欢迎..............欢迎..............欢迎


Tampilkan postingan dengan label Anak Vs Ortu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Vs Ortu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Tips Cerdas Meredam Konflik Antara Ibu dan Anak


Sejak kecil, bahkan sejak anak berada dalam kandungan, ia tahu dan bisa merasakan apakah ia dikasihi oleh orang tuanya atau tidak. Anak merasakannya melalui sikap, perkataan, maupun sentuhan yang diterima dari orang tuanya.

Berikut ini tips cerdas untuk meredam konflik antara ibu dan anak:

1. Saling menulis surat.

Mintalah anak menulis surat untuk ibu, dan ibu menulis surat untuk anak, tentang apa yang diharapkan dari masing-masing pihak. Ini akan membukakedua pihak tentang perasaan masing-masing.

2. Cari Kegiatan Disukai Berdua.

Sediakan waktu untuk mengedakan kegiatan ‘Have fun with Mom’. Pergi ke salon/Spa, window shopping, nonton bioskop, berenang, membaca buku yang sama untuk kemudian didiskusikan bersama. Bisa juga dengan membuka album foto keluarga dan mengingat kembali masa-masa penuh tawa dalam foto itu. Atau mengerjakan bersama aktivitas apapun, yang penting digemari oleh ibu dan anak, seru dan tentunya menyenangkan.

3. Ibu Harus Berupaya Merayakan Keberhasilan Anak.

Dalam suasana konflik, ibu yang pasti sedang jengkel dituntut untuk lebih jeli menemukan sisi positif anak. Kemudian dengan tulus menunjukkan rasa bangga terhadapnya.

4. Menjaga Kehormatan.

Kepanas apapun konflik antara ibu dan anaknya, ibu tetaplah orang tua yang harus diperlakukan anak dengan hormat. Jangan biarkan anak mengendalikan ibu atau membiarkan anak sampai lepas kendali sehingga bertindak atau berkata kasar pada ibu. Sebaliknya, anak tetaplah anak ibu yang harus diperlakukan dengan pantas pula. Jangan sampai ibu bersikap semena-mena sebagai orang tua yang merasa memiliki kuasa atas anak dan boleh memperlakukan sesuak hati.

5. Terus Memberikan Sentuhan

Terus Memberikan Sentuhan dan Belaian yang diterjemahkan dalam bentuk kedekatan fisik, kontak mata (kontak mata dapat menciptakan ikatan hubungan baik yang dalam, antara ibu dan anak), belaian, dan komunikasi lisan. Semua hal ini harus terus menerus dilakukan dalam pengasuhan ibu-anak. Agar anak dapat merasakan kasih sayang ibunya, juga agar anak tahu bahwa ibunya akan selalu mencintainya.

6. Berikan yang alami

Sesuatu yang alami, seperti hubungan ibu dan anak tetap memerlukan perawatan dan pemeliharaan agar bisa berkembang dan lestari. Semua itu memerlukan waktu dan energi yang besar dari orang tua. Kuncinya adalah kesabaran dan kemauan untuk terus belajar dan berusaha menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8761841

Agan2 anak nomor berapa?? ( ada penjelasannya gan ) Cekidot..


Ciri Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran

Menurut Roslina Verauli, MPsi., karakteristik anak bisa dilihat berdasarkan urutan kelahiran seperti yang disebutkan bapak psikologi individual, Alfred Adler.


S U L U N G

* Kerap terbebani dengan harapan atau keinginan orangtua. Anak pertama sangat penting bagi ego orangtua. Itu sebabnya, si sulung didorong untuk mencapai standar sangat tinggi sebagai representasi orangtua.

* Cenderung tertekan.

* Senang menjadi pusat perhatian. Perkembangan kepribadiannya lebih optimal saat ia memperoleh perhatian.

* Orangtua cenderung lebih memperhatikan dalam mendidik anak pertama.

* Anak pertama biasanya seorang high achiever (memiliki keinginan berprestasi tinggi).

Saat adik lahir, ia mempunyai tempat kehormatan bagi adik. Meski begitu, saat pusat perhatiannya terganggu oleh adik, ia bisa iri dan tidak aman.

* Cenderung diberi tanggung jawab oleh orangtua untuk menjaga adiknya.

* Belajar bertanggung jawab dan mandiri melalui kegiatan sehari-hari.

* Dapat diandalkan.

* Cenderung terikat pada aturan-aturan.

* Dominan, konservatif, dan otoriter.

* Mempunyai pemikiran yang tajam.

* Lebih sensitif.

* Banyak anak pertama yang mendapat posisi puncak seperti direktur atau CEO. Tak sedikit anak pertama yang merasa menderita karena tidak sukses.

Contoh : Dessy Ratnasari, Rafi Ahmad, Marchela Zalianty, Nikita Willy, Coky Sitohang


ANAK KEDUA ATAU TENGAH

* Cenderung lebih mandiri sehingga dapat membentuk karakternya sendiri. Misalnya, sang ibu menggendong adik dan bapak memegang kakak, ia tidak tahu harus bergantung pada siapa. Akhirnya ia menjadi anak yang lebih mandiri.

* Karena terabaikan, anak kedua atau tengah cenderung mempunyai motivasi tinggi, bisa dalam hal prestasi maupun sosialisasi.

* Cenderung lebih bebas dari harapan orangtua dan independen.

* Pandai melihat situasi.

* Aturan yang diterapkan lebih longgar. Anak kedua umurnnya diperbolehkan melakukan hal-hal tertentu dengan sedikit batasan.

* Berjiwa petualang. Suka berteman dan hidup berkelompok.

* Bebas mengekspresikan kepribadiannya yang unik.

* Cenderung lebih ekspresif. Berambisi untuk melampaui kakaknya, terlebih bila jarak usianya berdekatan.

* Walau cenderung suka melawan, anak kedua biasanya lebih mudah beradaptasi.

* Tidak rapi.

* Memiliki bakat seni.

* Cenderung sangat membutuhkan kasih sayang.

* Kerap kesulitan menggambarkan kepribadiannya.

* Cenderung merasa tidak disayang orangtua dan merasa tidak bisa lebih baik daripada kakaknya.

Contoh : Tukul Arwana, Britney Spears, Dewi Sandra, Olivia Zalianty


B U N G S U

* Tergolong anak yang sulit karena mempunyai kakak yang dijadikan model.

* Kerap merasa inferior (rendah diri), tidak sehebat kakak-kakaknya.

* Dalam pengasuhan kerap dibantu orang sekitar, sehingga tidak terlalu sadar dengan potensi dirinya.

* Cenderung dimanjakan dan kasih sayang banyak tercurah padanya. Lebih merasa aman.

* Cenderung tidak dewasa dan kurang bertanggung jawab.

* Biasanya paham bahwa mereka termasuk spesial.

* Dianggap sebagal “anak kecil” terus menerus.

* Aturan yang diberlakukan padanya lebih longgar.

* Hanya diberi sedikit tanggung jawab dalam keluarga.

* Umumnya tidak diberi banyak tugas, dan tak perlu mengasuh adik.

* Sedikitnya pengalaman dalam belajar bertanggung jawab membuat si bungsu menghindari tanggung jawab dan komitmen, terutama bila orangtua senang memperlakukannya sebagai “bayi”.

* Lebih spontan dan mempunyai jiwa yang lebih bebas.

* Banyak komedian dan pembawa acara merupakan anak tengah atau anak bungsu karena bebas mengembangkan kepribadian mereka yang unik.

Contoh : Titi Kamal, Melanie Putria, Shahnaz Haque, Carissa Putri

TAMBAHAN

Anak Kembar

Bisa seperti anak sulung atau bungsu, tergantung pada peran yang didapatnya: sebagai kakak atau sebagai adek. Anak kembar yang lahir lebih dahulu dalam proses kelahiran normal biasanya dianggap sebagai kakak, sementara yang lahir belakangan dianggap sebagai adek. Padahal , berdasarkan pada beberapa penelitian terhadap anak-anak kembar, posisi sulung atau bungsu pada anak kembar gak selalu tetap. Banyak penelitian psikologi yang menemukan fakta bahwa ketika umur anak kembar sudah sekitar 11 atau 12 tahun, peran mereka bisa bertukar satu sama lain. Jadi, yang lahir lebih dahulu akan memposisikan diri sebagai adek, dan sebaliknya yang belakangan malah seolah kakaknya. Ikatan batin diantaranya sangat tinggi. Cinta, kasih sayang, perhatian dan tanggung jawab mereka pada kembarannya jauh lebih besar dibandingkan pada anggota keluarga lain

Anak Tunggal

Anak tunggal umumnya manja jika masih memiliki orang tua. Umumnya anak tunggal mempunyai jiwa petualang (dalam arti yang luas) dan memiliki kepribadian yang mantap. Anak Tunggal gabungan sifat anak Sulung dan anak Bungsu. Hasil penelitian saya Anak Tunggal cenderung lebih suka kepada lawan jenis yang berwajah dan bersikap dewasa.

Jodoh : Anak tunggal menurut penelitian kurang cocok dengan anak tengah, akan banyak konflik terjadi karena banyak perbedaan. Paling cocok dengan Anak Sulung atau yang bersikap dewasa, namun dengan anak Bungsu juga tidak bermasalah karena akan bakal bergejolak dan penuh sensasi.

Contoh: Sheila Marcia, Cinta Laura, Kirana Larasati, Dian Sastro, SBY, Melly Guslaw

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4875153

Jumat, 03 Juni 2011

Dampak Perceraian Bagi Pertumbuhan dan Masa Depan Anak


Setiap perceraian orangtua, menjadikan anak sebagai korban utama. Studi terbaru menemukan, efek merugikan pada tumbuh kembang anak dengan orang tuanya bercerai sangat luas. Studi yang dilakukan peneliti Universitas Wisconsin Madison menyimpulkan, anak dengan orang tua bercerai memiliki prestasi yang tertinggal jatuh dibanding rekan sebaya mereka dalam bidang matematika dan sosial. Mereka juga lebih mungkin menderita kecemasan, stres dan rendah diri.

Mental dan kejiwaan anak jadi terganggu karena perceraian kedua orang tua mereka

Peneliti utama, Hyun Sik Kim mengatakan efek merugikan pada anak-anak sudah dimulai sebelum orang tua memulai proses perceraian. “Orang cenderung berpikir bahwa pasangan terlibat konflik perkawinan dalam waktu yang cukup intens sebelum perceraian,” ujar kandidat PhD sosiologi seperti dikutip Yahoo Health.

“Anak yang orangtuanya bercerai akan mengalami dampak negatif bahkan sebelum orangtua mengurus proses perceraian formal.” Temuan yang dipublikasikan dalam American Sociological Review, didasarkan pada data 3.585 siswa TK hingga kelas lima sekolah dasar untuk menguji dampak sebelum, selama dan setelah perceraian.

Kim membandingkan kemajuan anak-anak yang orangtuanya bercerai dengan anak-anak dari keluarga stabil. “Dampak negatif tidak memburuk setelah perceraian, meskipun tidak ada tanda-tanda anak dari pasangan bercerai dapat mengejar ketinggalan dengan rekan-rekan mereka, baik,” jelas Kim.
Ia mengaitkan kemunduran perkembangan anak-anak dengan beberapa faktor. Diantaranya, stres karena melihat pertengkaran orang tua, hidup tidak stabil dan dipaksa membagi waktu antara orang tua dan kesulitan ekonomi dari penurunan pendapatan keluarga. “Perceraian membuat orang tua tidak bisa fokus pada anak-anak. Mereka juga rentan berdebat dengan anak-anak. Inilah yang dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak.”

sumber :http://ruanghati.com/2011/06/03/dampak-perceraian-bagi-pertumbuhan-dan-masa-depan-anak/

Minggu, 29 Mei 2011

::: Ciri-ciri ANAK KREATIF :::


Ciri-ciri
ANAK KREATIF

Anak kreatif adalah anak yang dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan baik. Perkembangan kemampuan dan kecerdasannya, sering kali membuatnya bersikap dan berperilaku cukup aktif, banyak bergerak dan bersuara. Hal ini sering pula diidentifikasi sebagai kenakalan oleh banyak orang tua. Padahal, aktivitas dan mobilitasnya yang berlebih merupakan wujud kemampuan berpikirnya yang serba ingin tahu. Sebelum kita men-judge bahwa anak kita nakal, alangkah bijaknya jika kita mencoba mengetahui dan memahami ciri-ciri anak kreatif berikut ini.

Berpikir Lancar

Anak kreatif mampu memberikan banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang kita berikan. Dalam kejadian sehari-hari, kita sering bertanya “apa”, maka sering pula dijawab dengan banyak jawaban, meskipun kadang-kadang jawabannya agak melenceng alias “ngaco”. Namun, itulah salah satu kehebatan anak kreatif.

Dalam jangka panjang, anak kreatif mampu memberikan banyak solusi atas masalah yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena di masa depannya hidup akan penuh masalah dan tantangan. Dengan kreativitasnya, maka ia akan lebih mudah menjawab masalah dan tantangan tersebut.


Fleksibel dalam Berpikir

Anak kreatif mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang (fleksibel), sehingga ia mampu memberikan jawaban variatif. Hal ini akan memudahkannya menjalani kehidupan dan menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan. Seringkali tanpa kita sadari, anak memberikan jawaban atau komentar yang solutif atas pertanyaan dan pernyataan kita. Misalnya, “Si Bibi kemana sih, jam segini belum datang, dasar malas menunda-nunda pekerjaan terus…,” dengan tiba-tiba ia berkata ”Mungkin Bibi sakit, Bu.”


Orisinil (Asli) dalam Berpikir

Anak kreatif mampu memberikan jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban–jawaban baru yang tidak lazim diungkapkan anak-anak atau kadang tak terpikirkan orang lain, di luar perkiraan dan khas. Misalnya, sang Ibu mempertanyakan baju anaknya yang kotor dengan nada sedikit kesal. “Sayang, kenapa bajumu kotor begini sih, Ibu kan sudah bilang jangan kotor-kotoran?” Jawaban si anak. “Tadi kecipratan air hujan, Bu. Teman-teman pada main ciprat-cipratan air hujan sama lumpur. Lagian kalau hujan kan Ibu seneng, banyak air buat nyuci sama mandi.”


Elaborasi

Anak kreatif mampu memberikan banyak gagasan dengan menggabungkan beberapa ide atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya secara rinci dan detail hingga hal-hal kecil. Misalnya, “Mengapa rumah berantakan?” jawab si anak “Ini risiko, Bu. Aku kan main, bolak-balik ke dapur ngambil makanan dan minuman, lari-lari, ketendang, jadi tumpah deh. Namanya juga main.”


Imaginatif

Anak kreatif memiliki daya khayal atau imajinasi, yang ia aplikasikan dalam kegiatannya sehari-hari. Ia menyukai imajinasi dan sering bermain peran imajinasi. Misalnya, ia membayangkan dirinya sebagai Ibu, maka ia akan berperan sebagai ibu dalam segi bicara dan perilakunya. Dalam tataran anak remaja, imajinasi ini biasanya berupa fiksi ilmiah, yakni sudah cukup mampu mengembangkan imajinasinya dalam bentuk-bentuk keilmuan, seperti menulis cerpen atau naskah drama, menciptakan lirik lagu, bermusik dengan genre tertentu, dan lain-lain.


Senang menjajaki Lingkungannya

Anak kreatif senang dengan bermain. Bermain dan permainannya itu selain menyenangkannya juga membuatnya banyak belajar. Ia bisa mengumpulkan dan meneliti makhluk hidup, serta benda mati yang ada di lingkungannya. Hal ini tentu saja bermanfaat untuk masa depannya karena ia akan selalu belajar dan mengasah rasa ingin tahunya terhadap sesuatu secara mendalam. Ciri ini juga terkait dengan kecerdasan anak secara naturalis. Msalnya, karena ia senang meneliti makhluk hidup, maka ia senang memelihara binatang atau tanaman yang disukainya dan memberinya nama.


Banyak mengajukan Pertanyaan

Anak kreatif sangat suka mengajukan pertanyaan, baik secara spontan yang berkaitan dengan pengalaman barunya maupun hasil ia berpikir. Sering kali pertanyaan yang diajukannya membuat kita sulit dan merasa terjebak. Karena itu, kita harus memiliki strategi yang tepat dengan berhati-hati memberikan pernyataan dan harus siap dengan jawaban yang membuatnya mengerti. Misalnya, kita mengajarkan bahwa Tuhan selalu melihat kita dan tahu segala perbuatan kita karena Tuhan itu ada di mana-mana, maka ia dapat mengajukan pertanyaan “Tuhan itu laki-laki atau perempuan? Tuhan itu ada banyak ya? Kan ada dimana-mana?”. Jika tidak kita berikan jawaban yang memuaskannya, maka ia akan terus mengajukan pertanyaan.


Mempunyai Rasa Ingin Tahu yang Kuat

Anak kreatif suka memperhatikan sesuatu yang dianggap menarik dan mendalaminya sampai puas. Rasa ingin tahu anak kreatif sangat tinggi, sehingga ia tak akan melewatkan kesempatan untuk bertanya. Karena itu, kita sering dibuatnya agak kewalahan bahkan jengkel dengan menganggap anak kita bawel. Padahal itulah kehebatannya, rasa ingin tahunya akan membuatnya haus ilmu, memiliki daya kritis dalam berpikir dan tidak cepat percaya dengan ucapan orang sebelum membuktikan kebenarannya. Misalnya, kita sedang bertamu ke rumah seseorang. Ia melihat kristal yang menarik. Matanya selalu tertuju ke sana dan pelan-pelan mendekati kristal itu, diangkat…lalu jatuh dan pecah. Ia berkata “Habis berat sih, jadi dibagi dua saja, deh!” Reaksi kita tentu saja kesal, marah dan merasa malu.

Karena itu, fokus dan konsentrasi terhadap anak kreatif harus benar-benar diperhatikan. Cara berpikirnya yang cepat dan lancar akan membuatnya mudah bertindak memuaskan keingintahuannya.


Suka melakukan Eksperimen

Anak kreatif suka melakukan percobaan dengan berbagai cara untuk memuaskan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya. Karena itu, sebagaimana contoh di atas, orang tua harus bayak mendampingi dan membimbingnya, tetapi tidak bertujuan menghambat atau terlalu mencampuri eksperimennya itu.

Memberikan penjelasan tentang baik dan buruknya sesuatu lebih baik daripada berkata “jangan” atau “tidak boleh”.


Suka menerima Rangsangan Baru

Anak kreatif sangat suka mendapatkan stimulus atau rangsangan baru, serta terbuka terhadap pengalaman baru. Hal ini berkaitan dengan rasa ingin tahunya dan kesukaannya bereksperimen. Semakin banyak stimulus yang kita berikan, maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkannya dan semakin banyak pula percobaan yang dilakukannya, sehingga proses dan kemampuan berpikirnya akan terus berkembang dan mengasah kecerdasan otaknya.


Berminat melakukan Banyak Hal

Anak kreatif memiliki minat yang besar terhadap banyak hal. Ia suka melakukan hal-hal yang baru, berani mencoba hal baru dan tidak takut terhadap tantangan. Dengan mengetahui antusiasme dari minatnya terhadap sesuatu akan membantu orang tua mengenali bakat anak, sehingga sejak dini bisa mengembangkan minat dan bakatnya secara berdampingan dan berkesinambungan. Selain itu, keberanian melakukan hal-hal baru dapat memupuk rasa percaya dirinya yang bermanfaat untuk perkembangan kepribadiannya kelak.


Tidak mudah Merasa Bosan

Anak kreatif tidak mudah bosan melakukan sesuatu. Ia akan melakukannya sampai ia merasa benar-benar puas. Jika sudah puas, maka ia akan melakukan sesuatu yang lain lagi. Inilah ciri kreativitasnya yang menonjol. Ketidakbosanan merupakan aset berharga yang akan membuatnya terus mencari hal-hal yang dapat menginspirasinya untuk berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal yang dialaminya dan dilihatnya, sehingga proses kereatifnya terus berjalan seiring pertumbuhan usianya.

Kreativitas lahir bukan semata-mata karena faktor keturunan, tetapi lebih karena adanya faktor stimulasi dari lingkungan anak.

Stimulus dan bimbingan orang tua merupakan faktor utama dalam menumbuh kembangkan kreativitas anak. Dengan mengenali dan memahami ciri anak kreatif, orang tua dapat mengoptimalkan kemampuannya untuk mengembangkan kreativitas anak-anaknya. Karena itu, anak merupakan anugerah yang harus kita syukuri, membuat kita belajar dari dan tentang banyak hal dalam kehidupan.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8832433

Sabtu, 20 November 2010

13 Tips Hindari Anak Dari Pornografi

Kasus video porno artis sempat mengguncangkan masyarakat. Tak hanya orang dewasa, anak-anak kecil pun kerap mendengar mengenai masalah itu, antara lain lewat tayangan media, teman-teman, atau orang sekitar. Tak heran jika para orangtua merasa khawatir anaknya terekspos materi pornografi yang sudah sangat bebas. Di bawah ini adalah beberapa poin yang bisa Anda terapkan supaya anak terhindar dari pornografi:

1. Tunjukkan wewenang Anda sebagai orangtua.
Lakukan hal ini secara bijaksana dan lembut. Tunjukkan bahwa Anda tetap orangtuanya walau hubungan Anda dengannya terjalin seperti sahabat.

Sebagai orangtua, Andalah yang berhak mengambil keputusan akhir tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan anak. Anda berhak mengetahui siapa saja temannya, di mana ia berada, dan apa yang sedang ia lakukan.

2. Berikan contoh yang baik.
Orangtua adalah yang pertama kali akan dicontoh anak di rumah. Jika ingin anak berperilaku baik, Anda juga harus melakukan hal yang sama. Jangan malah ikut-ikutan mengunduh video porno.

3. Pasang pengaman di komputer atau televisi.
Saat ini tersedia banyak software yang bisa digunakan untuk mencegah dibukanya situs-situs porno di internet atau saluran-saluran khusus dewasa di televisi. Pasanglah software itu di rumah sebagai pengamanan.

4. Kontrol "password" internet.
Jangan berlakukan sistem otomatis pada sambungan internet di rumah, melainkan terapkan sistem manual. Saat anak masih kecil, yang boleh mengetahui password ini hanya Anda dan suami. Ganti password secara teratur supaya keamanannya terjaga.

5. Letakkan komputer atau televisi di ruang publik.
Maksudnya, ruangan yang dipakai bersama-sama anggota keluarga lain, misalnya ruang keluarga. Dengan demikian, Anda bisa mengawasi apa saja yang sedang ditonton atau diakses anak.

Hindari memberikan komputer atau televisi pribadi sepanjang anak belum membutuhkannya. Namun, jika ia memilikinya, Anda harus mengetahui password komputer atau akun jaringan sosialnya supaya tetap bisa melakukan pengawasan terhadap anak.

6. Buat aturan soal internet.
Selain menentukan waktu pemakaian internet, tentukan juga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menggunakan internet. Poin-poin berikut ini, dari www.protectyourkids.info, bisa Anda terapkan padanya:
* Jangan pernah memberikan informasi pribadi di forum umum.
* Jangan membalas e-mail, obrolan, atau diskusi yang membuatnya merasa tidak nyaman.
* Jangan memberikan informasi atau foto kepada orang tak dikenal.
* Jangan memberikan password kepada orang lain, kecuali orangtua.
* Jangan klik link apa pun dari orang tak dikenal.
* Jangan langsung memercayai orang yang baru saja dikenal. Mereka bisa saja berbohong. Jadi, ia mesti selalu berhati-hati.
* Jangan mau diajak bertemu secara langsung oleh orang yang dikenal lewat internet.
* Jangan membeli barang apa pun atau memberikan informasi tentang kartu kredit tanpa seizin orangtua.
* Selalu beri tahu orangtua jika ada seseorang atau suatu hal di internet yang membuatnya tidak nyaman.
* Selalu ikuti aturan penggunaan internet dari orangtua.

7. Jangan berikan ponsel canggih.
Kalau anak memang membutuhkan ponsel, berikan ponsel yang paling sederhana, tanpa kamera, video, ataupun internet. Ponsel seperti itulah yang ia butuhkan saat ini. Katakan padanya bahwa fungsi utama ponsel adalah untuk berkomunikasi. Jika memerlukan internet, ia bisa gunakan komputer di rumah.

8. Dampingi saat menonton televisi atau menggunakan internet, terutama untuk yang masih kecil.
Sebaiknya Anda yang memegang remote control-nya. Setiap kali muncul adegan yang kurang pantas, segera ganti salurannya dan tunjukkan ketidaksukaan Anda. Tujuannya agar anak menjadi terbiasa dan tahu bahwa yang seperti itu memang tidak pantas. Ia pun tak akan tertarik pada hal-hal semacam itu meskipun sedang tidak berada dalam pengawasan Anda. Lakukan tindakan yang sama pada media lain. Ketika ia sudah lebih besar, Anda bisa berdiskusi soal seks dan memberikan penjelasan lebih mendalam.

9. Sediakan waktu untuk keluarga.
Banyak orang mengakses pornografi karena merasa bosan dan tidak memiliki kegiatan lain. Inilah sebabnya keluarga sebaiknya menghabiskan waktu bersama-sama, setidaknya sekali seminggu. Ajak anak ke taman, makan di luar, atau yang lainnya, supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya mengenai kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan. Dengan demikian, ia tidak berpaling ke televisi atau internet untuk mencari hiburan.

10. Sertakan mereka dalam kegiatan bermanfaat.
Daftarkan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Pilihan lain adalah bekerja sama dengan para orangtua di sekolah atau lingkungan rumah. Anda bisa menyediakan aktivitas kecil-kecilan untuk mereka, misalnya, mendirikan klub membaca atau melukis.

11. Periksa teman anak.
Bukan tidak mungkin anak mendapatkan materi pornografi dari temannya. Jadi, tidak ada salahnya jika Anda cermat memilih dengan siapa ia bisa bergaul. Kalau tahu bahwa teman anak suka dengan hal-hal berbau pornografi, bicaralah dengan orangtua teman anak tersebut.

Sebagai sesama orangtua, katakan bahwa Anda menginginkan yang terbaik untuk masa depan kedua anak. Apabila cara ini tidak berhasil, jauhkan anak dari sang teman.

12. Libatkan diri dalam kegiatan akademis anak.
Cari tahu apa saja yang diajarkan dan yang sedang terjadi di sekolah. Anda bisa berbicara dengan wali kelasnya. Utarakan keprihatinan Anda tentang isu pornografi. Bekerja samalah dengannya beserta orangtua lain untuk mencegah murid-murid terekspos pada hal itu di sekolah. Contohnya, dengan memasang sistem pengaman pada komputer-komputer di sekolah.

13. Beri penjelasan secara baik-baik dan dengan tenang.
Jika anak ketahuan sedang melihat materi pornografi, jangan langsung marah. Tanyakan baik-baik alasannya. Berilah penjelasan mengapa hal itu tidak pantas untuknya.

http://dunia-panas.blogspot.com/2010/11/13-hindari-anak-dari-pornografi.html

Senin, 06 September 2010

Keseimbangan Antara Pekerjaan dan Keluarga


Judul di atas adalah sebuah judul yang nampaknya biasa-biasa saja dan sederhana, akan tetapi di dalamnya telah tersimpan pengalaman dan pengetahuan entah dari berapa banyak orang.

Adakah orang yang berani secara lantang mengatakan bahwa dirinya telah melakukan keduanya dengan baik?

Bagi sebagian besar orang, menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga adalah sebuah urusan yang luar biasa sulit. Literatur dan artikel yang relevan dengan masalah ini sudah banyak kita temui, misalnya bagaimana menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, bagaimana menyelesaikan perselisihan, bagaimana memiliki kehidupan yang stabil, berimbang dan sebagainya.

Ada orang beranggapan bahwa mengejar keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga adalah sangat penting, karena sebagian besar orang, bukan saja hanya berhasil dalam salah satunya, tetapi ada yang gagal kedua-duanya; bahkan dalam prestasi kerja, ada orang meski ia adalah seorang manager yang berhasil, namun kehidupan berkeluarga memiliki banyak masalah.
Penggabungan dan Perundingan Antara Beberapa Unsur

Untuk mengatasi masalah menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga ini, Anda tidak bisa hanya mengandalkan pendapat para pakar. Meskipun pakar memiliki cara, akan tetapi belum tentu sesuai dengan kasus Anda, karena pengalaman yang dihadapi oleh setiap individu punya sifat yang spesifik. Bila hanya sekedar belajar atau meniru pengalaman sang pakar, maka saya katakan, berhasil atau gagal adalah tergantung nasib.

Bila nasib baik, ia akan menemukan yang kebetulan sesuai untuk dirinya, dan masalah dapat teratasi; bila nasib tidak baik, selain ada kemungkinan telah memakai cara yang salah, atau bisa juga tahu tetapi tidak dapat dilaksanakannya.

Untuk mempelajari cara mengatasi kasus semacam ini, selain dengan membaca buku dan mendengar pendapat para pakar, juga masih ada satu cara lagi yakni melalui sharing dan dialog, karena dari konsep yang ber-unsur majemuk akan dapat menemukan ide/inspirasi yang berbeda.

Pada dasarnya, sebagian besar orang pasti pernah memiliki pengalaman berbicara secara mendalam dengan orang lain, tetapi biasanya tidak banyak, karena topik perbincangan sehari-hari umumnya hanyalah berupa basa basi.

Dialog yang tidak punya makna mendalam memiliki dua sebab, yaitu:

1) Topiknya sendiri tidak bermakna mendalam. Dialog yang terjadi biasanya hanya berupa tegur sapa dan saling tukar informasi yang sederhana atau bergosip.

2) Cara dan proses dialognya tidak bermakna mendalam. Pada umumnya percakapan hanya bersifat monolog ini bukanlah interaksi, karena hanya sekedar menimpali tidak mempunyai makna mendalam.

Karena itu, dialog yang bagus harus memiliki topik yang berbobot dan cara yang mendalam. Sehingga dapat meninbulkan perenungan dan menumbuhkan minat orang untuk menelusurinya lebih jauh.

Sedangkan cara yang mendalam, artinya dalam perencanaannya harus dapat mempermudah berdiskusi dengan bebas dan terbuka.

Selain itu para peserta yang tergabung dalam diskusi juga memegang peran yang tidak kalah penting. Bila peserta memiliki karakter yang bermacam-macam, maka akan lebih mudah dalam menelusuri kekurangan dan kelemahan masing-masing. Tentu saja, apabila ada peserta yang menunjukkan sikap segan/ogah-ogahan untuk mempelajarinya atau tidak ingin bergabung, maka tidak mungkin dapat terwujud suatu diskusi yang mendalam.

Contohnya ialah penyelengaraan metode kedai kopi dunia yang diadakan di kota Gao Xiong Taiwan baru-baru ini, para peserta terdiri dari direktur dan manager perusahaan, golongan professional, golongan praktisi (Wirausaha), golongan intelektual (pelajar) dan lain-lain. Di dalam kelangsungan prosesnya, lingkup diskusi bisa dioptimalkan, kebutuhan yang berbeda memperoleh pasokan yang berbeda pula.
Melampaui Tingkat Perkembangan yang Seimbang

Ketika orang dengan latar belakang berbeda saling ber-interaksi, dengan sewajarnya akan terbentuk sebuah market supply (persediaan) dan demand (permintaan), dengan demikian suatu dialog bermakna mendalam secara perlahan mulai dikembangkan, kemudian mereka masing-masing menyampaikan pandangannya sendiri.

Misalnya professor Yang dari Universitas Zhong Shan, dalam kelompok kecil mengawali sebagai berikut:

Sesuai yang saya ketahui menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga adalah sangat sulit, kebanyakan orang, hanya mampu berfokus pada salah satunya saja. Direktur yang sukses, biasanya juga adalah orang tua yang gagal.

Oleh karena keterbatasan dan pengaturan waktu, kedua hal tersebut bisa diselaraskan/diseimbangkan. Namun mungkin saja pada suatu hari lebih banyak waktu ia terserap dalam perkerjaannya dan ternyata ia merasakan hasilnya bagus. Akan tetapi justru telah kehilangan keluarga dan kebahagiaan.

Sesungguhnya, seorang manager yang berhasil boleh dibilang jumlahnya tidak banyak, sebab umumnya yang mereka kejar adalah tingkat perkembangan yang seimbang.

Ditilik dari tingkat perkembangan yang seimbang, ada yang mengatakan pengaturan waktu sangat penting. Jika ditinjau dari hubungan antara suami-istri, antara pekerjaan dan kehidupan keluarga, maka harus ada suatu kebersamaan, dimana diperlukan kedua belah pihak pengelolahannya bersama-sama.

Seorang pria bernama Qiu mengisahkan, pengejarannya terhadap pekerjaan adalah demi meyakinkan dirinya sendiri, namun saat akhir pekan, ia pasti akan berbelanja keperluan dapur dan memasak untuk sang istri.

Drg. Su dari Gao Xiong mengatakan, antara suami istri, komunikasi antar keduanya sangat penting, untungnya, selama 20 tahun pernikahannya, mereka tidak pernah bertengkar.

Drg. Su mengatakan, Kegembiraan dan kesedihan silih berganti, antara suami istri, apapun boleh diperbincangkan. Masalah anak, prinsip utamanya ialah, sebisa mungkin menemani mereka, perkembangan hidup manusia tidak dipastikan harus bagaimana, bisa dijalani dengan relatif lancar sudah bagus.

Apabila kita hendak menaikkan level keseimbangan, dengan hanya mengatur waktu tidaklah cukup, karena bagaimanapun waktu adalah sebuah faktor terbatas. Bila hanya membagi pekerjaan dengan baik, lantas mengabaikan pemfokusan pada dua hal besar ini, maka akan membutuhkan waktu yang sangat panjang baru bisa menunjukkan efeknya.

Banyak orang, menunggu belum sampai sukses datang, bahkan sudah menghabiskan energi dan spiritnya sendiri.

Ketidakseimbanan antara pekerjaan dan keluarga terjerumus dalam kondisi, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, prestasi pekerjaan semakin baik, keharmonisan di keluarga semakin buruk, pada akhirnya terjerumus semakin mendalam dan tak mampu melepaskan diri darinya.

Lebih celakanya lagi ialah, di saat keharmonisan keluarga tidak sesuai yang diinginkan, keluarga akan mengeluarkan alarm yang akan membuat orang memilih untuk melepas prestasi kerjanya, untuk balik meningkatkan keharmonisan keluarga kembali, namun yang terjadi malah sebaliknya, prestasi pekerjaan menjadi buruk, dari pihak perusahaan sama saja akan mengeluarkan alarm yang akan menarik kembali perhatian Anda.
Memelihara Standar Nilai Bersama

Dibicarakan sampai di situ, ada orang yang sudah menyimpulkan bahwa tingkat yang seimbang saja tidak cukup, anggota keluarga harus saling meningkat bersama-sama, saling me-ningkatkan level kehidupan masing-masing, baru bisa melihat lebih jauh.

Liu Zhubao mengatakan, Antar suami-istri dan antar anak-anak, saling membangun pemikiran sentral, memiliki topik pembicaraan yang sama dengan anak kecil, di bawah konsepsi nilai yang sama, harus saling memahami.

Ketika suami, isteri dan anak dididik dengan konsepsi nilai yang benar, masing-masing akan mempertimbangkan pihak lain, meski menjumpai kontradiksi, masih bisa menggunakan prinsip sehati, dipertimbangkan dengan sudut pandang yang berbeda. Pendidikan moral anak juga sudah ada, pertikaian antar sesama anggota keluarga juga berkurang, meski ada pertikaian, masing-masing bisa mengoreksi diri apa gerangan yang masih kurang, bukannya seperti orang kebanyakan yang hanya akan mencela atau menyalahkan orang lain.

Mengasuh anak bagi orang tua, tentu saja tak akan menggunakan metode keras, melainkan bagaikan kawan yang bisa berbagi-rasa dan berdialog. Itulah sebabnya, pembentukan konsepsi nilai bersama bagaikan tujuan tertinggi dari kehidupan, saling berbagi rasa tentang tujuan tertinggi, sasaran yang seragam, sama dengan menapaki perjalanan heroik dalam kehidupan, di dalam perjalanan meskipun ada kegembiraan, kemarahan dan kesedihan, namun masing-masing bisa saling menopang dan memapah untuk meneruskan perjalanan bersama.

Jalan yang seperti ini baru bisa dijalani dengan lebih jauh, lebih panjang, bukankah demikian? (Li Shizhen/whs)

http://www.erabaru.net/featured-news/48-hot-update/17173-keseimbangan-antara-pekerjaan-dan-keluarga

Selasa, 03 Agustus 2010

Membimbing Anak Bersyukur dan Menyayangi Berkah


Jika membangun sebuah rumah diumpamakan sebagai pendidikan dalam keluarga, kasih sayang dari ayah dan ibu adalah landasan dasarnya, isi dari pendidikan rumah tangga itu sebagai rumah itu sendiri. Landasan kasih itu harus murni kokoh dan stabil, maka rumah itu baru bisa kuat.

Banyak sekali orang tua walaupun mereka sangat menyayangi anak-anak mereka, tetapi telah mengabaikan bahwa kasih sayang memiliki tanggung jawab, mengasihi anak juga harus memberi bimbingan kepada mereka untuk bertanggung jawab, mengerti tata karma serta pengorbanan.

Perkembangan kehidupan juga membutuhkan norma-norma dan kasih yang diperagakan, baru bisa mendapatkan nutrisi yang benar-benar memberi gizi kepada kehidupan, baru bisa tumbuh dengan kokoh dan kekar.

Tujuan dari pendidikan kehidupan adalah membimbing kita berpikir panjang tentang makna dan nilai hidup diri sendiri yang khas, dimulai dari memastikan dan mencintai diri sendiri, selanjutnya mencintai orang lain, mencintai lingkungan, lalu mencintai alam. Cinta, juga perlu dipelajari, ketika kita masih kecil di dalam kebutuhan untuk dicintai serta diperhatikan kita belajar bagaimana mencintai, bersyukur dan menyayangi.

Sekarang saya mengutarakan beberapa point pengalaman perseorangan dalam mendidik anak, untuk saling mendorong dan saling mengingatkan bersama-sama dengan pembaca.

Pertama-tama, memberi teladan lebih penting dari pada ajaran, dan memberikan pengalaman yang pernah dialami kepada anak, sungguh amat penting sekali. Lebih-lebih disaat anak masih dibawah umur sekolah yang kemampuan menirukan dan pembentukkannya sangat kuat, kita orang dewasa bagaimana menyampaikan rasa kasih sayang dan bersyukur, bagaimana anak kita akan bisa bersikap baik terhadap orang lain serta dalam melakukan segala hal. Selain itu dibutuhkan ketulusan hati dalam mendampingi dan saling berbagi.

Dibawah ini saya utarakan contoh diri saya sendiri, saling mengisi dengan anak, untuk berbagi bersama dengan pembaca.

Anak sulung saya ketika di TK A hendak memasuki TK B, sepatu olah raga yang dia pilih sendiri berlubang kecil. Kemudian saya bertanya kepadanya apakah sepatu itu ingin dibuang dan diganti dengan yang baru. Serta menjelaskan jika sekarang dibuang dan diganti dengan yang baru maka harus mengeluarkan uang untuk membeli yang baru, jikalau masih bisa digunakan, maka uang yang harus dikeluarkan juga akan lebih lama baru dibutuhkan. Lalu menanyakan apakah dia masih menyukai sepasang sepatu itu.

Dia menjawab sangat menyukai sepatu itu, dan akan menunggu sebelah yang lain rusak baru akan diganti.

Saya bertanya kepadanya, “Tetapi apakah teman-temanmu tidak akan menertawai sepatumu yang rusak, jika begitu lalu bagaimana?”

Dia berkata tidak ada masalah, lalu menirukan perkataan saya bersiap-siap menjawab pertanyaan dari teman sekolahnya, dan sekali lagi menegaskan bahwa dia sangat menyukai sepasang sepatu ini.

Keesokan harinya, benar-benar ada seorang teman karibnya yang sangat memperhatikan dirinya bertanya, “Hei lihat, sepatumu telah rusak.”(percayalah kepada anak kecil, mereka menaruh perhatian dengan tulus dan polos, sama sekali tidak bermaksud mengejek, takut ditertawakan orang merupakan kekhawatiran dari orang dewasa, teman kecil itu sama sekali bukan menertawakan melainkan hanya menaruh perhatian, hanya mengingatkan saja).

Lewat satu bulan kemudian, sepatu itu lubangnya makin besar. Saya berkata, “Sepatu ini sudah dipakai sangat lama sekali, dengan susah payah dan sangat bertanggung jawab dia telah melindungi kakimu, sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi, tidakkah kamu merasa harus mengatakan selamat tinggal kepada mereka (sepatu)?

Dia mengangguk-anggukkan kepala. Dengan sikap yang sangat berhati-hati saya bungkus sepasang sepatu yang rusak itu, anak saya berkata, “Terima kasih sepatu, kamu telah membiarkan saya mengenakanmu untuk sekian lama, selamat tinggal!”

Selain itu, saya paling senang berbaring diatas ranjang bersama dengan kedua anak saya dan giliran saya untuk “memuji kebaikan” dan “Menyatakan rasa bersyukur”. Saya berterima kasih kepada mereka kakak beradik yang sangat perhatian, hemat, memiliki hati yang kasih, menggambar dengan sangat bagus sekali…..

Mereka kemudian akan berebut mengatakan, “Mama sangat rajin, mengajar dengan sungguh-sungguh, pandai bercerita, terima kasih atas makanan yang dihidangkan oleh mama, segala pekerjaan rumah tangga, dan masih mau menemani kami belajar…..”

Ketika anak sulung saya mengatakan bahwa dia sangat rindu dengan neneknya, teringat nenek menimangnya untuk tidur….

Ketika mereka menyapa tetangga dengan sangat ramah dan sopan….

Ketika kakak-kakak misan mereka memberikan pakaian bekas, lalu mengupapkan terima kasih….

Ketika mereka mandi menggunakan samphoo terlalu banyak, dan meminta maaf kepada ikan-ikan yang ada di sungai karena akan membuat ikan-ikan itu terlalu banyak minum busa.

Melihat semua ini saya merasa lega, anak-anak telah memahami sepenuhnya arti bersyukur dan menyayangi berkah

Sabtu, 17 Juli 2010

Teladan Mendidik Anak yang Baik


Qi Jiguang

Qi Jiguang
Cerita tentang seorang militer China, Jendral Qi Jiguang (戚繼光) dari dinasti Ming yang telah dididik sejak kecil oleh ayahnya agar tidak hidup didalam kemewahan dan kesombongan.

Qi Jiguang (12–11-1528 sampai 5–1–1588) adalah pahlawan nasional dalam masa dinasti Ming. Dia sangat dikenang atas keberanian dan kepemimpinan dalam membasmi bajak laut Jepang di sepanjang pantai timur China dan juga bantuannya dalam pembangunan Tembok Besar China. Menurut catatan sejarah, ayahnya adalah Qi Jingtong (戚景通). Beliau adalah seorang yang jujur dan adil. Dia telah menanamkan kepada anaknya seperangkat pemahaman moral yang kokoh. Setelah ayahnya meninggal, Qi Jiguang mengambil alih komando atas Dengzhou pada usia 17 tahun.

Qi Jingtong agak telat punya anak. Pada usia beliau yang ke 56 lahirlah Qi Jiguang. Putranya ini amat disayangi. Qi Jingtong sendirilah yang mengajar Jiguang membaca buku dan seni bela diri. Jingtong juga sangat keras dalam hal perkembangan karakter dan perikaku moral Jiguang.

Suatu hari, ketika itu dia berusia 13 tahun, Jiguang mencoba sepasang sepatu sutera yang mewah dan naksir pada sepatu tsb. Bersepatu sutera tsb. dia berjalan bolak-balik di halaman rumah dengan gaya dan menikmatinya berlama-lama. Hal ini kemudian terlihat oleh ayahnya. Beliau kemudian memanggilnya untuk belajar dan memperingatkan Jiguang dengan marah, ‘Sekali kamu memakai sepatu mewah, akan muncul naluri ingin memakai baju mewah. Sekali kamu memakai baju mewah, akan muncul naluri akan makanan enak. Pada usia yang muda begini kamu telah mendambakan pakaian mewah dan makanan enak, selanjutnya kamu akan tidak puas terhadap apapun, tamak. Saat kamu besar nanti kamu akan mengejar pakaian mewah dan makanan enak. Bila kamu adalah seorang komandan, bahkan mungkin kamu akan menggelapkan gaji tentara. Bila kamu terus-terusan begini, kamu akan sulit berhasil dalam perbuatan yang menghendaki kejujuran’.

Jingtong kemudian mengetahui bahwa sepatu sutera tsb adalah hadiah dari mendiang kakeknya, walaupun demikian dia menyuruh Jiguang menanggalkan sepatu tsb dan merobeknya. Tujuan Jingtong melakukan ini adalah untuk mencegah Jiguang membentuk tabiat buruk dalam hal memanjakan diri dengan kemewahan.

Keluarga Qi punya selusin topi jerami yang telah lama tergeletak dan rusak bertahun-tahun. Jingtong menyewa beberapa tukang topi untuk memperbaiki topi tsb. Dalam rangka menyambut kunjungan pejabat kerajaan dan agar punya tempat yang representative untuk itu, Jingtong menyuruh tukang kayu memasang 4 pintu berukiran di ruangan utama dan menyuruh Jiguang mengawasi para tukang kayu dalam pemasangan pintu tsb.

Para tukang kayu menyarankan keluarga Qi memasang perlengkapan rumah yang terkenal dan mahal, dengan demikian mereka merasa tidaklah cocok bila cuma memasang 4 pintu berukir saja. Para pekerja tsb berbicara empat mata dengan Jiguang, ‘Keluargamu adalah turunan jenderal besar. Dengan adanya tambahan perlengkapan rumah yang demikian luks, maka seluruh permukaan pintu tambahan tsb juga harus dihias dengan ukiran bunga timbul, total 12 bunga. Dengan demikian baru sesuai dengan reputasi keluarga kalian’. Jiguang berpikir bahwa saran mereka masuk akal juga dan menyampaikan hal tsb. kepada ayahnya.

Jingtong menegur putranya dengan keras karena idenya yang berapi-api dan tak bermanfaat. Dia memperingatkan Jiguang, ‘Jika kamu ingin pamer, kamu tidak akan mampu mengerjakan hal besar kelak kamu besar nanti’. Jiguang memahami kritikan ayahnya dan menyuruh para pekerja memasang 4 pintu seperti rencana ayahnya semula.

Jingtong juga mengajarkan putranya bahwa belajar kesusastraan dan berlatih seni beladiri bukan untuk mengejar nama dan keberuntungan, tetapi untuk mengabdi kepada negara dan rakyat, menanamkan tingkah laku moral seperti kesetiaan, sikap baik pada orang tua, anti suap dan sopan-santun.

Dibawah arahan ayahnya, melalui perkataan dan perbuatan, Jiguang menjadi ‘berisi’ : sederhana, rendah hati dan apa adanya. Dia dengan rajin dan penuh konsentrasi belajar kesusastraan dan berlatih seni beladiri. Dikemudian hari dia menjadi jenderal kenamaan dan membela negaranya melawan invasi asing serta terkenal sebagai ahli strategi militer jempolan dalam dinasti Ming. Warisannya telah menjadi bagian dari sejarah.

Suka pamer, terbenam dalam pengejaran materi, kekayaan, kekuasaan, pencapaian dan kedudukan agar dipuji dan dipuja adalah ciri dari kesombongan. Akar dari kesombongan adalah kecongkakan. Sifat ini akan menghancurkan dengan perlahan cita-cita mulia seseorang dan menyebabkan seseorang selalu tidak merasa cukup. Bila seseorang telah menjadi budak dari ilusi kemewahan dan berusaha mengapainya, bahkan merugikan orang lain, itu adalah hal benar-benar menyedihkan.

Dengan status dan reputasinya, keluarga Jiguang dapat saja memberikan dan memenuhi semua kesukaan dan kemewahan kepada Jiguang, namun ayahnya tidak mengharapkan Jiguang diasuh untuk mengejar hal-hal tsb. Fokus Jingtong dalam mendidik Jiguang adalah karakter dan kejujuran moral.

Seringkali banyak orang tua mempunyai hasrat memberikan kepada anak mereka hal yang terbaik dalam segala hal dalam dunia modern yang sangat materialistik saat ini. Sudah seharusnya mereka mengambil pelajaran dari cara Jingtong mendidik Jiguang. Mengajar anak-anak mereka bahwa keberhasilan dalam hidup tidak ditentukan dari pakaian, sepatu atau apa yang kita kenakan atau dari apa yang kita miliki, namun dari refleksi karakter yang kuat dan nilai-nilai moral.

Pasangan Pemulung: Mendidik Anak Agar Tahu Balas Budi


Di dalam keheningan, dua orang tua memakan nasi bubur yang dimasak dengan sayur dan beras kasar yang tidak bergizi, setetes demi setetes air mata jatuh ke dalam mangkuk nasinya
Di sebuah desa kelompok Chunhua 4 Kecamatan Guixi, Kabupaten Dianjiang berdiam keluarga bermarga Yang. Sang suami bernama Yang Mingda, 63 tahun. Istrinya mengidap penyakit jantung bawaan dan menggantungkan kehidupan keluarganya dengan menjadi pemulung dan menjual sayuran serta menerima bantuan dari para dermawan sampai akhirnya berhasil menyekolahkan 4 orang anaknya di perguruan tinggi.

Selama 10 tahun ini, para dermawan yang pernah membantu mereka, selalu dikenang oleh pasangan Yang. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk membalas budi baik, entah itu hanya dengan memberikan seikat sayuran atau menyumbangkan tenaganya.

Pak tua Yang mengatakan, "Sebagai seorang manusia harus tahu membalas budi, kecuali sudah mati..." Kini, pak tua yang telah berusia lanjut, mendidik semua anak-anaknya dengan prinsip tersebut.
Biayai 4 Mahasiswa

Menurut berita di Harian Malam Chongqing, pak tua Yang tadinya adalah warga Desa Gangjia, Kabupaten Dianjiang. 10 tahun lalu, rumah mereka roboh, karena tidak memiliki uang untuk memperbaiki rumah, mereka terpaksa pindah ke Kelompok 4 Chunhua, yang masih memiliki banyak lahan kosong.

Mereka menanam sayur untuk menghidupi 4 orang anaknya, ini adalah alasan utama pak tua Yang meninggalkan kampung halamannya.

"Waktu itu sudah disepakati, biaya sewa rumah adalah 100 Yuan (sekitar Rp 150 ribu) pertahun, tapi keluarga Huang yang mengasihani kami, akhirnya tidak bersedia menerimanya."

Pak tua Yang mengatakan, keluarga Huang adalah keluarga dermawan pertama yang mereka temui di rantau orang. Pak tua Yang menyewa sekitar 10 hektar lahan dari 4 keluarga di desa itu untuk bercocok tanam sayuran, dengan imbalan menyetorkan bahan pangan bagi keempat keluarga tersebut.

Pendapatan tahunan dari menjual sayuran tidak sampai 2.000 Yuan (sekitar Rp 3 juta), demi membiayai ke-4 anak mereka, kedua suami istri terpaksa harus bekerja sambilan sebagai pemulung untuk membiayai mereka.

Sudah tak terhitung berapa kali sang istri, Ren Shulan, yang mengidap penyakit jantung bawaan itu pingsan di atas tumpukan sampah. Setiap kali nyawanya berhasil diselamatkan, namun dengan terpaksa ia kembali membopong karung goninya dan melanjutkan pekerjaan mengais sampah.

Bagaimanapun mereka berusaha keras mencari pendapatan, tetap saja semua anak-anaknya masih kelaparan. Putri kembarnya menetap di asrama sekolah, setiap kali makan mereka hanya memesan 1 porsi sayuran, untuk dimakan berdua. Putra mereka yang sekolah di SMU setiap hari hanya makan 1 kali.

Prestasi keempat anaknya sangat baik, mereka sering berpikir untuk berhenti sekolah dan bekerja di luar, namun tidak diperbolehkan oleh pak tua Yang. "Saya sendiri tidak berpendidikan, sehingga mengakibatkan anak-anak harus menderita seperti ini," katanya.

2004 lalu, putra sulung yakni Yang Tianwei berhasil diterima di Institut Teknologi Maoming di Guangdong. Pada 2005, putra keduanya Yang Tianzheng berhasil diterima di Universitas Pertanian Huanan, dan sekarang sedang menyelesaikan gelar master. Pada 2007, kedua putri kembarnya diterima di Universitas Xinan dan Universitas Teknologi Chongqing.

Saat liburan, biasanya anak -anak tidak pulang ke rumah agar dapat menghemat biaya perjalanan, mereka lalu bekerja di kota untuk mengumpulkan uang guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Anak-anak keluarga Yang sangat cerdas, dan mengerti keadaan keluarganya. Pak tua Yang sangat senang karenanya, sehingga mampu memenuhi biaya sekolah dan biaya hidup yang mencapai 40.000 Yuan (Rp 60 juta) per tahunnya, mereka hanya bisa mati-matian memulung.
Idap Penyakit Akut, tak Lupa Balas Budi

Saat tahun baru Imlek ini, pak tua Yang divonis mengidap penyumbatan jantung koroner. Dokter menganjurkan dilakukan operasi untuk memasang alat bantu jantung, yang membutuhkan dana sekitar 80.000 Yuan (Rp 120 juta), disembunyikannya surat pemberitahuannya dan diam-diam pergi dari rumah sakit.

25 Mei lalu, ketika ia pulang dari memulung sambil memanggul karung goninya, seketika itu juga ia terjerembab di atas ranjang. Puluhan botol bekas air mineral di dalam karung goni itu pun berserakan di lantai.

Di pojok desa yang kosong dan tua itu, hanya menetap keluarga Yang saja. Lahan itu merupakan area industri yang akan direnovasi, awal Juni ini, semua penduduk harus meninggalkan lahan itu. Keluarga lain sudah pindah semua, hanya tersisa keluarga pak tua Yang yang tidak bisa ke mana-mana karena tidak punya tempat tinggal lain, bahkan rumah yang sudah reot itu pun bukan milik mereka, adalah milik seorang dermawan yang meminjamkannya pada mereka selama 10 tahun.

Hari itu menantu pemilik rumah, Yang Tianrong, tiba-tiba menerobos masuk ke rumah itu hendak meminta tolong pada pak tua Yang yang menguasai ilmu akupuntur, sambil berteriak, "Pak tua Yang, mertua saya kumat lagi, tolong..." Kata-katanya terhenti sampai di situ begitu melihat pak tua Yang terbaring tak berdaya di ranjang.

Pak tua Yang segera terduduk di ranjang, tanpa berkata sepatah pun, ia segera pergi ke rumah baru pemilik rumah yang berjarak 1 kilometer dari situ. Pulang dari rumah keluarga Huang, hari sudah malam. "Hanya penyakit lama, saya tusuk beberapa jarum sudah tidak ada masalah. Mereka memberi saya uang, saya tidak menerimanya."

Pak tua Yang berbaring kembali di ranjang sambil berkata pada istrinya, "Keluarga mereka telah banyak menolong kami, 10 tahun lamanya kami menempati rumah ini tanpa dipungut uang sewa, mana mungkin kami menerima uang dari mereka lagi. Saya takut tidak akan hidup lama lagi, begitu banyak dermawan yang telah membantu kami, tidak akan habis saya membalas budi baik mereka satu persatu...", kata pak tua Yang sambil memejamkan mata.

Di tengah kebisuan, air mata kedua orang tua menetes di atas mangkuk bubur nasi tak bergizi yang dimasak dengan sawi putih . Makanan seperti itu, mereka makan selama 2 bulan penuh.
Balas Budi Didikan Keluarga Yang

"Balas budi bukanlah beban." kata pak tua Yang, ada hal yang sudah seharusnya dilakukan, ada hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan.

Sayuran di kebun yang agak baik, tidak rela dimakan oleh pak tua Yang dan istrinya, lebih baik mereka jual untuk membiayai sekolah anak-anak, mereka hanya makan sisa sayuran yang diberikan orang lain kepada mereka.

"Meskipun kami ini miskin, namun harus miskin dengan memiliki akal budi, harus tahu balas budi." Begitulah pak tua Yang sering mendidik keempat anak-anaknya.

"Orang tua kami adalah orang tua yang paling mulia di atas dunia ini." Si sulung Yang Tianwei berkata, sewaktu masih kecil, ayah ibunya sering membawa keempat orang anak ke taman, duduk di sebuah bangku panjang, dan mengajarkan didikan itu pada mereka di alam terbuka, "Kalian harus ingat, jadilah orang yang berhati nurani, harus selalu mengingat kebaikan orang lain!"

"Teman-teman di asrama sangat baik pada saya, makanan apa saja yang enak, mereka selalu membaginya. Saya tidak mampu membalas kebaikan mereka, hanya dapat membantu mereka menimba air, memasak nasi," begitu kisah putra kedua, Yang Tianzheng, dengan demikian ia akan merasa lebih baik.

2006 lalu, putra sulung Yang Tianwei lulus dari perguruan tinggi dan bekerja di sebuah perusahaan di Guangdong. Baru saja beban keluarga itu agak longgar, tidak disangka perusahaan tersebut bangkrut dalam waktu 6 bulan, ia terpaksa harus kembali ke Chongqing, dan sampai sekarang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya bisa bertahan saja menghidupi dirinya sendiri. Sebagai putra sulung, ia merasa sangat bersalah karena tidak dapat membantu kedua orang tuanya dalam menopang keuangan keluarga.

Pak tua Yang tidak berani mengatakan tentang penyakitnya pada anak-anaknya, karena khawatir akan mempengaruhi pendidikan mereka. "Setiap harinya, mungkin saja adalah hari terakhir dalam hidup saya."

Namun pak tua Yang sama sekali tidak sempat memikirkan hal ini, ia hanya ingin di masa hidupnya membangun suatu keluarga bagi anak dan istrinya, melunasi semua hutangnya yang berjumlah 60.000 Yuan (Rp 90 juta), dan berusaha sekuat tenaga membalas budi baik para dermawan yang pernah membantu mereka. (Epochtimes.co.id/whs)

Jumat, 16 Juli 2010

Pengajaran Mendidik Anak


Pengajaran Mendidik Anak (Xun Meng Wen) adalah salah satu liteatur Tiongkok kuno tentang bagaimana cara mendidik anak, mengajarkan etika, aturan, mengolah watak belas kasih serta menanamkan kebajikan di dalam masyarakat.

Buku ini aslinya ditulis oleh seorang cendikiawan bernama Li Yuxiu (1662-1722) pada masa pemerintahan Kaisar Kang Xi (1654-1722), seorang raja pada Dinasti Qing (1636-1912). Buku ini kemudian diperbaiki oleh Jia Cunren pada Dinasti Qing, dan diberi judul “Aturan Siswa”.

Buku ini mengajarkan aturan-aturan secara mendetail dan merupakan buku nomor dua yang paling berpengaruh untuk anak-anak (ajaran yang berpengaruh nomor satu adalah buku San Zi Jing*). Buku “Aturan Siswa” disusun menjadi tiga bagian sederhana yang meliputi ajaran untuk mendidik anak-anak bersikap baik, patuh dan hormat kepada orang tua, kewaspadaan, kejujuran, kesabaran, dan toleransi.

Tiongkok pernah dikenal sebagai bangsa yang beretika dan bermoral tinggi. Namun dalam sejarahnya, saat aliran asing yaitu komunis dari luar negeri masuk dan membangun partai serta meracuni orang-orang Tionghoa, bahkan menggagas revolusi besar kebudayaan, semua ajaran spiritual dan moral orang Tionghoa diinjak-injak dan dihancurkan. Oleh karenanya etika tradisional dan moralitas masyarakat Tionghoa di daratan RRC telah mengalami kemerosotan drastis. Di masyarakat China sekarang, orang dewasa hanya memahami sedikit pengetahuan tentang akhlak yang bahkan anak-anak kecil di zaman lampau telah memahaminya secara keseluruhan.

Karenanya, penulis dari tiga bagian rangkaian ini sementara menafsirkan sudut pandang yang terpilih dari Pengajaran Mendidik Anak, agar bermanfaat bagi masyarakat.

Bagian I:

Tao* bagai kakak adalah sikap bersahabat,

Tao bagi adik adalah rasa hormat.

Kerukunan antara saudara,

Adalah cinta bagi orangtua.

Memandang uang dan kepemilikan dengan ringan,

Bagaimana bisa timbul kebencian.

Bila selalu berkata dengan sabar,

Kemarahan akan lenyap dengan sendirinya.



Saat makan, minum, duduk, atau berjalan

Yang tua didahulukan,

Yang muda mengikuti setelahnya.

Saat orang yang lebih tua mencari seseorang,

Yang muda harus membantu menemukannya,

Bila yang dicari tidak ada,

Yang muda harus menggantikannya.



Jangan memanggil orang yang lebih tua dengan memanggil namanya.

Jangan memamerkan kemampuan-kemampuan didepan mereka

Saat orang yang lebih tua berdiri

Yang muda tidak boleh duduk.

Ia boleh duduk, saat orang yang lebih tua memintanya.

Saat berbicara dengan orang yang lebih tua,

Gunakan nada suara yang tenang,

Tetapi jangan terlalu rendah suaranya untuk didengar.

Itu tidak sesuai.

Datanglah dengan cepat,

Mundurlah perlahan.

Saat menjawab pertanyaan,

Jangan kehilangan kontak mata.



Berjalanlah dengan mantap.

Berdirilah dengan tegak.

Sambutan hormat dengan membungkukkan badan ke dalam.

Ucapan terima kasih haruslah dengan penuh hormat.

Jangan berdiri di ambang pintu.

Jangan bersandar pada benda-benda

Jangan duduk dengan kaki terbuka

Jangan menggoyang-goyangkan kaki.


Kapan pun berbicara


Utamakan kejujuran diatas segalanya.


Ucapan bohong dan menipu adalah tidak terpuji. 


Berucap sedikit lebih baik daripada banyak. 


Pastikan kata yang terucap keluar adalah lurus. 


Hindari membual dan kata-kata yang dibuat-buat. 


Perkataan yang sulit dimengerti dan tidak tulus
 dan ucapan bohong


adalah kurang terpelajar


adalah berdusta


Jangan mudah mengatakan sesuatu


yang tidak kamu lihat


atau berbicara sesuatu


yang kamu tidak tahu detailnya.



Tingkatkan moralitas


Kembangkan kebaikan


Saat jatuh tertinggal


secara berangsur-angsur bangkit


Secepatnya mencari kedalam diri


saat melihat sikap yang buruk.


Menemukan hikmah dari setiap masalah


dan bekerja keras untuk mengatasinya.


Jangan bersedih
 apabila milik sendiri


tidak sebaik orang lain


Saat seseorang marah saat dikritik,


dan merasa senang saat dipuji,


Teman yang baik akan pergi.


Teman yang buruk akan datang.


Saat seseorang memandang hambar pujian


dan berterimakasih saat dikritik

Teman yang lurus dan baik akan dengan sendirinya datang.

Kesalahan yang tak disengaja


merupakan kekhilafan.

Kesalahan yang disengaja


merupakan ketidakjujuran


Bila seseorang mengakui dan memperbaiki kesalahannya,


ia akan semakin jarang berbuat salah dan perbuatannya semakin lurus.


Bila seseorang berusaha menutupi kesalahannya.


Satu kesalahan lagi telah dibuatnya.

Kepada semua makhluk di atas dunia,
Kita harus menghargai sebagai keluarga besar.
Langit melindungi kita bersama,
Dan bumi mendukung semua umat manusia.
Orang yang melakukan hal baik,
Adalah pasti memiliki sifat baik.
Perbuatan baik membawa rasa hormat;
Wajah tampan tidak membuat orang terhormat.
Orang-orang dengan bakat yang luar biasa,
Berhak mendapatkan martabat mereka.
Prestasi adalah apa yang kita kagumi;
Berlagak tidak akan mendapatkan rasa hormat siapapun.
Jangan gunakan untuk keuntungan pribadi,
Bakat dan kemampuan istimewa yang ada pada diri sendiri.
Terhadap kemampuan yang dimiliki orang lain,
Tidak boleh iri atau mencemooh.

Meskipun Anda mungkin tahu kesalahan seseorang,
Tidaklah sopan untuk berbicara tentang mereka.
Urusan pribadi orang lain,
Seharusnya tidak menjadi pokok pembicaraan.
Memuji kebaikan orang lain,
Merupakan perbuatan yang saleh.
Ketika orang lain mendengar hal baik dari orang-orang,
Mereka akan mau menirunya.
Berbicara tentang kekurangan orang lain,
Adalah membuat karma dan kesalahan.
Ketika fitnah jauh melampaui alasan,
Pasti mendapat ganjaran.
Kita mengembangkan kebajikan bersama,
Dengan mendorong satu sama lain menuju kebaikan.
Jika kita tidak mengontrol kebiasaan buruk diri sendiri,
Kita semua akan menyimpang dari jalan.

Seperti hal-hal yang Anda berikan dan dapatkan,
Nilai mereka akan berbeda;
Anda harus jelas.
Pastikan jumlah yang Anda berikan,
Lebih besar daripada apa yang Anda terima.
Jangan hanya menyuruh orang lain,
Sebuah pekerjaan yang Anda sendiri tidak akan melakukannya.
Pertama bertanya, "Apakah aku akan bersedia?"
Jika tidak, jangan dilakukan.
Kebaikan harus dikembalikan,
Biarkan permusuhan memudar.
Dendam terlupakan adalah yang terbaik,
Dengan peningkatan kebaikan setiap hari.

Cara Leluhur Tiongkok Mendidik Anak


Tiongkok jaman dahulu adalah sebuah peradaban kuno dengan sejarah 5.000 tahun. Orang Tionghoa dulu terkenal di seluruh dunia dalam hal "pendidikan di rumah." Mereka mendidik anak-anaknya untuk berhasil dalam "mencapai kehidupan keluarga yang sehat, mengatur/memerintah negara, dan menaklukkan musuh." Untuk semua itu seseorang pertama-tama harus berkultivasi meningkatkan karakter moral dan kebajikan. Kebijaksanaan kuno yang demikian dibentuk oleh pengalaman dan ternyata menjadi sangat berharga bagi generasi mendatang.
Zhuge Liang mendidik Anaknya untuk memiliki "Ambisi besar dan mencapai tujuan"

Zhuge Liang (181-234 M) adalah seorang politikus terkenal dan pengatur strategi militer. Dia mewujudkan kebajikan dengan kesetiaan dan kebijaksanaan. Dia mengorbankan dirinya untuk melayani negara dan rakyat, bekerja tanpa pamrih untuk kepentingan bersama, dan menjadi panutan bagi generasi mendatang. Dia mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi mulia.


Diusia 54 tahun, Zhuge Liang menulis sebuah buku populer, “Petunjuk untuk Anak-anakku”, dan diperuntukan kepada anak laki-lakinya yang berumur delapan tahun, Zhuge Chan. Buku tersebut adalah ringkasan dari kehidupan Zhuge Liang dan pengalaman-pengalamannya, serta daftar tanggung jawab yang harus dilakukan oleh anak-anaknya. Dalam buku ini, ia meminta anak-anaknya untuk tetap menjaga ketenangan jiwa, terus mengembangkan diri, dan introspeksi diri.

Dia mengatakan bahwa untuk mencapai karakter yang mulia dan integritas moral, seseorang harus bersikap sederhana. Jika hati seseorang tidak terbebas dari keinginan, seseorang tidak dapat dengan jelas mengidentifikasi tujuan-tujuan dalam hidupnya, dan jika pikiran seseorang tidak bisa tenang, orang tidak dapat mencapai hal-hal besar. Untuk menyadari tujuan seseorang, seseorang harus terus menerus mencari pengetahuan. Untuk mendapatkan kebijaksanaan sejati, orang perlu kedamaian dan keuletan, dengan demikian baru bisa mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Zhuge Liang mempunyai harapan besar terhadap anak-anaknya. Anak-anaknya tidak punya hasrat duniawi, setia mengabdi pada negara, dan membuat kontribusi besar kepada masyarakat dan bangsa. "Kedamaian" dan "kemampuan untuk mencapai cita-cita tinggi" adalah hasil dari kultivasi dan peningkatan moralitas mereka.
Ms Kou mengajarkan anak-anaknya untuk mengembangkan karakter moral mereka untuk Melayani Rakyat

Kou Zhun (961-1023 M) adalah seorang perdana menteri pada masa Dinasti Song Utara. Dia tegas, jujur, dan bertanggung jawab untuk suksesnya keadilan istana. Oleh karena itu, Kaisar makin percaya padanya.

Ayah Kou Zhun meninggal ketika ia masih sangat muda. Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan ibunya menopang kebutuhan keluarga dengan menenun kain katun. Ibunya sering terkantuk-kantuk sampai larut malam ketika mengajar Kou Zhun untuk bekal masa depannya. Dengan begitu, Kou Zhun menjadi sangat rajin dan berhasil dalam studi. Kou Zhun pergi ke ibukota untuk mengikuti ujian nasional pelayanan sipil. Ia lulus ujian dan menjadi kandidat resmi pemerintah. Kabar baik ini sampai di kampung halamannya. Pada waktu itu, ibu Kou sakit berat. Sebelum ia meninggal, ia melukis sebuah gambar dan memberikannya kepada Nyonya Liu, seorang kerabat, dan berkata kepadanya, "Kou Zhun akan menjadi pejabat pemerintah. Jika ia berbuat salah, silakan tunjukkan kepadanya lukisan ini!"

Kou Zhun menjadi perdana menteri. Untuk merayakan ulang tahunnya, ia mempekerjakan dua rombongan teater untuk menghibur tamu-tamunya. Nyonya Liu berpikir itu adalah kesempatan yang tepat untuk menyerahkan lukisan Kou Zhun. Kou Zhun mengamati lukisan tersebut yang diberi judul "Pendidikan untuk anakku bagaimana belajar walaupun miskin" dan membaca puisi yang ditulis pada lukisan itu: "Kamu belajar dengan tekun di bawah cahaya lilin. Oleh karena itu, ibu berharap bahwa kamu melayani orang dengan baik. Ibu mengajar kamu untuk menjadi pekerja keras dan hemat, jadi jangan lupa bahwa kamu pernah miskin saat kamu telah menjadi makmur. " Inilah yang sebenarnya ibu Kou kehendaki. Kou Zhun membacanya berulang-ulang dan air mata memenuhi matanya. Dia segera membatalkan perayaan ulang tahun. Selama-lamanya, dia menjalankan pengendalian diri dan memikirkan orang lain. Dia tidak memihak dan tanpa pamrih, dan menjadi terkenal sebagai perdana menteri yang bijaksana pada masa Dinasti Song.
Xu Mian bersumpah akan meninggalkan Reputasi tanpa cela bagi Para ahli warisnya

Xu Mian (466-535 M) adalah seorang politikus dan pejabat yang bijaksana selama Dinasti Liang. Sepanjang hidupnya, meskipun ia memegang posisi tinggi di istana kekaisaran, ia sangat disiplin dengan dirinya sendiri, adil dalam berurusan dengan orang lain, berhati-hati, hemat, tidak korupsi, dan tidak mencari keuntungan pribadi. Dia memberikan sebagian besar gajinya untuk keluarga miskin, teman, dan masyarakat umum, membiarkan dirinya tanpa tabungan. Rekan-rekan kerja dan teman-teman lamanya menyarankan padanya membeli properti untuk ahli waris, dan dia menjawab, "Orang lain mungkin meninggalkan harta kepada ahli waris mereka, tapi aku akan meninggalkan reputasi saya yang bersih. Jika cucu saya yang berbudi luhur dan mempunyai kecakapan, maka mereka akan mempunyai kekayaan sendiri. Jika mereka tidak mempunyai kecakapan, maka tidak akan dapat menolongnya bahkan jika saya meninggalkan kepada mereka kekayaan sekalipun. "


Xu Mian mengajarkan anak-anaknya untuk memperlakukan diri dengan baik dan menjaga integritas moral. Dia pernah menulis surat kepada putranya, Xu Song: "Nenek moyang kita meninggalkan kita reputasi yang bersih dan murni. Mereka tidak pernah berbicara tentang perolehan dan mengelola harta pribadi. Ada sebuah pepatah lama, 'Ini adalah nilai yang lebih besar untuk memberi cucu-cucu sebuah buku pengetahuan daripada meninggalkan mereka seember emas. " Setelah mengevaluasi dengan hati-hati kata-kata ini, saya mengerti bahwa mereka mempunyai arti yang mendalam. Meskipun saya tidak terlalu berbakat, saya punya harapan dan keinginan. Saya mengikuti kebijaksanaan pepatah kuno dan hidup dengan itu. Saya tidak akan berhenti di tengah jalan. Setelah 30 tahun dalam posisi pemerintah yang tinggi, beberapa murid saya dan teman-teman lama mendorong saya untuk memperoleh tanah dan properti disaat saya masih punya pekerjaan dan memegang kekuasaan. Tapi saya menolak untuk mempertimbangkan saran tersebut. Saya percaya bahwa kita semua akan mendapatkan keuntungan yang besar jika saya meninggalkan reputasi berharga yang tanpa cacat. Ahli waris Xu Mian menjadi orang terkenal yang berkebajikan tinggi.


Hal yang paling penting bagi orangtua menjadi teladan adalah ditetapkan oleh apa yang mereka katakan dan lakukan. Hal ini sangat jauh lebih berharga daripada memberikan anak banyak harta benda. Karena anak-anak beradaptasi dengan mudah, mendidik mereka dengan baik adalah sangat penting. Anak-anak akan menemukan prinsip-prinsip yang mereka tidak mengerti, tetapi mereka dapat belajar melalui pengalaman aktual. Oleh karena itu, penting untuk membimbing mereka dengan benar dan memimpin mereka pada jalur yang benar. Semua orang tua ingin meninggalkan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Uang dan harta, tidak peduli berapa banyak, dapat musnah dalam sekejap. Hanya kebajikan dan kebaikan yang benar-benar dapat memberi manfaat pada anak-anak. Oleh karena itu, orang tua harus berpandangan jauh dan mengajar anak-anak mereka menjadi saleh dan baik hati, untuk tetap menjaga kejernihan pikiran, agar dapat membedakan antara yang benar dan salah, dan untuk memilih jalan yang benar dalam hidupnya.

Kamis, 15 Juli 2010

Ucapan Untuk Ibu


Berkat melimpah ruahnya bunga Anyelir, bulan Mei pun jadi semarak. Hari ibu adalah hari raya yang agung, dimana seorang ibu pantas menerima nyanyian pujian dari anak dan putrinya, dimana pun adanya di seluruh dunia.

Sejak zaman dahulu kala, hampir setiap ibu di dunia adalah kepala nahkoda dalam keluarga, merawat mertua, melahirkan dan mendidik anak.

Bahkan sebagai pendorong maju dan suksesnya usaha suami, ibu selalu melaksanakan tugas dengan baik. Demi keluarga dan anak, ibu menopang situasi atau hidup yang penuh mara bahaya. Diam-diam menerima duka cita dan penderitaan yang tak terhitungkan.

Semenjak anak lahir kedunia ini, ibu selalu mencurahkan pikiran dan perhatian. Melindungi dengan amat teliti. Ibu yang tanpa pamrih adalah dewa pelindung pada seumur hidup anak. Ibu yang tanpa menyesal tanpa dendam selamanya adalah guru pembimbing dalam lubuk hati anak. Ketika anak sedikit besar mulai sekolah. Ibu selain merangkap sebagai guru, sahabat yang membantu anak, membimbing anak rajin belajar, setia kepada orang, menuntun anak menuju ke jalan lapang dan rata.

Ibu berperan dalam keluarga sebagai tukang kebun yang rajin dan tekun menyiram dan memupuk. Di saat batang-batang pohon kecil yang muda dan lembut itu telah tumbuh menjadi pohon besar yang subur dan lebat, ibu mundur karena merasa tugas yang diembankan telah selesai dan sukses. Ibu menunggu di tempat yang teduh, menanti berbunga dan buah-buahan berkerintil. Meski hasilnya berlawanan dengan dugaan semula, ibu tetap senyum seperti sediakala. “Hanya memupuk dan menyiangi tidak menuntut imbalan “ ini adalah filsafat hidup ibu yang bijaksana.

Setelah anak tumbuh menjadi kekar, suatu hari, ia terbang tinggi pergi ke tempat jauh, di tempat asing yang berjarak ratusan bahkan ribuan kilo meter dari kampung halaman, bekerja mati-matian, di kota besar yang kalut dan sibuk, berusaha keras telah mempunyai hari depan yang baik. Namun si anak sama sekali tidak merasakan, ibu tua yang lesu dan gelisah setiap hari merindu dan menanti disamping telepon.

Semoga anak-anak yang merantau, ingatlah pada ibu, menelpon dan memberi salam kepada ibu. Bagaimanapun didalam keluarga, ibu pernah sebagai nahkoda disaat keluarga berada dalam keadaan bahaya dan susah, sebagai lampu penerang dalam kegelapan.

Rabu, 14 Juli 2010

Biarkan Anak Menanggung Akibat Perbuatannya

Orang tua zaman sekarang sering melakukan kesalahan, yakni berkorban demi anak. Dimana pelayanannya terlalu berlebihan, menanggung beban terlalu banyak, menanggung sendiri semua kesalahan yang dilakukan oleh si anak.

Kasarnya, orang tua berperan sebagai pembersih pantat anaknya. Perbuatan yang demikian akan membuat anak tidak tahu bahwa mereka seharusnya menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.

Pada akhirnya, terbentuklah sifat keras kepala dan berbuat semaunya pada anak. Benak mereka seolah tertanam sebuah ungkapan, 'Pokoknya biar langit runtuh, ada orang tuaku yang lebih tinggi daripada aku yang menyangganya.' Mereka selalu akan membereskan kesalahan apapun yang aku lakukan.

Cara  mendidik anak yang demikian secara otomatis akan membuat anak menjadi keras kepala, berbuat sewenang-wenang, tidak tahu berbalas budi, dan menjadi seorang anak yang tidak bertanggung jawab.

Ada sebuah pepatah yang sering diucapkan dibibir. “Orang tua yang terlalu bertanggungjawab, akan sangat mudah membentuk seorang anak yang tidak bertanggungjawab,” demikianlah maknanya.

Orang tua masa kini terlalu banyak memikirkan masalah anak. Contoh membangunkan anak di pagi hari supaya tidak terlambat masuk sekolah, memperingatkan anak untuk makan pagi agar tubuh menjadi sehat, mengajari anak berpakaian apa supaya tidak kedinginan atau kepanasan, meminta anak sikat gigi agar gigi tidak tampak kuning, supaya tidak diejek, dan sebagainya.

Cara semacam ini yang memperhatikan semua kebutuhan anak, akan membuat anak merasa sudah tidak usah repot-repot memikirkan rencana hidup bagi dirinya sendiri, secara otomatis akan membentuk seorang “anak yang tidak bertanggung jawab”. 

Dibicarakan dari satu sudut pandang lain, bila orang tua selalu memperingati anak jalan harus hati-hati ada lobang atau gundukan lantai, maka anak tersebut tidak akan pernah ada pengalaman terjatuh. Otomatis tidak mendapatkan pelajaran, bisa dibayangkan: anak tersebut saat berjalan selamanya juga pasti tidak akan memperhatikan bahwa di lantai ada lobang.

Cara yang tepat mendidik anak adalah membiarkan anak secara bertahap belajar memikul tanggung jawab diri sendiri. Sebagai contoh, meletakkan mainan kembali pada tempatnya, meletakkan pakaian kotor kedalam keranjang cucian dll, ini adalah hal yang dapat dilakukan oleh anak sebelum dia masuk sekolah.

Ketika anak sudah tumbuh hingga bisa membaca koran, seusai membaca koran harus dirapikan. Ini juga merupakan sebuah tanggung jawab. Untuk siswa ditahap awal SD, orang tua bisa memberinya sebuah jam alarm, biarkan dia sendiri berusaha untuk bangun pagi, jika anak masih belum bisa membaca angka, orang tua bisa membantunya mengatur waktu. Jika sudah bisa melihat jam, maka mengatur waktu bunyi alarm dan bangun pagi adalah tanggung jawab anak sendiri.

Persiapan sekolah setiap hari seperti alat tulis, botol minum juga merupakan tanggung jawab sendiri sebagai murid SD. Jika anak tidak dapat bertanggung jawab, maka akibat yang dia tanggung sepantasnya adalah hukuman yang dia terima..

Mendidik anak untuk bertanggung jawab ada dua cara. Pertama adalah “akibat yang terjadi secara alami." Kedua adalah “akibat yang sepatutnya terjadi.”

“Akibat yang terjadi secara alami” adalah bahwa setelah berbuat suatu hal, secara otomatis akan menghasilkan sebuah akibat yang berlanjut. Misalnya lupa membawa botol minum, tidak ada air minum, merasa haus, ini adalah konsekuensi alami yang berlanjut terjadi.

Sedangkan yang disebut “akibat yang sepatutnya terjadi” adalah sesuatu yang diatur secara logis oleh orang tua, konsekwensi ini mempunyai hubungan logika yang sepatutnya dengan hal yang terjadi. Kemudian sesuai ikatan yang ditentukan semula, melaksanakan konsekwensi yang sepatutnya.

Misalnya pakaian kotor jika ditaruh dalam keranjang cucian, ibu akan mencucinya. Jika tidak ditaruh dalam keranjang cucian, maka ibu tidak akan mencucinya. Anak yang harus mencuci sendiri. Penjelasannya adalah bagi anak yang masih kecil, mencuci pakaian merupakan tugas sang ibu, tetapi ibu hanya mencuci pakaian yang ada dalam keranjang cucian. Jadi meletakkan pakaian kotor kedalam keranjang cucian adalah tanggung jawab anak. Jika pakaian kotor tidak diletakkan dalam keranjang cucian, konsekwensi yang sepatutnya ialah anak harus mencucinya sendiri.

Contoh 1: perilaku anak yang lupa membawa botol minum.
Penanganan: Orang tua harus menolak mengantarkan botol minumnya, supaya anak merasa kehausan sebagai hukuman yang alami. (akibat yang terjadi secara alami)

Contoh 2: Perilaku anak yang tidak menaruh mainan kembali pada tempatnya.
Penanganan:  mainannya akan dibuang ke tempat sampah, dan menolak untuk membelikan mainan baru. (akibat yang sepatutnya terjadi)

Contoh 3: Perilaku yang tidak meletakkan Koran/majalah pada tempat yang ditentukan.
Penanganan: memberi peringatan tiga kali, bila masih tidak berubah, hentikan berlangganan koran/majalah selama sebulan. (akibat yang sepatutnya terjadi)

Contoh 4: Perilaku yang tidak menaruh pakaian kotor dalam keranjang cucian.
Penanganan: anak harus mencuci sendiri pakaiannya (akibat yang sepatutnya terjadi)

Contoh 5: Perilaku yang tidak mematuhi waktu mandi.
Penanganan: harus mencuci sendiri pakaiannya. (akibat yang sepatutnya terjadi)

Contoh 6: Perilaku: mahasiswa yang tidak naik kelas sehingga kuliah ulang
Penanganan: membayar sendiri uang sekolah ( akibat yang sepatutnya terjadi)

Contoh 7: Perilaku yang lupa membawa alat tulis ke sekolah.
Penanganan: biarkan anak mendapat hukuman oleh guru sekolah. (akibat yang sepatutnya terjadi)

Contoh 8: Perilaku yang mengulur-ulur jam makan, untuk satu kali makan menghabiskan waktu satu sampai dua jam, membuat ibu kesal.
Penanganan: melampaui waktu makan yang ditentukan, makanan akan diangkat dari meja makan dan tidak diperkenankan membeli makanan jajan. (akibat yang terjadi secara alami - menahan lapar). (Erabaru/akw)