欢迎..............欢迎..............欢迎


Tampilkan postingan dengan label etika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label etika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

FILOSOFI SUMPIT


Sumpit berasal dari Tiongkok kuno, pada awal Dinasti Shang (1766 -1122 SM), dan secara luas digunakan di seluruh Asia Timur.

Namun menurut perkiraan para ahli, sumpit telah digunakan jauh sebelumnya. Sumpit merupakan pengganti pisau di meja makan, menurut Konfusius, pisau disamakan dengan tindakan agresif dan tidak sesuai digunakan saat makan.

Sumpit umumnya terbuat dari bambu atau plastik, namun ada juga yang terbuat dari metal, tulang, gading, bahkan perak, serta berbagai jenis kayu. Sepasang sumpit digerakkan oleh salah satu tangan dan berada diantara ibu jari, telunjuk dan jari tengah.

Sepasang sumpit paling kuno yang terbuat dari perunggu, ditemukan pada reruntuhan situs pemakaman Yin Ruin 1005 di Houjiazhuang, Anyang, Henan, Tiongkok, dan diperkirakan dibuat 1200 Sebelum Masehi.

Sebutan kuno bagi sumpit, juga beberapa suku di Tiongkok modern, seperti suku Hokkien menyebutnya sebagai Zhù (箸, Pinyin: zhù, Minnan: ti). Namun, zhù menjadi kata yang tabu untuk diucapkan di kapal, karena pelafalannya sama dengan makna kata “berhenti”. Sebagai konsekuensinya, diganti dengan kata yang memiliki makna berlawanan yaitu kuài (快, cepat).

Secara perlahan kata ini menyebar hingga menjadi sebutan baru bagi sumpit diberbagai dialek bahasa Tionghoa modern. Aksara Tionghoa bagi sebutan baru sumpit ini, memiliki penambahan aksara yang bermakna bambu (竹, karena biasanya terbuat dari bambu ) diatas aksara kuài (快) sehingga menjadi kuài (筷, = sumpit). Di kalangan nelayan Tiongkok, menganggap sial kata sumpit kuno ini, sehingga mereka mengganti kata Zhu (箸) menjadi Kuai Zi (筷子), anonim dari kata “berhenti”.

Etiket Penggunaan Sumpit

Terdapat perbedaan etika penggunaan sumpit di berbagai negara seperti Jepang, Hong Kong, Taiwan dan Vietnam. Namun kita akan membahas etika yang berlaku dalam budaya Tiongkok.

Secara tradisional, memegang sumpit dengan menggunakan tangan kanan, bahkan meskipun orang tersebut sebenarnya kidal. Meskipun kini aturan tersebut semakin longgar, namun ada beberapa yang masih menganggap tidak etis menggunakan tangan kiri. Aturan ini sebenarnya untuk mencegah pengguna sumpit kidal akan menyikut pengguna sumpit tangan kanan, yang duduk di sebelahnya.

Dalam budaya Tiongkok, adalah normal memegang mangkuk nasi sambil didekatkan kemulut, lalu menggunakan sumpit untuk mendorong nasi masuk ke mulut. Itu sebabnya mereka jarang menggunakan piring untuk makan nasi.

Selain itu, memindahkan makanan dengan menggunakan sumpit kepada orang terdekat (misalnya, kakek, orangtua, anak, pasangan, dan sebagainya) diperbolehkan jika mereka kesulitan dalam mengambil makanan. Mengambilkan makanan kepada orang yang lebih tua saat sebelum makan dimulai juga menandakan penghormatan.

Untuk jamuan makan pada acara perayaan atau pesta, terdapat sumpit khusus untuk mengambil hidangan, dan sumpit ini harus diletakkan kembali pada hidangan tersebut setelah memindahkan makanan ke piring pribadi. Biasanya sumpit ini dibedakan warna dan coraknya dengan sumpit yang digunakan orang untuk makan.

Tidak dibenarkan dalam etika, membunyikan sumpit pada pinggir mangkok (saat mendorong makanan), mereka menganggapnya seperti seorang pengemis menarik perhatian orang dengan cara ini.

Juga tidak sopan menusuk makanan dengan sumpit, kecuali makanan yang sulit di ambil seperti bakso atau telur. Namun jika bertemu dengan golongan tradisionalis, mereka pasti mengerutkan dahinya tanda tidak senang, kecuali orang asing, mereka akan memakluminya.

Dan akan dianggap tidak sopan mengaduk-aduk makanan dengan sumpit pada hidangan yang disajikan untuk umum, juga merupakan hal yang tabu meletakkan sumpit dengan mengarah pada orang yang duduk di meja tersebut.

Sumpit tidak boleh ditusukkan secara vertikal pada mangkuk nasi, karena menyerupai ritual membakar dupa yang merupakan simbolisasi “memberi makan” pada orang yang meninggal dan kematian.

Di Tiongkok sendiri, diperkirakan terdapat 45 milyar pasang sumpit sekali pakai yang dibuang setiap tahunnya. Ini sama halnya dengan 1,7 juta meter kubik kayu atau 25 juta pohon setiap tahunnya.

Tidak ada yang dapat memastikan kapan sumpit mulai digunakan. Beberapa sejarawan mengatakan telah ada sejak 2.000 - 5.000 tahun yang lalu, ada pula yang mengatakan selama masa Konfusius hidup, sekitar tahun 500 SM. Namun, yang dapat dipastikan bahwa sumpit berasal dari Tiongkok saat peradabannya mulai timbul. Saat itu, mereka menggunakan dua ranting kayu untuk mengambil makanan yang mereka panggang di api, untuk menghindari jari mereka terbakar, dan akhirnya malah digunakan untuk mengambil makanan dari kuali besar. (Secret China / ajg)

Jumat, 06 Mei 2011

Seni Mengajar Tiongkok Kuno (2)



Di Tiongkok kuno, pendidikan dilakukan baik di sektor swasta dan pemerintah. Anak-anak dididik di rumah oleh pengajar privat (dikenal sebagai Sishu), sarjana-sarjana yang gagal dari ujian pemerintah pusat. Mendidik anak adalah sebuah jalur karir yang penting bagi para intelektual ini: ini menyediakan sarana penghidupan, memumuk bakat mereka, dan mempromosikan pendidikan di masyarakat.

Dalam masyarakat Tiongkok kuno, setiap orang menghormati para guru dan seorang guru sangat dianggap sebagai figur otoritas. Hirarki penghormatan dari: “Langit, Bumi, Kaisar, Orang Tua, Guru.”

Orang-orang menganggapnya sebagai motto bahwa "Sehari menjadi guru adalah seumur hidup menjadi seorang ayah.” Oleh karena itu para intelektual sangat berkeinginan untuk mengajar. Jika salah satu dari siswanya mampu mencapai peringkat tinggi di ujian pemerintah pusat dan menjadi pejabat tinggi, itu akan membawa kemuliaan besar bagi guru mereka, ia akan dihormati seumur hidupnya.

Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah disebut Shuyuan. Beberapa dari mereka adalah milik privat tetapi semua memiliki latar belakang resmi; mereka sering kali didukung secara financial oleh pemerintah. Tujuan Shuyuan adalah lebih meningkatkan pengajaran dan mengatur sebuah pelatihan bakat tingkat tinggi. Hanya mereka yang didedikasikan untuk mengikuti ujian pemerintah yang cukup baik untuk masuk Shuyuan.

Shuyuan hanya ada di tingkat provinsi atau di ibukota provinsi besar. Shuyuan menyediakan pendidikan terbaik dan memiliki standar akademis tinggi.

Para direktur Shuyuan semuanya adalah tokoh terkemuka di kalangan akademisi dan sarjana yang sangat dihormati. Pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendirikan sekolah-sekolah ini, yang memungkinkan pendidikan berkualitas tersedia bagi masyarakat umum. Sistem pendidikan Tiongkok kuno itu sangat komprehensif dan disesuaikan untuk menyediakan negara dan masyarakat dengan orang-orang berbakat di berbagai bidang.

Dalam masyarakat Tiongkok klasik, pendidikan diklasifikasikan ke dalam pendidikan klasik, pendidikan dasar, dan setengah klasik dan pendidikan setengah dasar. Pendidikan dasar mengajarkan pengetahuan dasar bagi pemula. Para guru hanya membaca keras-keras buku teks tanpa menjelaskan artinya. Sebagaimana guru membaca, para siswa menghafal setiap kata dan ungkapan. Para cendekiawan, pemula muda, dengan demikian akan menghafal ratusan ribu karakter.

Metode mengajar ini mungkin terlihat kikuk tapi ternyata efektif untuk alasan-alasan berikut: Pertama-tama, berfungsi untuk mengasah temperamen para siswa dan memperbaiki sikap mereka dalam belajar. Kedua, melalui pelatihan intensif tersebut, kata-kata dengan makna mendalam akan terukir di dalam pikiran para siswa dan mereka dapat mengingat dan menggunakan kata-kata ini sebagai dasar bagi tingkah laku mereka selama hidupnya. Bagian dari pelajaran ini meletakkan dasar-dasar yang solid bagi pendidikan di masa depan mereka.

Ada alasan kenapa para guru tidak menjelaskan arti dari teks-teks itu. Kata-kata dari orang-orang suci mempunyai makna dan filosofi yang mendalam dan tidak dapat dijelaskan hanya dalam beberapa kata saja. Para siswa mungkin tidak bisa memahami dengan penjelasan yang paling menyeluruh pun. Mungkan akan diperlukan seumur hidup sang siswa untuk mencerna pengetahuan ini, memahaminya, dan mempraktekkannya sebelum dia bisa mencapai realisasi secara menyeluruh. Subjektif atau penjelasan tidak seharusnya dengan mudah bisa menyesatkan para siswa. Oleh karena itu buku-buku klasik Konfucu, sudah menjadi tradisi bahwa guru tidak menjelaskan kepada mereka pada tingkat pendidikan dasar.

Pendidikan klasik berarti para guru menjelaskan kata atau ungkapan sebagaimana ia mengkuliahi para siswanya. Ada diskusi terbuka antara guru dan siswa. Pada tingkat ini, siswa sudah memiliki sejumlah pengetahuan dan dasar-dasar akademis yang kokoh dan mampu bertukar pendapat dan berdiskusi dengan para guru. Para siswa bisa mengajukan pertanyaan dan para guru akan menjawabnya.

Pendidikan setengah dasar dan setengah klasik ada di suatu tempat di antara keduanya. Guru akan menjelaskan isi ceramahnya sampai batas tertentu, Tidak peduli jenis penelitian yang mana, jenis-jenis kuliah yang diberikan kepada para siswa sangat berhubungan dengan tingkat akademik guru.

Pendidikan Tiongkok kuno menaruh banyak perhatian pada apakah para siswa benar-benar tercerahkan dengan wawasan dan pengalaman. Hanya ketika siswa benar-benar bisa menguasai pengetahuan yang mereka anggap bermutu.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa pendidikan Tiongkok kuno tidak lebih dari menghafal mati dan karenanya membosankan. Itu tidak sepenuhnya betul. Pembelajaran yang sebenarnya adalah sebuah proses yang memiliki kesulitan. Itu adalah alami ketika seseorang bekerja keras, ia akan dihargai. Sistem pendidikan Tiongkok kuno adalah khususnya tentang bergerak maju secara bertahap. Penampilan akademik seorang siswa adalah berhubungan dengan pembinaan dirinya sendiri. Kemajuan seorang murid dalam bidang akademik adalah pencerminan dari kemajuan dirinya dalam pembinaan diri.

Pendidikan kuno tidaklah membosankan, melainkan bermanfaat dan menyenangkan. Selain mempelajari buku-buku klasik Konfucu, siswa menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam mempelajari puisi, menyanyi, kaligrafi, musik, catur, menulis, dan melukis.

Ada juga berbagai macam pelatihan khusus dalam pendidikan kuno seperti pencerahan ritme, mengupas kata-kata/ungkapan, menulis puisi, menulis artikel, memainkan instrumen musik, dan melukis. Pelatihan ini dilakukan setiap hari dan pendidikan dicampur dengan hiburan. Ini mendorong kecerdasan para siswa, melatih proses pemikiran mereka dan meningkatkan tingkat ketrampilan menulis mereka. Hal ini juga mendorong kreativitas para siswa, hasrat untuk menciptakan, dan melatih dan membina pikiran mereka dengan pemikiran-pemikiran mulia. (EpochTimes/khl)

Seni Mengajar Tiongkok Kuno (1)


Pendidikan formal di Tiongkok kuno sebagian besar berdasarkan pada Konfusianisme. Ketika Konfucu memberikan ceramah di Xingtan (harfiah diterjemahkan sebagai Altar Apricot), ia mempunyai 3.000 murid.

Konfusianisme adalah dikatakan berdasarkan atas ceramah-ceramah Konfucu dan ini berfungsi sebagai asal dari pendekatan Konfucu dalam mengajar.

Dong Zhongshu (179 SM - 104 SM), seorang sarjana kekaisaran berpengaruh selama Dinasti Han, mempromosikan ajaran Konfucu secara luas melewati semua ideologi yang lain, sehingga ajaran Konfucu adalah ideologi dominan pada saat itu.

Selama Dinasti Sui (580-618) dan Tang (618-907), sistem ujian kekaisaran menekankan pada studi ajaran Konfucu, secara bertahap membawanya ke puncak, dan pengaruhnya terhadap pendidikan Tiongkok klasik berlangsung selama berabad-abad.

Sebagai inti dari metode pengajaran formalnya, ideologi Konfucu adalah sistem pemikiran-pemikiran mendalam yang mencakup aspek-aspek luas dari kehidupan sosial dan spiritual pada zaman kuno. Dalam “Pembelajaran Besar,” Konfucu menulis, “Orang-orang yang berkultivasi, keluarga mereka diatur. Keluarga mereka sedang diatur, negara mereka sudah pada tempatnya diatur, seluruh kerajaan dibuat tenang dan bahagia.”

Dididik dibawah filsafat seperti ini, orang-orang Tiongkok kuno menekankan pada kultivasi moralitas, memelihara keluhuran karakter dan menghormati langit dan bumi. Orang-orang menerima bahwa kehidupan ditakdirkan mengikuti jalurnya dan bahwa dengan mengkultivasi karakter moral, seseorang akhirnya akan mencapai kebahagiaan dan pikiran yang tenang serta pandangan ke depan yang sehat terhadap kehidupan duniawi, surgawi, dan nilai-nilai sosial.

Akar dari Ajaran Konfucu terdiri dari “kebajikan, kebenaran, ketekunan, kebijaksanaan, kesetiaan.” Banyak sifat-sifat baik, seperti kesetiaan, berbakti kepada orangtua, keberanian, kejujuran, keterbukaan, kebenaran, kerajinan, dll. adalah berasal darinya. Konfucu secara efektif mengatur semua lapisan masyarakat Tiongkok kuno, dan mendefinisikan standar dan nilai-nilai untuk menjadi orang baik.

Kebajikan dan kesopanan adalah nilai-nilai inti Konfusianisme. Dengan mempertahankan pemikiran kebajikan, orang-orang secara alami menjadi budiman. Tanpa kesopanan, tidak akan ada kesetiaan atau loyalitas. Tanpa kesetiaan, tidak ada yang dapat dibentuk.

Budaya tradisional Tiongkok berakar mendalam di dalam Ajaran Konfusius, Buddhisme, dan Taoisme. Konfusius fokus pada “memasuki dunia fana,” sedangkan Buddhisme dan Taoisme memfokuskan pada “melampaui duniawi fana.” Karena ia berinteraksi dengan masyarakat sehari-hari, ajaran Kunfucu memiliki dampak terbesar bagi masyarakat manusia, atau dunia fana.

Di Tiongkok kuno, pendekatan Konfucu dalam mengajar sangat efektif karena bukan hanya membentuk banyak individu sangat unggul, tapi juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas masyarakat dan mendorong kemajuan ekonomi dan budaya. Tanpa pendekatan ajaran Konfucu dalam pengajaran, sejaran Tiongkok tidak akan mempunyai Dinasti Tang yang luar biasa atau keelokan Dinasti Song atau Dinasti Ming dan Qing yang bersemangat. Artinya, kebudayaan tradisional Tiongkok tidak akan pernah ada jika bukan karena ajaran Konfucius.

Selama Dinasti Han (206 SM - 220) dan Dinasti Jin (265-420), sistem ujian kekaisaran masih belum terbentuk, namun ada sistem rekomendasi untuk mencalonkan orang-orang yang berpendidikan baik dari latar belakang yang baik untuk mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Orang-orang itu biasanya dari keluarga kaya dan berpengaruh. Namun, jika seseorang tidak berpendidikan, tidak peduli bagaimana status keluarganya, ia tidak akan bisa direkomendasikan.

Didirikan selama Dinasti Sui dan Tang, sistem ujian kekaisaran memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat umum untuk menduduki jabatan pemerintahan. Banyak orang berpendidikan dengan latar belakang sederhana memperoleh jabatan-jabatan peringkat tinggi di pemerintahan. Banyak kisah sukses orang-orang yang “memulai dari bawah” masih diceritakan sampai hari ini.

Meskipun orang-orang yang di atas merupakan minoritas, tapi mereka yang dididik di bawah ideologi yang sama itu memegang peranan penting dalam masyarakat. Secara keseluruhan, yang berpendidikan sangat dihormati dan merupakan pilar utama dalam masyarakat Tiongkok.

Beberapa dari mereka mulai membuka sekolah-sekolah; memberikan saran-saran strategis bagi para penguasa; mempraktekkan pengobatan; menjadi seniman. Di Tiongkok kuno, strata pendidikan masyarakat mempunyai dampak besar pada masyarakat melalui pemikiran dan perbuatan mereka. Nilai sistem mereka berperan penting dalam menjaga stabilitas.

Karakteristik unik lain dari metode pengajaran Tiongkok kuno adalah buku teks utama tidak berubah selama ribuan tahun. Tidak peduli bagaimana dinasti berubah, yang klasik tetaplah sama.

Dinasti dan masyarakat bisa berubah, tapi Tao tidak akan pernah berubah. Inilah sebabnya mengapa Konfusius berlangsung selama ribuan tahun. Tidak peduli seseorang lahir di dinasti mana, dia akan selalu menerima pendidikan yang sama yang dipandu oleh idealisme-idealisme ortodoks.

Teks-teks klasik adalah esensi dari kebudayaan tradisional Tiongkok. Orang-orang mulai mempelajarinya pada usia yang sangat muda. Banyak orang mampu membaca ayat-ayat dari “Pembelajaran Besar,” “Doktrin Tengah,” “Analek Konfucius” dan “Buku pujian.”

Namun, di China modern mayoritas sarjana dan siswa sekolah telah kehilangan hubungan mereka dengan buku-buku ini, yang mana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan mereka.

Di Tiongkok kuno, tujuan pendidikan adalah mengetahui keberadaan Tao, menjadi manusia. Pondasi ini menyediakan bimbingan yang benar bagi sepanjang kehidupan seseorang, dan seseorang akan menyadari Tao pada tingkat yang lebih mendalam melalui praktek Tao dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di dunia pendidikan sekarang ini hanyalah akumulasi dari ketrampilan-ketrampilan dan doktrin-doktrin teks.

Bersambung …

Kamis, 26 Agustus 2010

Hormati Guru dan Hargai Kebajikan


Menghormati guru dan menghargai kebajikan adalah hal penting dalam beretika pada masyarakat Tiongkok kuno.

Seorang guru adalah orang yang menyampaikan nilai-nilai moral, ilmu pengetahuan dan mengajarkan cara yang benar untuk berinteraksi satu dengan yang lain atau dalam bermasyarakat.

Mereka memberikan contoh kebajikan. Hal ini dijelaskan dalam bab "The Classic of Rites" pada Buku Record on Education.

"Menjaga rasa hormat pada guru, kebajikan yang ia wujudkan dianggap sebagai suatu kehormatan yang besar. Ketika hal ini dapat dilakukan, orang-orang akan tahu betapa berharganya sebuah proses belajar. "

Agar dapat mempertahankan rasa hormat terhadap guru dan dengan taat menjaga kebajikan. Para murid, harus mematuhi setiap ajaran-ajaran yang disampaikan dan sungguh-sungguh semua ini harus berasal dari dalam hatinya.

Mari kita lihat beberapa contoh bagaimana orang zaman dulu menunjukkan rasa hormat terhadap guru mereka dan sikap menjaga kebajikan.
Cerita Pertama: Yin Xi Menghormati Lao Zi sebagai Guru

Yin Xi adalah seorang pelajar pada zaman Dinasti Zhou Barat (1100 – 711 SM).

Dia memiliki kegemaran membaca buku–buku kuno sejak dia masih muda. Yin Xi juga ahli dalam astronomi dan pada beberapa bidang lainya. Suatu hari, dia mengamati cuaca yang lain daripada biasanya seperti suatu alam surga dan melihat sebuah kabut ungu di ufuk timur yang tidak hilang.

Dia berpendapat bahwa akan datang seseorang dengan kebijakan tinggi dari arah tersebut dan pergi melalui Gerbang Hangu. Karena Dia memiliki wewenang memberikan ijin bagi orang yang melanjutkan perjalanan ke barat, maka ia memerintahkan para penjaga untuk segera melaporkan kepadanya jika mereka melihat orang dengan pakaian yang tidak lazim sedang melintas dalam periode beberapa hari kemudian.

Dia juga meminta para penjaga untuk membersihkan jalan dan membakar sampah dalam persiapan menyambut Sang Bijak tersebut. Beberapa hari kemudian, ia menerima laporan bahwa ada seorang pria tua dengan rambut putih dan tubuh fisik layaknya seorang dewa naik pada sebuah gerobak sapi menuju ke barat. Dia segera pergi untuk menyambut orang bijak tersebut.

Dia berlutut pada jarak beberapa meter dari gerobak dan berkata, "Yin Xi, kepala petugas di Gerbang Hangu, memberi salam pada orang bijak! "

Pria tua menjawab," Saya hanya seorang warga negara biasa. Dapatkah Anda memberitahu saya mengapa Anda melakukan penyambutan yang luar biasa ini? "

Yin Xi," Saya telah menunggu selama berhari-hari untuk menanti Anda. Setelah saya melihat tanda-tanda seorang Dewa akan segera tiba. Harapan yang tulus dari saya bahwa kesucian Anda akan membimbing saya. "

Orang Bijak bertanya, "Apa tanda-tanda yang Anda lihat?"

Yin Xi menjawabnya. "Pada bulan sepuluh tahun lalu, bintang Sage bergerak di langit barat di musim dingin. Awal bulan ini, angin lembut melintas dan mawar bermekaran dari kabut ungu naik di cakrawala timur. Jadi saya tahu bahwa seorang bijak akan melintas disini menuju ke arah barat. Kabut ungu begitu luas yang membentang 10.000 mil, mengatakan kepada saya bahwa ini bukan orang bijak biasa yang datang. Kabut ungu dipimpin oleh bintang Ox, yang mengatakan orang bijak akan tiba dengan sebuah gerobak sapi. Hari ini, setelah melihat kesucian Anda dengan mata ini, juga lebih luar biasa, saya akan bisa mengucapkan terima kasih jika anda memberi nasehat kepada saya mengenai kultivasi "

Orang tua itu senang melihat ketulusan, kebaikan hati serta kesopanan Yin. Dia tersenyum, "Anda menghargai saya, yang hanya seorang orang tua. Saya juga tahu mengenai Anda. Saya memberikan Anda keselamatan. " mendengar ini Yin sangat senang dan bersujud kepada orang bijak tersebut.

Dia menanyakan nama orang tua itu, orang tua berkata, "Nama saya banyak. Pada saat masih kecil, nama keluarga saya adalah Li, saya diberi nama Bo Yang. Orang-orang memanggilku Laos Dan. Kemudian Yin Xi membakar dupa, Bersujud, dan menyelesaikan upacara pengangkatan Lao Zi sebagai guru. Zi adalah gelar kehormatan yang digunakan sebagai pengganti nama seseorang.

Lao Zi hanya sebentar di Gerbang Hangu, waktunya cukup digunakan untuk mencatat sesuatu yang sulit untuk mendefinisikan atau menjelaskan, yang disebut Tao. Di dalamnya itu, ia menyampaikan pandangan tentang alam semesta, manusia, dan masyarakat. Dia memberi Yin Xi 5.000 kata naskah yang disebut Tao Te Ching.

Yin Xi mengikuti perintah Lao Zi untuk mengultivasikan pikiran dan tubuhnya, memperkenalkan ajaran sekolah Tao di negara dan memberi manfaat bagi dunia, dan berhasil dalam kultivasinya. Dia dihormati oleh generasi berikutnya sebagai Yin yaitu Manusia Sejati.
Cerita Kedua: Konfusius dan Murid-muridnya

Sekitar 551 SM - 479 SM, ada seorang pemikir terkenal, ahli filsafat, dan pengajar bernama Konfusius. Menurut Legenda, Dia telah memiliki lebih dari 3.000 murid, 72 di antaranya adalah murid yang mengikutinya dengan sangat baik. Konfusius mempraktekan ajarannya sendiri. Dia mengajarkan kebenaran, cita-cita, dan integritas pribadi, sesuai dengan kesopanan, kebaikan, kerendahan hati dan rasa hormat yang dimilikinya, kesetiaan dan kepeduliannya terhadap orang biasa telah menginspirasi para muid dan generasi di masa depan.

Para murid sangat menghormati Konfusius, memperlakukan Dia sebagai bapak mereka, melaksanakan keteguhan hati dari ajaran Konfusius pada diri mereka sendiri dan mereka memberi penghormatan terhadap tujuan tertinggi yang ingin mereka capai. Muridnya, Yan Hui adalah "tetap puas walaupun miskin, fokus pada kebenaran, ketat mengikuti ajaran Konfusius.”

Siswa lain, Mi Zijian, menjaga hukum dan ketertiban dan dengan memainkan sebuah instrumen berdawai, ini mengilhami sebuah kebajikan dengan musik yang harmonis dan mendorong orang untuk tenang dan bekerja keras.

Siswa lain, Zi Xia, mendalami bidang kesusasteraan, mengembangkan pendidikan, dan membimbing masyarakat dengan kebaikan. Murid-muridnya mengikuti dalam perjalanan panjang dalam menyebarkan ajarannya di berbagai negara. Ketika orang lain memfitnah guru mereka, mereka segera membelanya dan mempertahankan karakter yang mulia.

Zi Gong dengan kesungguhannya memperlihatkan kekurangan dirinya dan memiliki kesadaran yang kuat. Zeng Can memuji Konfisius sebagai orang dengan kebajikan yang besar “murni seakan dicuci oleh gelombang pasang dari sebuah sungai yang besar, seperti matahari bersinar di musim gugur dan suci bagaikan alam semesta tal terbatas.” Dia membawa dan menerapkan kebijaksanaan dalam setiap ajaran yang diberikan. Dia memetik sebuah kalimat:

"Seorang murid harus memiliki kekuatan dan tekad, karena ia memiliki tanggung jawab yang sangat serius dan memiliki perjalanan panjang di depannya. Bila tidak punya tanggung jawab yang serius, dapatkah ia dapat melaksanakan kebijakan melewati setiap tantangan? Apakah perjalanannya tidak akan lama jika dia tidak mempertahankan keadilan sampai mencapai keabadian? "
Cerita Ketiga: Kaisar Tang Taizong Memerintahkan Pangeran Menghormati Guru Mereka

Kaisar Taizong berasal dari Dinasti Tang, 599-649. Banyak orang mengakuinya sebagai raja yang bijaksana dalam sejarah Tiongkok. Dia memberi perhatian khusus pada pendidikan dan hati-hati dalam memilih guru untuk para pangeran, seperti misalnya Li Gang, Zhang Xuansu, Wei Zheng, dan Wang Gui, semua ini adalah guru dengan kebajikan besar dan sangat dihormati.

Pada suatu ketika, guru Li Gang mengalami masalah dengan kakinya, membuat mustahil baginya untuk bisa berjalan. Kekaisaran memiliki peraturan ketat terhadap pejabat yang seenaknya naik di atas pundak pria (naik kereta yang diusung 4 orang). Para pejabat diharapkan berjalan dengan sangat peduli terhadap orang lain.

Ketika Kaisar Taizong mempelajari masalah yang dialami Li Gang, ia memutuskan bahwa Li Gang diberi hak istiwewa untuk naik kereta usungan menuju di istana kekaisaran. Dan Dia memerintahkan pangerannya untuk menyambut guru Li Gang ketika ia tiba di istana.

Suatu ketika, ia mengetahui anak keempatnya, Li Tai, tidak menghormati gurunya, Wang Gui. Dia berpesan kepada anaknya langsung di depan Wang Gui, "Lain kali jika Anda melihat guru Anda, Anda harus hormat kepadanya sama seperti Anda menghormati saya. Bahkan penyimpangan sedikit pun tidak diperbolehkan. " Sejak saat itu, Li Tai menjadi sopan dan hormat terhadap gurunya dan prestasi di sekolahnya juga meningkatkan. Aturan ketat keluarga Kaisar Taizong terhadap semua pangeran adalah untuk menghormati guru dan menghargai nilai-nilai ajaran mereka.

Kaisar Taizong mengeluarkan suatu ketetapan yang berbunyi, "Saya telah melakukan mempelajari para kaisar dan raja yang bijaksana. Tanpa terkecuali, mereka semua memiliki guru besar. Seperti misalnya Kaisar Kuning belajar dari Tai Dian, Zhuanxu belajar dari Lu Tu, Yao belajar dari Yin Shou, Shun belajar dari Wu Chengzhao, Tang Wei belajar dari Zibo, Raja Zhou Wen belajar dari Ziqi, dan Raja Zhou Wu belajar dari Guo Shu ... Jika salah satu tidak belajar dengan guru besar, ia tidak memiliki cara memahami prinsip-prinsip yang diwariskan dari zaman kuno. Tidak ada orang yang bisa memerintah negara dan memelihara perdamaian jika dia tidak memiliki pemahaman yang benar yang diajarkan dari gurunya. "

Dia memutuskan bahwa semua anaknya harus menghormati guru mereka sama seperti mereka menghormatinya. Selain itu, ia mendorong para guru untuk langsung menunjukkan kekurangan para pangeran. Para guru memiliki kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab besar yang mereka emban, Kaisar Taizong selalu memberi pemahaman, dukungan, dan dorongan. Ketika putra kesembilan, Li Zhi, diangkat sebagai putra mahkota, Kaisar Taizong menetetapkan aturan lebih ketat terhadap dia.

Dia harus berdiri setiap kali gurunya atau ayahnya berbicara, dan ia harus selalu mengingat perkataan mereka dan berterima kasih sesudahnya.

Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan "siapa guru Anda untuk sehari adalah ayah anda selama sisa hidup Anda. " Cerita tentang orang-orang kuno menghormati guru mereka dan menghargai ajaran guru mereka yang telah diturunkan sebagai inspirasi cerita.

Beberapa cerita tersebut dikagumi oleh orang-orang sampai hari ini, dengan moralitas dan mereka yang memiliki cita-cita luhur. Semuanya dimulai dengan menghormati guru dan menghargai kebajikan. (Erabaru/ngrh)