欢迎..............欢迎..............欢迎


Senin, 09 Agustus 2010

Chinese Valentine Day


14 Februari adalah hari Valentine Barat yang diperingati luas di dunia. Namun sebenarnya orang Tionghoa juga punya hari valentine sendiri. Chinese Valentine memang masih lama, namun menyambut hari Valentine 14 Februari, saya turunkan juga tulisan tentang Chinese Valentine yang populer di kalangan Tionghoa di seluruh dunia.

Chinese Valentine disebut “Qi Shi“, yang artinya malam ketujuh di bulan tujuh penanggalan Imlek. Jadi Chinese Valentine jatuh pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek. Asal usul perayaan hari kasih sayang ala Chinese ini berasal dari sebuah legenda yang diceritakan turun temurun.

Dikisahkan pada zaman dulu (juga tertulis di beberapa buku sejarah kuno Tiongkok), pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek, bintang Altair (Niu Lang Sing, Bintang Penggembala) yang terpisah dengan bintang Vega (Ce Nu Sing, Bintang Wanita Penenun) akan melewati Milky Way dan bertemu setahun sekali.

Legenda yang kemudian populer selama ribuan tahun menceritakan bahwa wanita penenun adalah anak dari Raja Dewa Yu Huang di kerajaan langit. Ia terkenal akan kepintaran dan kecantikannya. Setelah remaja, tentu saja seperti gadis remaja lainnya, ia ingin mencari pasangan hidup yang baik. Waktu yang bersamaan, di bumi ada seorang penggembala. Setelah orang tuanya meninggal, ia kemudian selalu disiksa dan dikucilkan saudara2nya dan dalam pembagian harta sang orang tua, ia cuma diberikan seekor kerbau yang selalu digembalakannya sedangkan saudara2nya mendapatkan sawah dan rumah orang tuanya.

Penggembala sangat menyayangi sang kerbau, ia selalu menganggap kerbau sebagai keluarganya dan menceritakan segala keluh kesahnya. Suatu hari, sang kerbau memanggil namanya dan memintanya untuk ke pinggir sungai karena akan ada beberapa gadis yang sedang mencuci baju besok. Sang kerbau menyuruhnya mengambil baju berwarna ungu dan gadis pemiliknya akan ditakdirkan menjadi istrinya.

Keesokan harinya, penggembala melaksanakan perintah sang kerbau dan ia kemudian bertemu dengan sang penenun yang merupakan pemilik baju ungu tersebut. Mereka kemudian saling menyukai dan memutuskan untuk menikah dan hidup bahagia. Namun peristiwa tadi diketahui oleh Ratu di kerajaan langit dan segera menyuruh penenun untuk pulang ke kerajaan langit. Penggembala kemudian mengejar penenun, namun Ratu mencabut konde emasnya dan melemparkannya di antara mereka. Konde kemudian berubah menjadi sungai perak yang dikenal sebagai galaksi Milky Way untuk memisahkan mereka selamanya.

Namun setelah melihat kesungguhan hati dan cinta mereka, Ratu kemudian memperbolehkan mereka untuk bertemu setahun sekali pada tanggal 7 bulan 7. Pada malam ini, burung magpie yang mengasihani mereka akan membuat jembatan di atas Milky Way supaya mereka dapat bertemu.

Memang seperti dongeng anak sebelum tidur dan juga banyak sekali versi yang ada di masyarakat. Legenda tinggal legenda, yang harus kita ambil adalah makna yang terkandung di dalamnya. Beruntunglah kita yang memiliki cinta dan kasih sayang di dekat kita dibandingkan dengan kisah cinta penggembala dan penenun yang cuma bisa bertemu setahun sekali. Cintai dan sayangilah pasangan hidup kita selagi kita bisa menyayanginya. Jangan cuma bisa merindukannya bila telah jauh berpisah.

Perayaan Chinese Valentine ini sangat populer di Taiwan, RRC, HK dan Macau, selain daripada Valentine 14 Februari. Perangko dan uang logam kenang2an juga telah dikeluarkan oleh pemerintah negara di atas. Namun, perayaan setahun sekali ini cuma sebuah perlambang. Bagi pasangan yang penuh dengan kasih sayang dalam kehidupannya, 365 hari dalam setahun adalah hari Valentine bagi mereka.

Bersama ini, saya ucapkan Selamat Hari Valentine, Ching Ren Jie Khuai Le.

PS. Chinese Valentine tahun ini jatuh pada tanggal 22 Agustus 2004.

Rinto Jiang
Disarikan dari berbagai sumber

Notes dari Sklaras:
Berlainan dengan perayaan hari Valentine di dunia barat yang bermakna agamis. perayaan Chinese valentine maknanya sangat romantis dan puitis. cobalah simak sebuah Syair yang ditulis penyair dari dinasti Song, yang menggambarkan legenda putri penenun dan putra gembala.

TITIAN JALAK
Qin Guan ( 1049–1100 ; Song )

Awan lembut mengolak lukisan,
bintang terbang menebar penyesalan,
samar melintasi Bima Sakti yang tanpa tepian.
Satu kali bersua dalam angin emas embun perak,
telah melebihi berulang berjumpa di dunia insan!

Cinta yang lembut selaksana air,
hari yang bahagia bagaikan mimpi,
tak kuasa menengok jalan kembali lewat titian jalak!
Apabila cinta di kedua hati adalah kekal abadi,
masihkan kehadiran dihitung setiap senja setiap pagi?

Asal usul makanan kecil Tjah Kwei


Tjah Kwei adalah makanan asal Tiongkok yang dibuat dari tepung trigu, ragi, soda, ammonium bicarbonat dan garam. Adonan kalau sudah “mekar” dibuat seperti tongkat yang panjangnya kira kira 15-20 cm., lalu dua tongkat dilekatkan menjadi satu. Kalau digoreng panjangnya menjadi kira kira 25 cm dan berwarna coklat. Tjah kwei terkenal di Asia tenggara dan merupakan makanan kecil terutama bagi orang-orang Tionghoa. Di Solo, Jawa Tengah, Tjah Kwei dibuat oleh orang “pribumi” dan setiap malam pembeli selalu berderet-deret untuk antri. Untuk makanan pagi di daratan Tiongkok dan Taiwan Tjah-kwei dimakan bersama-sama dengan susu kedele adalah sarapan pagi yang nikmat. Tjah Kwei di Solo dimakan baik oleh suku Tionghoa maupun oleh orang jawa Solo.

Disini aku ceritakan asal usul Tjah Kwei. Di jaman Dinasti Song, suku Jin dari Utara sangat kuat, mereka beberapa kali menyerbu negeri Song. Kemudian Kerajaan Song dikalahkan dan kaisar Wei dan Xin ditangkap. Kemudian raja Gang (baca: Kang) mendirikan dinasti Song Selatan. Di masa kaisar Gao dari Song Selatan, sekali lagi diserbu secara besar-besaran oleh suku Jin dan menduduki sebagian besar daerah utara dari sungai Chang Jiang (Yang Tse). Untungnya ada seorang jendral yang bernama Yue Fei ( bahasa Hokkian Gak Hoei) memimpin tentara Song untuk melawannya dengan gigih, disamping itu Beliau melindungi ibu kota Song Selatan. Beliau dengan patriotiknya membela negaranya dan telah mengambil kembali banyak daerah Song yang telah diduduki oleh tentara kuda Jin yang terkenal. Sayang sebelum Beliau dapat mengambil kembali ibu kota Song yang dahulu, hanya masih kira-kira 22 kilomter jaraknya. Waktu Yue Fei akan melewati Sungai Kuning bagian utara, Jendral Yue Fei dipanggil pulang secara mendadak oleh raja Gao. Raja Gao mendengar kata-kata pengkhianat yang bernama Chin Kuai yang membisiki raja dengan perkataan bahwa Yue Fei kalau menang Beliau akan mengundang kembali kaisar Wei dan Xin yang masih ditangkap oleh suku Jin untuk naik tahtanya kembali. Maka kalau raja tidak mengambil tindakan sekarang, kedudukan raja Gao akan susah dipertahankan. Chin Kuai juga mengatakan bahwa Jendral Yue Fei akan memberontak dan menganjurkan agar Yue Fei ditangkap segera kalau datang, lalu dibunuh.

Kematian Yue Fei membuat marah semua rakyat dan menganggap Chin Kuai sebagai pengkhianat negara. Kemudian. Raja Xiao dari Song Selatan merehabilitasi nama Yue Fei dan di kota Hang Zhou dibangun di daerah Xi-Hu (telaga Hu yang cantik) gedung kuburan Jendral yang patriot ini yang sampai sekarang di hormati. Ironisnya pada masa RBKP dirusak oleh Garda Merah yang oleh Mao Ze-Dong dinamakan jendral jendral kecil. Didepan patung Yue Fei dibuat dua patung suami istri Chin Kuai yang berlutut pada Yue Fei. Dan dihina oleh rakyat Tiongkok. Patung Yue Fei sekarang sudah dibetulkan lagi dan menjadi lebih bagus. Turist yang berkunjung ke Hangzhou dapat menikmati tugu pahlawan Yue Fei ini.

Ada orang yang membenci Chin Kuai membuat model manusia dari tepung terigu yang mencerminkan Chin Kuai dan istrinya, disatukan jadi satu, lalu di goreng dan dimakan. Dahulu makanan ini dinamakan Yu –Zha (goreng dengan minyak) Chin Kuai, lalu diringkas menjadi Yu Zha Kuai (Hokkian Yu Tjah Kwee), Tjah kwee atau Yutiao (Mandarin).

Dr. Han Hwie Song
Breda, 5 april 2004

posted by HKSIS
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1923

Adat Pernikahan




Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999

Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).

ADAT PERNIKAHAN
Upacara pernikahan merupakan adat perkawinan yang didasarkan atas dan bersumber kepada kekerabatan, keleluhuran dan kemanusiaan serta berfungsi melindungi keluarga. Upacara pernikahan tidaklah dilakukan secara seragam di semua tempat, tetapi terdapat berbagai variasi menurut tempat diadakannya; yaitu disesuaikan dengan pandangan mereka pada adat tersebut dan pengaruh adat lainnya pada masa lampau.
Umumnya orang-orang Tionghoa yang bermigrasi ke Indonesia membawa adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Salah satu adat yang seharusnya mereka taati adalah keluarga yang satu marga (shee ) dilarang menikah, karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan suku. Misalnya : marga Lie dilarang menikah dengan marga Lie dari keluarga lain, sekalipun tidak saling kenal. Akan tetapi pernikahan dalam satu keluarga sangat diharapkan agar supaya harta tidak jatuh ke orang lain. Misalnya : pernikahan dengan anak bibi (tidak satu marga, tapi masih satu nenek moyang).
Ada beberapa yang sekalipun telah memeluk agama lain, seperti Katolik namun masih menjalankan adat istiadat ini. Sehingga terdapat perbedaan di dalam melihat adat istiadat pernikahan yaitu terutama dipengaruhi oleh adat lain, adat setempat, agama, pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing.

UPACARA-UPACARA YANG DILAKSANAKAN DALAM PERNIKAHAN
Pesta dan upacara pernikahan merupakan saat peralihan sepanjang kehidupan manusia yang sifatnya universal. Oleh karena itu, upacara perkawinan selalu ada pada hampir setiap kebudayaan. Demikian pula halnya dengan adat pernikahan orang Tionghoa yang mempunyai upacara-upacara antara lain:
A. Upacara menjelang pernikahan :
Upacara ini terdiri atas 5 tahapan yaitu :
* Melamar : Yang memegang peranan penting pada acara ini adalah mak comblang. Mak comblang biasanya dari pihak pria.
* Penentuan : Bila keahlian mak comblang berhasil, maka diadakan penentuan bilamana antaran/mas kawin boleh dilaksanakan.
* “Sangjit” / Antar Contoh Baju : Pada hari yang sudah ditentukan, pihak pria/keluarga pria dengan mak comblang dan kerabat dekat mengantar seperangkat lengkap pakaian mempelai pria dan mas kawin. Mas kawin dapat memperlihatkan gengsi, kaya atau miskinnya keluarga calon mempelai pria. Semua harus dibungkus dengan kertas merah dan warna emas. Selain itu juga dilengkapi dengan uang susu (ang pauw) dan 2 pasang lilin. Biasanya “ang pauw” diambil setengah dan sepasang lilin dikembalikan.
* Tunangan : Pada saat pertunangan ini, kedua keluarga saling memperkenalkan diri dengan panggilan masing-masing, seperti yang telah diuraikan pada Jelajah No. 3.
* Penentuan Hari Baik, Bulan Baik : Suku Tionghoa percaya bahwa dalam setiap melaksanakan suatu upacara, harus dilihat hari dan bulannya. Apabila jam, hari dan bulan pernikahan kurang tepat akan dapat mencelakakan kelanggengan pernikahan mereka. Oleh karena itu harus dipilih jam, hari dan bulan yang baik. Biasanya semuanya serba muda yaitu : jam sebelum matahari tegak lurus; hari tergantung perhitungan bulan Tionghoa, dan bulan yang baik adalah bulan naik / menjelang purnama.

B. Upacara pernikahan :
* 3 – 7 hari menjelang hari pernikahan diadakan “memajang” keluarga mempelai pria dan famili dekat, mereka berkunjung ke keluarga mempelai wanita. Mereka membawa beberapa perangkat untuk meng-hias kamar pengantin. Hamparan sprei harus dilakukan oleh keluarga pria yang masih lengkap (hidup) dan bahagia. Di atas tempat tidur diletakkan mas kawin. Ada upacara makan-makan. Calon mempelai pria dilarang menemui calon mempelai wanita sampai hari H.
* Malam dimana esok akan diadakan upacara pernikahan, ada upacara “Liauw Tiaa”. Upacara ini biasanya dilakukan hanya untuk mengundang teman-teman calon kedua mempelai. Tetapi adakalanya diadakan pesta besar-besaran sampai jauh malam. Pesta ini diadakan di rumah mempelai wanita. Pada malam ini, calon mempelai boleh digoda sepuas-puasnya oleh teman-teman putrinya. Malam ini juga sering dipergunakan untuk kaum muda pria melihat-lihat calonnya (mencari pacar).

C. Upacara Sembahyang Tuhan (“Cio Tao”)
Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun, adakalanya upacara Sembahyang Tuhan ini diadakan pada tengah malam menjelang pernikahan. Upacara Cio Tao ini terdiri dari :
. Penghormatan kepada Tuhan
. Penghormatan kepada Alam
. Penghormatan kepada Leluhur
. Penghormatan kepada Orang tua
. Penghormatan kepada kedua mempelai.

Meja sembahyang berwarna merah 3 tingkat. Di bawahnya diberi 7 macam buah, a.l. Srikaya, lambang kekayaan.
Di bawah meja harus ada jambangan berisi air, rumput berwarna hijau yang melambangkan alam nan makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis tengah ?2 meter dan di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan, sumpit, dll. yang semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujuran, panjang umur dan setia.
Kedua mempelai memakai pakaian upacara kebesaran Cina yang disebut baju “Pao”. Mereka menuangkan teh sebagai tanda penghormatan dan memberikan kepada yang dihormati, sambil mengelilingi tampah dan berlutut serta bersujud. Upacara ini sangat sakral dan memberikan arti secara simbolik.

D. Ke Kelenteng
Sesudah upacara di rumah, dilanjutkan ke Klenteng. Di sini upacara penghormatan kepada Tuhan Allah dan para leluhur.

E. Penghormatan Orang tua dan Keluarga
Kembali ke rumah diadakan penghormatan kepada kedua orang tua, keluarga, kerabat dekat. Setiap penghormatan harus dibalas dengan “ang pauw” baik berupa uang maupun emas, permata. Penghormatan dapat lama, bersujud dan bangun. Dapat juga sebentar, dengan disambut oleh yang dihormati.

F. Upacara Pesta Pernikahan
Selesai upacara penghormatan, pakaian kebesaran ditukar dengan pakaian “ala barat”. Pesta pernikahan di hotel atau tempat lain.
Usai pesta, ada upacara pengenalan mempelai pria ( Kiangsay ). Mengundang kiangsay untuk makan malam, karena saat itu mempelai pria masih belum boleh menginap di rumah mempelai wanita.

G. Upacara sesudah pernikahan
Tiga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari :
1. Cia Kiangsay
2. Cia Ce’em
Pada upacara menjamu mempelai pria (“Cia Kiangsay”) intinya adalah memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita. Mempelai pria sudah boleh tinggal bersama.
Sedangkan “Cia Ce’em” di rumah mempelai pria, memperkenalkan seluruh keluarga besar mempelai wanita.
Tujuh hari sesudah menikah diadakan upacara kunjungan ke rumah-rumah famili yang ada orang tuanya. Mempelai wanita memakai pakaian adat Cina yang lebih sederhana.

PERUBAHAN YANG BIASA TERJADI PADA ADAT UPACARA PERNIKAHAN
* Ada beberapa pengaruh dari adat lain atau setempat, seperti: mengusir setan atau mahkluk jahat dengan memakai beras kunyit yang ditabur menjelang mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita. Demikian juga dengan pemakaian sekapur sirih, dan lain-lain.
* Pengaruh agama, jelas terlihat perkembangannya. Sekalipun upacara Sembahyang Tuhan / Cio Tao telah diadakan di rumah, tetapi untuk yang beragama Kristen tetap ke Gereja dan upacara di Gereja. Perubahan makin tampak jelas, upacara di Kelenteng diganti dengan di gereja.
* Pengaruh pengetahuan dan teknologi, dapat dilihat dari kepraktisan upacara. Dewasa ini orang-orang lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara yang berbelit-belit. Apalagi kehidupan di kota-kota besar yang telah dipengaruhi oleh teknologi canggih.

Sebagai suatu pranata adat yang tumbuh dan mempengaruhi tingkah laku masyarakat yang terlibat di dalamnya, sasaran pelaksanaan adat pernikahan Tionghoa mengalami masa transisi. Hal ini ditandai dengan terpisahnya masyarakat dari adat pernikahan tersebut melalui pergeseran motif baik ke arah positif maupun negatif dan konflik dalam keluarga.
Dewasa ini masyarakat Tionghoa lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara adat. Hampir semua peraturan yang diadatkan telah dilanggar. Kebanyakan upacara pernikahan berdasarkan dari agama yang dianut.

as posted by Rinto Jiang in Milis Budaya Tionghua
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1160

—————————————————————————————————
Addition by Julie Lau

Lagi iseng ah, berhubung kemaren baru kondangan, jadi kepengen cerita cerita mengenai tata cara perkawinan adat tionghua. Ya nggak adat adat amat sih, soalnya disini sana banyak “penyesuaian” dan mix n match pake budaya barat, kecampur lagi sama budaya Jawa (setahu saya). Jadi terpikir bahwa budaya Tionghua di Indonesia sebetulnya adalah “budaya gado gado”. Di singapur sini yang gado gado gitu disebut “Peranakan” atau “Nonya”, satu istilah yang akrab di telinga, sebab Oma saya suka menyebut diri sebagai “Cina Peranakan” maksudnya adalah Keturunan yang lahir atau tumbuh dewasa di Indonesia, sudah tidak akrab dengan bahasa Mandarin, dan ciri khas satu lagi adalah koleksi kebayanya itu lhoh, hehehe. Yang disebut “kebaya encim” itu kali yah. Tapi belakangan koleksi kebaya si Oma udah tinggal jadi koleksi doang sebab Oma lebih suka pakai blus dan celana panjang yang lebih praktis.

Balik lagi ke tata cara perkawinan, hmmm enaknya mulai darimana yah. Dari alkisah deh….

COMBLANG
Alkisah, jaman dulu, jaman masih Siti nur buaya, dimana cowok dan cewek yang mau kawin masih dijodoh jodohin sama orangtua, peran “comblang” pengaruh banget. (Buat yang nonton MULAN versi Disney, pasti tahu khan yah, heheheh, film fave tuh). Eh jaman sekarang comblang masih ada lhoh, saya pernah dilirik ama comblang mau dijodohin, hiiiiiii, untuuuuung enggak jadi.
Jaman dulu kalau ada anak gadis yang sekiranya layak jadi menantu, pihak cowok langsung kirim comblang ke pihak ceweknya sambil kirim kirim bingkisan gitu. Nah kalo bingkisannya dari si nyonya anu diterima dengan baik dan benar berarti pihak cewek setuju, kalau dikembaliin berarti enggak setuju. Bagusnya cara begini, dua dua pihak ngga ada yang kehilangan muka merasa ditolak, katanyaaaa.
Jaman sekarang dimana anak udah bisa cari pacar sendiri, udah kaga pake comblang comblangan lagi deh. Anak sama anak tinggal omong omongan, begitu anak sama anak udah setuju mau nikahan tinggal bilang sama ortu. Kalau ortu enggak ada keberatan tinggal nentuin tanggal omong omongan. Ceritanya “diminta” secara resmi gitu sebelum acara lamaran.

SHIO, JAM, DAN TANGGAL LAHIR
Jaman dulu, dimana orang masih piara abu leluhur, begitu para ortu udah oke oke nih, comblang mintain jam dan tanggal lahir si cewek, otomatis ketauan shionya dan elemennya, apa kayu, api, air, logam, atau tanah. Tanggal ini terus ditaroh di meja sembahyang selama tiga hari. Dalam jangka waktu tiga hari ini kalau ada tanda tanda jelek, misalnya ortu sama ortu cekcok, atau mendadakan ada yang sakitan, lantas dicurigai tanggalnya “ciong” atau tidak cocok. langsung deh dibawa tuh tanggal ke tukang “kuamia” minta tolong dilihat antara si cowok dan si cewek ada jodoh ngga. Kalau tukang kuamia bilang boleh, baru calon besan ketemuan. kalau tukang kuamia bilang jangan, batal deh acara kawinan.
Jaman sekarang biasanya anak sama anak bilang mau kawin dulu, terus orangtua dateng ke tukang ngitung hari itu, biasanya pake buku “Tong su” itu minta dicariin tanggal yang bagus buat dua belah pihak. Enggak ada acara bilang “jangan” pokoknya mau kawin si A sama si B minta tanggal yang paling bagus. Nah masalahnya si tanggal ini suka suka susah keluarnya. Yaaa kalau yang susah gitu diambil yang paling mendingan aja, sama kayak kita pilih capres kali ya, yang mana yang dianggep mendingan aja deeeh.
Oh iya masalah tanggal ini, biasanya dikasih pilihan, tanggal ini hari minggu, lumayan bagus atau tanggal ini paling bagus, tapi jatuhnya hari kamis, atau tanggal itu… nah jadi dua keluarga bisa pilih pilih dan atur atur tanggal mana mau mengadakan pesta kawin.

LAMARAN/PINANGAN
Yang ini kayaknya adpatasi dari budaya Jawa, sebab yang saya tahu di Cina enggak ada acara lamaran langsung acara kirim tanda meminang, termasuk di dalamnya baju pengantin yang warna merah itu berikut tutup kepalanya yang beratnya lima kilo itu. Cuman di Indonesia ini orang Tionghua ada acara lamaran, pihak cewek diksaih tahu dulu hari apa jam berapa pihak cowok mau datang supaya bisa mempersiapkan, dimana pihak cowok datang bersama kerabat yang biasanya pintar diplomasi, bicara dengan kata kata kiasan mengutip puisi atau kalimat kalimat indah penuh arti. Wali pihak perempuan juga harus punya keahlian yang sama jadi di acara lamaran ini ada kayak berbalas pantun gitu sih.Selama acara berpantun pantun ini si cewek diumpetin di kamar ngga boleh keluar. Terus setelah acara berpantun ria selesai, si cewek dipanggil, dikasih tahu ini lhoh calon mertuamu, sekarang harus panggilnya Mama sama Papa, begitu. Dimana pihak cewek biasanya dikasih seperangkat perhiasan. Biasanya orangtua pihak cowok memasangkan perhiasan tersebut pada calon mantunya, istilahnya pengikat begitulah. Sebagai tanda bahwa si cewek ini sudah menjadi milik si cowok, dengan kata lain ngga boleh lirik lirik cowok cakep yang lain begitu. Dan cowok lain juga ngga boleh ganggu ganggu ini anak gadis yang sudah jadi milik orang. Hihihihik, jadi inget kalung dogi yang menandakan dogi ini ada yang punya bukan dogi liar, harap dikembalikan pada yang punya, hihihihi…..

ACARA TUKAR BAKI/SANGJIT
Sesudah lamaran, berikutnya pada hari bertuah, jam tertentu pihak cowok datang lagi ke rumah pihak cewek. Kali ini ortu cowo enggak ikut, cuman kirim perwakilan keluarga yang dituakan, plus segerombolan gadis gadis yang belum nikah. Tiap gadis bawa satu baki, jumlah baki plus pembawanya tergantung kemampuan si cowok, tapi yang penting disitu ada seperangkat pakaian cewek maksudnya kebutuhan sandang si cewek bakalan ditanggung sama pihak cowok, jangan kuatir. manisan dan permen supaya sepanjang perkawinannya manis terus, buah buahan supaya cepet berbuah kali, arak, teh, apalagi ya, seinget saya ada 8 atau 12 macam itu tapi apa aja lupa.
Pihak cewek harus mempersiapkan “penerima baki” jadi sebelum datang udah ketauan duluan berapa baki yang dibawa. Kalau pihak cewek memasrahkan anak perempuannya ke keluarga cowok, dilepas enggak akan ikut campur lagi, isi baki diambil semua. Tapi kalau orang tua cewek masih mau campur tangan atas keluarga penganten nih, isi baki dibagi dua separoh dikembalikan ke pihak cowok plus seperangkat baju cowok sebagai ganti baju cewek.
Saya nggak tau adaptasi darimana, tapi di acara sangjit ini biasanya pihak cowok memberikan “angpau” pada ibu dari cewek, katanya uang susu, ASI kali maksudnya. Pihak cewek mengembalikan dengan sepasang “angpau” pada pihak cowok tapi maksudnya apa ya saya ngga inget tuh.
Oh ya, sampai hari ini saya dan kerabat ada memperdebatkan, yang bawa baki harusnya gadis yang belum menikah atau justeru yang sudah menikah, belum ada kesepakatan, kalau ada yang tahu tolong jelaskan sama saya berikut latar belakang dan alasannya, trims.

ACARA KIRIM KOPER DAN PASANG SPREI
Istilahnya enggak tahu. Pokoknya pada hari yang bersangkutan ini pihak cewek mengirim wakil, biasanya perempuan yang sudah menikah, mapan dan punya anak laki laki untuk mendadani kamar pengantin. Otomatis pihak cowok sudah menyediakan si kamar pengantin berikut tanjangnya donk. Wakil dari pihak perempuan yang pasang spreinya, maksudnya biar anak cewek itu ketularan cepat punya anak laki laki gitu, seperti yang kita tahu anak laki laki buat keluarga tionghua khan penting untuk melanjutkan marga. Plus pihak cewek mengirimkan koper, tanda bahwa si anak gadis sudah “masuk” ke rumah itu atau ke keluarga cowok.
Acara koper koper lucu juga nih. Mula mula kopernya dialasi uang, uangnya makin gede makin bagus, supaya si anak gadis ini masuk ke keluarga cowok dengan bermodal gitu supaya jangan dipandang rendah oleh keluarga mertuanya kelak. Si uang ini bisa ditebarkan gitu aja, bisa juga disusun susun berbentuk kipas, jumlahnya harus genap dan komplit mulai dari pecahan terbesar (di indo seratus ribuan) sampai pecahan terkecil (limaratus rupiah apa seribu rupiah gitu). Terus di dalam koper ditebarkan “angco” atau red dates sama biji teratai. katanya si biji teratai itu bunyinya serupa sama tahun( lian = nian), biji serupa sama anak (ci =tze), dan red dates itu bunyinya serupa sama apa ya, pokoknya sebangsa buru buru atau cepet cepet atau pagi pagi gitu. Maksudnya biar cepetan punya anak gitu.
Isi koper biasanya baju baru, berapa banyak terserah, makin banyak makin mentereng. Tapi bawa kopernya harus 2 biji, sepasang, gedenya sih terserah.terus dalemnya komplit mulai baju dalem, sikat gigi, sabun, minyak wangi, alat make up, perhiasan, pokoknya segala keperluan cewek musti kumplit disitu supaya si cewek pindah nanti nggak usah minta apa yang enggak ada sama mertuanya. Terus isi koper ini sama perwakilan keluarga cewek dibongkar disaksikan sama kerabat pihak cowok, dipindah ke dalam lemari. Katanya makin komplit isi kopernya makin “dipandang” lah si menantu di keluarga suaminya. Di acara pasang sprei dan kirim koper ini si calon pengantin ngga boleh ikut. Pokoknya isi kamar pengantin bakalan jadi surprise.

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5448

————————————————
Addition by Lim Wiss
(as an answer to member’s question)
Saya tdk tahu ttg adat istiadat Tio Ciu ttp saya bisa bantu dlm pemberian info San Jit secara Khek

Acara Sanjit & bawa koper boleh hari bersamaan, asal tdk lebih dari jam 4 sore. Biasanya bisa tanya hari baik pada klenteng or vihara.
Barang untuk San Jit lebih baik didiskusikan oleh 2 belah pihak krn permintaan msg2 berbeda.
Secara keseluruhan hrs siapkan : (Pihak Pria)
1. Mie buat lambang panjang umur
2. Kue satu buat lambang kebahagiaan
3. Arak Merah buat lambang kebahagiaan = 2 botol
4. Apel buat lambang keselamatan
5. Jeruk buat lambang keberhasilan
6. Buah kelengkeng (boleh kalengan) buat lambang selamanya bersatu
7. Zhu Kiong ( kalengan daging babi) buat lambang hoki
8. Kain merah sepanjang 2,5 meter
9. Uang susu
10. Uang lamaran
11. Permen manis

Pihak wanita :
Item 1, 2, 4 – 7, 11 hrs dibagi dua dan dikembalikan
Item 3 dikembalikan berupa sirup merah
Item 8 diambil, dipasang pagi hari pada hari resepsi pernikahan
Item 9 wajib diambil
Item 10 diambil lembar pertama & lembar akhir sbg tanda ada awal & ada akhir

Jumlah item di atas harus ditanyakan ke pihak wanita. Ada yg suka angka 8 = hoki, or 9 = selamanya bersama or 10 = angka hidup
Terpenting semua makanan hrs manis sbg tanda kebahagiaan.
Org yg bawa barang San Jit hrs tanya pihak wanita. Ada yg mau pasangan married yg bahagia hingga anaknya besar
Acara San Jit sekitar jam 8 – 10 siang, tdk baik lebih dari jam 10 siang
Pihak wanita hrs menjamu pihak pria, boleh di restaurant boleh di rumah.
Stl acara Sanjit ada acara bawa koper dari rumah pihak wanita ke rumah yg akan ditempati.

Acara bawa koper :
Satu Koper diisi pakaian yg baru sbg lambang awal permulaan lembaran baru
Satu koper diisi kosmetik baru
Satu koper isi bed cover & satu set sprei
Dua koper di atasnya ditaruh hiasan berupa kipas yg dibuat dari uang, boleh ribuan, puluhan, ratusan. Terpenting hrs genap sbg lambang angka hidup.
Samping koper ditaruh dgn 2 apel & 2 jeruk sbg lambang keselamatan & keberhasilan.
Kamar pengantin dihias dgn tulisan Shi = bahagia
Di atas kasur ditaruh sepasang boneka angsa
Sprei dipasang oleh sepasang keluarga yg harmonis & sukses sbg lambang kebahagian berumah tangga
Pihak Pria menjamu pihak wanita boleh di rumah boleh di restorant.

-Lim Wiss-
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5559

Belajar Falsafah di Kelenteng…

KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.

Tidak satu pun kelenteng di pecinan berusia muda. Di antara 10 kelenteng yang di kawasan itu didirikan pada kurun 1753 hingga 1800-an. Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng tertua di daerah itu. Selain itu, dibangun pula Kelenteng Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tay Kak Sie, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, Tek Hay Bio, Wie Wie Kiong, See Hoo Kong, dan Kelenteng Grajen.
Namun, kelenteng tertua di Kota Semarang justru tidak berada di pecinan. Kelenteng tertua itu bernama Sam Poo Kong yang didirikan oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1406 di bilangan Simongan, Semarang bagian barat.
Tidak seperti pada masa Orde Baru ketika umat Konghucu tidak diperbolehkan melakukan ibadah dan melaksanakan upacara keagamaannya. Umat Konghucu di pecinan sekarang bisa bebas melaksanakan ritual agamanya dan melambungkan asap yong tswa.
Dalam waktu dekat ini, umat Konghucu di Pecinan akan mengadakan upacara King Ho Ping pada tanggal 29 bulan 7 tahun Imlek, atau 12 September 2004. Saat itu umat Konghucu membacakan doa dan mempersembahkan sesaji bagi para arwah leluhur yang tidak diterima di dunia akhirat. Upacara itu dipusatkan di Kelenteng Tay Kak Sie.
“Kami tidak bisa main-main mengadakan upacara ini. Kami harus melaksanakannya secara khidmat. Kalau tidak, kita bisa kesurupan,” tutur Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Kota Semarang Gan Kok Hwie (73).
Ia memaparkan, upacara itu akan diadakan dalam upacara yang lumayan besar. Seusai membaca doa dan sesaji akan diadakan upacara rebutan bahan pokok makanan. “Tetapi, sekarang kami tidak lagi mengadakannya secara rebutan karena pasti banyak yang berkelahi. Karena itu, kami akan membagi-bagikan bahan pokok itu kepada masyarakat dengan kupon,” ungkapnya.
Selain sebagai tempat ibadah, menurut Gan Kok Hwie, pada masa lalu sebelum Konghucu dilarang di Indonesia, warga pecinan kerap bercengkerama di halaman kelenteng. Biasanya kesempatan itu dimanfaatkan oleh para orang tua untuk berbagi pengalaman dengan generasi muda.
Melalui perbincangan itu pula generasi muda belajar tentang falsafah hidup dari generasi tua. “Pada zaman dulu, sambil duduk-duduk di kelenteng para orang tua memberikan nasihat dan ajaran hidup kepada generasi muda dalam menjalankan hidup. Tidak seperti saat ini, generasi muda sudah tidak tahu tradisi etnis Tionghoa,” paparnya.
Meski begitu, iklim kebebasan beribadah sesuai agama Konghucu sangat disyukuri oleh Gan Kok Hwie dan umat Konghucu di pecinan. Thio Tiong Gie (75), satu-satunya dalang wayang Po Te Hi yang masih ada di Kota Semarang, juga sangat mensyukuri itu. “Pada masa ini, kami bisa bebas sembahyang ke kelenteng dan mengadakan upacara. Kami sudah cukup merasa senang dengan itu semua,” tuturnya.
Meski Pemerintah Indonesia sudah memberikan kebebasan itu, tetapi umat Konghucu masih merasa terusik oleh anggapan miring tentang agama mereka. Mereka juga sedang dihadapkan pada permasalahan keberlangsungan agama ini karena generasi muda etnis Tionghoa di pecinan sudah banyak berpaling ke agama lain.
“Anak-anak saya tidak satu pun yang beragama Konghucu. Saya tidak bisa berbuat apa- apa karena mereka masuk agama Kristen karena mereka masuk sekolah swasta Kristen. Lagi pula, pada masa Orde Baru kami tidak boleh menjalankan upacara Konghucu sehingga sedikit sekali tradisi agama ini yang bisa kami ajarkan kepada mereka,” tutur Gan Kok Hwie.
Ia mengaku sempat sakit hati terhadap anak-anaknya karena tidak sudi lagi masuk ke kelenteng. “Mereka bilang, kelenteng tidak bagus karena menyembah patung. Padahal, saya sudah meminta mereka untuk bisa menghormati agama yang saya anut,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Ny Liem Man Fung (41). Ibu rumah tangga beranak dua ini kerap menghadapi pertanyaan anak-anaknya tentang kebenaran agama Konghucu.
“Anak saya kerap bertanya, apakah Konghucu adalah agama setan? Teman-teman mereka selalu bilang kepada anak saya bahwa kelenteng tempat berkumpulnya setan. Tetapi, saya ajarkan kepada anak saya bahwa Konghucu tidak pernah mengajarkan seperti itu. Pada dasarnya, agama apa pun adalah sama. Hanya saja caranya yang berbeda,” tuturnya.
Ny Liem mengaku, meski sudah dibebaskan menganut agama Konghucu, umat Konghucu masih harus terus berjuang karena kenyataannya kalangan umum belum bisa menerima agamanya. “Saya percaya ajaran Konghucu, yaitu yang terpenting dari manusia adalah pikiran, hati, dan perbuatan. Tidak akan ada gunanya ibadah kita setiap hari kalau ketiga unsur itu tidak dijaga. Pesan- pesan itu yang selalu saya sampaikan kepada teman dan saudara yang menilai miring agama Konghucu,” paparnya.
Thio Tiong Gie menambahkan, “Konghucu tidak pernah membeda-bedakan manusia ataupun agama. Ada satu falsafah dari Nabi Konghucu: di empat penjuru lautan, semua manusia bersaudara. Satu lagi; hanya kebajikan Tuhan (yang) berkenan,” tuturnya.
Ny Liem mengakui selama ini agama Konghucu kurang dikenali oleh generasi muda karena ajaran agamanya tidak disosialisasikan dalam ceramah.
“Di dalam agama kami memang tidak ada aturan untuk beribadah secara tepat. Cara- cara itu tergantung pada adat istiadat yang berkembang di suku-suku di dalam etnis Tionghoa. Tetapi saya sadar, ceramah untuk membina generasi muda sangat diperlukan untuk meneruskan agama ini ke generasi muda,” tuturnya.
Ceramah-ceramah dan sekolah agama saat ini di antaranya yang sedang digarap oleh Gan Kok Hwie di Kelenteng Tay Kak Sie . Sebagai Ketua Makin Kota Semarang, dia merasa bertanggung jawab untuk membina umat Konghucu dan mempertahankan generasi muda agar kembali ke kelenteng.
“Baru satu tahun ini saya mulai mengadakan ceramah bagi umat dan mengadakan sekolah minggu setiap Minggu untuk anak-anak. Langkah ini sebagai pembinaan keimanan bagi umat Konghucu,” tuturnya.
“Pada tahap awal ini, saya baru pembinaan bagi umat. Tahap selanjutnya kami juga akan menyebarluaskan ajaran Konghucu,” paparnya. (J02)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/03/daerah/1244334.htm

Maksud dan Kegunaan dari Kata Kedua dari Nama Tionghua


1. Kenapa kebanyakan nama orang chinese terdiri tiga kata?
KH: Nama Tionghoa terdiri dari sne (marga) dan mia (nama). Sebagian besar sne orang Tionghoa terdiri dari 1 huruf. Ada beberapa sne yang terdiri dari 2 huruf. Mia bisa terdiri dari 1 atau 2 huruf. Di Indonesia (Asia Tenggara) umumnya orang menggunakan 2 huruf untuk mia. Karena itu, kita lebih sering melihat nama Tionghoa yang terdiri dari 3 huruf (1 sne dan 2 mia). Misalnya: Kwik Kian Gie (郭建義), Siauw Giok Tjhan (萧玉燦). Untuk Sne dengan 2 huruf, jika menggunakan nama 2 huruf maka total hurufnya menjadi 4 huruf. Misalnya: Auwjong Peng Koen (歐陽炳昆).

2. Kenapa kata kedua dari nama tersebut harus sama apabila dilahirkan pada generasi yang sama? (Kata kedua dari nama ayah saya sama dengan sodaranya. Demikian juga kata kedua dari nama ibu saya sama dengan sodaranya)
KH: Pada sne tertentu biasanya mempunyai urutan nama generasi yang ditentukan oleh leluhur sne ybs. Nama generasi ini belum tentu sama untuk sne yang sama tapi berlainan tempat. Misalnya nama generasi sne Lim 林 yang berasal dari satu kabupaten di Hokkian, belum tentu sama dengan sne Lim yang berasal dari Henan misalnya. Kemudian, nama generasi ini belum tentu dipakai sebagai nama. Orang Hokkian lebih jarang menggunakan nama generasi, dibanding orang Hokchnia. Contohnya keluarga saya sendiri. Kakek saya berasal dari kabupaten Ankhue 安溪 di Hokkian, bersne Liao 廖. Walaupun mereka mempunyai nama generasi, kakek dan ayah saya tidak menggunakan nama generasi pada namanya. Saya sendiri menggunakan nama generasi Hian (賢) di huruf ketiga. Sedangkan kedua anak saya tidak diberinama yang menggunakan nama generasinya Hian (顯). Sebaliknya, nama yang sama untuk saudara segenerasi itu belum tentu menggunakan nama generasi sne. Bisa saja penggunaan huruf yang sama itu ditentukan oleh orang tua atau kakek dari si anak, tanpa melihat nama generasi sne-nya. Nama generasi yang dipakai sebagai nama, tidak pasti harus di tengah (huruf pertama dari mia). Ada yang menggunakan di tengah, ada yang menggunakan di akhir.

3. Saya pernah dengar kata kedua tersebut memiliki urutan tertentu. Apakah benar demikian? Kalau benar demikian, dimana saya bisa mendapatkan daftarnya?
KH: Untuk mengetahui nama generasi, kita harus mendatangi kuil leluhur di kampung halaman leluhur kita. Kampung halaman leluhur ini belum tentu sama dengan tempat asal sne yang disebutkan pada daftar Baijiaxing 百家姓. Misalnya seseorang yang ber-sne Tan (Chen) 陳, leluhurnya berasal dari kabupaten Yingchun (Yongchun) 永春 Hokkian. Menurut Baijiaxing, asal sne Tan adalah di Yingchuan 颖川 di propinsi Henan 河南. Untuk mencari nama generasinya, ia harus mencari kuil leluhurnya di Yingchun, bukan di Yingchuan. Saya kenal satu orang sne Lim generasi ke 7 yang berasal dari Ciangciu (漳州) yang berhasil mengurut leluhurnya sampai kepada leluhurnya yang merantau ke Indonesia.

4. Apa kegunaan dari kata kedua tersebut?
KH: Kalau kita berjumpa dengan orang yang ber-sne sama dan mempunyai leluhur yang berasal dari tempat yang sama dengan leluhur kita, kita bisa mengetahui bahwa kemungkinan kita bersaudara dengan orang itu. Kita juga bisa menggunakan istilah kekerabatan (kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dst) untuk menyebut dirinya.

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/13029

Ma Gwe – Dilakukan Menyambut Kelahiran Anak


Bogor—Lain lubuk lain pula ikannya. Demikian orang selalu berkata dalam mengungkapkan perbedaan kondisi yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tradisi atau kebudayaan antara satu suku dengan suku yang lain juga berbeda, walau terkadang tujuannya sama.
Tradisi yang merupakan warisan leluhur suatu suku atau bangsa tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan, meskipun ada yang sudah mengalami perubahan. Bagi warga keturunan Tionghoa, acara syukuran atas kelahiran seorang anak tetap dipertahankan hingga saat ini.

Tradisi leluhur dari Tiongkok itu selalu dilakukan pada saat usia anak mencapai satu bulan. Acara yang diberi nama Ma Gwe (satu bulan penuh) ini diisi dengan kegiatan pengiriman doa-doa kepada Yang Maha Kuasa dengan harapan anak tersebut diberikan kesehatan, kemujuran, kemakmuran, keberuntungan dan kejayaan.
Disebutkan, acara seperti ini masih tetap dilakukan warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia sekalipun itu merupakan warisan leluhur. Agama yang dianut oleh orang tua si anak tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan acara Ma Gwe. Jadi setiap kelahiran seorang anak, pihak orang tua maupun keluarganya akan membuat acara Ma Gwe. Masalah tempat dan besar kecilnya pesta syukuran itu, tergantung kondisi ekonomi keluarga anak tersebut. ‘’Kalau mereka tergolong mampu, bisa saja membuat pesta meriah di hotel atau ditempat mana saja. Tapi bagi yang kurang mampu, biasanya cukup memberikan bingkisan bagi orang-orang yang dituakan dalam keluarganya serta tetangga terdekat,’’jelas Hendra.
Yang penting, tambahnya, isi bingkisan yang dibagikan itu. Dalam bingkisan tersebut harus ada telur ayam berwarna merah, kue warna merah, kue Ku merah, dan kue mangkok. Sedangkan isi lainnya seperti ketan kuning dan ayam bekakak, hanya sifatnya melengkapi saja. ‘’Ketan kuning dan ayam bekakak itu sering ditemui dalam suatu acara di masyarakat disini (warga Indonesia-red), jadi tidak ada salahnya kita ikutkan juga,’’ kata Hendra.
Menurut Dian Gustiana, warga Jl Samiaji Raya, Kota Bogor, tujuan membuat acara Ma Gwe yang dikuti dengan pemberian bingkisan itu yakni selain memanjatkan doa agar anak tersebut diberikan keselamatan, kemakmuran serta kejayaan, juga sebagai pemberitahuan kepada saudara dan tetangga dekat bahwa di keluarga yang bersangkutan telah lahir seorang anak.

XT:
Sekedar tambahan , kegiatan upacara Man Yue atau genap 1 bulan yang membagikan telur yang disepuh warna merah memiliki ciri khas yang membedakan antara anak pria atau wanita yang dirayakan.
Jika jumlah telur adalah genap , maka kemungkinan anak tersebut adalah anak pria. Demikian sebaliknya.
Terkadang jika anak pria yang dirayakan, telur merah tersebut sering diberi titik warna hitam.
Kebiasaan ini dilakukan dihampir setiap sub-etnis Han terutama mereka yang pekerjaannya petani.
Makna pemberian telur ini adalah bahwa telah lahir satu kelahiran baru. Dan sepanjang yang saya tahu , tidak pernah ada perayaan besar-besaran apalagi di hotel entah kalau itu disebabkan modernisasi. Biasanya mereka memberikan telur kepada pihak keluarga wanita dan kerabatnya serta tetangga mereka.

RJ:
Saya mau koreksi dikit lagi biar gak membingungkan. Bukan Ma Gwe sebenarnya, tapi Moa Gwe, dialek mandarinnya Man Yue, arti harfiahnya cukup bulan (cukup satu bulan).

LU:
Sedikit tambahan:
Manyue (Mandarin), atau Muageuh (orang Hokkian Quanzhou dan Xiamen), dan Muagueh (orang Hokkian Zhangzhou). Mua berarti penuh, gueh berarti bulan. Perayaan bila bayi genap satu bulan.

Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghua

Ini bentuk rencana dari daftar panggilan kinship. Belum kepikir bagaimana menampilkannya dengan lebih bagus. Saya baru buat sedikit dalam bhs. Hokkian (dialek Xiamen), nanti akan ditambahkan.


salam,

KH

Diagram Kekerabatan
Keterangan:
L: lelaki
P: perempuan
|: hubungan orang tua-anak
-: hubungan saudara
x: hubungan perkawinan
——————————————————–
Sebutan Bhs. Hokkian dialek Xiamen (Padanan dalam Bhs. Indonesia)
Oleh:
8P:
1 [Lao Pe 老父], Pa Pa 爸爸, A Pa 阿爸, A Tia 阿爹 (Ayah)
2 [Lao Bu 老母], Ma Ma 媽媽, A Bu 阿母, A Nia 阿娘 (Ibu)
1&2 [Pe Bu 父母] (Orang tua)
3 Chin Ke 親家 (Besan Lelaki)
4 Chni M 親姆 (Besan Perempuan)
5 Tua Hnia 大兄, A Hnia 阿兄, Tua Ko 大哥, Ko Ko 哥哥 (Abang)
6 Tua So 大嫂, A So 阿嫂 (Kakak Ipar)
7 Ang 翁, Ang Sai 翁婿 (Suami)
8 Gua Ka Ki 我自己 (Saya)
9 Be Sai 妹婿 (Adik Ipar)
10 Sio Be 小妹 (Adik Perempuan)
11 Sio Ti 小弟 (Adik Lelaki)
12 Kim A 妗仔 (Adik Ipar)

Oleh 11L:
1 [Lao Pe 老父], Pa Pa 爸爸, A Pa 阿爸, A Tia 阿爹 (Ayah)
2 [Lao Bu 老母], Ma Ma 媽媽, A Bu 阿母, A Nia 阿娘 (Ibu)
1&2 [Pe Bu 父母] (Orang tua)
3 [Tniu Lang 丈人] (Mertua Lelaki)
4 [Tniu M 丈姆] (Mertua Perempuan)
5 Tua Hnia 大兄, A Hnia 阿兄, Tua Ko 大哥, Ko Ko 哥哥 (Abang)
6 Tua So 大嫂, A So 阿嫂 (Kakak Ipar)
7 Ci Hu 姐夫 (Kakak Ipar)
8 Tua Ci 大姐, A Ci 阿姐, Ci Ci 姐姐 (Kakak Perempuan)
9 Ci Hu 姐夫 (Kakak Ipar)
10 A Ci 阿姐, Ci Ci 姐姐, Ji Ci 二姐 (Kakak Perempuan)
11 Gua Ka Ki 我自己 (Saya)
12 Bou 某 (Istri)
19 Hao Sni 孝生 (Anak Lelaki), Tua Han Knia 大漢囝 (Anak Sulung)
20 Sim Pu 新婦 (Menantu Perempuan)
21 Knia Sai 囝婿 (Menantu Lelaki)
22 Ca Bou Knia 查某囝 (Anak Perempuan)
19&22 Gin Na 囝仔, Knia 囝/子 (Anak)

12P:
1 [Ta Knua 大官/唐官] (Mertua Lelaki)
2 [Ta Ke 大家/唐家] (Mertua Perempuan)
3 [Lao Pe 老父], Pa Pa 爸爸, A Pa 阿爸, A Tia 阿爹 (Ayah)
4 [Lao Bu 老母], Ma Ma 媽媽, A Bu 阿母, A Nia 阿娘 (Ibu)
3&4 [Pe Bu 父母] (Orang tua)
11 Ang 翁, Ang Sai 翁婿 (Suami)
12 Gua Ka Ki 我自己 (Saya)
19 Hao Sni 孝生 (Anak Lelaki), Tua Han Knia 大漢囝 (Anak Sulung)
20 Sim Pu 新婦 (Menantu Perempuan)
21 Knia Sai 囝婿 (Menantu Lelaki)
22 Ca Bou Knia 查某囝 (Anak Perempuan)
19&22 Gin Na 囝仔, Knia 囝/子 (Anak)

19L:
1L A Kong 阿公, An Kong 安公 (Kakek)
2P A Ma 阿媽, An Ma 安媽 (Nenek)
3L Gua Kong 外公 (Kakek)
3P Gua Ma 外安 (Nenek)
5L A Peq 阿伯, Tua Peq 大伯 (Paman, Pakde)
6P A M 阿姆, Tua M 大姆 (Bibi, Bude)
7L Ko Tniu 姑丈 (Paman, Pakde)
8P A Kou 阿姑, Tua Kou 大姑 (Bibi, Bude)
9L Kou Tniu 姑丈 (Paman, Pakde)
10P A Kou 阿姑 (Bibi, Bude)
11L [Lao Pe 老父], Pa Pa 爸爸, A Pa 阿爸, A Tia 阿爹 (Ayah)
12P [Lao Bu 老母], Ma Ma 媽媽, A Bu 阿母, A Nia 阿娘 (Ibu)
13L A Ku 阿舅, Tua Ku 大舅 (Paman)
14P A Kim 阿妗, Tua Kim 大妗 (Bibi)
15L Yi Tniu 姨丈 (Paman)
16P A Yi 阿姨, Yi Yi 姨姨 (Bibi)
17L A Ku 阿舅 (Paman)
18P A Kim 阿妗 (Bibi)