditioner dan perlengkapan memadai untuk sebuah ruang otopsi. Penjelasan elekrostatik ini juga cocok untuk cerita bahwa jenazah bisa bangun bila dilompati seekor kucing di atasnya atau bila jenazah kena sinar bulan untuk jangka waktu tertentu di zaman dulu.

Bagaimana pula dengan cerita bahwa ada mayat bisa digiring untuk pulang ke kampung halamannya di Tiongkok sana?

Menurut ilmu shamanisme Tiongkok, seseorang punya 3 roh jiwa dan 7 roh jasmani. Nah, dikatakan bahwa seseorang berilmu tinggi dapat membangkitkan jenazah bila ia dapat mengontrol 7 roh jasmani suatu jenazah. Saya tidak akan menyinggung ini lebih jauh karena saya bukan ahlinya. Namun cerita bahwa ada mayat yang bisa digiring pulang ke kampung halamannya memang santer dan populer di daerah Hunan, Tiongkok pada zaman Qing sampai sebelum 1950-an. Saya pastikan ini adalah cerita bohongan karena cerita ini disebar oleh para anggota Triad maupun penyelundup barang-barang untuk melancarkan pergerakan dan kerja mereka di malam hari. Cerita ini demikian populernya sehingga penduduk tidak berani keluar rumah pada malam hari, juga akan menghindar bila ada sekelompok "mayat" sedang berjalan dengan kaku di kegelapan malam di jalan2 di pedesaan.

Di dalam literatur apa cerita mengenai vampire ini tercatat?

Mengenai literatur yang mencatat mengenai vampire ini, adalah dalam buku "Shu Yi Ji" yang merupakan buku sejarah tidak resmi tentang seluruh kejadian aneh di Tiongkok pada zaman pemerintahan Kaisar Shunzhi sampai Kaisar Kangxi di zaman Dinasti Qing. Dalam buku sejarah ini menyebutkan ada desa vampire di selatan propinsi Hunan sekarang pada awal Dinasti Qing.

Rinto Jiang

Kilin

Kie Lin (Hokkian), Chi Lin (Mandarin) dikatakan orang Barat sebagai unicorn-nya mitologi Chinese. Kie Lin adalah salah satu dari binatang lambang mitologi Chinese selain naga dan phoenix.

Liong (Hokkian) = Long (Mandarin) = Naga
Hong (Hokkian) = Feng (Mandarin) = Phoenix

Di dalam cerita Sam Kok (Romance of Three Kingdoms), Xu Shu bertemu dengan Lui Bei dan menyarankannya untuk mencari bantuan Zhuge Liang dan Pang Tong. Ia menyebut Zhuge Liang sebagai Sleeping Dragon dan Pang Tong sebagai Blooming Phoenix.

Kie Lin Tunggangan Para Dewa
Kompas, 31 Januari 2003

Dalam legenda Cina dikenal ada binatang yang menjadi tunggangan para dewa. Binatang yang mendapat kepercayaan untuk mengantar para dewa ke mana pun mereka pergi itu bernama Kie Lin. Kie Lin ini merupakan binatang yang mewakili 18 binatang yang ada di dunia.

Selain patung batu Kie Lin, yang bisa ditemui di depan pintu masuk sebuah klenteng atau beberapa tempat lainnya, patung Kie Lin juga bisa didapati di dalam klenteng. “Seperti yang diduduki Ji Lay Nan U Fuk atau Buddha-nya orang Cina. Jadi bukan Buddha India yang biasa disebut She Cia Moni Fuk,” jelas Krisna Warih, ahli feng shui dan ngoheng peji.

Karena merupakan tunggangan dewa maka Kie Lin ini juga memiliki daya magis. Pertunjukan Kie Lin ini juga sangat langka. Di wilayah Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang dan Bekasi) saja, bisa dibilang Kie Lin ini hanya ada di Bogor seperti yang dimiliki Perguruan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih Bogor.

“Itu pun karena Kie Lin ini dipilih ayah (Guru Besar PGB Bangau Putih Bogor, Subur Rahardja) sebagai lambang perguruan kami. Kalau tidak, mungkin Kie Lin ini tidak ada sama sekali di daerah Jabotabek,” tutur Gunawan Rahardja yang kini menggantikan kedudukan ayahnya.

Daya magis Kie Lin ini bisa terlihat bila sudah diniatkan untuk ditampilkan kepada umum. “Biasanya akan turun hujan, entah hujan deras atau gerimis, pasti akan terjadi,” ucap Virja Surja Tonowidjaja, pelatih utama Tunas Jaya Wushu yang terletak di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Hal itu memang terjadi ketika PGB Bangau Putih Bogor, Sabtu (25/1), akan mengganti Kie Lin lama, lambang perguruan mereka, dengan Kie Lin yang baru. Hujan deras turun sebelum Kie Lin lama dan Kie Lin baru PGB Bangau Putih Bogor di bawa Ho Tek Bio (klenteng kecil) yang terletak di dekat Kebun Raya Bogor.

Sebagai binatang dewa, Kie Lin sendiri bentuknya sepintas mirip singa. Tetapi, bila dilihat secara agak mendetail maka terlihat kalau sebagian tubuh Kie Lin ini mewakili ke-18 binatang yang ada di bumi.

Seperti badannya yang merupakan badan kuda tetapi memiliki sisik ular dan sisik ikan. Buntutnya pun dari kura-kura. Keempat kakinya juga berbeda semuanya. Ada yang berupa kaki burung hong (rajawali), kaki macan, kaki kerbau, dan kaki menjangan.

Kedua matanya yakni mata kepiting, dengan telinga mewakili telinga kelinci serta bertaring macan. Sedangkan jenggot dan mulutnya merupakan mulut singa serta pipinya pipi naga. Kie Lin ini juga memiliki tanduk bercabang dua yang merupakan tanduk rusa.

“Warna Kie Lin biasa diambil dari salah satu warna lima unsur yang ada di bumi,” kata Gunawan. “Bisa hijau yang merupakan unsur langit atau organ paru-paru dalam tubuh manusia. Bisa juga warna biru (air/tenggorokan), merah (bumi/dubur), kuning (alam/jantung) dan oranye (gunung/perut). Kebetulan yang dipilih perguruan kami itu warna hijau,” jelas anak keempat almarhum Subur Rahardja.

Berat Kie Lin ini biasa antara tujuh sampai delapan kilogram dengan panjang badannya sekitar 156 sentimeter. Tetapi, dengan kemajuan teknologi Kie Lin pun kini semakin ringan. “Sekarang beratnya antara tiga sampai lima kilogram saja,” kata Surja.

Sekali pun beratnya berkurang, tetap saja mereka yang ingin memainkan Kie Lin harus menguasai ilmu silat. “Sebenarnya bisa saja dimainkan oleh orang awam. Tetapi, karena beratnya tentu yang memainkannya pun harus kuat dan gesit. Sehingga, bisa tahan lama mainnya serta indah gerakannya,” ucap Surja yang juga pelatih Pelatnas Wushu.

“Tetapi, kalau di tempat kami, sudah dipilih suhu masing-masing pasangannya. Setiap pasang akan memainkan Kie Lin dengan jurus yang berbeda. Ada yang membawakan dengan jurus empat penjuru atau jurus bulan purnama,” kata Peter, pemuda Kelurahan Lebak Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, yang sudah berguru di PGB Bangau Putih Bogor sejak empat tahun lalu.

Cuma, memang berbeda, tambah Peter. “Kalau latihan itu bisanya kami cuma tahan lima menit saja. Tetapi, kalau sedang pertunjukan seperti ini bisa bertahan sepuluh sampai dua puluh menit tanpa terasa lelah. Entah itu karena kami ditonton atau karena memang sudah mendapat hu (jimat) setelah didoakan di klenteng.”

Memang, sebelum melakukan pertunjukan, Kie Lin lebih dulu harus disembahyangkan di klenteng. Baru setelah itu, sang Biku akan menempelkan hu di kepala Kie Lin.

KIE Lin ini bisa dibuat sendiri atau bisa juga dibeli. “Kalau dibuat sendiri biayanya hanya sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta saja. Tetapi, kalau beli, ya bisa sampai Rp 10 juta,” jelas Peter.

“Tetapi, kalau beli Kie Lin impor harganya bisa sampai Rp 20 juta-an. Biasa kita beli dari Malaysia dan dikirim lewat Singapura. Walau mahal, tetapi sudah lengkap dengan tambur besar-kecil berikut simbal besar-kecilnya,” tambah Surja.

Kie Lin PGB Bangau Putih Bogor yang baru menurut Peter dibuat bersama seorang rekannya yang juga murid PGB Bangau Putih Bogor dalam waktu satu tahun. “Kerangka bagian kepalanya dibikin dari bambu.”

Selain sukar, pembuatan bagian kepala itulah yang paling lama. “Karena akan makan waktu delapan bulan sendiri. Sedangkan untuk membuat badannya tidak begitu sulit,” ujar Peter.

Begitu pula dengan tamburnya, PGB Bangau Putih Bogor juga membuatnya sendiri. “Di sini, yang biasa menangani semua hal yang berhubungan dengan seni, ya Peter itu,” ucap Guru Besar PGB Bangau Putih Bogor.

SEPERTI Kie Lin, Liong atau Naga juga dipercaya sebagai hewan tunggangan para dewa. Kalau Kie Lin biasa dipergunakan Ji Lai Nan U Fuk, maka Liong biasa digunakan Dewi Kwan Iem atau Dewi Welas Asih.

Dalam hikayat Cina kuno yang kadang masih dipercaya para penganut Sam Kaw, dikisahkan bahwa dulu kala ada Ta Lu Wang (Raja Langit) yang memiliki sembilan anak. Kesembilan Liong itu kemudian diutus ke bumi. Enam Liong diminta menjaga ke enam benua yang ada di bumi dan tiga lainnya menjaga ke tiga samudera yang ada.

“Itu sebabnya kalau kemudian terjadi gempa atau letusan gunung berapi itu tidak lain disebabkan oleh bergeraknya Liong di tempat bersangkutan,” kata Krisna yang tinggal di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Prosesi Liong sebelum dimainkan pun tidak berbeda dengan prosesi Kie Lin. Hanya pemainnya saja yang jauh lebih banyak Liong dibandingkan pemain Kie Lin. Untuk memainkan Liong sepanjang apa pun biasanya dilakukan dalam jumlah yang ganjil. Liong dalam ukuran normal itu panjangnya mencapai 20 meter.

Bagian kepalanya itu beratnya bisa sampai 15 kilogram. “Dahulu kerangka kepalanya dibuat dari rotan, makanya berat sekali. Tetapi, sekarang bisa juga dibuat dari rautan bambu dan dengan kertas yang lebih tipis, jadi beratnya pun semakin berkurang antara 10 sampai 12 kilogram saja,” jelas Surja.

Saat memainkannya pun biasa. Kalau pemain Liong bertemu dengan yang memainkan Kie Lin maka yang memainkan Kie Lin harus memberi hormat kepada Liong. “Sebab, dari umurnya Liong jauh lebih tua dari pada Kie Lin. Cuma, sekarang ini tata aturan tersebut sudah tidak diketahui anak-anak muda yang memainkan Kie Lin. Makanya sering terjadi pemain Kie Lin-nya berjatuhan karena memang masih ada daya magis-nya tadi,” kata Surja.

Seharusnya, tambahnya, hal ini bisa dimanfaatkan juga untuk mendatangkan hujan. “Apa lagi seperti kemarau yang kita alami baru lalu merupakan kemarau panjang. Rasanya bila hal tersebut benar-benar dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar, kan bisa saja dimainkan Kie Lin atau Liong yang ada di kelenteng setempat.”

WALAU sama-sama merupakan kendaraan para dewa tetapi Kie Lin dan Liong jarang bisa dijumpai muncul bersamaan. Sebab, kemunculan Kie Lin itu hanya pada waktu tertentu saja.

Sedangkan kehadiran Liong dapat kita saksikan menjelang dan selama Sin Cia (tahun baru Cina). Saat muncul pada perayaan Sin Cia itu Liong bersama-sama dengan Barongsai. “Kehadiran Liong maupun Barongsai saat itu tidak lain untuk membantu manusia mengusir arwah jahat yang berada di dalam rumah maupun di daerah tempat tinggal mereka,” kata Surja.

Apa pun bentuknya, tentu kesempatan untuk memanfaatkan Kie Lin maupun Liong sangat terbuka bagi siapa pun. Selain bisa membantu sektor pariwisata, yang tengah terpuruk, juga bisa membantu petani kita yang tergantung pada hujan. Pintu sudah terbuka tinggal bagaimana keduanya saling menghilangkan rasa curiga yang masih ada di antara mereka.
Karena, bagaimanapun budaya Cina adalah bagian dari budaya dunia yang akan tetap hidup.

Sin Cun Kiong Hi… (KORANO NICOLASH LMS)

Kuncir (Taucang)

Tanya:
Dalam kesempatan ini saya ingin minta sharing Anda tentang kuncir (taucang?) yang dimiliki para pria di masa lalu. Bisakah Anda memberikan ulasan, latar belakang, makna, waktu, serta mengapa dan kapan akhirnya kebiasaan itu tak lagi berlanjut.
Informasi ini saya sampaikan, karena dalam waktu dekat saya akan menulis artikel singkat, dengan sedikit menyinggung masalah kuncir ini.

Jawab:
Kuncir (taucang) pria Tionghoa di zaman dulu hanya ada di zaman Qing (1644 – 1911). Kuncir ini sebenarnya merupakan salah satu bagian dari mode rambut orang Manchuria. Batok kepala dibagi 2, depan dan belakang. 1/2 bagian depan kepala dibotakkan sedangkan rambut di 1/2 bagian belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir (diikat).Kuncir Qing
Asal mula kuncir menjadi tradisi mode orang Manchuria menurut catatan sebuah buku mengenai orang Manchu yang pernah saya baca adalah dikarenakan kebiasaan dan budaya orang Manchu. Orang Manchu berasal dari Tiongkok Timur Laut dekat perbatasan Korea. Asalnya dari suku Nujen, suku ini salah satu suku dalam Dinasti Ming. Suku Nujen asalnya dari Kerajaan Kim. Kerajaan Kim ini adalah kerajaan yang disinggung dalam Pendekar Pemanah Rajawali-nya Jin Yong yang mengambil latar belakang sejarah Dinasti Song.
Orang Manchuria bersama orang Mongol adalah sama2 suku bangsa yang mahir berkuda. Untuk memudahkan, maka rambut depan mereka dibotakkan dan bagian belakang diikat, bila tidak, rambut akan tertiup angin kencang ke sana kemari. Orang Mongol juga punya kebiasaan menguncir rambut karena kebiasaan berkuda ini. Orang Han tidak seberapa mahir berkuda dibandingkan Mongol dan Manchuria. Orang Han yang berkuda biasanya cuma memakai serban (sarung ikat kepala) untuk mengikat rambut mereka. Lama kelamaan, tradisi menguncir rambut ini menjadi kebiasaan dan budaya orang Manchuria.
Kaisar ketiga Dinasti Qing, Sunzi atas bantuan Wu San-gui berhasil menerobos Tembok Besar dan menguasai Beijing tahun 1644. Untuk memperkuat legitimasi penaklukan atas orang Han, Sunzi memerintahkan semua orang Han harus memangkas rambutnya sesuai tradisi kuncir orang Manchuria. Banyak yang melawan perintah ini dan harus dipenggal. Semboyan waktu itu adalah “ingin rambut, penggal kepala; ingin kepala, pangkas rambut”. Banyak juga yang langsung membotakkan kepala dan menjadi biksu untuk menunjukkan perlawanan. Ini sebabnya mengapa ada orang Tionghoa yang ber-toucang, ada yang tidak di Indonesia. Yang ber-taucang adalah yang datang antara abad 18 sampai awal abad 20. Yang datang sebelumnya tidak mengenal cara ber-taucang dan yang sesudahnya sudah meninggalkan tradisi ber-taucang.
Penghujung abad 19 dan awal abad 20. Korupsi di dalam birokrasi dan penjajahan setengah oleh bangsa Barat menjadikan Tiongkok menjadi bangsa yang lemah. Tahun 1911, Sun Yat-sen melancarkan revolusi Xinhai dan berhasil menumbangkan Dinasti Qing. Sun Yat-sen adalah salah satu yang menolak berkuncir sebagai bentuk perlawanan terhadap Dinasti Qing. Setelah Republik China berdiri, otomatis tradisi kuncir ini juga hilang dengan sendirinya pada orang Manchuria sekalipun.

Rinto Jiang
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/13512

————————–
Tanggapan: Kuncir sebagai penghinaan
Apakah dengan latar belakang ini maka dikatakan bahwa kuncir ini dikatakan sebagai simbol penghinaan terhadap orang Han?
Bila “ya” adakah analogi taucang ini dengan simbolisasi penghinaan lain, umpamanya yang diberlakukan kepada masyarakat negro pada masa lalu?
Salam,
PUJI H

Rinto Jiang :
Puji-xiong,
Penghinaan, saya kurang begitu setuju atas kata penghinaan. Menurut saya, alasan Kaisar Shunzi memerintahkan kebijakan ini hanya alasan politis, untuk menunjukkan legitimasi penaklukan atas orang Han. Qing didirikan dengan menumbangkan Ming yang dianggap merupakan dinastinya orang Han. Jadi, sebenarnya tidak usah ada kebijakan kuncir ini, orang Han sudah merasa terhina dengan diskriminasi yang dilakukan oleh Shunzi.
Shunzi merupakan kaisar ketiga dinasti Qing, namun adalah kaisar pertama yang membawa pemerintah Manchu ke Beijing. Di sana, orang Manchu memerintah, berkuasa namun mereka tak dapat mengubah kenyataan bahwa mereka adalah minoritas. Itu makanya, mereka meluncurkan banyak kebijakan diskriminasi, misalnya orang Manchu (karena minoritas) tidak usah bekerja dan ditanggung biaya hidupnya oleh negara dan banyak privilese lainnya.
Mereka mengadopsi tata cara pemerintahan orang Han karena merasa gaya pemerintahan ini lebih “modern” dibanding punya mereka. Mereka menggunakan bahasa Han sebagai bahasa pemerintahan. Bahasa Manchu cuma digunakan sebagai bahasa rahasia di antara pejabat tinggi pemerintahan. Semua ini harus diimbangi dengan infiltrasi kebudayaan mereka ke dalam kebudayaan Han yang besar itu. Makanya mereka berusaha mengubah tata cara berpakaian orang Han dan memaksakan tata cara berpakaian ala Manchuria. Paling tidak, bila benar kebudayaan Manchu punah atau pudar, ada sisa2 yang tertinggal di dalam kebudayaan Han. Jadi, bila mau dianggap sebagai satu penghinaan, saya lebih suka menganggap ini satu macam peningkatan harga diri suku Manchu. Tentu saja ini pendapat subjektif dari saya. Masih banyak orang yang menganggap ini perusakan harga diri orang Han. Namun menurut saya, masa lalu tetap masa lalu. Tidak perlu dendam ini diteruskan ke anak cucu. Orang Manchu juga adalah pendiri Republik China serta RRC yang sekarang. Bahasa dan kebudayaan Manchu juga sudah hampir punah dan sedang digalakkan revitalisasinya oleh pemerintah RRC.
Orang Han baru mulai dipulihkan hak-hak mereka setelah pemerintahan Kaisar Yongzheng dan Qianlong. Yongzheng mulai menggunakan menteri2 orang Han. Jenderal Han kesayangannya, Nian Geng-yao membantunya menekan pemberontakan orang Uigur di Xinjiang. Gubernur di tiap propinsi terdiri dari 2 orang, 1 pejabat militer orang Manchu dan 1 pejabat sipil orang Han.
Namun, Qianlong tetap orang Manchu. Tahun ke-5 pemerintahan Qianlong (1740) , Kumpeni membunuhi orang2 Tionghoa di Batavia. Setelah itu, Belanda takut Qing akan membalas dendam karena itu segera mengeluarkan petisi minta maaf kepada Kaisar Qianlong. Namun oleh Kaisar Qianlong yang jelas tahu bahwa orang Tionghoa di Batavia mayoritas adalah orang Han dari selatan, ia cuma merespon dingin atas peristiwa pembantaian tadi. Pada masa pemerintahan Qianlong, wilayah kekaisaran Qing lebih luas daripada wilayah RRC yang sekarang.
Analogi untuk kebijakan kuncir? Saya kira orang Afrika Amerika di masa lalu tidak pantas dibandingkan dengan masalah ini karena Afrika Amerika adalah minoritas juga berbeda dalam status. Sedangkan Han adalah mayoritas yang ditaklukkan. Yang satu masalah kemanusiaan, yang satu masalah politis.

Rinto Jiang

Makna singa batu di depan arsitektur tradisional Tiongkok

Tanya:
Sayang sekali, sampai kini saya belum berhasil mendapatkan referensi tertulis maupun lisan mengenai makna singa batu tersebut.
Mungkin Rinto-heng, Xuan Thong-heng atau yang lain bisa memberikan konfirmasinya?

Jawab:

Singa baru di dalam arsitektur tradisional Tionghoa sayang sekali sebenarnya tidak ada makna persamaan gendernya. Di dalam sejarah kebudayaan Tionghoa, wanita cuma pernah menjadi gender yang lebih tinggi daripada lelaki di zaman Nuwa, waktu itu marga diturunkan dari ibu. Satu dasar dari pandangan ini di zaman itu adalah manusia dilahirkan dari rahim ibu, sehingga semua manusia dianggap berasal dari wanita. Pandangan ini kemudian pelan2 berubah setelah Nuwa menciptakan tata cara perkawinan.

Di zaman2 berikutnya, wanita menjadi sebuah simbol kekayaan bagi lelaki. Seorang lelaki lazim memiliki istri beberapa orang sebaliknya tidak diperbolehkan. Masih ingat peribahasa “san qi si qie” yang arti harfiahnya “3 istri 4 selir”. Bukan berarti harfiah dalam angka, namun sebagai perlambang seorang lelaki lazim beristri banyak.


Singa di Tiongkok?

Seperti di Indonesia, di Tiongkok tidak ada singa. Bahkan sebenarnya orang Tiongkok di banyak zaman tidak pernah melihat singa benaran. Lalu darimana singa yang ada di dalam benak orang Tiongkok di zaman dulu? Singa pertama yang sampai ke Tiongkok di zaman Han, dikisahkan pada masa pemerintahan Kaisar Han Xiandi, Kerajaan Anxi dekat India mengirimkan singa sebagai upeti kepada Tiongkok. Namun anehnya, singa di dalam bahasa Tionghoa kemudian mengambil nama dari negara lain yang juga punya hubungan erat dengan Tiongkok di zaman Tang. Singa dalam dialek Mandarin adalah Shi-zi (Hokkian: Sai-a) mengambil nama dari Shizi Guo yang merupakan nama kuno Sri Lanka di zaman Tang.

Sejak itu, singa menjadi sebuah perlambang raja binatang karena kegagahannya, keangkeran dan kekuatannya. Dari sini pula singa dianggap sebagai sebuah lambang untuk mengusir kejahatan dan perlindungan.

Bentuk singa batu

Sebenarnya bentuk singa batu dalam arsitektur tradisional itu tidak menyerupai singa yang sebenarnya. Singa pahatan selalu digambarkan menarik dengan hidung besar, mata bulat menonjol lalu mulut terbuka lebar dengan rambut keriting serta kaki yang kokoh. Sebenarnya lebih mirip anjing atau kucing.

Ini dikarenakan selain sebagai simbol pelindung, pengusir hawa jahat; ke dalam pahatan singa juga dimasukkan unsur artistik.

Selain itu, singa batu juga dipahat untuk simbol menyambut pengunjung.

Letak singa batu

Singa batu di depan pintu atau halaman sebuah bangunan tradisional Tiongkok selalu berpasangan. Singa jantan di sebelah kiri dan singa betina di sebelah kanan. Ini dikarenakan kiri dianggap sebagai letak yang lebih besar daripada kanan di dalam kebudayaan Tionghoa, juga untuk memenuhi standar “nan zuo nu you” = “lelaki di kiri, wanita di kanan”.

Namun ada beberapa pengecualian di beberapa bangunan di tempat tertentu. Tentu saja karena ini tidak diharuskan. Seperti yang dikatakan Tjoei Sian-heng, adalah benar bahwa kebiasaan memahat singa jantan dengan bola mainan sedangkan singa betina dengan anak singa kecil.

Rinto Jiang

Dewa Pintu


Tanya:
Dewa pintu adalah karakter umum yang ada dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Bagaimana sejarah dewa pintu di dalam kebudayaan Tionghoa?

Jawab:
Dewa pintu adalah karakter dewa yang sering dan umum dikenal dalam kepercayaan tradisional populer Tionghoa. Dewa pintu, walaupun hanya merupakan dewa dengan derajat relatif lebih rendah dibandingkan dewa-dewa rumah lainnya, namun sebenarnya sejarah dewa pintu malah lebih tua daripada beberapa karakter pendewaan lainnya. Membicarakan dewa pintu harus dibabarkan dari 2 segi pembahasan yaitu sejarah faktual dan legenda.

Legenda dewa pintu
Popularitas karakter dewa pintu mulai menanjak di zaman Dinasti Tang, di mana legenda dewa pintu paling terkenal berasal dari zaman ini. Dikatakan bahwa naga Sungai Jing melanggar perintah langit karena menurunkan hujan pada waktu dan kapasitas yang salah sehingga langit menitahkan salah seorang menteri, Wei Zheng untuk menghukumnya. Karena takut dihukum, sang naga kemudian meminta perlindungan kepada Kaisar Taizong (Li Shimin) yang saat itu berkuasa. Taizong mengiyakan permintaan naga dan mengajak Wei Zheng bermain catur supaya lupa batas waktu untuk menghukum sang naga. Namun, rupanya Wei Zheng hanya perlu menebas leher sang naga dalam mimpinya sehingga siasat Taizong gagal memenuhi janjinya pada sang naga.

Sang naga yang mati penasaran kemudian datang menghantui Taizong tiap malam di istananya. Wei Zheng mengetahui perihal ini dan mengurus 2 jenderal, Qin Qiong dan Yuchi Gong untuk berjaga di luar pintu istana. Sang naga tidak datang menghantui Taizong untuk beberapa hari, namun kembali kemudian lewat pintu belakang yang tidak dijaga. Wei Zheng kemudian memutuskan untuk berjaga sendiri di pintu belakang dan sang naga tidak pernah kembali setelah itu. Taizong menyadari tak mungkin membiarkan jenderal dan menterinya berjaga terus di istananya, memutuskan untuk melukis potret kedua jenderalnya di daun pintu kiri dan kanan, serta Wei Zheng di pintu belakang. Ini kemudian yang mengawali penggunaan potret Qin Qiong dan Yuchi Gong di pintu berdaun dua (biasanya pintu depan) serta Wei Zheng untuk pintu dengan satu daun.

Sejarah faktual
Sebenarnya dewa pintu mulai ada sejak zamannya Huangdi, 5000 tahun lalu, namun ini sebuah legenda. Catatan mengenai dewa pintu yang lebih akurat adalah di zaman Dinasti Shang, di mana dewa pintu berawal dari kepercayaan tradisional di Tiongkok sebelum munculnya agama. Raja-raja Dinasti Shang menjadikan pintu sebagai satu objek dari lima objek penghormatan pada masa itu. Kepercayaan tradisional Tionghoa menganggap bahwa setiap benda mempunyai rohnya sendiri-sendiri. Dewa pintu lebih jauh merupakan bentuk penghormatan ke-4, penghormatan pada benda-benda. Pintu dipilih karena pintu merupakan bagian dari rumah tempat tinggal yang sangat penting, simbol perlindungan terhadap ancaman dari luar dan dilewati setiap hari. Manusia selalu membutuhkan keseimbangan jasmani dan spiritual, pintu yang nyata dianggap hanya melindungi dari makhluk yang nyata, untuk melindungi dari makhluk halus, maka pintu haluslah yang mengambil peranan ini. Inilah cikal bakal dewa pintu.

Mengapa dewa pintu dimanusiakan?
Pemanusiaan dewa pintu sebenarnya mulai populer pada zaman Dinasti Han. Banyak karakter dewa-dewi dalam kebudayaan Tionghoa yang dimanusiakan untuk menambah kedekatan pada manusia, misalnya bentuk penghormatan terhadap langit yang dimanusiakan sebagai Kaisar Langit (Giok Hong Tay Te), atau bumi yang dimanusiakan sebagai Dewa Bumi/Tanah (Tho Te Kong).

Siapa saja yang dikarakterkan sebagai dewa pintu dalam sejarah?
Zaman Han = Shen Shu dan Yu Lu
Zaman Tang = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Wei Zheng, Zhong Kui
Zaman Song dan Yuan = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Zhao Yun, Yue Fei

Semua karakter di atas adalah karakter sejarah nyata, kecuali Shen Shu dan Yu Lu yang merupakan tokoh legenda. Satu2nya persamaan di antara mereka mayoritas adalah jenderal perang yang terkenal pada masanya masing-masing kecuali Wei Zheng yang terkenal sebagai menteri vokal serta Zhong Kui yang terpelajar namun berperawakan sangat jelek sampai-sampai hantupun takut kepadanya.

Evolusi dewa pintu masa sekarang
Dewa pintu di masa sekarang berbentuk lukisan biasanya hanya ditemukan di pintu kelenteng. Rumah-rumah penduduk tidak melukis gambar dewa pintu di daun pintu rumah mereka, biasanya hanya ada tempat menancapkan hio di sebelah kiri kanan pintu. Namun, masih ada tradisi menempel lukisan dewa pintu di daun pintu pada malam Tahun Baru (tanggal 30 bulan 12 penanggalan Imlek). Zaman sekarang, dewa pintu tidak hanya ditujukan untuk melindungi rumah dari hal-hal buruk, namun juga untuk mengundang nasib baik dan keberuntungan. Selain itu, lukisan dewa pintu di kelenteng sebenarnya juga ditekankan pada nilai artistiknya, biasanya sangat mengundang perhatian dari pemerhati arsitektur tradisional Tiongkok karena kekhasannya.

Asal usul makanan kecil Tjah Kwei


Tjah Kwei adalah makanan asal Tiongkok yang dibuat dari tepung trigu, ragi, soda, ammonium bicarbonat dan garam. Adonan kalau sudah “mekar” dibuat seperti tongkat yang panjangnya kira kira 15-20 cm., lalu dua tongkat dilekatkan menjadi satu. Kalau digoreng panjangnya menjadi kira kira 25 cm dan berwarna coklat. Tjah kwei terkenal di Asia tenggara dan merupakan makanan kecil terutama bagi orang-orang Tionghoa. Di Solo, Jawa Tengah, Tjah Kwei dibuat oleh orang “pribumi” dan setiap malam pembeli selalu berderet-deret untuk antri. Untuk makanan pagi di daratan Tiongkok dan Taiwan Tjah-kwei dimakan bersama-sama dengan susu kedele adalah sarapan pagi yang nikmat. Tjah Kwei di Solo dimakan baik oleh suku Tionghoa maupun oleh orang jawa Solo.

Disini aku ceritakan asal usul Tjah Kwei. Di jaman Dinasti Song, suku Jin dari Utara sangat kuat, mereka beberapa kali menyerbu negeri Song. Kemudian Kerajaan Song dikalahkan dan kaisar Wei dan Xin ditangkap. Kemudian raja Gang (baca: Kang) mendirikan dinasti Song Selatan. Di masa kaisar Gao dari Song Selatan, sekali lagi diserbu secara besar-besaran oleh suku Jin dan menduduki sebagian besar daerah utara dari sungai Chang Jiang (Yang Tse). Untungnya ada seorang jendral yang bernama Yue Fei ( bahasa Hokkian Gak Hoei) memimpin tentara Song untuk melawannya dengan gigih, disamping itu Beliau melindungi ibu kota Song Selatan. Beliau dengan patriotiknya membela negaranya dan telah mengambil kembali banyak daerah Song yang telah diduduki oleh tentara kuda Jin yang terkenal. Sayang sebelum Beliau dapat mengambil kembali ibu kota Song yang dahulu, hanya masih kira-kira 22 kilomter jaraknya. Waktu Yue Fei akan melewati Sungai Kuning bagian utara, Jendral Yue Fei dipanggil pulang secara mendadak oleh raja Gao. Raja Gao mendengar kata-kata pengkhianat yang bernama Chin Kuai yang membisiki raja dengan perkataan bahwa Yue Fei kalau menang Beliau akan mengundang kembali kaisar Wei dan Xin yang masih ditangkap oleh suku Jin untuk naik tahtanya kembali. Maka kalau raja tidak mengambil tindakan sekarang, kedudukan raja Gao akan susah dipertahankan. Chin Kuai juga mengatakan bahwa Jendral Yue Fei akan memberontak dan menganjurkan agar Yue Fei ditangkap segera kalau datang, lalu dibunuh.

Kematian Yue Fei membuat marah semua rakyat dan menganggap Chin Kuai sebagai pengkhianat negara. Kemudian. Raja Xiao dari Song Selatan merehabilitasi nama Yue Fei dan di kota Hang Zhou dibangun di daerah Xi-Hu (telaga Hu yang cantik) gedung kuburan Jendral yang patriot ini yang sampai sekarang di hormati. Ironisnya pada masa RBKP dirusak oleh Garda Merah yang oleh Mao Ze-Dong dinamakan jendral jendral kecil. Didepan patung Yue Fei dibuat dua patung suami istri Chin Kuai yang berlutut pada Yue Fei. Dan dihina oleh rakyat Tiongkok. Patung Yue Fei sekarang sudah dibetulkan lagi dan menjadi lebih bagus. Turist yang berkunjung ke Hangzhou dapat menikmati tugu pahlawan Yue Fei ini.

Ada orang yang membenci Chin Kuai membuat model manusia dari tepung terigu yang mencerminkan Chin Kuai dan istrinya, disatukan jadi satu, lalu di goreng dan dimakan. Dahulu makanan ini dinamakan Yu –Zha (goreng dengan minyak) Chin Kuai, lalu diringkas menjadi Yu Zha Kuai (Hokkian Yu Tjah Kwee), Tjah kwee atau Yutiao (Mandarin).

Dr. Han Hwie Song
Breda, 5 april 2004

posted by HKSIS
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1923

Kamis, 05 Agustus 2010

Legenda Bunga Mawar


Dahulu pohon mawar hanya terdiri dari daun hijau yang lebat dan tidak berbunga, kenapa sekarang bisa berbunga dengan cantik? Di perkampungan bunga mawar ada sebuah cerita yang sangat mengharukan.

Dahulu kala, di perkampungan bunga mawar, disana ada sebuah gunung, diatas gunung ada sebuah sumber air, mereka menamakan sebagai “sumber air emas”, dan puncak gunung ini diberi nama “Gunung Air” .

Di kaki Gunung Air ini ada sebuah desa, di desa ini ada seorang pemuda dan pemudi yang hidup dengan susah, yang lelaki bernama Liu Lang seorang yatim piatu, ketika kedua orang tuanya meninggal mewarisi dia sebuah kampak, sumber hidupnya mencari kayu di hutan, dan yang pemudi bernama Chui Yin, ketika orang tuanya meninggal mewarisinya sebuah cangkul dan sebuah bakul, mata pencahariannya adalah mencari obat-obat rumput dihutan, mereka berdua setiap sore pulang dari hutan yang pemuda memikul kayu dan yang pemudi memikul obat-obat rumput, mereka berdua selalu saling menjaga, saling memperhatikan dan saling mencintai, tidak berapa lama kemudian mereka menjadi sepasang suami istri.

Pada suatu hari Liu Lang sedang mencari kayu dibagian barat gunung ini sedangkan Chui Yin mencari obat-obat rumput di sebelah timur, Setelah memotong kayu Liu Lang merasa kelelahan dan tertidur diatas kayunya, dalam mimpinya tercium aroma bunga yang sangat harum, dia bangkit dan mengikuti aroma bunga, setelah berjalan beberapa saat di melihat sebuah pintu berbentuk bulan sabit, dia berpikir sejak kecil saya telah mengeliling seluruh Gunung Air ini, tetapi tidak pernah melihat ada sebuah taman, karena penasaran dia mendorong pintu, setelah pintu terbuka dia sangat terkejut dibalik pintu itu adalah sebuah taman yang besar didalam taman ini ditumbuhi berbagai jenis bunga yang sangat indah, hembusan angin disini penuh dengan aroma bunga yang wangi semerbak, dia tidak tahu bahwa taman bunga ini adalah milik Dewi Ibunda Ratu dilangit, setiap tahun bulan Mei ketika seluruh bunga bermekaran, Dewi Ibunda Ratu selalu membawa peri-peri turun dari langit datang ketempat ini bertamasya sambil menikmati panorama ditaman bunga ini, Liu Lang sepanjang jalan menikmati pemandangan ini sambil memuji, tidak terasa dia telah berada ditengah taman bunga, dia melihat ada sebuah pot bunga besar yang terbuat dari Kristal.

Didalam pot Kristal ini tumbuh sejenis bunga, kelopak bunga ini sangat cantik berwarna merah menyala sangat menarik, bunga ini sangat mirip dengan Chui Yin ketika dia tersenyum, sayang bunga yang sangat cantik ini hanya tumbuh 1 kuntum saja, Liu Lang memperhatikan bunga ini dengan cermat, oh…. Bukankah ini bunga mawar? Seluruh Gunung Air penuh dengan pohon mawar, tetapi tidak pernah berbunga, kenapa pohon mawar disini dapat berbunga? Berbunga dengan sangat cantik. Oh ya saya akan memetik bunga ini membawa pulang menghadiahkannya kepada adik Chui Yin dia pasti akan sangat senang. Liu Lang memetik bunga mawar ini, ketika membalikkan badan akan meninggalkan tempat ini, dia melihat ada 2 orang prajurit dari langit yang memakai baju besi, salah seorang yang memegang tombak menghardiknya :”Hai… Sungguh berani manusia dari bumi, berani memetik bunga dari surga.” Setelah berkata demikian menangkap Liu Lang membawanya pergi.

Sedangkan ditempat yang lain, Chui Yin ketika hendak pulang tidak bertemu dengan Liu Lang, segera naik kepuncak gunung mencarinya, ketika sampai di puncak dia mendengar suara Liu Lang :”Adik Chui Lin, saya berada disini.” Ketika Chui Yin mengangkat kepalanya melihat, terlihat kedua tangan Liu Lang terikat dibelakang, disampingnya ada dua orang prajurit sedang berdiri ditepi jurang. Melihat keadaan ini Chui Yin dengan terisak lari menuju ketempat Liu Lang, kedua prajurit dari langit segera menghardik :”Dia melakukan kesalahan besar, berani memasuki taman bunga Dewi Ibunda Langit, dan memetik bunga mawar dari surga yang hanya sekuntum saja, sekarang kami akan membawa pergi, dia akan menerima hukumannya yaitu kerja paksa seumur hidupnya.” Mendengar perkataan kedua prajurit dari lari, Chui Yin menjadi panik, sambil menangis dia memohon :”Saya mohon jangan bawa dia pergi, kembalikan abang Liu Lang saya.” Dengan senyum mengejek kedua prajurit ini berkata :”Ha…ha…ha.. kembalikan abang Liu Langmu, boleh saja, jika seluruh Gunung Air ini bisa dipenuhi bunga mawar yang bermekaran?” setelah berkata demikian, prajurit yang memegang tombak mengangkat tombaknya menunjuk ke jurang terlihat sebuah kilat menyambar Chui Yin melihat hal itu jatuh pingsan.

Entah sudah berapa lama dia tidak sadar, ketika dia tersadar memandang keatas gunung, Liu Lang sudah tidak berada disana, teringat kepada hal itu dia menangis lagi. Chui Yin adalah seorang yang sangat pengasih dan pemberani, untuk membuat Liu Lang bisa pulang dan untuk membuat pohon mawar diseluruh gunung ini bisa berbunga, setiap malam ketika bintang bersinar dengan gemerlap dia akan naik kegunung mengambil seember demi seember air di sumber air emas dan menyirami seluruh pohon mawar yang ada digunung itu, sampai tengah malam dengan kecapekan dia pulang ke rumahnya, dalam perjalanan batu-batu tajam membuat kedua telapak kakinya terluka berdarah, duri-duri pohon mawar melukai seluruh badannya, dengan keringat bercucuran dan kaki berdarah, keringat bercampur darah menetesi setiap jalan digunung ini. Setelah 10 kali musim semi berlalu, hari ini ketika Chui Yin hendak naik ke gunung, ketika membuka pintu rumahnya hendak keluar, Wah! Terlihat seluruh gunung penuh dengan bunga merah segar yang bermekaran, seperti barisan semut, seperti nyala api, bunga mawar seluruhnya bermekaran! Dengan gembira Chui Yin memetik sekuntum bunga mawar sambil lari ke atas gunung dia berteriak dengan gembira :” Abang Liu Lang.. abang Liu Lang seluruh bunga mawar sudah bermekaran.”Dia lari ke puncak gunung dan berteriak ke jurang, pada saat itu sebuah suara petir berbunyi dengan keras, seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata dan terlihat sebuah bayangan orang, ketika Chui Yin membuka matanya melihat dengan jelas, dia melihat Liu Lang yang dirindukan siang dan malam berdiri didepannya, dengan gembira dia jatuh ke pelukan Liu Lang. Liu Lang meraba seluruh badan Chui Yin yang penuh luka, hatinya sangat sakit, air mata menetes tidak berhenti bagaikan kalung mutiara yang putus talinya. Menetes jatuh ke wajah Chui Yin dan bunga mawar yang bermekaran.

Setelah itu setiap musim semi di gunung ini bunga mawar akan bermekaran sangat indah. Untuk memperingati sepasang suami istri yang berjasa membuat bunga mawar ini bermekaran, akhirnya penduduk setempat menamakan gunung sebagai Gunung Chui Yin, dan menamakan Sumber air Emas ini sebagai Sumber Air Liu Lang, dan mendirikan sebuah menara untuk memperingati mereka berdua. Setelah Liu Lang dan Chui Yin meninggal mereka menjelma menjadi dewa dan dewi, diatas langit sebagai dewa yang mengurus bunga, mengurus seluruh bunga yang tumbuh di muka bumi ini. Setiap tahun ketika bunga mawar bermekaran digunung ini mereka akan turun ke bumi menikmatinya, dimalam yang sunyi mereka berdua akan berdiri diatas menara menikmati pemadangan bunga yang indah ini.

Sabtu, 17 Juli 2010

Dongeng dan Realita Sang Naga



Naga, sejenis mahluk hidup yang terkesan mistis, tetapi di dunia terdapat bentuk penampakannya yang sangat nyata. Dari perhiasan giok dan tembikar di zaman kuno hingga ke kerajinan tangan, bangunan dan busana di dalam kehidupan, kebudayaan naga sudah terpateri di dalam bersantap, berpakaian, bertempat tinggal dan berperilaku orang Tionghoa. Namun dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan empiris zaman sekarang, naga telah menjadi dongeng zaman kuno dan hanya melambangkan totem yang membawa rejeki.

Beberapa tahun ini dalam beberapa kasus, naga telah menampakkan dirinya di hadapan manusia, mendobrak bingkai batasan ilmu modern, juga telah menggugah bagian memori peradaban Tionghoa yang terdalam.

Ketika ada orang melihat dengan mata kepala sendiri penampakan naga yang langka itu, orang kuno menganggapnya sebagai peristiwa besar yang patut dicatat yang kemudian disimpan di kantor pemerintah daerah setempat atau di dalam kitab sejarah authentic setiap dinasti. Sedangkan orang zaman sekarang menanggapi penampakan naga dengan sikap skeptic dan curiga berat, dan berusaha mengartikannya sebagai gejala alam dan sebagainya.

Barangkali masalahnya bukan terletak pada naga itu sebetulnya kenyataan atau rekayasa, ia lebih terletak pada perasaan sekejap pada manusia.
(1) Misteri Naga Zaman Kuno dan Kini

Naga, seekor makhluk misterius, sepertinya tidak eksis, tapi secara luas dikenal di sekeliling kehidupan kita. Meski kitab kuno Tiongkok terkadang ada menggambarkan naga, namun terpengaruh oleh iptek yang empiris, orang zaman sekarang menganggapnya sebagai dongeng belaka. Belakangan ini sesekali tersiar sang naga bermunculan di dunia, apakah sang naga nyata atau semu telah menjadi topik hangat lagi.

Tak tahu apakah Anda pernah memikirkan sebuah pertanyaan: Di dalam 12 shio Tiongkok, 11 macam diantaranya adalah binatang yang sering terlihat, kenapa hanya naga (龍, long, baca: lung) yang berada di urutan ke lima, adalah semacam makhluk hidup yang tidak nampak eksis di dalam realita?

Makhluk yang bernama naga ini, dengan Kirin dan burung Hong dari Tiongkok dan Einhorn, ikan duyung di dalam konsep manusia zaman sekarang, pada dikategorikan jenis makhluk penuh khayal yang tidak eksis dan imajinatif.

Mari kita renungkan lebih mendalam, kenapa orang zaman kuno bisa mengimajinasikan makhluk dengan bentuk semacam ini? Yang disebut khayal semestinya sangat bervariatif, setiap imajinasi orang tidak terlalu sama, namun yang patut diperhatikan ialah, sejak zaman kuno, bentuk fisik naga cukup seragam, tak peduli di kuil, istana, buku, lukisan dan patung, semuanya dilukiskan dengan mirip sekali.

Bentuk naga di dalam hasil karya pahatan Tiongkok adalah sangat rinci dan jelas, tanduk naga bagaikan tanduk rusa, sisik naga mirip sisik ikan mas, cakar naga mirip cakar elang, tubuh naga mirip tubuh ular.

Makhluk yang kelihatannya fiktif, di dalam dunia manusia ternyata terdapat cara pemunculan yang agak nyata. Di antara semu dan nyata, membuat orang merasa bimbang dan ragu.

Akan tetapi, sebuah dongeng pada saat awal terjadinya, sangat mungkin bukan dongeng, melainkan peristiwa yang betul-betul telah terjadi. Akan tetapi karena sudah berlalu sekian lamanya, memori orang-orang tentang situasi waktu itu semakin lama semakin kabur, semakin melangkah lagi ke depan, maka dianggaplah sebagai dongeng.

Sebetulnya di dalam kitab kuno terdapat cukup banyak catatan sejarah tentang “naga muncul di antara manusia", dibawah ini akan dibahas lebih lanjut.
Catatan sang naga di dalam kitab kuno Tiongkok

Di dalam pencatatan sejarah otentik pada pemerintah lokal di berbagai daerah Tiongkok, penampakan naga sesekali terjadi dan kebanyakan dicatat di dalam kitab sejarah tersebut. Di bawah ini secara ringkas dipetik beberapa bab mengenai naga dari sumber kitab Tiongkok kuno.

Kasus Hua Yang Guo Zhi (華陽國志) pada rol ke-3 tercatat: “Pada zaman dinasti Han Timur (25-220), 24 tahun masa pemerintahan Jian An, naga kuning menampakkan diri di Wu Yang Chi Shui (武陽赤水), setelah tinggal 9 hari ia menghilang.”

Catatan ke-9 pada kitab Jin Shu (晉書) dikisahkan di gunung Naga terjadi penampakan masing-masing seekor naga hitam dan naga putih, kala itu kaisar Mu Ronghuang (慕容皝) dari negara Yan awal (前燕, abad ke 4) setelah mendengar berita tersebut, lantas memimpin para pejabatnya pergi ke gunung Naga, berdiri dengan jarak 200 langkah menyaksikan dari jarak dekat.

Kedua naga tersebut badannya saling membelit di udara, sesudah saling bermain-main di angkasa untuk sesaat kemudian baru terbang menjauh. Mu Ronghuang setelah menyaksikan adegan tersebut, hatinya sangat riang, sekembalinya ke istana lantas mengeluarkan maklumat amnesti di seluruh negeri. Istana yang baru terbangun dinamakan istana Kedamaian Naga dan mendirikan sebuah kuil Buddha Long Xiang di atas gunung Naga tersebut.

Pada zaman dahulu juga tidak setiap saat bisa melihat naga, maka penampakan naga pada umumnya dipandang sebagai pertanda rejeki besar. Kaisar Mu Ronghuang dari Yan awal sesudah melihat dengan mata kepala sendiri dua naga terbang dan bersenda-gurau, ia beranggapan ini adalah pertanda rejeki yang ditunjukkan oleh sang Pencipta, lantas mengumumkan amnesti.

Urusan kenegaraan besar seperti amnesti semacam ini semestinya bukan urusan sepele atau dapat diputuskan dengan sembrono, maka itu pencatatan ini seharusnya memiliki tingkat keandalan yang cukup tinggi.

Pencatatan dari kitab Xuan Shi Zhi (宣室志) dari zaman dinasti Tang (618-907) menjelaskan tentang sebuah kejadian penampakan naga. Terdapat kumpulan massa cukup besar dalam waktu bersamaan dengan mata kepala sendiri menyaksikan penampakan sang naga.

Selain itu, naga memiliki hubungan cukup erat dengan perubahan cuaca, tempat yang dilalui naga kadangkala membawa air hujan. Ini juga sesuai cerita dongeng tentang raja naga bertanggung jawab akan turunnya hujan.

Kitab Jia Xing Fu Zhi, Xiang Yi Zhi (嘉興府志,祥異志) dari zaman dinasti Qing (1616-1911) mencatat sebagai berikut:

“Di kabupaten Ping Hu ada naga putih terbang di atas laut, sinar merah yang dipancarkannya mewarnai separuh cakrawala, kala itu Chen Maoxiao (沈懋孝) mencatat, naga tersebut kepalanya setengah menunduk, di tengah kedua tanduknya, berdiri seorang Dewa berbusana ungu dan mengenakan mahkota emas, tubuhnya setinggi satu kaki, tangannya menggenggam pedang. Di bawah kepala naga terdapat seberkas sinar mutiara yang cemerlang, berbentuk bulat, sebesar cawan.”

Di banyak hasil karya seni naga pasti terdapat “mutiara naga”, pencatatan ini telah menggambarkan penampakan mutiara naga dan bentuk eksistensinya.

Pada zaman kuno terdapat cukup banyak catatan tentang penampakan naga, pada artikel ini karena keterbatasan ruang maka tak dapat ditampilkan satu persatu.

Manusia zaman dahulu dan sekarang di dalam konsepnya terdapat perbedaan besar, orang kuno menghormati dan takut kepada sang Pencipta, sedangkan manusia sekarang hanya percaya iptek.

Di dalam konsepnya terdapat kesenjangan besar yang menyebabkan penuturan dan penjelasan terhadap suatu permasalahan yang sama barangkali bisa sangat berbeda.

Pada saat ada orang melihat dengan mata kepala sendiri penampakan sang naga yang langka. Orang kuno memandangnya sebagai kejadian besar dan layak dilakukan pencatatan serta disimpan di kitab kabupaten lokal, bahkan ada yang dicatat di dalam buku sejarah otentik dinasti.
Sedangkan orang zaman sekarang mengenai penampakan naga langsung akan bereaksi curiga berat, dan berusaha menerangkannya dengan fenomena alam dan lain sebagainya.
Berita ganjil kasus penampakan naga di zaman kuno

Peristiwa penampakan naga apakah terbatas hanya terjadi pada zaman dahulu saja? Sesudah dinasti Qing (baca: jing), apakah naga sudah lenyap?

Kenyataanya ialah, selama 100 tahun belakangan ini, penampakan naga masih saja sering terjadi, orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri ada yang bersedia menjadi saksi mata. Di bawah ini contoh kasus peristiwa ganjil penampakan naga di dunia manusia yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.
Peristiwa naga jatuh di Ying Kou

Berita “Sheng Jing Times” ketika peristiwa naga jatuh di Ying Kou. (Foto dari internet)

Berita “Sheng Jing Times” ketika peristiwa naga jatuh di Ying Kou. (Foto dari internet)
Pada musim panas tahun 1934, di wilayah Ying Kou (營口), timur laut Tiongkok, telah terjadi naga misterius jatuh dari langit.

Menurut penuturan saksi mata, wujud dan rupa naga itu persis sama dengan yang lazim berada di dalam lukisan. Sesudah naga tersebut jatuh di tanah nampaknya ia sangat lemah dan meronta dengan penderitaan di atas tanah. Matanya tak dapat dibuka, ekornya tergulung dan dua cakarnya berada di depan. Setelah tubuhnya mengeluarkan air, badannya semakin lama semakin kering dan mulai membusuk.

Rakyat kala itu pada umumnya menganggap naga adalah makhluk rejeki, semua orang hendak membantu naga yang terjatuh itu balik dengan segera ke langit.

Sebagian mendirikan atap dari tikar untuk melindunginya dari sengatan matahari, sebagian lagi memikul air mengguyurkannya ke tubuh sang naga, agar tubuhnya terhindar dari dehidrasi. Ada sejumlah biksu dan pendeta Dao berdoa di sebelahnya.

Gerakan merawat sang naga tiada hentinya berlangsung beberapa hari hingga suatu hari sesudah hujan badai reda, naga tersebut sekonyong-konyong lenyap dengan misterius.

Namun setelah lewat 20 hari lebih, sisa jasad naga tersebut (hanya tersisa kerangka dan sejumlah kecil daging busuk), di dalam semak alang-alang berjarak 10 km dari hilir sungai Liao dan me-ngeluarkan bau busuk menyengat.

Peristiwa itu setelah terjadi, menimbulkan kehebohan, orang-orang membahasnya dengan antusias. Sheng Jing Times (盛京時報) kala itu memberitakan dengan judul:

“Salah satu penelitian naga jatuh di Ying Chuan: pernyataan Profesor institut produk air tawar/asin: naga-air tewas kekeringan.”

Isinya sebagai berikut: “Menurut penuturan seksi polisi ke-6, ditemukan sisa tulang naga beberapa hari yang lalu di antara semak kolam kota ini di propinsi Hebei, terkapar di depan lintasan barat laut dan dipertontonkan kepada umum, telah menimbulkan perbincangan janggal, daging sempat membusuk, tersisa kerangka tulang belulang saja. Apakah itu betul-betul tulang naga, masih menjadi perdebatan ramai.”

Kala itu banyak rakyat percaya bahwa itu adalah sisa jasad tulang naga sungguhan, tetapi professor tersebut beranggapan ia adalah jenis naga air, bukannya naga pada umumnya, belum ada definisi tetap.

Dari dalam foto pers tersebut samar-samar bisa kita lihat, kedua tanduk di atas kepala naga persis dengan yang dilukiskan di dalam lukisan. Tanduk tumbuh ke arah belakang, bercabang, mirip tanduk rusa sedangkan di atas kepala jenis naga-air semestinya tidak punya tanduk.
Dua naga hitam dan putih jatuh di desa Hei Shanzi

4 Agustus 2000, setelah hujan lebat lewat, di desa Hei Shanzi, kota Qing Long, propinsi Shan Dong, Tiongkok, seluruh desa bagaikan diselimuti oleh halimun tebal.

Tiba-tiba awan hitam bergelayut di antara langit dan bumi, dengan gerak bergejolak naik-turun yang tak pernah disaksikan sebelumnya semua penghuni rumah menutup rapat pintu mereka tak ada yang berani keluar rumah.

Seorang pemuda berani berusia 20-an keluar dari rumah ingin melihat apa yang terjadi. Ia menjelajahi seluruh desa, selain awan hitam pekat tak dijumpai hal yang tak lazim. Ia berjalan terus dan se-tibanya di luar desa, pemandangan di depan matanya membuatnya terperanjat.

Dua ekor naga masing-masing berwarna hitam dan putih yang terlihat segar bu-gar sedang selonjor di atas tanah! Ia berjalan mendekati dengan sangat hati-hati dan mencermati mereka, tanduk, sisik, cakar dan ekor naga-naga tersebut betul-betul persis seperti di dalam lukisan, hanya jenggotnya saja yang lebih pendek.

Ia lantas berbalik arah dan lari kencang, sambil berteriak, “Cepat keluar lihatlah, naga dari langit jatuh, semuanya cepat lihatlah!”

Setelah mendengar orang-orang berlarian keluar rumah, dalam waktu singkat, kabar mengejutkan itu segera tersiar di seluruh pelosok desa.

Dalam waktu singkat, massa dalam jumlah besar, polisi, pejabat pemerintah berduyun-duyun membanjiri desa kecil tersebut, dalam sekejap desa Hei Shanzi menjadi hiruk pikuk. Pakar yang berkaitan dengan bidangnya juga datang, tetapi mereka mengatakan sejumlah teori yang tak dimengerti orang-orang dan menyangkal eksistensi naga yang tertampak di depan mata.

Dengan cepat polisi menghalau orang-orang pergi, menyisakan ilmuwan menjaga tempat itu. Justru pada saat penjagaan tersebut, naga putih tersebut menghilang pada saat segumpal awan hitam datang terpontal-pontal.

Para petugas tak mampu menjelaskan tentang raibnya si naga putih, juga tak tahu apa yang harus dilakukan terhadap si naga hitam.

Kala itu seorang petani tua berusia 70 tahun berkata, “Saya dengar puluhan tahun yang lalu juga pernah terjadi hal serupa, agar si naga dapat balik maka orang-orang menyiraminya dengan air.”

Ia menyuruh beberapa pemuda mengambil beberapa tikar yang dijadikan sebuah tenda dan menggunakan kendaraan untuk mengangkut air dan menggunakan slang menyirami tikar tersebut. Dari celah tikar air menetes ke tubuh sang naga, maka demikianlah si naga dapat bertahan hidup hingga akhir Agustus 2000.

Berita itu sempat tersiar di internet. Namun kini penulis berusaha mengecek berita seputar tanggal dan lokasi kejadian, tak dapat menemukan lagi pemberitaan yang berkaitan dengan naga. Sepertinya berita sang naga menampakkan diri telah dengan sengaja diblokir (di RRT berita semua media sampai kini masih disensor sangat ketat oleh Partai Komunis China).
Fosil Naga

Selain catatan sejarah, adakah bukti fosil otentik yang bisa membuktikan eksistensi naga?

Pencatatan dalam kitab-kitab kuno tentang penampakan naga yang kemudian kembali lagi ke langit, cukup banyak, biasanya dianggap sebagai pertanda baik. Foto ini merupakan naga yang diawetkan, koleksi kuil Zuiryuji, Osaka, Jepang.

Pencatatan dalam kitab-kitab kuno tentang penampakan naga yang kemudian kembali lagi ke langit, cukup banyak, biasanya dianggap sebagai pertanda baik. Foto ini merupakan naga yang diawetkan, koleksi kuil Zuiryuji, Osaka, Jepang.
Ada, hanya saja sangat jarang ditemukan. Kuil Zuiryuji, Osaka, Jepang, memamerkan sebuah spesimen naga kecil dengan metode pengawetan kering, spesimen naga tersebut konon pada zaman dinasti Ming. Tanpa sengaja telah terjaring nelayan di tepi pantai, kemudian dijual ke Jepang oleh pedagang Tionghoa dan dibeli oleh 萬代籐兵衛, seorang kolektor terkenal Jepang.

Ia menyumbangkannya kepada pihak kuil Zuiryuji yang disimpan hingga saat ini. Spesimen itu melalui penanganan anti pembusukan, kulit luarnya dilapisi dengan serbuk emas, di atas kepala naga tumbuh tanduk, terdapat kumis panjang di sebelah mulutnya, bentuk mata lebar dan besar, keseluruhan tubuhnya bersisik, sangat mirip dengan naga dari hasil karya pahatan. Spesimen hanya sepanjang 1 meter, kemungkinan adalah naga muda yang belum sempat tumbuh besar.
Foto atau film yang berhasil direkam

Meski terdapat saksi mata naga, akan tetapi disayangkan, nyaris tak ada foto naga sungguhan yang tersiar. Di internet ada orang yang menyatakan telah menjepret foto atau film naga beneran, ada sebagian termasuk salah prediksi atau memang pemalsuan, namun juga ada sebagian yang kemungkinan adalah riil.

Terdapat sebuah film konon tentang naga yang terambil gambarnya di saat sebelum hujan badai di atas danau Gao You – propinsi Jiang Su, di dalam film tersebut, sedang terjadi pemandangan ganjil “Naga menyedot air”, ada seekor mahluk berbentuk ular transparan sembari meliuk, ia secepat kilat menembus lapisan awan ke angkasa, ada yang berpendapat, mahluk tersebut adalah naga yang menyembunyikan dirinya di balik lapisan awan.

Pada film lainnya, sang naga juga sama-sama tidak menampakkan wujud aslinya, dengan berwujud badan transparan ia hanya bergerak di lapisan awan. Bentuk dan kondisi tubuh transparan tersebut apabila dicermati, termasuk secara samar-samar dapat terlihat kaki belakang dan tubuh si naga serta gerakannya sewaktu bergerak, misalnya sembari bergerak sembari terjadi petir, boleh dibilang sangat mendekati penuturan orang zaman kuno mengenai naga.

Jika film-film tersebut layak dipercaya, barangkali bisa memberi sebuah benang merah bagi kita yakni: sewaktu naga beraktifitas ia eksis dengan tubuh transparan, kecuali di bawah situasi dan kondisi tertentu, kalau tidak, sulit terekam oleh kamera.
Perenungan misteri naga

Kesimpulan dari tulisan di atas, dari catatan pihak pemerintah maupun kalangan rakyat Tiongkok, penuturan saksi mata dan film sisa jasad tulang naga, semuanya mengindikasikan jejak eksistensi sang naga, karena itu terlihat jelas naga bukannya makhluk hidup hasil imajinasi orang zaman kuno.

Sesuai perkataan beberapa saksi mata berusia lanjut yakni Cai Shoukang, Huang Zhenfu, Zhang Shunxi dan lain-lain yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri pemandangan gaib “naga terbang di langit” saat peristiwa naga jatuh di Ying Kou pada 1934.

“Pada kenyataannya, naga bukan makhluk aneh, mereka itu semacam binatang langka.” Sesuai pengalaman saksi mata, mereka beranggapan, naga betul-betul eksis. Dewasa ini terdapat sebagian pakar Tiongkok menjelaskan peristiwa jatuhnya naga di Ying Kou sebagai kejadian “Ikan paus terdampar”, di-anggap sebagai omongan yang tidak bertanggung ja-wab, demikian pendapat para bapak sepuh tersebut.

Saya beranggapan, pada zaman dahulu sewaktu terjadi penampakan naga di dunia manusia, tukang kayu maupun batu adalah salah satu penonton dari sekumpulan massa yang barangkali sama seperti saksi mata zaman kini, mereka berdasarkan pemandangan yang mereka lihat ini lantas memahat karya seni.

Naga sepertinya memiliki kemampuan menglamuflase diri, kecuali ia rela untuk dilihat, kalau tidak, pada umumnya manusia biasa tak dapat melihatnya. Dewasa ini di dalam film kadang kala naga digambarkan berupa badan transparan, ini juga merupakan penyebab kesulitan dalam memperoleh bukti nyata. Sang naga sepertinya juga bisa memilih apakah ia bisa terlihat oleh manusia atau tidak.

Persis seperti yang dikatakan Einstein: “Ada sebagian orang mengira agama tidak sesuai dengan logika iptek. Saya adalah seorang peneliti ilpek, saya mengetahuinya dengan sangat jelas, ilmu pengetahuan hari ini hanya bisa membuktikan eksistensi suatu makhluk tetapi tak mampu membuktikan ketidak-eksisannya suatu makhluk.”

Apakah naga itu eksis, barangkali sudah melewati lingkup yang bisa dibuktikan oleh ilmu pengetahuan empiris, harus menggunakan sudut pandang dan teori iptek supranatural barulah bisa menjelaskannya dengan sempurna.
Kisah Naga dan Cuaca: Iptek ataukah Legenda

[Di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok naga adalah binatang dewata pembawa berkah yang mengendalikan hujan. (AFP) ]

Di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok naga adalah binatang dewata pembawa berkah yang mengendalikan hujan. (AFP)

Meskipun ilmu pengetahuan meteorologi sangat maju, namun ramalan cuaca masih saja ada keterbatasannya. Dari dongeng sejak zaman Tiongkok kuno dikatakan naga mengendalikan hujan, sedangkan pada era ilmu empiris zaman moderen ini, masih saja bermunculan kejadian aneh dan ganjil tentang kaitan naga dengan hujan……

Ramalan cuaca hari ini memprediksi hujan akan berhenti, akan tetapi pada malam harinya masih saja hujan, kenapa? Orang zaman sekarang masih saja tidak terlalu jelas bilamana hujan turun, turun berapa lama, berapa lebat, faktor apakah telah membuahkan hasil yang bagaimana, banyak sekali gejala alam semesta, masih berupa misteri bagi umat manusia, iptek telah menempuh ribuan km dalam sehari, namun masih saja banyak fenomena yang tak mampu dipahami melalui iptek zaman sekarang ini, ramalan cuaca hanya bisa dijadikan sebatas referensi saja.

Deng, petugas senior biro cuaca pusat Taiwan, membahas ilmu empiris yang dipergunakan oleh ramalan cuaca beserta kejadian aneh dan ganjil yang berkaitan antara cuaca dan naga.
Titik buta ilmu empiris

Deng berkata, prinsip terjadinya hujan bagi orang zaman sekarang ialah menggunakan pemahaman proses sirkulasi memasak air, yakni kalau panas memuai dan menyusut di kala dingin, sesudah air mendidih, terbentuk uap air, menemui suhu dingin berubah membeku menjadi tetesan air, awan terbentuk oleh tetesan-tetesan air kecil-kecil melalui benturan secara perlahan membesar dan menggumpal, tumbuh semakin besar, kepadatannya semakin besar pula dan warnanya semakin menghitam, maka terbentuklah awan hitam, di saat pemampatan semakin berat dan tak lagi kuat terbebani maka turunlah ia dari langit yaitu yang kita kenal dengan hujan. Ini adalah penjelasan tentang hujan sesuai ilmu empiris.

Akan tetapi, kenapa uap air bisa berkumpul menjadi satu? Mengapa ia tidak bertebaran kemana-mana? Gumpalan awan itu kenapa tidak bisa berlarian ke tempat lain? Mengapa ia menetap di sana?

Untuk hal-hal seperti itu tidak ada penjelasan, hasil yang dilihat oleh mata membuat orang berpikir dan menetapkan hal itu adalah demikian adanya, sedangkan bagian yang tak dapat dijelaskan dan tak dapat dipahami, semuanya dikelompokkan sebagai gejala pembentukan “alam”, inilah titik buta ilmu empiris dewasa ini.

Padahal di dalam ilmu empiris tersimpan secara laten konsep atheisme, turun hujan dianggap sebagai tindakan yang tidak berkesadar-an dan tidak ada kehidupan yang mengendalikannya, namun dongeng dan kenyataan menunjukkan, bahwa dalil ilmu empiris masih terdapat banyak titik-titik keraguan yang tak dapat diurai.
Adakah hubungan antara hujan dan naga?
Senja hari 16 Juni 2008, di pusat telaga Gao You di barat kota Gao You, propinsi Jiang Su muncul fenomena “Naga menyedot air”, dan makhluk menyerupai naga terbang. (INTERNET)

Pada 16 Juni 2008 di atas angkasa telaga Gao You (高郵湖) propinsi Jiangsu, Tiongkok, telah terekam foto makhluk hidup yang dicurigai sebagai naga. Pada senja hari itu, di pusat telaga terlihat pemandangan yang langka selama puluhan tahun, karena angin puting beliung menyedot air dan dibawa ke atas langit, membuat air dan langit seolah tersambung oleh pilar air setinggi seribu meter lebih (di kalangan rakyat Tiongkok, angin puting beliung disebut “Naga Menyedot Air”).

Pada saat itu terlihat dengan jelas seekor makhluk hidup kehitam-hitaman yang mirip dengan naga, secepat kilat menjelajahi awan-awan. Fenomena ganjil “Naga menyedot air” ini lenyap sesudah berlangsung sekitar 10 menit lamanya, setelah itu hujan turun dengan sangat deras.

"Naga menyedot air" adalah sebutan populer untuk angin puting beliung yang muncul dari atas air, dan tersedotlah air oleh angin sampai naik ke angkasa, bersamaan itu juga terdapat awan, air, naga.

Selain itu seorang fotografer pada 22 Juni 2004, di dalam perjalanannya dari Lhasa-Tibet, saat balik ke pedalaman menumpang pesawat, ketika mencapai angkasa di atas gunung salju Tibet, di dalam lapisan awan yang bergejolak tanpa sengaja terjepret olehnya dua ekor naga yang serupa benar dengan yang dari dongeng, dinamakan “naga Tibet”.

Pernah dianggap sebagai makhluk dewata pada zaman kuno namun terekam oleh jepretan kamera manusia zaman moderen, bermakna apakah ini? Apakah naga senantiasa eksis, hanya saja tidak terlihat oleh sebagian besar orang?
Cuaca memberi pertanda apa?

Foto naga sedang terbang menjelajahi awan yang terekam kamera di atas angkasa Tibet. (INTERNET) Foto badan naga yang telah diperbesar. (INTERNET)

Deng juga menyebutkan tentang sebuah stasiun TV yang menayangkan acara dokumentasi seorang Tosu (pendeta taoisme) yang memohon hujan.

Langit cerah yang mestinya tak berawan, sesudah ritual dilakukan oleh sang Tosu, tiba-tiba segumpal awan hitam melayang datang dan turun hujan rintik-rintik sejenak, tosu menjelaskan, “Hujan kecil ini adalah pinjaman, ini semestinya air hujan yang bakal turun, dipinjam dahulu sebentar, terlalu banyak tak diijinkan.”

Ada seorang kultivator, suatu hari di dalam perjalanan pulang menjumpai angin kencang meniup dan bakal turun hujan, sesampainya di rumah ia langsung duduk bersila berlatih meditasi. Dari mata ke tiganya ia melihat di dalam awan tersebut terdapat banyak sekali anak naga sedang bermain, saat itu di luar sedang terjadi hujan angin yang deras sekali.

Menurut kalangan para kultivator, bila saat bermeditasi bisa melihat benda yang tak dapat dilihat oleh mata, hal itu dikarenakan tingkatan kultivator tersebut sedang naik dan daya kemampuan mata ketiganya telah terbuka, sehingga daya kemampuan pemantauannya telah menguat.

Deng mempunyai seorang teman, konon sejak kecil bisa melihat naga, ia mahir melukis naga, dan lukisannya terkesan hidup adalah karena sambil melihat naga sambil melukis.

Teman tersebut menjelaskan bahwa saat hujan petir, pasti ada 3 dewa yang hadir, yakni satu dewa guruh, satu dewi petir, satunya lagi adalah naga, selain itu mereka bertindak sesuai urutan, mula pertama dewi petir yang menguasai petir, disusul dewa guruh melepas guruhnya, kemudian disusul naga bertanggung jawab melepas air hujan, sedangkan volume air hujan konon dikendalikan oleh sang naga.

Tak heran cuaca yang penuh perubahan membuat orang tak mampu menebak dan mengendalikan. Seandainya teori hujan dan cuaca adalah benar dikendalikan oleh kesadaran dewata, maka tak sulit memahami kenapa setelah terjadi uap dapat menggumpal menjadi mega, lalu mega tersebut kenapa bisa berdiam di sana, kenapa bisa menguat menjadi hujan badai, serta gejala curah hujan yang dibawa oleh angin topan, garis perjalanannya, berapa lama berlangsung dan lain-lain, membuat umat manusia yang menepuk dada sendiri bahwa ilmu pengetahuannya telah maju pesat hingga sekarang tak mampu memprediksinya secara akurat.

Terdapat sebuah pepatah di Taiwan: “Apabila orang tidak menuruti kehendak langit maka langit tidak berjalan sesuai hitungan manusia”.

Dewasa ini cuaca berubah semakin lama semakin tidak menguntungkan bagi eksistensi umat manusia, orang juga menyadari bahaya ini dan mulai mengajukan sejumlah upaya untuk memperbaikinya.

Barangkali pemikiran memberlakukan lagi sikap hidup orang kuno tentang manusia agar menyatu dengan langit, maka baru bisa diperoleh inspirasi jelas tatkala sang Pencipta menggunakan cuaca untuk memperingatkan perilaku manusia di bumi.
Persepsi Naga Timur dan Barat Sangat Berbeda

Penggambaran Naga di Timur

Penggambaran Naga di Timur
Di dunia timur, wujud naga mewakili kemuliaan dan kesucian; sedangkan di dunia barat, naga diasosiasikan dengan kejahatan dan api neraka. Mengapa bisa terjadi perbedaan demikian besar? Apakah naga di sini beda dengan naga di sana? Mari kita simak legenda dan catatan dari dunia barat dan timur.

“Naga” di dalam masyarakat Tionghoa, adalah semacam perlambang kemuliaan, rejeki, kewibawaan dan kesucian. Orang Tionghoa menganggap diri mereka sebagai keturunan naga.

Sebaliknya di masyarakat Barat, kesan terhadap naga, adalah semacam iblis dan perlambang kegelapan. Mengapa di Barat dan Timur terdapat perbedaan yang begitu mencolok tentang kedudukan sang naga?
Legenda naga sakti dari Timur

Mengenai legenda “naga timur”, terdapat 4 macam teori:

1. Manusia dan naga satu tubuh

Contoh yang paling gamblang adalah leluhur orang Tionghoa yakni Fu Xi (伏羲) dan Nu Wa (女媧) diyakini berbadan ular, atau disebutkan bertubuh naga.

Yan Shou (延壽), Raja Han Akhir mencatat di dalam kitab Balairung Persembahan Lu Lingguang (魯靈光殿賦): “Melukis langit dan bumi, terlahir aneka macam makhluk, serba berbaur dan aneh, dewa gunung roh samudera. Zaman dahulu kala serba maha luas, pada awal permulaan dunia, 5 naga membandingkan sayapnya, kaisar manusia berkepala Sembilan, tubuh Fu Xi bersisik, tubuh Nu Wa berwujud ular.”

2. Naga adalah penjelmaan kaisar arif bijaksana:

Tercatat di dalam kitab kuno Pencatatan tahunan Zhu Shu (竹書紀年) dan Shan Hai Jing (山海經):
… terutama dijelaskan, Huang Di, Yao, Shun dan Yu (黃帝、堯舜和禹, para kaisar leluhur pada zaman kuno), pada saat kelahiran dan kemangkatannya selalu naga sakti menampakkan diri dan diyakini sebagai berkah.

3. Naga adalah roh sakti:

Di dalam kitab kuno Shan Hai Jing (山海經) oleh Guo Pu (郭璞) disebutkan:
… di zaman Huang Di dan Nu Wa, “naga” senantiasa membantu penguasa meredakan pemberontakan, dari sini terlihat, “naga” memiliki kekuatan gaib nan sakti.

4. Naga adalah satwa sakti yang dikendalikan dewata:

Legenda Li Bai menaiki naga menuju langit.

Legenda Li Bai menaiki naga menuju langit.
Menurut legenda, permaisuri raja Tai Zhen, mahir bermain kecapi, setiap kali main, suaranya merdu sehingga burung-burung berdatangan, sering kali ia menaiki naga putih untuk berkelana ke 4 samudera.

Xiao Shi, mahir bersiul. Kaisar Qin Mugong (秦穆公) menikahkan Nong Yu, sang puteri kepadanya. Xiao Shi mengajarkan isterinya bermain musik, tatkala bermain, ada burung Hong terbang berkunjung dan hinggap di atas loteng, Mugong mendirikan podium burung Hong untuk mereka berdua. Kemudian Nong Yu menunggang burung Hong, sedangkan Xiao Shi menaiki naga dan mereka terbang ke atas serta menuju dunia atas.

Li Bai, sang penyair tersohor, konon pada saat berbincang santai dengan seorang tosu (pertapa taoisme) di atas gunung, baru selesai berbincang, ada orang yang menyaksikan, mereka berdua di tengah awan, bersama-sama mengendarai sang naga menuju langit.
Legenda naga jahat dari Barat

1. Naga si binatang raksasa penjaga pusaka:

Rafael melukis 2 lukisan cat minyak mengenai St. George memerangi naga jahat. (INTERNET)

Rafael melukis 2 lukisan cat minyak mengenai St. George memerangi naga jahat. (INTERNET)
Syair narasi yang ditulis pada abad ke-8, Beowulf, adalah lembaran tertua dari dongeng yang tercatat dalam bahasa Inggris kuno.

Cerita dicatat dari Eropa Utara, pahlawan Beowulf di dalam perang memperoleh kemenangan dan telah mempertahankan pemerintahannya selama 50 tahun, oleh karena seekor naga raksasa penyembur api yang dulunya beristirahat dan menjaga pusaka negara selama 300 tahun, sekali lagi melancarkan serangan.

Ia berperang melawan sang naga raksasa dalam 3 babak, akhirnya si naga terpenggal kepalanya, tetapi Beowulf tergigit oleh si naga raksasa hingga terluka dan cairan racun mematikan telah mengalir di dalam tubuhnya, dan ia meninggal.

Beowulf menjadi pahlawan pembantai naga, sedangkan image negatif naga di dunia barat dengan demikian telah terpateri di dalam memori orang Barat.

2. Naga adalah penjelmaan iblis dan setan:

Di bab 12, paragraf 7–9 Apocalypse Perjanjian Baru:

“Di langit terjadi perang. Michael beserta pasukannya bertempur dengan naga. Si naga juga bertempur beserta kelompoknya. Tidak memperoleh kemenangan maka di langit tiada tempat lagi bagi mereka. Naga raksasa adalah ular kuno tersebut. Juga dinamakan iblis, atau setan, bertugas menyesatkan dunia. Ia dilempar ke atas tanah, beserta kelompoknya.”

Di dalam Alkitab, naga dipandang sebagai iblis, setan, siluman. Bagi orang Eropa (kuno) yang memandang pemikiran agama Kristen sebagai satu-satunya literatur yang benar, maka naga berubah menjadi makhluk yang membuat sengsara umat manusia, ditakuti orang pada umumnya.

Di dalam Apocalypse, naga memiliki 7 kepala dan 10 tanduk, bisa menyesatkan hati orang dan membuat orang memasuki jalan kejahatan, 7 kepala melambangkan 7 dosa besar yang mutlak tak boleh dilanggar, 10 tanduk melambangkan 10 dosa kecil yang kemungkinan telah dilanggar.

Orang berdosa yang terpikat dan melakukan pelanggaran bersama-sama dengan naga akan dimasukkan ke dasar neraka.

3. Tersebarnya kisah legenda pembunuh naga:

Catalonia, Spanyol, di abad pertengahan asalnya adalah sebuah tanah yang subur, naga raksasa yang bisa terbang dan menyelam telah memusnahkan segalanya. Agar rakyat dapat hidup, setiap hari mereka mengantarkan seorang gadis muda dipersembahkan kepada naga raksasa.

Pada suatu hari, sang puteri cantik juga tak luput menjadi tumbal, seorang pendekar dari Inggris yang pandai bertempur, dengan segala daya berduel dengan sang naga, ia menggunakan pedang menusuk jantung si naga raksasa, dalam sekejap darah segar menyembur keluar dari tubuh sang naga dan telah membasahi rerumputan di sekitarnya, akhirnya di atas rumput telah bertumbuhan bunga-bunga mawar merah.

Pendekar yang perkasa telah menyelamatkan sang puteri, ia memetik salah satu bunga merah itu dan diberikan kepada puteri cantik, kedua orang tersebut bersumpah untuk cinta yang abadi.
Naga Timur Berwibawa Dan Penuh Berkah

Naga menjadi salah satu logo Tiongkok, di dalam pameran Expo Aichi – Jepang pada 2005, di atas dinding pavilion stand Tiongkok terlukis sang naga.

Naga menjadi salah satu logo Tiongkok, di dalam pameran Expo Aichi – Jepang pada 2005, di atas dinding pavilion stand Tiongkok terlukis sang naga.
Bentuk luar naga timur bisa kita simak dari kitab kuno zaman dinasti Song, “Er Ya Yi 爾雅翼”yang memberi penjelasan sbb.: “Bentuk lukisan naga tradisional, dikatakan terdapat 3 stop dan 9 mirip, yakni, Dari kepala hingga pundak, dari pundak hingga pinggang, dan dari pinggang hingga ekor, dinamakan saling stop. 9 mirip ialah: Tanduk mirip rusa, kepala mirip unta, mata mirip setan, leher mirip ular, perut mirip kerang, sisik mirip ikan carp, cakar mirip elang, telapak mirip macan, telinga mirip sapi.” Selain itu, Dong Yi di dalam kitab “Kumpulan pedoman melukis naga”mengatakan: “9 mirip ialah: Kepala mirip sapi, mulut mirip keledai, mata mirip udang, tanduk mirip rusa, telinga mirip gajah, sisik mirip ikan, jenggot mirip manusia, perut mirip ular, kaki mirip burung Hong”. Jadi wajah naga timur secara keseluruhan berwujud sangat belas kasih dan berwibawa.

Pernak-pernik “naga”, dimulai dari perhiasan giok, tembikar dll semenjak zaman kuno, sudah dipergunakan secara massal, bahkan kemudian kesenian di dalam kaligrafi, melukis, busana dll, meski bentuk naga mengikuti perkembangan setiap dinasti, terdapat pula beberapa perubahan yang berbeda, tetapi perlambang dongeng“naga”, di dalam hati orang Tionghoa, senantiasa mempunyai posisi yang tak tergoyahkan. Kehidupan keseharian seseorang, tak lepas dari sandang, pangan, papan dan bepergian, nyaris semuanya tertera stempel kebudayaan naga, sudut pandang kebudayaan naga dan kesadaran estetika kebudayaan naga, semuanya telah meresap di berbagai wilayah dan berbagai bidang kebudayaan masyarakat.

Bahkan pengaruh itu meliputi seluruh bangsa Asia, termasuk Jepang dan Korea serta wilayah pemukiman dan kota Pecinan yang ditempati perantau Tionghoa di berbagai negara dunia. Setiap tempat yang bersentuhan dengan kebudayaan Tionghoa tak luput dari eksistensi naga ini.
Naga Barat Yang Jahat dan Buruk Rupa

Penampilan naga jahat penyembur api sesuai legenda barat.

Penampilan naga jahat penyembur api sesuai legenda barat.
Naga barat memiliki tubuh yang kekar, leher yang panjang dan kasar, memiliki tanduk atau kepala yang bergerigi, gigi yang runcing, dan sebuah ekor berbentuk anak panah panjang. Ia melangkahkan kakinya dengan kuat dan kokoh, menggunakan sepasang sayap raksasa bak sayap kelelawar untuk terbang, seluruh tubuhnya dipenuhi dengan sisik yang melindungi tubuh. Matanya terbentuk dari 4 lapis kelopak, 3 diantaranya transparan, bisa melindungi mata dari gangguan, telinga bisa digerakkan buka-tutup, tetapi tidak semua naga memiliki daun telinga. Gigi yang runcing dan tajam biasanya bisa ditarik melengkung ke dalam guna merobek mangsanya. Tanduknya memiliki cakar. Dus, tampang naga barat secara keseluruhan berpenampilan jahat dan mengerikan.


Orang Tionghoa di daratan sekarang menyebut PKC (Partai Komunis China) sebagai naga merah yang jahat. Karena PKC haus darah dan kekerasan disamping gemar mengenakan lambang warna merah dan dengan brutalnya menindas rakyat sendiri, terutama manusia yang beriman. Gereja rumahan di Tiongkok daratan merasakan sendiri kejahatan si naga merah dan pada umumnya menganggap PKC adalah naga merah raksasa sesuai yang ditulis di “Apocalypse.” – Alkitab. Sejumlah besar kultivator juga berpendapat mundur dari organisasi PKC dapat menghapus stempel hewan “naga merah” PKC yang di-stempelkan pada manusia. Sesuai “Alkitab”, setan dan iblis akan dimusnahkan pada saat pengadilan terakhir, stempel hewan ini adalah surat jalan turun ke neraka bersama dengan setan iblis. Ini juga membuktikan partai komunis bukanlah bagian dari kebudayaan Tiongkok, ia sesungguhnya adalah produk yang disiarkan dari barat.
Hubungan Naga dan Tuhan Di Barat dan Timur

Totem naga yang digunakan oleh para kaisar zaman kuno dan rakyat jelata dibedakan dengan jumlah cakar/kaki naga. Naga sebelum zaman dinasti Tang (abad ke 7-10) bukan monopoli kaisar, itulah sebabnya rakyat pada umumnya diperkenankan menggunakan 3 kaki naga yang kala itu biasa digunakan.

Pada masa dinasti Song (960-1279), secara mencolok naga telah menjadi perlambang monopoli kaisar, “wujud naga dimuliakan”, istana memerintahkan pelarangan penggunaannya bagi rakyat dan pejabat. Tetapi di dalam kehidupan sehari-hari naga tetap berperan sangat penting dalam pemanjatan doa, permohonan hujan dll, sehingga pelarangan secara total penggunaan logo naga di kalangan rakyat menjadi tidak mungkin, maka dilakukan siasat pembagian terhadap peran naga, kalangan rakyat mulai menggunakan Chi 螭 (naga legendaris tanpa tanduk) menggantikan naga.

Pada dinasti Yuan (1206-1368), pemerintah malah melarang pejabat dan rakyat menggunakan naga berkaki lima dan bertanduk sepasang sebagai perhiasan/dekorasi, meski dilarang-larang, namun pelanggaran marak terjadi, di bawah keterpaksaan, pemerintah akhirnya mengalah, memperkenankan pengurangan satu kaki sebagai pembedaan, itulah mengapa pada zaman dinasti Yuan terdapat naga dengan wujud 3, 4 atau 5 kaki.

Pada awal dinasti Ming (1368-1644), di bawah ketetapan khusus pendiri dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, dilakukan 2 pembagian, bentuk naga dengan 5 kaki hanya melambangkan image kaisar sedangkan naga berkaki 3 dipergunakan bagi rakyat, situasi pengurangan satu kaki sebagai makhluk Chi/phyton sampai pertengahan dinasti Ming baru ditemukan. Pada masa pemerintahan dinasti Qing, ditentukan pemerintah, naga tetap naga, Chi/python tetap Chi/phyton, perbedaan antara keduanya hanya pada satu kaki saja.

Naga timur adalah makhluk surgawi sakti yang mendampingi dewata naik ke langit dan menyebarkan konsep agama Buddha dan Dao, dimana manusia mampu berkultivasi hingga memperoleh buah sejati (hasil akhir sejati), dengan mengendarai dan diantar naga menjadi Buddha dan Dewa naik ke langit. Naga barat adalah penjelmaan setan yang menggoda manusia untuk berbuat dosa dan masuk ke neraka, serta memerangi Tuhan, berlawanan dengan Tuhan yang menghendaki manusia harus waspada untuk tidak melanggar pelarangannya, agar jangan tergoda untuk melakukan dosa. Peran yang dimainkan oleh naga barat dan timur bertolak belakang, tetapi semuanya berkaitan dengan ajaran ketuhanan, dari sini terlihat hubungan naga dengan Tuhan selamanya tak bisa dipisahkan, hanya tergantung peran berlawanan atau berdampingan.

Di dalam zaman globalisasi ini, kebudayaan barat dan timur saling berbenturan dan menyelaraskan, apabila orang barat dikarenakan perbedaan kebudayaan kemudian salah paham terhadap naga timur, kita seyogyanya menggunakan semacam sikap yang lebih lapang dada dalam menghadapinya. (Epochtimes/Whs)

Orang Tionghoa Berasal dari Mana


Orang Tionghoa berasal dari mana, siapakah leluhurnya, dari dongeng masa silam yang jauh, dari legenda tiga raja lima kaisar dan dari catatan kitab sejarah, kita mengetahui, orang Tionghoa adalah “anak cucu Yan dan Huang” (raja Yan dan kaisar Huang Di 炎黃子孫), kaisar Kuning yang pernah hidup di wilayah perairan sungai Kuning (Huang He) adalah leluhur suku bangsa Tionghoa. Namun jawaban ini, dewasa ini mengalami tantangan dari para ilmuwan, sehingga orang Tionghoa sendiri merasa kebingungan karenanya.

Pada era tahun 30an abad 20, ditemukan “manusia Peking” di Zhou Kou Dian-Beijing yang oleh para ilmuwan dianggap sebagai leluhur umat manusia, maka jadilah seluruh orang Tionghoa keturunan “manusia Peking” tersebut yang 5 sampai 600.000 tahun yang lampau turun dari pohon, berhasil mempelajari berjalan dengan badan tegak dan di saat kelaparan meng-kanibal daging dan otak serta sumsum sesama jenis manusia lainnya. Untungnya ditemukan lagi bahwa di dalam mata rantai fosil umat manusia zaman kuno Tiongkok, terdapat sebuah missing link yang besar, yakni salah satu masa tidak terdapat fosil manusia, jadi “manusia Peking” yang menghebohkan dunia sama sekali tidak memiliki keturunan yang berlangsung hingga sekarang, dengan orang Tionghoa tidak lagi bisa dikait-kaitkan.

Pada 1987, “Weekly News” –AS telah memuat sebuah berita sensasional, ilmuwan meneliti DNA memperoleh sebuah kesimpulan – “Hawa” leluhur umat manusia berada di Afrika dan dipublikasikan: “Kita semua memiliki seorang nenek Afrika yang pernah hidup pada 150.000 tahun yll, dan manusia zaman sekarang semuanya adalah keturunannya.” Pada cover majalah tersebut dimuat seseorang yang disebut “Hawa” yang berkulit hitam dan setengah telanjang sedang memberikan sebuah apel kepada Adam yang berkulit hitam pula. Keturunan “Nenek Afrika” tadi setelah keluar dari Afrika, lahirlah kita-kita ini.

Para pakar genetika Tiongkok selanjutnya mengatakan, para leluhur yang berasal dari Afrika, semenjak 40.000 tahun yang silam sesudah memasuki wilayah Tiongkok, jalan – berhenti – berkumpul – terpisah, demikianlah lambat laun dalam perjalanan waktu berubah menjadi berbagai suku bangsa Tionghoa. Dengan kata lain, orang Tionghoa berkulit kuning zaman sekarang, semuanya merupakan keturunan orang berkulit hitam Afrika yang telah bermetamorfosa, sewaktu mereka di dalam perjalanan nan panjang dari zaman primitif ke peradaban, para cucu-cicit tersebut telah berubah menjadi jenis manusia yang lain.

Dikatakan bahwa asal usul manusia adalah melalui evolusi dari makhluk primata (nenek moyang monyet) telah menimbulkan pro-kontra, orang Tiongkokpun sama saja sulit menerima “nenek Afrika” yang tak jelas juntrungannya. Sedangkan yang diketahui setiap keluarga dan telah diwariskan turun temurun, sesudah awal penciptaan dimana dunia masih berada dalam keadaan chaos, orang Tionghoa memiliki seorang ibu pertiwi: “Nu Wa 女媧”, yakni seorang dewi yang konon tinggal di gunung Kun Lun (di wilayah barat laut Tiongkok), Ia menggunakan tanah liat (kuning) untuk mencipta melalui membentuk bangsa kulit kuning yang paling dini di wilayah timur, memberikan kepadanya kulit kuning yang tak berubah selamanya dan menetapkan tata susila pernikahan serta memperpanjang jiwa umat manusia, ia adalah dewi leluhur suku bangsa Tionghoa.

Akan tetapi di balik “Nu Wa sang pencipta manusia”, sepertinya samar-samar masih dapat ditelusuri semacam jodoh hulu-nadi yang jauh lebih kuno. Tiongkok kenapa dinamakan “tanah dewata 神州”, “dinasti langit 天朝” dan kaisar Tiongkok disebut “putera langit 天子” , orang Tionghoa berbicara “bahasa paling awal taman Eden”, 5.000 tahun yang sambung menyambung, dari kaisar bertanya nasib kepada bintang hingga ke rakyat yang percaya Tuhan dan memuja leluhur, dimana-mana ada jejak dewata. Dibandingkan dengan manusia yang diciptakan dari tanah, asal usul orang Tionghoa sepertinya lebih kuno dan mulia. Namun, aliran sungai sejarah yang begitu panjang, sama halnya orang hanya dapat merindukan “Nu Wa” dari cerita dongeng saja, juga tentang hulu-sumber prasejarah asal-usul orang Tionghoa tersebut, hanya bisa mengandalkan imajinasi dan estimasi untuk menyentuh gambaran yang redup.

Dipikir lebih mendalam, semestinya bukanlah suatu kebetulan, dewasa ini, abad 21, pertunjukan “Shen Yun Divine Performing Arts” yang menggemparkan dunia, dengan musik, tarian dan nyanyian, busana dan layar, corak warna dan lighting yang demikian indah absolut, mempertontonkan kondisi surga dewata dan makhluk tinggi alam semesta, di dalam lingkup awan dan atmosfer yang menentramkan, kita dipersilakan menyaksikan dengan mata kepala sendiri asal usul peradaban Tionghoa, masa lampau dan masa depan orang Tionghoa serta dengan riel menyelami tema mendalam seperti “reinkarnasi”, “penyelamatan”, “welas asih”, “suci”.

”Maha pintu surga terbuka lebar pada suatu masa silam yang amat sangat jauh, ada berapa orang datang dan tinggal berapa orang berhasil balik. ”.

Orang Tionghoa berasal dari mana, umat manusia berasal dari mana, bakal kemana? Misteri maha sulit terungkapkan ini, setelah melalui menonton Shen Yun DPA, Anda akan memperoleh inspirasi dan jawabannya. (Epochtimes/Whs)

Artikel ini hanyalah mewakili sudut pandang si penulis.
Sumber﹕http://www.epochtimes.com/b5/9/4/14/n2494589.htm

Tangyuan, Bola Nasi dalam Sup


Makanan 'bola nasi di dalam sup' khas Tiongkok itu disebut 'tangyuan', 'tangtuan' atau 'yuanxiao' dalam ejaan pinyin Mandarin. Nama yang terakhir berhubungan dengan festival 'Lampion' (Yuanxiao) Tiongkok saat dimana ia dimakan. Hidangan yang terdiri dari bola-bola nasi yang lengket, diisi dengan suatu campuran bahan seperti buah-buahan yang diawetkan, lemak babi dan gula batu itu dinikmati oleh semua orang, karena rasanya yang manis dan lembut. Karena nasi itu mengandung kanji yang menyebabkan lengket dan rasa yang sempurna, orang tidak bisa memakannya dalam jumlah banyak.

Ada legenda tentang Ibu Suri Cixi memberikan tangyuan kepada rakyatnya.

Menurut Anekdot Keluarga Kerajaan Qing, Cixi suatu hari sedang mencicipi tangyuan ketika Kaisar Guangxu datang untuk menanyakan kesehatannya. Cixi bertanya kepada Guangxu, "Apa kamu sudah mencobanya?" Guangxu, yang sudah makan semangkuk tangyuan tapi takut mengaku karena ia seharusnya ditegur karena makan sebelum ibunya, berlutut dan menjawab: "putramu yang rendah belum mencobanya." Guangxu diberikan semangkuk dan disuruh memakannya segera.

Adalah suatu peraturan di Istana bahwa menolak makanan yang diberikan Ibu Suri dianggap tidak hormat, yang dapat berakibat fatal jika Cixi menjadi marah. Sadar akan hal ini, Guangxu tidak punya pilihan lain kecuali memakan tangyuan sambil tetap berlutut.

Cixi bertanya lagi, "Apa kamu sudah cukup?" Guangxu, tidak bisa menambah lagi, tapi begitu takut untuk menceritakan yang sebenarnya, menguatkan dirinya dan menjawab, "Belum."

"Mau lagi", tawar Cixi. Baru saja ia makan separuh dari mangkuk itu, Guangxu tidak tahan lagi. Ia menyembunyikan sisanya ke dalam lengan bajunya yang besar, yang mana tertangkap oleh mata tajam Cixi, namun demikian ia terus bertanya: "Kamu kepenuhan?". Guangxu, masih belum berani mengungkapkan pikirannya, menjawab sama seperti sebelumnya. Kali ini, Cixi berkata dengan senyum sinis: "Beri dia lagi", sambil membisikkan beberapa kata ke telinga seorang kasim.

Guangxu malang hanya bisa terpaksa tetap memakai taktik sebelumnya, hingga kedua lengan bajunya penuh terisi bola-bola tangyuan, dan pakaian dalamnya terbanjiri sup.

Segera ia kembali ke bilik istananya, ia memerintahkan kasim untuk mengambilkan beberapa pakaian ganti tapi tercengang mendengar pengakuan sang kasim: "Ibu Suri telah mengutus orangnya mengambil semua pakaian dalam Paduka". Guangxu, yang mengetahui Cixi telah mempermainkannya begitu takut meminta kembali pakaian dalam itu darinya, menelan penghinaan itu. Ia kemudian memerintahkan kasim yunior untuk mencarikannya di luar istana.

Secara kebetulan, Fulun, seorang keluarga kerajaan lainnya, punya pengalaman tangyuan yang sama dari Cixi. Akibat dari banyak jawaban atas pertanyaan Cixi, Fulun telah diberi banyak mangkuk bola-bola nasi itu, membiarkannya kembung karena kelebihan makan. Selama lebih dari 40 hari, ia terbaring di tempat tidur karena sakit serius sebelum akhirnya ia sembuh.