欢迎..............欢迎..............欢迎


Tampilkan postingan dengan label chinese culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chinese culture. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

BATU KARANG LEGENDARIS DISINARI MATAHARI SETIAP 60 TAHUN


(Epochtimes.co.id)

Batu besar yang dikenal sebagai “batu untuk mengeringkan tulisan suci di bawah sinar matahari” itu terletak di lembah di belakang kuil Fahua, di kota Anning, provinsi barat daya Yunnan, Tiongkok.

Karakter kuno tampak terukir pada permukaannya, tetapi hal yang paling luar biasa tentang batu ini adalah bahwa matahari dikatakan bersinar di atasnya hanya sekali setiap 60 tahun.

Legenda mengatakan bahwa ketika itu biarawan Tang Xuanzang (baca dang siencang, 602-664) sedang dalam perjalanan kembali ke Chang’an, ibukota Dinasti Tang, setelah memperoleh kitab suci Buddha dari India. Alkisah dia pernah mengeringkan transkrip sutra Buddha tersebut di atas batu, setelah mereka jatuhkan ke dalam sungai.

Yunnan Information Newspaper melaporkan bahwa batu itu berketinggian lebih dari 12 meter dan memiliki lebar beberapa meter di pangkalan. Pohon-pohon dan rumput tumbuh padat di sekitarnya. Hal yang aneh adalah ketika matahari menjulang tinggi di langit, dan menyinari setiap sudut lembah, batu ini anehnya tidak mendapatkan sinar matahari langsung.

Di sisi depan batu itu, tampak karakter kuno yang terpahat pada permukaan yang datar berukuran sekitar 6-9 kaki. Ada delapan baris karakter, masing-masing memiliki sekitar selusin ukiran karakter. Karakter ini berbentuk keriting terlihat seperti simbol hiroglif atau masa sebelum Dinasti Qin, yang masih digunakan pada segel-segel di masa kini.

Akibat termakan usia, karakter-karakter tersebut telah menjadi sulit untuk dikenali. Selain itu delapan baris karakter besar, ada karakter yang lebih halus, sehingga banyak ukiran yang tidak bisa dibaca.

Mr Cao, seorang sarjana dalam sejarah Tionghoa, budaya, dan geografi, berkata: “Matahari bersinar di atas batu hanya sekali setiap 60 tahun. Ini terjadi setelah matahari terbenam ketika matahari terbit dari balik gunung (pada malam yang sama).”

Mr Cao mengetahui dari orang-orang tua di sebuah desa di dekat batu, bahwa terdapat seorang tukang kayu yang masuk ke dalam gunung untuk mengumpulkan kayu bakar setiap hari. Ketika matahari terbenam, ia melewati batu itu dalam perjalanan pulang sambil membawa dua ikat kayu bakar. Suatu malam, ketika tukang kayu melewati batu itu, dia melihat matahari terbit lagi. Padahal saat itu seharusnya matahari telah terbenam. Ternyata cahaya terang yang ia kira matahari terbit itu berasal dari batu tersebut. Karena terkejut, ia pun menjatuhkan ikatan kayu bakarnya, dan berlari ke desa untuk memberitahu orang-orang.

Cahaya Matahari memenuhi ruangan

Seorang biarawan dari Kuil Fahua mengatakan, “Saat itu sekitar pukul 18:00 pada saat musim semi 2005 (20 Maret 2005). Saya melihat matahari menerangi batu selama sekitar setengah jam.” Ia telah menjadi biarawan di kuil tersebut selama bertahun-tahun, namun saat itu merupakan satu-satunya saat ia melihat sinar matahari di atas batu.

Menurut Archives of Anning Prefecture, “Selama musim hujan, kuil itu selalu terlihat agak remang-remang seperti biasanya. Namun tiba-tiba, sinar matahari memenuhi ruangan. Ukiran dan pahatan Buddha di dinding kuil menjadi tampak sangat hidup. Dan tak berlangsung lama, sinar matahari sudah pergi, dan segala sesuatu menjadi redup kembali.”

Kejadian itu dilaporkan pada 1921. Legenda setempat mengatakan bahwa pada hari setelah perayaan musim semi, sekali setiap 60 tahun, matahari terbit lagi setelah matahari terbenam pada malam yang sama. Sinar matahari terbit mengisi puncak gunung dan lembah, menerangi batu legendaris. Hutan menjadi jelas tampak berwarna-warni, ukiran Buddha memancarkan warna emas, dan ruangan kuil dipenuhi dengan sinar cemerlang berwarna keemasan.

Dalam legenda dikatakan bahwa Xuanzang menjatuhkan transkrip sutra Buddha di Sungai Sha setelah dia bertemu dengan kura-kura raksasa ketika sedang menyeberangi sungai dalam perjalanan kembali ke ibukota Tang dari India. Dia sedapat mungkin menyelamatkan transkrip sutra itu dari dalam air dan mengeringkannya.

Biarawan dan para pengiringnya membuka transkrip sutra di atas batu dan menyalakan api untuk mengeringkannya, tetapi tiba-tiba matahari seolah terbit meskipun ketika itu hari sudah malam. Sinar matahari menerangi langit malam dan batu tersebut, dan mengeringkan transkrip sutra.

Dan ketika para biarawan pengiring itu mengumpulkan kembali transkrip-transkrip yang tercecer, ternyata tulisan-tulisan Sanskerta dari transkrip sutra tadi telah tercetak pada batu tersebut. Oleh karena itulah, batu itu diberi nama “batu untuk mengeringkan transkrip sutra di bawah sinar matahari.” (The Epoch Times / osc)

Sabtu, 04 Juni 2011

Nu Wa Pencipta Manusia


Yang paling terkenal dari legenda Tiongkok kuno adalah Nu Wa menciptakan manusia. Menurut mitos, semua orang Tionghoa adalah keturunannya.

Angkatan pertama manusia tanah liat yang dibuat oleh Nu Wa, persis seperti boneka, tanpa keidupan, pikiran, atau gerakan. Nu Wa tidak puas dengan mereka, jadi dia bernafas kearah manusia tanah liat tersebut, memberikan mereka jiwa. Segera, mereka berubah menjadi manusia hidup.

Tapi manusia-manusia ini tidak memiliki kebijakan dan kemampuan untuk menanggung perubahan dari luar. Mereka tidak bisa menahan emosi mereka dan tidak memiliki pemahaman tentang bagaimana cara mengatasi perubahan lingkungan mereka.

Mereka tidak punya logika atau pikiran benar dan cenderung mudah mati. Ketika satu kelompok manusia ini meninggal, Nu Wa harus membuat manusia baru lagi. Pekerjaan yang membosankan dan tiada henti.

Nu Wa memberi manusia beberapa kebijaksanaan dan menciptakan alat musik untuk mereka. Dengan musik, lagu dan tarian dikembangkan. Manusia kemudian bisa mengekspresikan perasaan mereka dengan menyanyi dan menari. Sejak saat itu, mereka memiliki budaya untuk mengatur dan memperkaya kehidupan mereka.

Nu Wa meciptakan pernikahan antara laki-laki dan perempuan hidup bersama dan mengembangbiakkan generasi mereka sendiri, sehingga memecahkan masalah punahnya manusia.

Perlahan-lahan manusia belajar untuk mendisiplinkan diri dan menangani perubahan yang tak terduga di lingkungan mereka. Seiring waktu, sejarah manusia, budaya, dan aspek lainnya dibentuk dan tumbuh sedikit demi sedikit. Dengan berjalannya waktu, hidup sederhana mereka tumbuh dari tidak ada apa-apa menjadi kaya akan budaya dan peradaban. (EpochTimes/man)

Pangu Ciptakan Langit dan Bumi


Mitos Tiongkok kuno menggambarkan tentang bagaimana langit dan bumi diciptakan, asal-usul manusia, dan munculnya kebudayaan. Mereka adalah bagian dari warisan budaya Tiongkok 5.000 tahun.

Misalnya, mitos-mitos kuno yang menceritakan kisah tentang bagaimana bumi terbentuk. Pada zaman dahulu, para orang tua menceritakan kepada anak-anak mereka bahwa alam semesta diciptakan oleh Pangu.

Jauh sebelum alam semesta diciptakan, ada sebuah telur besar. Dari dalam telur ini, Pangu dilahirkan. Pangu tertidur dalam telur besar ini selama 18.000 tahun. Ketika ia terbangun, hanya ada kegelapan di dalam telur. Pangu meregangkan tangan dan kakinya, membuat telur pecah terbuka. Qi ‘Yang’ yang terang benderang terbang dan membentuk langit biru yang luas. Pada saat yang sama, Qi ‘Yin’ yang berat dan tebal tenggelam dan menjadi bumi. Sejak itu, alam semesta terdiri dari langit dan bumi.

Saat Pangu berdiri di antara langit dan bumi, hari demi hari langit semakin terangkat lebih tinggi dan bumi berkembang menjadi lebih luas dan tebal. Dengan cara ini, Pangu tumbuh lebih tinggi dan lebih tinggi. Peristiwa ini berlangsung selama 18.000 tahun hingga akhirnya langit tidak terangkat lagi dan bumi tidak tenggelam lebih rendah. Dengan demikian, Pangu menjadi raksasa yang menopang langit dan bumi, dan dengan cara ini alam semesta tidak akan kembali ke keadaan kacau.

Pangu adalah orang satu-satunya yang berada diantara langit dan bumi. Keadaan dunia mengikuti keadaan emosinya. Ketika ia senang langit menjadi cerah tak berawan, dan ketika ia marah cuaca menjadi mendung. Air mata-Nya membawa hujan dan desahan-Nya membawa angin kencang. Ketika ia berkedip, langit menyala dengan petir, dan ketika ia mendengkur, suara guntur bergemuruh.

Bertahun-tahun berlalu, langit begitu tinggi, dan bumi begitu tebal. Pangu berhasil menyelesaikan misinya dan tubuhnya berubah menjadi matahari, bulan, bintang, gunung, sungai, dan tanaman, dll Dengan cara ini, ia tanpa pamrih mendedikasikan seluruh tubuhnya bagi masa depan manusia.

Berasal dari manakah orang-orang Tionghoa, legenda Tiongkok kuno memberitahu kita bahwa Nu Wa menciptakan manusia dan semua manusia adalah keturunan dia.

Untuk membaca tentang Nu Wa silahkan menunggu bagian berikutnya dalam seri ini. (EpochTimes/sri)

Rabu, 18 Mei 2011

SIMPUL-TALI UNTUK HARI ISTIMEWA



Sejarah simpul-tali China (zhong guo jie) membentang melalui perkembangan 5.000 tahun peradaban China. Pada masa prasejarah, simpul-tali sudah dipakai untuk tujuan penandaan sesuatu.

Kebudayaan China membahas perihal:

– Tali yang ditarik simpul dengan tujuan untuk memberi tanda pada suatu hal, dan

– Untuk kejadian besar dibuatkan simpul besar dan untuk kejadian kecil dibuatkan simpul kecil.

Pada masa awal peradaban kebudayaan China, mereka juga memandang magis pada tali, karena kata tali (sheng, 繩) di dalam bahasa mandarin pengucapannya mirip kata Shen yang berarti ketuhanan. Selain itu, aksara tali (sheng, 繩) juga memiliki sebuah makna tersendiri dalam hal pemujaan orang Tionghoa, yang disebut juga sebagai rakyat sang naga, karena aksara tali (sheng, 繩) menyerupai seekor naga (long, 龍) yang bergerak meliuk-liuk.

Simpul-tali menerima sebuah makna metafor di dalam kebudayaan Tionghoa juga berkat linguistik asalnya. Aksara 結 (jie - simpul) asalnya terdiri dari 絲 (si) dan 吉 (ji), dimana 絲 (si) bermakna sutera atau tali, dan 吉 (ji) bermakna makmur, status sosial tinggi, panjang usia, kebahagiaan, kekayaan, kesehatan dan keamanan.

Aksara 結 (jie) melambangkan kekuatan, harmoni dan keterikatan perasaan kemanusiaan, yang direfleksikan di dalam sebuah deretan kata-kata bahasa mandarin yang mengandung kata 結 (jie), seperti misalnya 結實 (jie shi = kokoh), 結交 (jie jiao = mengikat persahabatan), 結緣 (jie yuan = merajut takdir pertemuan), 結婚 (jie hun = menikah), 團結 (tuan jie = bersatu-padu).

Sehubungan dengan keterkaitan yang mendalam dari simpul-tali China ini dengan kebudayaan lokal, teknik simpul tersebut sebagai kesenian rakyat senantiasa dikembangkan dan diwariskan turun temurun. Teknik simpul-tali China berkembang ke sebuah bentuk seni sesungguhnya selama Dinasti Tang (618-907), Song (960-1279) dan akhirnya mengalami masa paling jaya pada zaman Dinasti Ming dan Qing (1368-1911) – di zaman itu pula secara lebih meluas simpul-tali digunakan pula pada busana tradisional.

Jauh melampaui sebuah penggunaan sebagai ornamen dekoratif untuk perayaan, unsur gaya dari simpul China menemukan tempatnya di kalung, stek sanggul dan pernak-pernik dekorasi gantung. Simpul tertentu seperti “simpul bahagia” dipergunakan sebagai azimat untuk menolak bala dan mengalahkannya, menghindari musibah dan mendatangkan kebahagiaan.

Selama abad yang lalu terutama di China yang masih dikuasai komunis, bentuk kesenian ini kehilangan maknanya. Baru pada akhir 90-an kesenian simpul-tali tersebut seperti halnya bordir dan busana tradisional ditemukannya kembali. Sejak saat itu ia digemari dan menguasai terus kota-kota.



(THE EPOCH TIMES)



Tali menyimpul harapan baik

Karakteristik dari simpul-tali China ialah ia dibentuk dari seuntai tali saja. Tali sepanjang minimal 1 meter sesuai metode, urutan dan aturan yang sudah ditetapkan, dibalut, dirol, disulam dan ditarik, sehingga menjadi simpul yang beraneka ragam dan memikat.

Memang simpul tertentu betul-betul rumit dan penuh seni dalam pola dan desainnya, kesemuanya merupakan kombinasi dari maksimal 20 macam teknik dasar. Simpul China terlihat sama dari depan dan belakang.

Bagaimana memperoleh nama

Berbagai kemungkinan bagaimana simpul tersebut bisa dinamakan demikian. Simpul-tali yang berlainan memperoleh nama bisa dari bentuk atau tujuannya, lokasi dimana mereka terjadi, dimana mereka ditemukan atau makna di balik nama simpul tersebut.

Maka simpul uang dopel kurang lebih menyerupai 2 buah uang logam tembaga dari zaman China kuno yang terbelah di tengah dan ditaruh. Simpul kenop memiliki nama dari penggunaannya. Simpul 10-ribuan mirip bukan saja dalam bentuk swastika Buddha yang oleh orang Tionghoa juga dipakai untuk memaknai angka 10 ribu, ia selain itu juga acapkali muncul pada sabuk patung Dewi Kwan Im, sang bodhisatwa kebajikan.

Simpul tak terhingga meniru 8 simbol kebuddhaan yang berarti sirkulasi abadi, dari situ semuanya berkembang biak. Simpul-tali menekankan secara seksama pertali-temalian yang tak terhingga ini dan merupakan dasar dari banyak variasi. (Maria Zheng/The Epoch Times/whs)


ADAT BURUK ORANG TIONGHOA DARI MANA ASALNYA?


Sejak Shanghai World Expo dibuka, kebiasaan buruk orang China seperti meludah di sembarang tempat, buang air besar tidak disiram, buang sampah sembarangan, berbaring di sembarang tempat, berteriak-teriak sesuka hati, bahkan anak-anak buang air kecil dan besar di sembarang tempat dan berbagai kelakuan tak beradab lainnya, sekali lagi membuat dunia terbelalak, bersamaan dengan keterkejutan dan rasa muak orang luar negeri, tak sedikit orang China merasa malu tak terkira.

Tentu saja, tindakan tidak beradab semacam itu, bukan hanya muncul di World Expo saja, itu terjadi pada orang China yang keluar negeri dan dalam kehidupan sehari-hari, boleh dibilang bisa ditemui dimana saja. Yang membuat orang tak habis pikir, banyak orang China tidak merasa risih dengan adat buruk tersebut.

Untuk hal itu, tidak sedikit esai yang berusaha menganalisis penyebabnya. Ada orang bahkan mencari sumbernya dari dalam kebudayaan tradisional China sendiri dan menyebutnya sebagai kebiasaan buruk yang ditinggalkan leluhur mereka. Lantaran orang kuno “ketinggalan zaman dan kehidupan yang terbelakang”, maka tentu saja lantas tidak memperhatikan kesehatan, tidak memperhatikan peradaban dan adat buruk yang telah berlangsung beberapa ribu tahun itu, tentu saja mutlak tidak bisa diubah dalam waktu singkat.

Orang yang mempunyai sudut pandang seperti itu boleh dibilang salah besar. Pada kenyataannya, meski dikatakan di zaman China kuno mereka tidak memiliki peralatan canggih seperti pesawat terbang, mobil, telepon, TV dan lain-lain, tetapi itu tidak lantas berarti bahwa kualitas kehidupan masyarakat China kuno lebih rendah daripada manusia zaman sekarang.

Realitanya, jalan yang ditempuh iptek zaman China kuno adalah sebuah jalan perkembangan yang berbeda, dan toh telah mencapai taraf kemajuan yang susah diimajinasikan manusia zaman sekarang; sedangkan peradaban orang zaman kuno bukan hanya diwujudkan di dalam etiket sehari-hari, bahkan diwujudkan dengan perhatian terhadap detil kehidupan hingga mempelajari dengan seksama tentang kesehatan.

Ratusan tahun lalu, para bangsawan Eropa saat makan masih meletakkan hewan atau unggas utuh di atas meja makan, dan ramai-ramai disantap dengan secara primitif. Saat itu juga orang Eropa ketika menonton opera meludah dengan sembarangan di dalam gedung. Banyak juga orang Eropa yang seumur hidup mereka tidak pernah mandi (di negara 4 musim hal semacam itu memungkinkan, karena tubuh tidak mudah berkeringat). Sementara itu di China dimana peradaban sudah berkembang maju dan pada posisi memimpin, situasinya sama sekali berbeda. Kondisi seperti itu pernah dikagumi dan dipuji orang-orang dari berbagai suku bangsa.

Jauh sebelumnya, yakni 2.000 tahun lalu, masa pemerintahan Qin (baca: Jin), orang China kuno sudah mulai memperhatikan kesehatan pribadi. Banyak yang menganjurkan “membersihkan rambut setiap tiga hari sekali dan mandi setiap lima hari sekali”. Terkadang mandi (cara mandi masyarakat di negara 4 musim, dengan berendam dalam bak) bahkan merupakan semacam ritual yang sangat penting, untuk mewujudkan niatan respek.

Misalnya, sebelum Kaisar memberikan persembahan kepada Langit diharuskan mandi terlebih dahulu. Pernah pada zaman Dinasti Han (206 SM – 220 Masehi) ditetapkan para pejabat sesudah bekerja 5 hari berturut-turut, hari berikutnya boleh libur satu hari untuk mandi. Disebut “istirahat mandi”. Kaisar Liang Jian Wen – Xiao Wang dari Dinasti Nan Chao (502-557 M) yang menyukai kebersihan juga menulis kitab “Serba Serbi Mandi”.

Kamar mandi paling awal tentu saja hanya dimiliki keluarga kaisar, minimal sudah eksis sejak didirikan Dinasti Zhou (abad 11 – 256 SM). Sekitar zaman Han, kamar mandi umum sudah bermunculan di kompleks vihara, misalnya bekas kamar mandi pernah digali di situs kuil aliran Buddha-Fu Feng di Provinsi Shanxi zaman Han Timur (25 - 220 M). Menurut catatan Dinasti Song, waktu itu area “sarana kamar mandi umum” itu merupakan satu dari 24 sarana yang terdapat di dalam kompleks tersebut. Dapat menampung ribuan orang mandi dalam satu hari. Selain itu menurut kitab “Catatan Asrama Bhiksu Kota Luo Yang” dari Yang Xuan, di dalam Kuil Bao Guang juga terdapat kamar mandi umum super besar.

Pada zaman Song (960 - 1279 M) kamar mandi dengan bak besar untuk kalangan rakyat jelata juga muncul dan terus berlangsung hingga kini. Hong Mai dari zaman Song menulis di “Yi Jian Zhi”, pada umumnya orang membangun rumah pasti terdapat ruang untuk mandi. Tatkala Marco Polo datang ke China pada zaman Yuan (1206 - 1368 M), ia sampai takjub, “Orang China setiap hari mandi!”

Padahal zaman itu, ini mustahil terjadi di Eropa. Selain mandi setiap hari, di kitab “Xi Jin Zhi” dari zaman Yuan juga tercatat: Di keluarga terpandang, sebelum putri dinikahkan, harus dimasukkan dulu ke dalam kamar mandi untuk dibersihkan dengan tuntas. Boleh dibilang aktivitas mandi kala itu sudah menyatu dengan acara ritual pernikahan.

Orang zaman kuno yang memperhatikan kebersihan, tentu saja juga sangat peduli dengan penampilan diri sendiri. Orang kuno dalam perawatan tubuh seperti mandi lulur, membasuh muka, menyeka tubuh, masing-masing menggunakan bahan berlainan dan sangat rumit. Krim mutiara, bedak, pemerah muka, minyak Osmanthus, lilin rambut, kantong aroma dan lain-lain, merupakan bahan kebutuhan sehari-hari. Lebih-lebih dalam hal perawatan rambut kemilau juga sangat diperhatikan.

Aksara 若 (Ruo, bermakna penurut), di dalam aksara Jia Gu (aksara kuno prasejarah yang ditulis di atas cangkang kura-kura maupun tulang), berbentuk menyerupai seorang gadis seusai mencuci kepala sedang menyisir rambutnya. Mereka biasanya sesudah menyisir rambut dengan rapi, masih diperlukan menggelung dan menyanggulnya, lalu menancapkan jepit sanggul yang terbuat dari tulang halus maupun batu Giok agar terkunci rapat. Di luar sanggul masih dibungkus lagi dengan kain sutra, kemudian mengenakan mahkota, sangat peduli sekali. Seseorang dengan penampilan rambut acak-acakan, waktu itu hanya bisa dinilai orang tersebut mengidap penyakit jiwa atau mengalami stres karena mengalami musibah hebat.

Mengenai kesehatan mulut, orang zaman China kuno juga sangat peduli. Jauh pada tahun 3.000 SM, tercatat mengenai kebersihan rongga mulut dan pemeliharaan gigi. Orang itu biasanya menggunakan arak, cuka, air garam, teh dan air hangat untuk kumur atau dengan metoda menggosok gigi menggunakan garam hijau untuk perawatan higienis mulut. Kemudian juga belajar dari para biksu suatu kebiasaan mengunyah ranting pohon Willow guna pembersihan mulut, yakni mengandalkan mengunyah semacam ranting yang dinamakan Kayu Gigi untuk menggosok permukaan gigi, sekaligus menggunakannya untuk menggosok lidah dengan tujuan membersihkan bakteri.

Dari kitab sejarah juga tercatat, pada saat Dinasti Liang Selatan pada abad-6, ada sebuah benda dinamakan “Saput hitam untuk mulut/gigi” guna menambah putih dan meninggalkan aroma wangi bagi gigi. Pada masa Dinasti Tang (618 - 907 M) dan Song, beredar “pasta gigi” yang mengandung ramuan herbal, seperti di dalam kitab “Tai Ping Sheng Hui Fang” zaman Song yang mencatat secara rinci mengenai pasta dan metode pengobatan gigi.

Atensi orang zaman kuno terhadap higienis, dimulai sejak pendidikan anak. Misalnya di dalam buku karya terkenal dari kalangan sekolah khusus “Peraturan Siswa” tercatat: “Pagi membasuh sembari kumur, lantas buang air kecil dan besar, selalu bersihkan tangan. Topi mahkota harus rapi, simpulkan kancing, kaos kaki dan sepatu komplit.” Sejak dini anak sudah dibiasakan hidup higienis dan memahami etiket, setelah beranjak dewasa bisakah ia menjadi seorang yang tidak beradab?

Kebiasaan orang kuno membuang sampah sehari-hari dengan sembarangan malah sangat langka. Pada 3.000 – 4.000 tahun lalu, orang zaman kuno sudah mengerti mengumpulkan sampah secara terpusat dan menggunakan lubang alami ataupun galian untuk menjejalinya dengan sampah. Mereka juga mengetahui cara tercepat menuntaskan sampah dengan membakarnya langsung, yang tak habis terbakar lantas diurug.

Pada periode Negara Berperang (Zhan Guo, 770 SM – 256 SM), terhadap orang yang sembarangan menumpahkan sampah bisa dihukum berat dengan pemotongan tangan. Selain itu pabrik pembuatan tahu, arak dan lain-lain, diwajibkan membenahi saluran pembuangan, jika tidak akan dilecehkan masyarakat. Perbengkelan seperti perusaahaan pencelupan dengan polusi berat harus membuat saluran pembuangan. Orang kuno malah memperhatikan penangkalannya.

Seperti yang terjadi di Gunung Hu Qiu, Kota Su Zhou, di dalam dinding sebelah dalamnya terdapat sebuah batu monumen dengan grafir ukiran “prasasti pencelupan Hu Qiu yang dilarang beroperasi selamanya”. Orang lokal menyebutnya “prasasti pelarangan pencelupan”, dikarenakan pada Dinasti Qing (baca: Jing, 1616 - 1911), bengkel pencelupan di sekitar daerah tersebut terlalu banyak sehingga pemilik tidak memperhatikan lingkungan, dengan seenaknya menggelontorkan limbah ke dalam sungai dan mencemarinya. Itulah sebabnya pemerintah melarang beroperasinya bengkel pencelupan di tempat tersebut.

Selain itu, menyapu, mempertahankan lingkungan yang bersih, juga merupakan pembelajaran yang harus dilakukan orang zaman kuno. Mereka juga mempunyai kebiasaan membersihkan rumah. Dalam kitab Zhou Shu: “Kunci Pembangunan Rumah Tinggal” tercatat: Orang kuno sering kali menghendaki “saluran lancar, rumah kediaman bersih, tidak ada bau pengap, tidak menimbulkan wabah”. Hingga kini masih banyak hari besar yang mempertahankan adat istiadat seperti itu. Di dalam kitab “Pedoman Pengelolaan Rumah ala Zhu Zi” mendidik anak “bangun subuh, bersihkan rumah, harus bersih luar dalam”.

Tentang apakah orang kuno mempunyai kebiasan meludah pada sembarangan tempat, atau pernah terdapat pengumuman yang membatasi warganya meludah di sembarang tempat, termasuk kitab amatir sejarah China semuanya tidak nampak pencatatan semacam itu. Penyebab yang paling penting, mungkin dikarenakan, di bawah naungan kebudayaan tradisional China, orang kuno bertitik tolak dari menegakkan moralitas, selain itu juga mematuhi etiket, di dalam hatinya terdapat akhlak, perkataan dan perbuatannya dengan sendirinya dapat mempertimbangkan apakah pada tempatnya meludah di sembarang tempat, karena hal tersebut termasuk perilaku yang tidak etis, dengan sendiri-nya orang kuno merasa tabu mempermasalahkan kepatutan hal tersebut.

Sebuah penelitian zaman sekarang beranggapan, orang kuno ketika harus meludah, terkadang membuka lengan pakaian (pakaian zaman China kuno memiliki lengan yang lebar dan di sebelah dalamnya terdapat semacam saku) dan meludah ke dalamnya, atau menggunakan sapu tangan, membungkusnya dan dimasukkan di balik pakaian.

Di sejumlah tempat masih dapat dijumpai semacam bokor kecil yang khusus disiapkan untuk tempat orang meludah. Pada zaman Dinasti Tang bahkan terdapat pasal mengenai denda terhadap warga asing yang ketahuan meludah sembarangan, agar memperingatkan kepada mereka tidak diperkenankan di jalan raya dan tempat umum lainnya melakukan tindakan tidak terpuji.

Dari sini bisa dilihat, meludah sembarangan tempat merupakan tindakan tidak beradab, orang kuno sudah mengetahuinya. Maka boleh dibilang, meludah sembarangan, mutlak bukan adat kebiasaan orang Tionghoa, juga mutlak bukan adat buruk peninggalan leluhur yang diwariskan. Tentu saja, orang kuno mempunyai kebiasaan “meludah”, namun kebanyakan saat menghadapi orang dan persoalan tertentu yang menimbulkan kemarahan barulah melakukan hal seperti itu. Menyatakan rasa muak dengan meludah di sembarang tempat adalah dua hal yang berbeda.

Maka, sejak kapan orang Tionghoa berubah menjadi tidak beradab? Berubah sedemikian kasar? Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan penolak-an bahkan pencampakkan kebudayaan tradisionalnya sendiri. Kebudayaan tradisional China berlandaskan tiga ajaran agama yakni: Buddha, Khonghucu dan Taoisme.

“Kemanunggalan antara manusia dan Langit” mewakili sudut pandang alam semesta orang kuno. “Kebijaksanaan dan Iman” dari Khonghucu menjadi spesifikasi dan landasan moral masyarakat. “Kesetiaan, balas budi, pengendalian diri dan keadilan” adalah standar kehidupan manusia di dunia.

Orang Tionghoa yang berendam di dalam kebudayaan yang besar dan mendalam itu tentu saja respek terhadap Langit dan bumi, setia kepada masyarakat, memperhatikan keluarga dan memperhatikan peradaban.

Namun sejak zaman Song, kebudayaan tradisional mulai tak henti-hentinya mengalami pengrusakan dan terjadi pengingkaran terhadap tradisi. Setelah gerakan “4 Mei (Gerakan Pembaharuan yang dimulai 4 Mei 1919)”, sebagian intelektual yang berpandangan jangka pendek dalam rangka mencari jalan keluar bagi China modern, juga dimulai dari pengingkaran kebudayaan tradisional dan merapat ke peradaban Barat. Akan tetapi konflik dan evolusi di ranah kebudayaan senantiasa saling bersaing di wilayah intelektual, artinya tidak melibatkan kekerasan dari pihak negara.

Pada masa Republik China (masa sebelum Komunis berkuasa pada 1949), banyak adat istiadat tradisional yang masih eksis di masyarakat. Bagi banyak orang terutama yang berpendidikan, berbusana rapi, bertutur-kata intelek, tidak meludah di sembarang tempat dan lain-lain masih merupakan sebuah kriteria penting untuk menilai kematangan jiwa seseorang.

Setelah PKC (Partai Komunis China) berkuasa pada 1949, konflik seputar kebudayaan ditingkatkan ke taraf tinggi yang berkaitan dengan eksistensi PKC sendiri. Oleh karena itu mereka melakukan cara merusak langsung dengan meluluh-lantakkan, dan cara pengrusakan tak langsung ala “membuang ampasnya, sedot sarinya”, serta melalui penyalah-gunaan. Demikian kebijakan pemerintahan mereka terhadap kebudayaan.

Terlebih lagi saat Revolusi Kebudayaan (1966 - 1976), telah mendorong penghancuran kebudayaan tradisional ke taraf yang tak bisa diperbaiki lagi. Partai Komunis mengaduk-aduk konsep nurani masyarakat, sehingga mereka menjauhi tradisi bangsa. Demi mengingkari kebudayaan tradisional, mereka memuji hal yang kasar sebagai keindahan dan menggerakkan aksi “Naik Gunung Turun Desa” yakni gerakan mengirim pemuda-pemudi seluruh negeri ke pedesaan terpencil untuk belajar dari kaum buruh - tani yang memang tidak berpendidikan dan berkelakuan kasar.



(INTERNET)


Melalui gerakan bertubi-tubi tersebut, meski kaum intelektual China tidak lagi mematut diri dengan tata krama, tidak mengedepankan peradaban, bahkan tidak lagi menganggap tabu meludah sembarangan, berpakaian kedodoran, berperilaku malas-malasan, dan penuh umpatan kotor. Bahkan ada yang menganggap tindakan dan ucapan yang ngawur, dinilai tidak menghambat situasi secara keseluruhan. Bukankah itu semua berkat hasil kerja PKC?

Nampaknya, pada masa etika moralitas menuju ambang kehancuran ini, orang China jika tidak ingin menunjukkan keudikannya di depan masyarakat dunia, dan jika ingin memulihkan peradaban dan tata susila yang pernah eksis, harus mau mencampakkan PKC yang tak dapat hidup selaras dengan hal tersebut di atas, dan yang berupaya mati-matian merusak kebudayaan tradisional. (The Epoch Times/whs)

SEJARAH SINGKAT YIN DAN YANG


Sejarah Tiongkok kuno penuh dengan legenda, mukjizat, dan misteri yang telah mengilhami peradaban manusia hingga periode waktu sekarang.

Ada banyak faktor pendorong dalam hal ini, beberapa diantaranya bahkan lebih signifikan daripada lainnya. Sebuah simbol luar biasa yang telah menjadi simbol pokok di seluruh dunia adalah simbol Tao, Yin dan Yang. Simbol ini sudah luas dikenal di luar Tiongkok karena memiliki filosofis, historis dan makna batin spiritual yang mendalam.

Cara sederhana untuk menggambarkan simbol ini adalah bahwa ia mewakili “bagaimana segala sesuatu bekerja”. Di permukaan mungkin terdengar sederhana teta-pi apabila direnungkan lebih lanjut dan jika benar-benar dapat memahami sesuatu di balik simbol ini seseorang dapat memahami kedalaman maknanya yang signifikan. Serupa dengan cara kultivasi tingkat tinggi yang dipraktikkan di Tiongkok simbol Yin-Yang kelihatannya sederhana di permukaan namun kata-kata memiliki makna yang sangat mendalam.

Konsep Yin dan Yang dan Lima Unsur menyediakan kerangka intelektual tentang luasnya pemikiran ilmiah Tiongkok terutama di bidang-bidang seperti biologi dan kedokteran. Organ tubuh dianggap tidak saling terkait dalam berbagai cara yang sama seperti fenomena alam lainnya, dan paling baik dipahami dengan mencari korelasi dan korespondensi. Penyakit dipandang sebagai adanya gangguan dalam keseimbangan Yin dan Yang atau Lima Unsur yang disebabkan emosi, panas atau dingin, atau pengaruh lainnya. Dengan demikian terapi bergantung pada diagnosis akurat terhadap sumber ketidakseimbangan seperti mengubah cara hidup. Filosofi Yin dan Yang membimbing rakyat Tiongkok kuno dalam memperbaiki moralitas mereka.

Kaisar Kuning mengatakan ‘’Prinsip Yin dan Yang adalah dasar dari seluruh alam semesta. Ia mendasari segala sesuatu dalam penciptaan. Ia memberi panduan tentang pengembangan orangtua; ia adalah akar dan sumber hidup dan mati; kuil-kuil dewa beranggapan bahwa untuk merawat dan mengobati penyakit, seseorang harus mencari asal-usul mereka.”

Ide Yin-Yang telah menjadi kekuatan pendorong bagi tulisan-tulisan terkenal dari Tiongkok, seperti Kitab Perubahan (Zhouyi), Kedokteran Klasik Kaisar Kuning (Huangdi Neijing), dan Tao Te Ching. Budaya Tiongkok diketahui terinspirasi dari para dewa dan memiliki individu epik yang tak terhitung jumlahnya. Jika kita ingin memilih sebuah lambang untuk melambangkan budaya agung dan sejarah megah, simbol Yin-Yang pasti akan memiliki tempat yang adil dalam sejarah.

Catatan:

Berikut adalah ringkasan singkat tentang karakteristik Yin-Yang. Yin dan Yang pada dasarnya saling berlawanan, tetapi mereka adalah bagian dari alam, mereka bergantung satu sama lain, dan mereka tidak dapat hidup tanpa satu sama lain. Keseimbangan Yin dan Yang adalah penting. Jika Yin lebih kuat, Yang akan menjadi lemah, dan sebaliknya. Yin dan Yang dapat bertukar tempat dalam kondisi tertentu sehingga mereka biasanya tidak hanya Yin dan Yang saja. Dengan kata lain, Yin dapat berisi bagian tertentu dari Yang dan Yang dapat memiliki beberapa komponen Yin. Hal ini diyakini bahwa Yin-Yang eksis dalam segala hal. (Secret China/eva)

Rabu, 02 Maret 2011

Asal usul lentera merah



Pada masa akhir Dinasti Ming, Li Zicheng, pemimpin pemberontak, bersama tentaranya sedang mempersiapkan diri untuk menguasai kota Kaifeng.
Demi mendapatkan informasi yang akurat, Li menyamar sebagai penjual beras masuk ke Kaifeng. Setelah mendapat gambaran yang jelas, maka Li menyebarkan berita untuk kalangan rakyat jelata bahwa tentara pemberontak tidak akan mengganggu setiap rumah yang menggantung lentera merah di pintu depan.
Sekembalinya Li ke markas, dia membuat rencana penyerangan. Para penjaga kota Kaifeng mulai mendapat serangan gencar dari tentara Li dan membuat mereka kewalahan. Tidak berdaya membuat pasukan penjaga kota Kaifeng mengambil jalan pintas membuka bendungan dengan harapan tentara Li tersapu banjir dan hancur. Namun banjir juga melanda rumah penduduk.
Banyak orang yang berusaha menyelamatkan diri naik ke atap rumah. Bagi rakyat jelata, mereka hanya membawa lentera merah. Sedangkan kaum bangsawan dan pejabat berusaha menyelamatkan harta benda. Banjir terus meninggi dan membuat orang-orang mulai putus asa.
Demi melihat penderitaan yang akan dialami banyak rakyat jelata, Li memerintahkan anak buahnya menyelamatkan rakyat dengan rakit dan perahu. Yang membawa lentera merah tentunya.
Untuk memperingati kebaikan hati Li dalam menyelamatkan rakyat jelata, maka bangsa Tionghoa selalu menggantung lentera merah pada setiap perayaan penting, seperti perayaan tahun baru imlek.

Dui Lian atau Chun Lian



Imlek sebentar lagi nih, hmm mungkin masih banyak yang belum tahu nih tentang Dui Lian (对联) atau biasa pas imlek gini disebut juga Chun Lian (春联). Setelah mencari-cari di internet akhirnya ketemu juga beberapa nih. Biasanya Chun Lian/Dui Lian ini berupa rangkaian kata-kata yang ditulis dalam aksara mandarin terus ditempel dipintu sebelah kiri dan sebelah kanan. Kebanyakan memilih Chun Lian yang berwarna merah dan menempelnya di kedua sisi pintu. Sejarahnya ini berawal dari sebelum dinasti Qin (221 SM-206 SM) dan dinasti Han (206 SM–220M), orang-orang China biasanya menempatkan jimat yang terbuat dari kayu persik (桃木) di kedua sisi pintu depan rumah sebelum hari raya musim semi atau hari raya imlek. Jimat kayu persik ini adalah papan kayu yang diukir dengan nama Shen Tu (神荼) dan Yu Lei (郁垒), dimana kedua nama ini adalah nama dewa-dewa yang dipercaya dapat mengusir setan dan iblis, maka dari itu orang-orang memakai nama mereka untuk menakuti dan menjauhi mereka dari hantu-hantu dan roh-roh jahat. Adat istiadat ini bertahan terus dalam masyarakat China sampai lebih dari satu millennium sampai kepada zaman 5 dinasti (907M-960M), ketika nama dewa-dewa yang biasa ditulis di papan kayu persik itu kemudian digantikan dengan kalimat- kalimat yang berpasangan atau Dui Lian ini.
Selama zaman dinasti Ming (1368M-1644M), Zhu Yuan Zhang/Hong Wu Di (朱元璋/洪武帝, 21 October 1328–24 Juni 1398 ) , raja pertama dari dinasti Ming mendukung dengan antusias rakyatnya untuk memakai Dui Lian. Bahkan sampai ketika beliau membangun ibukota di JinLing, beliau memerintahkan semua menteri-menterinya, pejabat-pejabat, dan orang-orang awam untuk menempelkan Dui Lian di setiap pintu depan rumah mereka sebelum hari raya imlek. Dengan bijaksana, raja Zhu pergi ke kota dan memeriksa DuiLian yang tertempel disetiap pintu depan rumah-rumah. Dari sejak saat itu sampai dengan sekarang ini, budaya untuk menggunakan Chun Lian dilaksanakan.
Nah sekarang tentang Dui Lian ini agak unik, biasanya ada kalimat atas atau Heng Pi (横批) yang ditulis diatas pintu masuk kemudian ada Shang Lian (上联) disebelah kanan dan Xia Lian (下联) disebelah kiri. Heng Pi ini ditulis secara horizontal atau mendatar lurus diatas dan dua yang lain ditulis secara menurun atau vertical. Chun Lian dapat berdiri sendiri namun Dui Lian selalu berpasangan. Heng Pi juga tidak selalu disertakan atau ditulis. Nih beberapa contoh-contoh hasil pencarian.
Dui Lian :
1. 上联:四面青山看画展
下联:三溪碧水听诗吟
2. 上联:三春草木如人意
下联:万里河流似利源
3. 上联:元日有杯皆进酒
下联:春来无处不飞花
4. 上联:山青水秀风光好
下联:人寿年丰喜事多
5. 上联:春自寒梅唤起
下联:香由乳燕衔来
6. 上联:大地春光好
下联:农村气象新
Chun Lian :
1. 农户有牛喜迎春
2. 牛耕碧野千畦秀
3. 牛耕芳草地
4. 牵牛花绽喜牵牛
5. 黄牛耕绿野
Heng Pi :
1. 家合万事
2. 春风送福
喜气临门
3. 春回大地
日暖人间
4. 门门喜气
户户春风
5. 大地春光好
长天晓日红
6. 春入春天春不老
福临福地福无疆
Beberapa Heng Pi yang cocok banget buat yang buka usaha atau toko nih,
1. 南北东西不缺
甜酸苦辣皆全
2. 精法廉小餐特色
麻辣烫川味正宗

Setiap Tahun Baru Imlek tiba, masyarakat di China selain makan jiaozi (Chinese dumpling), membakar petasan, saling mengunjungi, dan mengucapkan selamat tahun baru, juga melakukan satu hal yang mencolok, yakni tie chun lian atau menempelkan tulisan di sisi kiri dan kanan pintu rumah atau pintu gerbang. Chun lian itu adalah sepasang tulisan di atas kertas merah. Maksud semula menempel chun lian adalah untuk mengusir hantu dalam rumah atau mencegah roh-roh jahat masuk ke dalam rumah atau suatu wilayah untuk mengganggu anggota rumah atau warga.

Asal mula Chun Lian

Pada zaman dahulu, di sebelah timur laut negeri itu, ada sebuah hutan pohon persik di atas sebuah gunung, Pohon persik bermacam-macam ukurannya, ada yang kecil, ada juga yang sangat besar. Di antara pohon persik yang ada di hutan itu, terdapat satu pohon yang sangat besar dan memiliki dua lubang pada batangnya. Di dalam dua lubang itu tinggallah kakak-beradik. Sang kakak bernama Shen Tu dan si adik bernama Yu Lei. Shen Tu dan Yu Lei bahu-membahu menjaga hutan pohon persik tersebut.
Di belakang hutan pohon persik ada sebuah lubang besar mirip sebuah sumur yang besar. Lubang itu dalam sekali dan dihuni berbagai siluman dan hantu. Umumnya mereka tidak berani keluar lubang dan masuk ke hutan pohon persik, karena ada dua penjaga yang sangat galak, yakni Shen Tu dan adiknya Yu Lei. Shen Tu dan Yu Lei sangat perkasa dan kuat, sampai-sampai binatang-binatang buas di gunung itu sangat takut terhadap mereka. Si harimau tua yang paling di takuti oleh para siluman pun takut terhadap Shen Tu dan Yu Lei. Jika para siluman berani macam-macam mencuri buah persik dengan cepat Shen Tu dan Yu Lei menangkap mereka dan membuangnya ke sarang harimau untuk jadi santapan lezat harimau-harimau gunung.
Para siluman dan hantu tidak pernah patah arang untuk mencari jalan agar bisa berbuat jahat sesuka mereka. Suatu hari, ketua para hantu dan siluman, sebut saja Nenek Hantu, mengajak warganya untuk rapat. “Kita tidak boleh selamannya tinggal diam. Kita harus mencari jalan untuk bisa keluar dan melakukan apa yang kita suka,” katanya. Para hantu dan siluman pun menyambut dengan gembira motivasi yang di berikan oleh Si Nenek Hantu. “Rupanya Nenek Hantu adalah motivator yang sangat ulung,” demikian pendapat mereka. Lalu, seorang di antara mereka bertanya, ” Jika Shen Tu dan Yu Lei mengejar kita, bagaimana?” Para siluman dan hantu, setelah mendengar pertanyaan ini, segera kembali putus asa.
Akan tetapi, di tengah keputusasaan itu, seekor hantu cerdik berkata, “Begini, waktu Shen Tu dan Yu Lei tidur kita curi saja perlengkapan dan senjata mereka. Tanpa senjata itu, mereka pasti tak akan berdaya menangkap kita”. “Usul yang sangat bagus. Jika terlaksana, pasti berhasil,” ujar seorang siluman. “Tapi, siapa yang harus pergi mencuri perlengkapan dan senjata mereka?” tanya salah satu dari mereka. Tidak satu siluman dan hantu pun yang berani mengajukan diri. Mereka sangat paham akan kemampuan Shen Tu dan Yu Lei.
Tiba-tiba ada seekor hantu kecil pun mempromosikan diri, “Baik, baik, jangan khawatir, aku hantu paling kecil, mereka susah melihat aku. Biar aku yang pergi dan mencuri senjata mereka.” Sementara itu, hari sudah larut malam, dan setelah memeriksa semuanya, Shen Tu dan Yu Lei pun tertidur. Si hantu kecil mulai beraksi ke ruangan tidur Shen Tu dan Yu Lei. Hantu kecil itu agak takut juga, karena senjata itu ada di samping kepala Shen Tu dan Yu lei. Namun, mengingat bahwa jika senjata tidak diambil, mereka akan seterusnya meranam, dengan tekad yang kuat, ia mendekatinya. Shen Tu dan yu Lei tidak terbangun. Dengan semangat si hantu kecil pulang ke istana mereka. Teman-teman dan rekan sejawatnya pun menyambut dengan kegirangan.
“Ha-ha-ha… mereka tak akan berdaya menangkap kita lagi. Ayo, saatnya kita berpesta. Kita keluar sarang dan segera mengacaukan para penduduk desa.” Mereka dengan bangga menyambut gembira kebebasan mereka. Bahkan para siluman pun berani berteriak untuk mengganggu Shen Tu dan Yu Lei. Shen Tu dan Yu Lei bersiap menangkap para siluman pengacau, tetapi tiba-tiba mereka sadar bahwa senjata mereka sudah hilang. Mereka mencoba mencari, tetapi tidak mendapatinya. Dari kejauhan terlihat si hantu kecil sedang bermain-main dengan senjata mereka.
Shen Tu tertawa sinis sambil berkata kepada adiknya, “Para siluman itu menyangka dengan membawa senjata itu, maka kita tidak berdaya. Mereka salah, mari kita beri mereka pelajaran!” Dengan segera Shen Tu dan Yu Lei pergi mengambil sebuah dahan dari pohon persik yang paling tua dan besar. Setelah itu, mereka segera berlari ke arah siluman. Para siluman pun mulai ketakutan. Namun, Nenek Hantu berkata , “Jangan takut! Senjata andalan mereka tidak ada di tangan mereka. Mereka bisa berbuat apa terhadap kita? Ayo , kita teruskan pesta.” Mendengar ucapan Nenek Hantu, mereka pun merasa tenang.
Waktu Shen Tu dan Yu Lei datang, mereka semua malah tertawa sambil mengolok-olok, “Ha-ha-ha kalian datang ke sini mau ngapain? Apa mau cari senjata kalian? Sayang, senjata kalian sekarang sudah menjadi milik kami.” Namun, tanpa diduga, dengan cepat Shen Tu dan Yu Lei menghajar dan menangkap mereka. Dalam waktu singkat mereka semuadiikat dan dilemparkan kembali ke lubang dalam sarang mereka. Rupanya Shen Tu dan Yu Lei tetaplah jagoan meski senjata andalan tidak ada di tangan mereka. Para siluman dan hantu sangat ketakutan dan tidak berani lagi macam-macam jika mendengar nama Shen Tu dan Yu Lei atau mengetahui keberadaan mereka di suatu tempat.
Sejak saat itu, penduduk desa selalu menggunakan dua lembar kertas yang terbuat dari bahan pohon persik. Pada kertas itu ditulis nama Shen Tu dan Yu Lei pada kertas lain. Kedua kertas itu lalu di tempelkan di sebelah kiri dan kanan pintu rumah atau gerbang. Kalau tahu ada dua nama yang menakutkan itu, para siluman dan hantu tidak akan berani datang mengganggu. Itulah kisah mengapa orang membuat chun lian.
Pada zaman Dinasti Ming (1369-1644 Masehi) di kota Nanjing, diterapkan bahwa di setiap rumah penduduk harus ada chun lian dari kertas merah di setiap pintu rumah dan gerbang. Tentu chun lian tidak lagi semata bertuliskan nama Shen Tu dan Yu Lei, namun boleh bermacam-macam tulisan hikmah atau berkat. Kertas merah itu sudah menjadi lambang Shen Tu dan Yu Lei, serta tulisan di atasnya adalah kata-kata mutiara atau harapan yan oleh seisi rumah diharapkan bisa terjadi pada tahun yang baru.

Asal-Usul Tradisi "Bakar Rumah-rumahan Kertas"


Sejak zaman dulu sebenarnya ada 2 jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Mereka yang mempercayai tradisi ini beranggapan bahwa dengan membakar kertas emas dan perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada zaman Tiongkok kuno.

Tetapi ternyata kemajuan zaman telah mempengaruhi pula tradisi ini, sekarang yang dibakar bukan hanya kertas emas dan perak, ada pula sejenis uang kertas dengan nilai nominal aduhai (milyaran), yang bentuknya mirip dengan uang kertas yang digunakan pada zaman sekarang. Yang membedakannya adalah kalau pada uang kertas yang berlaku pada umumnya ada yang bergambar kepala negara atau pahlawan, tetapi pada uang kertas yang akan dikirim kepada para leluhur yang telah meninggal ini bergambar Yen Lo Wang (Giam Lo Ong) yakni Dewa Yama, penguasa alam neraka, dan adanya tulisan "Hell Bank Note" (Mata Uang Neraka). Sebenarnya ini adalah salah kaprah yang perlu diluruskan, karena yang semestinya uang-uangan ini dimaksudkan untuk alam baka dan buka neraka. Entah dari mana asal mula timbulnya ide untuk membuat dan membakar uang kertas akhirat seperti itu, mungkin dasar pemikirannya adalah karena sekarang mata uang tidak lagi berupa kepingan emas dan perak, melainkan uang kertas; tentunya di alam sana juga perlu penyesuaian.

Konon tradisi "Bakar Rumah-rumahan dan uang Kertas" ini baru dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana serta pemeluk Agama Buddha yang taat sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.

Dalam pandangan Kaisar sendiri, beliau puas dengan kemakmuran yang ada disekeliling beliau. Masyarakat dikota raja semuanya hidup bahagia, tenteram dan damai. Sampai suatu ketika sang raja pergi keluar kota raja dan melihat keadaan masyarakatnya yang sesungguhnya.

Keadaan diluar kota raja sungguh menyedihkan. Mereka hanya cukup untuk makan, namun mereka tidak punya apa-apa dan hidup dalam kemiskinan. Yang ada hanyalah pohon-pohonan bambu saja dihalaman rumah mereka.

Sekembalinya ke kota raja, sang kaisar murung dan terus berpikir keras bagaimana caranya untuk menyeimbangkan kesejahteraan rakyatnya baik yang dikota maupun diluar kota raja. Akhirnya kemudian dikisahkan sang raja mendapatkan ide untuk berpura-pura mangkat, dengan demikian maka seluruh orang kaya di kota raja akan berkumpul untuk melayat beliau.

Disebarkan kabar bahwa Kaisar menderita sakit yang cukup parah, mendengar kabar ini rakyat menjadi sedih. Beberapa hari kemudian secara resmi keluar pengumuman dari Kerajaan bahwa Kaisar Lie Sie Bien meninggal dunia. Rakyat benar benar berduka-cita karena merasa kehilangan seorang Kaisar yang dicintai, sebagai ungkapan rasa duka cita ini penduduk memasang kain putih di depan pintu rumahnya masing-masing tanda ikut berkabung atas mangkatnya Sang Kaisar.

Sebagaimana tradisi pada waktu itu, jenazah Kaisar tidak langsung dikebumikan,
melainkan disemayamkan selama beberapa minggu untuk memberi kesempatan pada para pejabat istana dan rakyat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Alkisah, setelah beberapa hari kemudian Kaisar Lie Sie Bien hidup kembali atau
bangkit kembali dari kematiannya. Dan kemudian beliau bercerita mengenai perjalanan panjangnya menuju alam neraka, yang dialaminya selama saat kematiannya.

Dimana salah satu cerita beliau, adalah ketika beliau dalam perjalanan menuju
alam neraka, sang Kaisar bertemu dengan ayah bunda, dan sanak keluarga, serta teman-temannya yang telah lama meninggal dunia. Dimana dikisahkan bahwa kebanyakan dari mereka berada dalam keadaan menderita kelaparan, kehausan, dan serba kekurangan walaupun dulu semasa hidupnya mereka hidup senang dan mewah. Keadaan mereka sangat menyedihkan, walaupun saat ini anak-anak dan keturunannya yang masih hidup berada dalam keadaan senang dan bahagia.

Makhluk-makhluk yang menderita ini berteriak memanggil Lie Sie Bien untuk minta pertolongan dan bantuannya untuk mengurangi penderitaan mereka. Menurut Kaisar mereka ini sangat mengharapkan bantuan dan pemberian dari keturunan dan sanak-keluarganya yang masih hidup.

Lalu sang Kaisar menghimbau dan menganjurkan agar keturunan dan sanak keluarga
yang masih hidup jangan sampai melupakan leluhur dan keluarganya yang telah meninggal. Kita yang masih hidup wajib mengingat dan memberikan bantuan kepada mereka yang menderita di alam sana, sebagai balas budi kita kepada leluhur kita itu.

Untuk itu keluarga yang masih hidup dianjurkan untuk mengirimkan bantuan dana/uang kepada mereka yang berada di alam penderitaan itu. Dan dana bantuan itu adalah salah satunya berupa "Rumah-rumahan" dan uang-uangan untuk dibakar yang terbuat dari bambu-bambu (yang juga merupakan bahan dasar pembuatan kertas saat itu). Rumah-rumahan ini yang kemudian dibakar dan akan menjelma menjadi rumah beserta isinya di alam sana, sehingga dapat dipergunakan oleh ayah bunda, leluhur, dan sanak keluarga yang berada di alam sana untuk meringankan penderitaan mereka.

Karena yang berkisah ini adalah seorang Kaisar yang sangat dihormati dan dicintai segenap rakyatnya, maka tentu saja cerita ini dipercayai, dan himbauan kaisar langsung mendapatkan tanggapan yang baik dari para pejabat, bangsawan, dan seluruh rakyat kerajaan Tang.

Dengan demikian maka masyarakat kota raja akan berbondong-bondong membeli bambu untuk kebutuhan rumah-rumahan yang akan dibakar serta pembuatan kertas kepada masyarakat luar kota raja yang hidup dalam kemiskinan.

Pesan Moral :
Dalam persembahyangan dan melakukan pembakaran uang-uangan kertas awalnya sebenarnya untuk membantu perekonomian masyarakat miskin dinasty Tang. Namun saat ini sudah berubah menjadi area bisnis bagi kalangan pengusaha yang sebenarnya tidak dapat disalahkan, hanya kita sebagai pelaku perlu untuk memahami maksud yang sebenarnya sehingga tidak melakukan sesuatu yang tidak dipahami dengan baik.

Apalagi adanya salah kaprah pada jenis uang-uangan saat ini dengan menuliskan Bank of Hell yang sebenarnya jauh dari maksud awal yang bermaksud untuk menjadi mata uang alam baka dan bukan mata uang neraka seperti yang terjadi saat ini.

Selain itu, pembakaran juga mengingatkan kita dengan pilar-pilar budaya Tionghoa untuk penghormatan terhadap leluhur. Selain itu, persembahyangan merupakan waktu kebersamaan untuk berkumpul dan bercerita mengenang pesan moral dan kebaikan leluhur untuk dijaga dan diteruskan oleh kita sebagai keturunannya sebagai wujud nilai bakti kepada leluhur.

Pembakaran juga memiliki pesan moral tersirat untuk berbakti dan setia kepada negeri kita tinggal karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam dan tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak, tempat kita lahir dan bertumbuh.

Semoga dengan penulisan ini semua bisa benar-benar memahami apa yang dilakukan. Karena maksud sebenarnya sangat baik dan memiliki nilai moral yang tinggi, terkadang hanya karena ketidak tahuan maka bisa terjadi penyimpangan yang tidak dipahami.

Sumber Tulisan :
1. Origins of Chinese People and Custom, Li Xiaoxiang, Asiapac Culture Singapore, 2001
2. http://suhuliem.forumotion.com/ajaran-taoismeklik-disini-f4/ask-tanya-kim-cua-t50.htm
3. http://www.indonesiaindonesia.com/f/34700-bakar-kertas-sembahyang/
4. Berdasarkan penuturan Bhante Dhammiko, Dhammadesana Vihara Berkah Utama 14 Maret 2009

Senin, 13 Desember 2010

Legenda Gunung Phoenix Yunnan


Konon pada dinasti Ming, seorang penjagal hewan bernama Zhao hidup di pinggiran gerbang selatan kota Kunming.

Suatu hari, Zhao berencana memotong seekor induk sapi. Dicari kemana-mana, tetapi dia tidak dapat menemukan pisau potongnya.

Seekor anak sapi di dekatnya, bersuara dengan sedih.

Zhao kemudian memukul anak sapi tersebut beberapa kali. Anak sapi itu pun berdiri.

Di bawah anak sapi tampak pisau potong yang dicari-carinya. Zhao seketika menyadari bahwa anak sapi tersebut barangkali mengerti bahwa induknya akan dipotong.

Oleh karena itu, sambil bersuara sedih, pisau tersebut disembunyikan di bawah badannya.

Zhao tersentuh oleh tindakan anak sapi yang berbakti itu dan mengurungkan rencananya. Dia membawa anak sapi dan induknya ke Gunung Barat, tempat dimana dia hidup menyepi.

Zhao adalah orang yang pemarah. Dia tahu bahwa dia lekas emosi, jadi seringkali dia melafalkan kata-kata, “rendam api di dalam hati, agar bertemu Lu Dongbin.” (Lu Dongbin adalah seorang pendeta Tao bijak yang sangat terkenal dan menjadi teladan semua orang pada masa itu).

Suatu hari, seorang pendeta tao tua mengunjungi kediamannya.

Zhao menyambut beliau dengan secangkir teh hangat. Sebagai rasa hormat, Zhao bahkan menyajikannya dengan cangkir porselin yang hanya digunakan pada acara-acara khusus.

Pendeta Tao mengambil secangkir teh yang dihidangkan, kemudian dengan sengaja menjatuhkannya. Zhao terbelalak melihat kepingan cangkir porselennya di tanah. Raut mukanya menampakkan kemarahan.

Ketika Zhao menoleh ke arah pendeta Tao, sosok disebelahnya telah menghilang. Tiba-tiba, cangkir yang berserakan telah kembali ke kondisi semula dan berada dalam keadaan utuh di atas meja. Di bawah cangkir itu, ada sepotong kertas bertuliskan, “Dongbin telah ke sini, tetapi api di dalam hati telah tersulut sekali lagi.”

Zhao sadar bahwa Pendeta Tao itu tak lain adalah Lu Dongbin. Zhao merasa sangat malu karena masih memiliki rasa marah di dalam hatinya. Zhao meninggal tak lama setelah kejadian itu karena dia memang sudah tua.

Beberapa tahun kemudian, pejabat Yongbin Chen tiba di Kunming untuk memulai tugasnya. Suatu hari Dia bepergian ke Gunung Barat dan merasakan keakraban yang mendalam dengan daerah-daerah di sekitar gunung itu.

Chen membaca legenda Zhao yang terukir pada sebuah batu prasasti dan terkejut saat melihat bahwa waktu kematian Zhao adalah tepat sama dengan hari kelahiran dirinya. Chen mulai mengira-ngira bahwa ia adalah reinkarnasi dari Zhao.

Setelah merenung, Chen teringat saat dia menjabat di Provinsi Fujian, seorang Pendeta Tao mengunjunginya dan bertanya, “Apakah kamu telah meredam api di dalam hatimu?”

Chen hanya termenung dengan pertanyaan itu. Setelah percakapan yang singkat, Pendeta Tao itu pun pergi. Tetapi, sebelum pergi, Pendeta Tao mengundang Chen untuk pergi ke Gunung Phoenix suatu saat nanti.

Setelah tiba di Yunnan, Chen mendengar bahwa ada gunung yang bernama Gunung Phoenix di provinsi itu.

Saat berkunjung ke sana, dia berjumpa dengan seorang Tao berdiri di atas tumpukan batu. Pendeta itu memegang sepasang botol dengan ujung yang menghadap satu sama lain.

Pendeta Tao itu tersenyum dan bertanya kepada Chen, “Tuan, lama tak jumpa. Anda terlihat dalam keadaan baik. Ke mana anda akan melompat kali ini?”

Pengawal Chen berteriak marah atas sikap Tao itu, tetapi pendeta itu seketika menghilang. Chen tersadar bahwa dua botol dengan ujung saling berhadapan itu merepresentasikan Karakter Cina “Lu”, sedangkan berdiri di atas batu mengindikasikan Karakter Tionghoa untuk “Yan”. “Yan Lu” adalah nama resmi dari Lu Dongbin, yang berarti Pendeta Tao itu adalah Lu Dongbin.

Legenda mengisahkan bahwa Chen bertemu Lu Dongbin sebanyak tiga kali di Gunung Phoenix. Lu mengungkapkan bahwa gunung itu adalah tempat yang suci.

Sehingga, selama tiga tahun pemerintahannya di daerah tersebut, Dia memerintahkan untuk membangun “Istana Cincin Hijau” untuk menghormati Sang Bijak Lu Dongbin. Sekarang, istana ini adalah sebuah tempat wisata yang terkenal. (Erabaru/wid)

Asal Usul Minyak Goreng



Orang Tiongkok Kuno mulai menggoreng dengan minyak yang keluar dari lemak daging yang mereka gunakan sebelumnya. Mereka akan menggunakan minyak yang berbeda pada musim yang berbeda.

Pada musim semi mereka akan menggunakan minyak dari lemak sapi untuk memasak daging domba dan babi.

Di musim panas mereka menggunakan minyak dari lemak untuk memasak ayam dan ikan kering. Pada musim gugur mereka akan menggunakan lemak dari lemak babi memasak daging sapi dan rusa.

Di musim dingin, orang dahulu akan menggunakan minyak lemak dari domba untuk memasak ikan segar dan angsa.

Minyak nabati pertama yang digunakan mungkin minyak wijen karena rasanya yang khas (sampai sekarang masih digunakan dalam banyak masakan China).

Minyak Wijen banyak digunakan jaman San Guo atau jaman 'tiga kerajaan' periode peradaban Tiongkok. Mulai ada banyak variasi minyak nabati jaman Dinasti Song, diantaranya minyak dari kedelai (termasuk kacang kedelai, kacang hijau, kacang hitam, kacang coklat, biji kapas, jagung, olive, teh, kemangi, minyak jarak, adas, kenari, dll)

Dinasti Qing menggunakan minyak kacang tanah sekitar (1644-1911).

Saat ini banyak aditif dan tambahan zat kimia dan pengawet yang digunakan di zaman kita terhadap makanan, orang dahulu jauh lebih sehat dalam cara mereka menyiapkan makanan. (Erabaru/art)


Ramuan Meng Po dan Reinkarnasi



Konon, orang-orang harus meminum ramuan Meng Po, sebelum mereka terlahir ke dunia manusia.

Menurut legenda, setelah manusia meninggal, jiwa akan dikirim ke neraka. Kemudian, jiwa akan menerima hukuman di berbagai istana yang berbeda, hingga jiwa tersebut sampai ke istana ke-10 yaitu istana Meng Po.

Tempat ini adalah tempat di mana jiwa menjalani persiapan reinkarnasi. Jalur menuju tempat Meng Po dinamai “Jalur Kuning Musim Semi”.

Menurut cerita, Meng Po lahir pada jaman Han Barat. Dia menekuni ajaran Konfusius sejak kecil dan ingin mendalami kitab Buddha ketika beranjak dewasa.

Selama hidupnya, Dia tidak pernah mengingat masa lalu ataupun memikirkan masa depannya. Meng Po hanya tekun memberitahu orang-orang untuk tidak membunuh dan menjadi vegetarian.

Dia tetap melajang hingga umur 81 tahun dan orang-orang memanggilnya dengan nama Meng Po. Kemudian, Dia pergi ke gunung untuk berkultivasi dan menjadi orang yang tercerahkan.


Pada periode Han Timur, banyak orang dapat mengetahui apa yang mereka alami di kehidupan sebelumnya. Jadi, banyak rahasia langit yang terbongkar. Oleh karena itu, Langit menunjuk Meng Po untuk bertugas menangani jiwa manusia yang akan reinkarnasi.

Ramuan Meng Po, juga disebut ramuan ajaib, terbuat dari bahan herbal dari dunia manusia. Minuman ini semacam anggur dan memiliki 5 jenis rasa, yaitu manis, pahit, pedas, asam dan asin. Jiwa yang akan reinkarnasi harus meminum ramuan ini.

Bagi yang menolak, sepasang pasungan akan muncul mengunci kaki mereka, dan kuningan tajam akan menusuk kerongkongan mereka, memaksa mereka meminum ramuan itu.

Menurut legenda, ramuan Meng Po mampu menghapus memori tentang kejadian yang telah lewat. Itu sebabnya, manusia terlahir ke dunia tanpa memori dari kehidupan yang lalu dan terjebak pada popularitas, kemewahan dan kepentingan pribadi di tengah hidup duniawi ini. (Erabaru/ana)

Legenda Pagoda Kuning


Pagoda Kuning adalah salah satu dari empat Pagoda Besar di China. Berdiri di samping Sungai Yangtze dan menghadap ke Kota Wuhan di Propinsi Hubei. Banyak penyair termasuk Cui Hao dan Li Bai, menulis puisi terkenal tentang pagoda itu. Legenda menyebutkan bahwa pagoda itu dibangun untuk menghormati seorang Dewa Tao.

Pada zaman kuno, ada seseorang bernama Xin yang mengelola kedai kecil. Satu hari, seorang pengemis datang dan memintanya semangkuk arak. Mr. Xin tidak memandang rendah orang itu karena penampilannya dan menawarkan semangkuk besar arak tanpa bayaran.

Selama enam bulan, orang itu datang tiap hari dan meminta arak. Mr. Xin menyajikannya setiap hari dengan sabar.

Suatu hari, orang itu berkata kepada Mr. Xin, “Saya berhutang terlalu banyak padamu, tapi saya tidak punya uang untuk membayarnya.” Ia kemudian mengambil kulit jeruk dari keranjang yang dibawanya dan menggambar pagoda kuning di tembok dengan kulit jeruk.

”Tepukkan tanganmu ketika tamu hadir dan pagoda akan berdansa,” kata orang itu. Ia kemudian menepukkan tangan dan bernyanyi untuk menunjukkannya dan pagoda itu keluar dari tembok dan menari, mengikuti irama.

Selama itu, kedai Mr. Xin menjadi terkenal karena pagoda menarinya. Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan keajaiban dan Mr. Xin mendapatkan banyak keuntungan selama itu.

Suatu hari, orang itu kembali. Mr. Xin berterima kasih padanya dan menawarkan tunjangan finansial seumur hidupnya. Orang itu tersenyum dan berkata, “Bukan itu maksud kedatanganku.” Ia mengeluarkan serulingnya untuk memainkan beberapa nada. Ketika orang itu bermain, awan turun dari atas dan pagoda itu terbang ke awan. Orang itu menunggangi pagoda, terbang ke surga.

Mr. Xin sangat berterima kasih pada orang itu, yang dipercayainya sebagai Dewa Tao. Sebagai terima kasihnya, Mr. Xin membangun pagoda di lokasi di mana orang itu dan pagodanya naik. Dinamai dengan Pagoda Kuning. (EpochTimes/ray)

Cara Orang Jaman Dulu Memprediksi Cuaca

Pepatah Kuno Tiongkok: Kemilau pagi pertanda hujan, sedangkan kemilau senja menunjukkan sebuah hari yang cerah.



Orang Tiongkok kuno mampu memprediksi cuaca dengan keahlian alami mereka. Karena bebas dari budaya modern, musik rap, heavy metal dan pengaruh lainnya, kemampuan alami mereka jauh lebih berkembang. Budaya pada waktu itu lebih beradab dan hamonis, di mana orang orang meluangkan waktu lebih banyak untuk kontemplasi diri dan meditasi.


Pada jaman Dinasti Shang, orang-orang menggunakan sistem sensor melalui mata dan pendengaran untuk memprediksi cuaca. Sebagai contoh, kemilau matahari tenggelam yang berwarna merah mengindikasikan cuaca cerah di hari berikutnya


Hal lain yang secara umum digunakan untuk memprediksi cuaca adalah binatang. Bagi kita yang memiliki anjing, kita semua tahu bahwa anjing akan mulai berlaku ganjil sesaat sebelum badai hujan terjadi. Pada momen tersebut, anjing akan mulai merasa malas dan ingin tertidur.

Tetapi, beberapa menit sebelum gempa atau badai terjadi, anjing akan menggonggong tak menentu. Adalah pada dinasti Zhou di mana memanfaatkan berbagai binatang untuk prediksi cuaca, menjadi suatu hal yang umum. Studi mengenai perilaku binatang terbukti menjadi cara yang efisien untuk memprediksi cuaca. Dengan cara ini, orang jaman dahulu bisa bersiap untuk sebuah cuaca yang buruk atau menyongsong hari yang indah. (Erabaru/ana)

Legenda Perjodohan


Hampir setiap orang di dunia ini memilik pasangan dan ada yang akhirnya menikah atau pun tidak walaupun sudah bersama dalam waktu lama. percayakah Anda bahwa sebuah pernikahan ditentukan oleh jodoh, ini ada salah satu legenda yang bisa membuktikan hal tersebut.

Pada zaman Dinasti Tang, ada seseorang laki-laki bernama Wei Gu. Suatu hari ia pergi ke wilayah Songcheng.

Pada malam harinya, ia melihat seorang laki-laki tua sedang membaca buku besar dan sangat tebal, membawa tas besar berisi banyak benang merah duduk di bawah sinar bulan.

Dengan penuh penasaran dia bertanya pada laki-laki tua itu, “Orang tua, bisa anda jelaskan buku apa yang anda baca ini?”

Laki-laki tua itu berkata, “buku ini berisi tentang perjodohan antara laki-laki dan perempuan di seluruh dunia.”

Wei menjadi lebih terkejut dan bertanya: "Lalu apa maksud benang merah di tas besar Anda ? "

Orang tua tersenyum dan berkata: "Benang merah ini digunakan untuk mengikat kaki 
setiap pasangan. Jika mereka yang diikat dengan benang merah, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, pada akhirnya mereka tetap akan menikah. "


Gu Wei tidak percaya, tapi dia masih penasaran tentang orang tua ini. Ketika 
dia ingin bertanya lagi, orang tua itu berdiri dan berjalan menuju 
pasar dengan membawa buku dan tas miliknya. Wei mengikutinya.

Ketika orang tua itu melihat seorang wanita buta yang membawa seorang gadis berumur tiga tahun di jalan, ia berkata kepada Wei: "Gadis muda ini akan menjadi istri Anda di masa depan." Kemudian orang tua itu lenyap.

Wei kaget dan marah, kemudian memerintahkan pelayannya untuk membunuh anak tersebut. Pelayan itu segera menjalankan perintah tuannya, kemudian melarikan diri.

Setelah 14 tahun berlalu, Wei mempunyai tunangan, putri dari Wang Tai 
(Gubernur Xiangzhou). Gadis itu sangat cantik dan baik hati, namun ada sedikit bekas luka di alisnya. Mereka akan segera melangsungkan ikatan perkawinan.


Suatu hari Wei bertanya kepada bapak mertuanya tentang bekas luka yang dimiliki istrinya.

Wang mengatakan putrinya ditikam seseorang, ketika dia dibawa oleh pengasuhnya di sebuah pasar. Karena segera menyelamatkan diri, ia tidak mengalami luka serius, hanya punya luka di alisnya.

Wei tegang dan bertanya: "apakah pengasuh itu buta?" Wang mengatakan: "ya, tapi bagaimana Anda bisa tahu itu? "Kemudian Wei memberitahu Wang, dia menceritakan tentang dirinya dan orang tua yang ditemuinya di Songcheng. Wang sangat terkejut akan hal ini.

Wei dan istrinya memahami perkawinan mereka telah diatur oleh ikatan perjodohan. Jadi mereka sangat menghargai pernikahan mereka dan hidup bahagia. 
(Erabaru/ngrh)

Sejarah Singkat Prinsip Yin dan Yang


Sejarah Tiongkok kuno penuh dengan kisah legenda, keajaiban dan bahkan berbagai misteri yang telah memberikan pengaruh kuat bagi peradaban manusia sampai di masa sekarang ini. Ada beberapa faktor pengaruh dalam hal ini, bahkan ada beberapa faktor yang membawakan pengaruh yang lebih signifikan dari yang lain.

Salah satunya adalah sebuah simbol luar biasa yang telah menjadi simbol utama dan telah dikenal di seluruh dunia ini, simbol para penganut ajaran Taoisme, dikenal dengan nama simbol Yin dan Yang.

Tidak salah jika simbol ini dikenal secara luas diluar daratan Tiongkok sebagai simbol filosofi, simbol sejarah, dan juga dianggap mengandung banyak makna yang mendalam dalam sisi spiritual.

Sebuah kalimat sederhana untuk menggambarkan makna yang terkandung dari simbol ini adalah 'bagaimana segala sesuatu bisa eksis'.

Dari sisi permukaan mungkin akan mempunyai arti sederhana, tetapi jika disimak lebih jauh dan jika ternyata ada yang bisa mengerti arti sesungguhnya dari simbol ini, maka orang itu akan menemukan sebuah pemahaman yang sangat luas darinya.

Sama seperti berbagai cara kultivasi yang dilakukan di Tiongkok, simbol Yin Yang ini sangat sederhana dari tampilan luarnya tetapi tetapi mengandung makna yang sangat luas di dalamnya.

Berbagai prinsip dari Yin Yang dan 5 elemen memberikan sumbangsih penting bagi berbagai gambaran awal pada banyak ilmu pengetahuan Tiongkok kuno terutama dalam bidang biologi dan pengobatan.

Organ organ tubuh manusia dipandang mempunyai hubungan erat dengan berbagai fenomena alam di luar, dan hal tersebut dapat diketahui melalui berbagai hubungan dan kesesuaian yang teridentifikasi.

Penyakit yang timbul dalam tubuh dipandang sebagai gangguan dari keseimbangan Yin Yang dan 5 Elemen yang timbul karena berbagai macam emosi, panas dan dingin, atau pengaruh-pengaruh yang lainnya.

Terapi dilakukan sesuai dengan diagnosa yang tepat terhadap sumber asal ketidakseimbangan tersebut yang telah merubah kondisi tubuh seseorang. Filosofi Yin dan Yang ini membimbing para orang Tiongkok kuno untuk mengenali tubuh mereka sendiri.

Kaisar Kuning(salah satu kaisar dalam sejarah Tiongkok kuno) mengatakan “ Prinsip Yin Yang merupakan awal dari alam semesta, ia merupakan awal dari segala ciptaan, ia merupakan asal muasal nenek moyang kita; ia juga merupakan akar atau sumber utama dari kehidupan dan kematian, ia ditemukan di kuil-kuil yang menyembah para dewa, untuk mencegah timbulnya ataupun menyembuhkan penyakit kalian harus mencari tahu asal prinsip Yin Yangnya”

Yin Yang telah menjadi sumber pemikiran utama dalam berbagai teks kuno yang terkenal di Tiongkok; seperti kitab Zhouyi ( atau yang lebih terkenal dengan nama kitab I – Ching ), kitab klasik ilmu pengobatan Kaisar Kuning (HuangDi NeJing), dan juga Tao Te Ching (kitab utama penganut ajaran Taoisme).

Kebudayaan Tiongkok Kuno terkenal dengan budaya turunan dari dewa dan memiliki berbagai karakter yang agung. Jika kita akan memilih sebuah simbol untuk menyimbolkan kebudayaan dan sejarah yang agung ini, maka Yin Yang adalah yang paling cocok untuk dijadikan simbol sejarah itu.

Berikut adalah kesimpulan singkat mengenai karateristik dari Yin Yang; Yin dan Yang adalah saling berlawanan di alam, tetapi mereka merupakan bagian dari alam, mereka bergantung satu sama lain, mereka tidak dapat eksis tanpa salah satu darinya.

Keseimbangan Yin dan Yang adalah sangat penting. Jika Yin lebih menguat, maka Yang akan melemah, begitu juga sebaliknya. Yin dan Yang dapat berubah sesuai dengan berbagai kondisi jadi mereka tidak selalu Yin dan Yang saja, dalam kata lain, Yin dapat memiliki sedikit Yang, dan Yang dapat memiliki sedikit komponen Yin, dipercaya bahwa Yin dan Yang eksis secara bersamaan dalam segala sesuatu di muka bumi dan alam semesta ini. (Erabaru/tan)

Senin, 09 Agustus 2010

BARONGSAI : Ritual atau Hiburan?


Tak ada acara istimewa pada Imlek saat ini. Yang benar itu syukuran Imlek. Kami lebih bersyukur kepada Yang Maha Esa atas segala rahmat yang telah dilimpahkan kepada kami, kata Ketua Masyarakat Agama Kong Hu Chu Indonesia (Makin) Surabaya, Bingky Irawan.

Menurutnya, tak ada hiburan yang bakal memarakkan Imlek karena yang dimaksud dengan Imlek sesungguhnya adalah Barongsai itu sendiri. “Telah terjadi salah paham bila Barongsai dianggap sebagai hiburan.” Menurut Bingky, Barongsai adalah bagian dari acara ritual yang dimaksudkan untuk membersihkan roh jahat.

Dalam legenda Tionghoa, Barongsai tergolong binatang gaib yang muncul setiap 500 tahun sekali. Binatang berkepala kijang dengan satu tanduk dan bersisik ular itu adalah perlambang munculnya pemimpin baru.

Pertunjukan Barongsai dan Liong Samsi konon pertama kali di Nusantara ketika menyambut kedatangan seorang duta dari negeri Cina. Namanya, Sam Pok Kong. Dia juga dikenal sebagai duta, jenderal panglima perang yang taat menjalankan syariat Islam. Meski seorang muslim, dia juga mempelajari kepercayaan Budha dan Tao.

Masyarakat pesisir di Jawa Tengah menyebut Sam Pok Kong sebagai Kiai Dampo Awang. Sedang warga Jepara memberi nama Laskar Jepara. Petilasan yang masih tersisa, jangkar kapal, masih tersimpan di museum Kartini Jepara. Jangkar satunya ada di Klenteng Gedong Batu Semarang. Sam Pok Kong sendiri meninggal di negeri asalnya sana, sepulang dari Jawa.

Barongsai sendiri, menurut sinolog UI AS Udin ada dua macam. Pertama, Barongsai dalam bentuk singa dan paling banyak dimainkan. Kedua, Barongsai bentuk naga (Liong Samsi) yang muncul pada upacara penobatan kaisar Tionghoa. Naga – binatang khayalan yang dimitoskan – menjadi lambang kebesaran kaisar Tionghoa.

Sedangkan singa, kata Udin, sebenarnya merupakan jelmaan dari anjing Tibet yang disebut shicu. Anjing kecil bergrmbos di bagian lehernya ini – bentuknya sedikit lebih besar dari kucing – selalu mengiringi para bhiksu Tibet dalam acara-acara keagamaan, terutama saat mereka bepergian jauh. Dalam perjalanan itu, apabila para bhiksu menghadapi rintangan shicu pun berubah bentuk menjadi singa.

Barongsai, menurut Sarwono Setiabudi (tokoh seni asal Salatiga), merupakan perpaduan dari berbagai binatang: moncong kuda, kepala kura-kura, tanduk rusa, mata kelinci, kuku garuda. Sedang bentuk ular bersisik ikan. Dan punggungnya bergigi seperti buaya. “Ini melambangkan persatuan, kebhinekatunggalikaan,” katanya.

Jumlah pemain Barongsai sedikitnya sembilan orang. Mereka meliuk-liuk, menari gerakan naga raksasa sepanjang 21 meter. Sedang Liong Samsi, hewan singa yang melambangkan “mutiara sakti”. Sosok hewan ini – dalam tampilannya menggambarkan perjuangan mengejar cita-cita yang tak pernah puas. Ini melambangkan keuletan hidup tanpa mengabaikan jiwa persatuan.

Tai Jiao (pendidikan janin)

Jauh sebelum orang-orang modern memahami pentingnya pendidikan janin, orang-orang Tiongkok kuno sudah menyusun cara-cara pendidikan janin dan pendidikan bayi.

Istilah Tai Jiao atau pendidikan janin sudah dirangkum dan dicatat dalam buku Fu Ren Liang Fang(terapi bagi ibu) bagian Tai Jiao Men Lun (pembahasan Pendidikan Janin) oleh Chen Zi Ming , seorang tabib terkenal pada masa dinasti Song.
Anjurannya antara lain adalah , ketika ibu sedang mengandung , harus memperhatikan perbuatan baik , berujar yang baik, sering membaca syair-syair yang mengandung isi yang baik , mengenakan batu giok di pinggang agar janin bisa tenang.

Tabib terkenal Sun SeMao dalam buku Qian Jin Fang mengatakan bahwa Yang Tai (memelihara janin) merupakan hal yang penting bagi ibu-ibu yang sedang hamil.
Dalam masa hamil , dianjurkan agar ibu-ibu sering berdoa , membaca buku-buku Confucius dan berujar agar anaknya menjadi orang baik serta sering memainkan alat musik yang bersifat tenang. Dengan musik , dipercaya bahwa nantinya anak yang lahir akan menjadi cerdas.
Musik-musik yang bersifat menggelora dipercaya akan membuat janin menjadi aktif dan bergerak. Musik yang bersifat menggelora biasanya diberikan pada saat bayi tersebut lahir dan masih berusia muda sekali. Bahkan ada yang mengatakan bahwa raja Zhou Wang sudah dididik sejak janin oleh ibunya.

Pendidikan dimulai pada saat umur 3 tahun, biasanya dengan mempelajari buku-buku klasik , permainan menebak lentera , bermain perang-perangan kadang pada kasus tertentu sudah diajarkan rumus matematika Zhou.

Prinsip-prinsip kuno mengenai pendidikan janin dapat kita lihat di etnis Tionghoa. Rata-rata mereka yang hamil menghindari hal-hal yang bisa membangkitkan amarah , belajar bersabar , tidak melihat pembunuhan atau pemotongan binatang , berkata baik. Sayangnya mereka tidak menyadari latar belakang yang menyebabkan timbulnya pantangan terutama wanita hamil.

Saya berpendapat bahwa wanita hamil sebaiknya :
1.mendengar musik yang lembut , menenangkan hati dan untuk bayi bolehlah memberikan musik yang menggelora agar aktif.
2.tidak melihat atau menonton film-film yang bersifat kejam
3.sering berdoa atau membaca buku-buku yang mengajarkan kebaikan
4.sering berkata kepada janinnya agar menjadi orang baik dan berbudi luhur

Selamat mencoba resep kuno ini.

Adat Kematian


Kita sering melihat upacara kematian Suku Tionghoa di tempat-tempat/ruang duka di rumah-rumah sakit. Kelihatannya begitu ramai oleh aneka perhiasan rumah-rumahan dengan perlengkapannya dan upacara yang bising serta pakaian duka cita yang dipakai oleh anak, menantu dan cucu-cucunya.

Tetapi sebagian besar dari kita bertanya-tanya dan belum tahu apa arti semua itu?
Adat upacara kematian suku Tionghoa dilatarbelakangi oleh kepercayaan mereka.

Mereka mempercayai bahwa dalam relasi seseorang dengan Tuhan atau kekuatan-kekuatan lain yang mengatur kehidupan baik langsung maupun tidak langsung, berlaku hal-hal sebagai berikut :
• Adanya reinkarnasi bagi semua manusia yang telah meninggal (cut sie)
• Adanya hukum karma bagi semua perbuatan manusia, antara lain tidak mendapat keturunan (ko kut)
• Leluhur yang telah meninggal (arwah leluhur) pada waktu-waktu tertentu dapat diminta datang untuk dijamu (Ce’ng be’ng)
• Menghormati para leluhur dan orang pandai (tuapekong)
• Kutukan para leluhur, melalui kuburan dan batu nisan yang dirusak (bompay)
• Apa yang dilakukan semasa hidup (di dunia) juga akan dialami di alam akhirat. Kehidupan sesudah mati akan berlaku sama seperti kehidupan di dunia ini namun dalam kualitas yang lebih baik.

UPACARA-UPACARA YANG DILAKSANAKAN DALAM KEMATIAN
Upacara kematian terdiri atas empat tahap yaitu :

A. Belum masuk peti

* Semenjak terjadinya kematian, anak-cucu sudah harus membakar kertas perak (uang di akhirat ) merupakan lambang biaya perjalanan ke akhirat yang dilakukan sambil mendoakan yang meninggal.
* Mayat dimandikan dan dibersihkan, lalu diberi pakaian tujuh lapis. Lapisan pertama adalah pakaian putih sewaktu almarhum/almarhumah menikah. Selanjutnya pakaian yang lain sebanyak enam lapis.
* Sesudah dibaringkan; kedua mata, lubang hidung, mulut, telinga, diberi mutiara sebagai lambang penerangan untuk berjalan ke alam lain.
* Di sisi kiri dan kanan diisi dengan pakaian yang meninggal. Sepatu yang dipakai harus dari kain. Apabila yang meninggal pakai kacamata maka kedua kaca harus dipecah yang melambangkan bahwa dia telah berada di alam lain.

B. Upacara masuk peti dan penutupan peti

* Seluruh keluarga harus menggunakan pakaian tertentu. Anak laki-laki harus memakai pakaian dari blacu yang dibalik dan diberi karung goni. Kepala diikat dengan sehelai kain blacu yang diberi potongan goni. Demikian pula pakaian yang dipakai oleh anak perempuan namun ditambah dengan kekojong yang berbentuk kerucut untuk menutupi kepala. Cucu hanya memakai blacu, sedangkan keturunan ke empat memakai pakaian berwarna biru. Keturunan ke lima dan seterusnya memakai pakaian merah sebagai tanda sudah boleh lepas dari berkabung.
* Mayat harus diangkat oleh anak-anak lelaki almarhum. Sementara itu anakperempuan, cucu dan seterusnya harus terus menangis dan membakar kertas perak, di bawah peti mati. Mereka harus memperlihatkan rasa duka cita yang amat dalam sebagai tanda bakti (uhaouw). Bila kurang banyak (tidak ada) yang meratap, maka dapat menggaji seseorang untuk meratapi dengan bersuara, khususnya pada saat tiba waktunya untuk memanggil makan siang dan makan malam.>
* Sesudah masuk peti, ada upacara penutupan peti yang dipimpin oleh hweeshio atau cayma. Bagi yang beragama Budha dipimpin oleh Biksu atauBiksuni, sedangkan penganut Konfusius melakukan upacara Liam keng.Upacara ini cukup lama, dilaksanakan di sekeliling peti mati dengan satusyarat bahwa air mata peserta pada upacara penutupan peti tidak boleh mengenai mayat. Dalam upacara ini juga dilakukan pemecahan sebuah kaca/cermin yang kemudian dimasukkan ke dalam peti mati. Menurut kepercayaan mereka, pada hari ke tujuh almarhum bangun dan akan melihat kaca sehingga menyadarkan dia bahwa dirinya sudah meninggal.
* Bagi anak cucu yang “berada” (kaya), mulai menyiapkan rumah-rumahan yang diisi dengan segala perabotan rumah tangga yang dipakai semasa hidup almarhum. Semuanya harus dibuat dari kertas. Bahkan diperbolehkan diisi secara berlebih-lebihan, termasuk adanya para pembantu rumahtangga. Semua perlengkapan ini dapat dibeli pada toko tertentu.
* Setiap tamu-tamu yang datang harus di sungkem (di soja) oleh
* anak-anaknya, khusus anak laki-laki.
* Di atas meja kecil yang terletak di depan peti mati, selalu disediakan makanan yang menjadi kesukaan semasa almarhum masih hidup.
* Upacara ini berlangsung berhari-hari. Paling cepat 3 atau 4 hari. Makin lama biasanya makin baik. Dilihat juga hari baik untuk pemakaman.
* Selama peti mati masih di dalam rumah, harus ada sepasang lampion putih yang selalu menyala di depan rumah. Hal ini menandakan bahwa ada orang yang meninggal di rumah tersebut.

C. Upacara pemakaman
• Menjelang peti akan diangkat, diadakan penghormatan terakhir. Dengan dipimpin oleh hwee shio atau cayma, kembali mereka melakukan upacara penghormatan.
• Sesudah menyembah (soja) dan berlutut (kui), mereka harus mengitari peti mati beberapa kali dengan jalan jongkok sambil terus menangis; mengikuti hwee shio yang mendoakan arwah almarhum.
• Untuk orang kaya, diadakan meja persembahan yang memanjang ?2 sampai 5 meter. Di atas meja disediakan macam-macam jenis makanan dan buah-buahan. Pada bagian depan meja diletakkan kepala babi dan di depan meja berikutnya kepala kambing. Makanan yang harus ada pada setiap upacara kematian adalah “sam seng”, yang terdiri dari lapisan daging dan minyak babi (Samcan), seekor ayam yang sudah dikuliti, darah babi, telur bebek. Semuanya direbus dan diletakkan dalam sebuah piring lonjong besar.
• Putra tertua memegang photo almarhum dan sebatang bambu yang diberi sepotong kertas putih yang bertuliskan huruf Cina, biasa disebut “Hoe”. Ia harus berjalan dekat peti mati, diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain. Begitu peti mati diangkat, sebuah semangka dibanting hingga pecah sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia ini sudah selesai.
• Dalam perjalanan menuju tempat pemakaman, di setiap persimpangan, semua anak harus berlutut menghadap orang-orang yang mengantar jenasah. Demikian pula setelah selesai penguburan.
• Setibanya di pemakaman, kembali diadakan upacara penguburan. Memohon kepada dewa bumi (“toapekong” tanah) agar mau menerima jenasah dan arwah almarhum, sambil membakar uang akhirat.
• Semua anak – cucu tidak diperkenankan meninggalkan kuburan sebelum semuanya selesai, berarti peti sudah ditutup dengan tanah dalam bentuk gundukan. Di atas gundukan diberi uang kertas perak yang ditindih dengan batu kecil. Masing-masing dari mereka harus mengambil sekepal /segenggam tanah kuburan dan menyimpannya di ujung kekojong.
• Setibanya di rumah, mereka harus membasuh muka dengan air kembang. Sekedar untuk melupakan wajah almarhum.

D. Upacara sesudah pemakaman
• Semenjak ada yang meninggal sampai saat tertentu, semua keluarga harus memakai pakaian dan tanda berkabung terbuat dari sepotong blacu yang dilikatkan di lengan atas kiri. Tidak boleh memakai pakaian berwarna ceria, seperti : merah, kuning, coklat, oranye.
• Waktu perkabungan berlainan lamanya, tergantung siapa yang meninggal,
• untuk kedua orangtua, terutama ayah dilakukan selama 2 tahun.
• untuk nenek dan kakek dilakukan selama 1 tahun.
• untuk saudara dilakukan selama 3 atau 6 bulan.
• Di rumah disediakan meja pemujaan, rumah-rumahan dan tempat tidur almarhum. Setiap hari harus dilayani makannya seperti semasa almarhum masih hidup.

Upacara sesudah pemakaman biasanya terdiri dari :
• Meniga hari (3 hari sesudah meninggal)
Sesudah 3 hari meninggal seluruh keluarga melakukan upacara penghomatan dan peringatan di tempat jenasah berada (pergi ke kuburan almarhum). Mereka membawa makanan, buah-buahan, dupa, lilin, uang akhirat. Dengan memakai pakaian berkabung/blacu mereka melakukan upacara penghormatan (soja dan kui). Tak lupa mereka juga menangis dan meratap sambil membakar uang akhirat. Pulang ke rumah, kembali mencuci muka dengan air kembang.

• Menujuh hari (7 hari sesudah meninggal)
Seperti halnya upacara meniga hari, seluruh keluarga melakukan upacara penghomatan dan peringatan di tempat jenasah berada (kembali ke kuburan ). Mereka membawa rumah-rumahan, makanan dan buah-buahan serta uang akhirat. Lilin dan dupa ( hio ) dinyalakan. Seluruh rumah-rumahan dan sisa harta yang perlu dibakar; dibakar sambil melakukan upacara mengelilingi api pembakaran. Sesudah selesai, tanah sekepal / segenggam diambil, diserakkan ke atasnya.

• 40 hari sesudah meninggal
Pada hari ke 40 ini kembali anak – cucu dan keluarga melakukan upacara penghormatan di tempat jenasah berada ( kuburan). Semua baju duka dari blacu dan karung goni dibuka dan diganti baju biasa. Mereka masih dalam keadaan berkabung, namun telah rela melepaskan arwah si almarhum ke alam akhirat. Sebagai tanda tetap berkabung, semua anak cucu memakai tanda di lengan kiri atas; berupa sepotong kain blacu dan goni.

• Tiap-tiap tahun memperingati hari kematian
Satu tahun dan tahun-tahun berikutnya, akan selalu diperingati oleh anak cucunya dengan melakukan ” soja dan kui” sebagai tanda berbakti dan menghormati. Peringatan tahunan ini berupa upacara persembahan. Bagi keluarga yang berada, di atas meja persembahan diletakkan berbagai macam makanan, buah-buahan, minuman, antara lain teh dan kopi, manisan minimum 3 macam, rokok, sirih sekapur, sedangkan makanan yang paling utama adalah “samseng” 2 pasang, lilin merah sepasang dan hio. Senja hari sebelum upacara, harus dinyalakan lilin merah
berpasang-pasang tergantung pada jumlah orang / leluhur yang akan diundang. Maksud dari upacara ini adalah meminta kepada dewa bumi (toapekong tanah) untuk membukakan jalan bagi para arwah yaitu dengan cara membakar uang akhirat (kertas perak dan kertas emas )

Pangkat dalam tradisi kematian Tionghoa

Tanya:

Dalam adat tradisional Tionghoa mengenai kematian, sering kita lihat keluarga yang ditinggalkan mendiang akan mengenakan pangkat di lengan atau di topi. Apa perbedaan masing2 pangkat? Apa maknanya?

Jawab:

Yah, di dalam tradisi kematian orang Tionghoa memang banyak pernak-pernik simbolisasi. Pangkat di lengan anggota keluarga yang ditinggalkan bermacam2, namun pada dasarnya adalah kain goni, kain polos warna biru tua, biru muda, kuning maupun merah muda. Sebenarnya pangkat di lengan ini adalah penyederhanaan dari pernak-pernik ritual asalnya. Ini erat kaitannya karena di Indonesia beriklim tropis sehingga tidak cocok mengenakan baju berlapis2.

Kapan tradisi ini mulai dilaksanakan?

2500 tahun lalu pada zaman Zhou, anggota keluarga yang ditinggalkan harus mengenakan pakaian dari kain goni dan pakaian warna lainnya selama bertahun2 sesuai tingkat hubungan dengan mendiang. Anak kandung harus mengenakan baju berkabung selama 3 tahun berturut2, anak perempuan yang telah menikah boleh menanggalkan baju berkabung setelah 1 tahun, cucu-cucu dan keponakan/kemenakan boleh menanggalkan baju berkabung setelah 3 bulan. Seluruhnya ada 5 tingkat dengan jangka waktu dan tingkatan perkabungan yang berbeda2. Di masa berikutnya, ritual ini mengalami penyederhanaan.

Tradisi pangkat yang paling sering ditemukan sekarang?

Sekarang ini, yang sering ditemukan di Indonesia adalah anggota keluarga yang berkabung memakai pakaian putih2 dari kain blacu lalu mengenakan pangkat di lengan. Ada keluarga yang mengenakan dengan aturan “laki2 di kiri, perempuan di kanan”, namun ada pula yang mengenakan secara seragam di kiri atau di kanan saja. Ini adalah penyederhanaan dari ritual ribuan tahun lalu, yang diharuskan mengenakan baju dari kain goni sebagai tanda berkabung.
\n
\nPerbedaan dan tingkat generasi dari masing2\npangkat?
\n
\nPada dasarnya ada 6 jenis pangkat di lengan atau di topi bagi anggota\nkeluarga dekat dari\nmendiang:
\n
\n- Potongan goni kasar, untuk anak laki2 dan menantu perempuan.
\n- Potongan goni halus, untuk anak perempuan yang telah menikah keluar.
\n- Potongan kain biru tua, untuk cucu dalam (anak dari anak laki2).
\n- Potongan kain biru muda, untuk cucu luar (anak dari anak perempuan).
\n- Baju kaos berwarna kuning, untuk cicit dalam (cucu dari anak laki2).
\n- Baju kaos berwarna merah muda, untuk cicit luar (cucu dari anak\nperempuan).
\n
\nTambahan, dalam keluarga tertentu, bila mendiang mempunyai cicit\nbiasanya pada prosesi pemakamannya dilengkapi dengan sebuah kereta\ntandu dari kertas dengan 4 orang cicit sebagai penandu. 2 orang cicit\ndalam di depan dan 2 orang cicit luar di belakang, penandu harus\nmerupakan cicit laki2. Saya sendiri punya pengalaman menjadi penandu di\ndepan bersama adik laki2 saya sepeninggal kakek dan nenek buyut. Namun\ntentunya karena jarak antara rumah duka dan pemakaman relatif dekat,\nbila jauh sekali tetap saja tandu harus diikat di mobil jenis pick-up\nuntuk diantar sampai ke pemakaman.
\n
\nAda pula pangkat lain untuk anggota keluarga yang lebih jauh.
\n
\n- Potongan goni halus + kain biru tua, untuk keponakan (yang semarga\ndengan mendiang).
\n- Potongan goni halus + kain biru muda, untuk keponakan (yang tidak\nsemarga dengan mendiang).
\n- Baju kaos berwarna biru, untuk anak dari keponakan.
\n- Baju kaos berwarna kuning, untuk cucu dari keponakan.
\n
\nLebih kurang seperti di atas, namun pada suku2 tertentu atau keluarga\ntertentu ada perbedaan sedikit di dalam realisasinya.
\n
\nBila telah memeluk agama lain, apakah tradisi ini\nharus ditinggalkan?
\n
\nIni adalah sebuah peninggalan budaya, ritual budaya, jadi tidak ada\nhubungannya dengan ritual keagamaan sehingga tidak ada alasan untuk\nmeninggalkan warisan tradisi ini. Tradisi khas ini menunjukkan bakti\ndari anggota keluarga yang ditinggalkan kepada mendiang.”,1]
);

//–>

Perbedaan dan tingkat generasi dari masing2 pangkat?

Pada dasarnya ada 6 jenis pangkat di lengan atau di topi bagi anggota keluarga dekat dari mendiang:

- Potongan goni kasar, untuk anak laki2 dan menantu perempuan.
- Potongan goni halus, untuk anak perempuan yang telah menikah keluar.
- Potongan kain biru tua, untuk cucu dalam (anak dari anak laki2).
- Potongan kain biru muda, untuk cucu luar (anak dari anak perempuan).
- Baju kaos berwarna kuning, untuk cicit dalam (cucu dari anak laki2).
- Baju kaos berwarna merah muda, untuk cicit luar (cucu dari anak perempuan).

Tambahan, dalam keluarga tertentu, bila mendiang mempunyai cicit biasanya pada prosesi pemakamannya dilengkapi dengan sebuah kereta tandu dari kertas dengan 4 orang cicit sebagai penandu. 2 orang cicit dalam di depan dan 2 orang cicit luar di belakang, penandu harus merupakan cicit laki2. Saya sendiri punya pengalaman menjadi penandu di depan bersama adik laki2 saya sepeninggal kakek dan nenek buyut. Namun tentunya karena jarak antara rumah duka dan pemakaman relatif dekat, bila jauh sekali tetap saja tandu harus diikat di mobil jenis pick-up untuk diantar sampai ke pemakaman.

Ada pula pangkat lain untuk anggota keluarga yang lebih jauh.

- Potongan goni halus + kain biru tua, untuk keponakan (yang semarga dengan mendiang).
- Potongan goni halus + kain biru muda, untuk keponakan (yang tidak semarga dengan mendiang).
- Baju kaos berwarna biru, untuk anak dari keponakan.
- Baju kaos berwarna kuning, untuk cucu dari keponakan.

Lebih kurang seperti di atas, namun pada suku2 tertentu atau keluarga tertentu ada perbedaan sedikit di dalam realisasinya.

Bila telah memeluk agama lain, apakah tradisi ini harus ditinggalkan?

Ini adalah sebuah peninggalan budaya, ritual budaya, jadi tidak ada hubungannya dengan ritual keagamaan sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan warisan tradisi ini. Tradisi khas ini menunjukkan bakti dari anggota keluarga yang ditinggalkan kepada mendiang.
\n
\nPresiden ROC (Taiwan), Chiang Kai-shek dan Chiang Ching-kuo adalah\npemeluk agama\nKristen yang taat, pada masa perkabungan mereka, seluruh instansi\npemerintah dan rakyat yang ikut berkabung mengenakan kain pangkat\nsebagai\ntanda berkabung sepeninggal mereka. Demikian pula sepeninggal Mao\nZedong atau Zhou Enlai, banyak rakyat yang mengenakan pangkat seperti\nini sebagai ungkapan tanda belasungkawa. Jadi tidak ada hubungannya\ndengan keagamaan. Analoginya adalah pengibaran bendera setengah tiang\nsebagai tanda berkabung di Indonesia. Saya melihat terkadang ada orang\nTionghoa yang telah menganut agama lain lalu merasa segala tradisi kuno\nleluhur harus ditinggalkan karena tidak bersesuaian dengan agama yang\ndianutnya. Menurut saya, ini adalah sedikit pemikiran kebablasan\ndikarenakan\nketidakmengertian akan makna dari tradisi Tionghoa.

Presiden ROC (Taiwan), Chiang Kai-shek dan Chiang Ching-kuo adalah pemeluk agama Kristen yang taat, pada masa perkabungan mereka, seluruh instansi pemerintah dan rakyat yang ikut berkabung mengenakan kain pangkat sebagai tanda berkabung sepeninggal mereka. Demikian pula sepeninggal Mao Zedong atau Zhou Enlai, banyak rakyat yang mengenakan pangkat seperti ini sebagai ungkapan tanda belasungkawa. Jadi tidak ada hubungannya dengan keagamaan. Analoginya adalah pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di Indonesia. Saya melihat terkadang ada orang Tionghoa yang telah menganut agama lain lalu merasa segala tradisi kuno leluhur harus ditinggalkan karena tidak bersesuaian dengan agama yang dianutnya. Menurut saya, ini adalah sedikit pemikiran kebablasan dikarenakan ketidakmengertian akan makna dari tradisi Tionghoa.

Rinto Jiang